Cerita Dari Tanah Laskar Pelangi

•July 12, 2009 • 2 Comments

Siapa yang tidak kenal Andrea Hirata yang sukse menciptakan novel berjudul Laskar Pelangi beserta karya-karya lanjutannya. Segera setelah buku dan film Laskar Pelangi ini meledak di pasaran, masyarakat kemudian mulai melirik Belitung sebagai tempat kunjungan wisata. Entah itu penasaran dengan wajah kampung halaman Lintang, Ikal beserta teman-teman lainnya, atau karena potensi wisatanya yang mulai muncul ke permukaan. Apapun itu, tapi film Laskar Pelangi memang menyumbang peran besar dalam menaikkan propinsi kepulauan Bangka-Belitung ini.

Dalam tiga bulan terakhir, saya berkesempatan mengunjungi tanah Laskar Pelangi ini dengan dua tujuan yaitu bekerja sekaligus refreshing. Bekerja sebagai program asisten di sebuah lembaga donor mengaharuskan saya berkeliling ke berbagai wilayah di pelosok Indonesia. Dan betapa senangnya saya ketika tiba saat untuk terbang ke Belitung. Wilayah yang terkenal sebagai wilayah tambang di buku-buku sejarah zaman sekolah dulu, hingga kota ini mulai dihidupkan kembali melalui layar lebar.

Perjalanan ke Belitung tidak memakan waktu lama. Awalnya, saya agak kesulitan mencari referensi penerbangan, akomodasi serta transportasi menuju dan selama saya disana. Beruntung saya punya mitra kerja yang siap membantu kapan saja. Dan dari merekalah saya tahu bahwa hanya dibutuhkan waktu 40-50 menit terbang ke Belitung menggunakan maskapai Sriwijaya Airlines atau Batavia Air. Hanya dua maskapai yang melayani penerbangan kesana. Tapi tidak perlu takut, karena mereka terbang dua kali sehari. Dan dengan waktu tempuh yang singkat, kedepannya saya pikir akan lebih baik ber-weekend getaway ke Belitung ketimbang ke Puncak atau Bandung yang macet. Lagipula, harga tiketnya tidak terlalu mahal, sekitar Rp.500 – 800 ribu (PP) di waktu normal, dan kurang lebih Rp. 1.000.000,- (PP) saat high season.

Tiba di Bandara Hanandjoedin – Tanjung Pandan, saya langsung menuju ke penginapan di pusat kota Tanjung Pandan. Jarak kota ke airport tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit dan tidak perlu khawatir terjebak macet. Untuk penginapan pun tidak terlalu sulit dicari. Di kota Tanjung Pandan sendiri, Hotel Biliton merupakan hotel kelas bintang yang baru saja dibuka pada tahun ini. Bangunannya minimalis dan modern. Untuk penginapan yang sekelas hotel mewah di kota, Hotel Biliton ini bias jadi pilihan, dengan harga Rp. 500.000,- untuk kamar standar.

Hotel lainnya yang setara dengan resort adalah Lor In yang terletak di Tanjung Tinggi. Lor In Hotel and Resort ini berada di kawasan shooting salah satu scence Laskar Pelangi. Dan saat proses shooting, Lor In dijadikan penginapan oleh para crew film. Bagi mereka yang ingin menikmati pantai, Lor In dapat dijadikan pilihan. Tepat disebarangnya adalah pantai Tanjung Tinggi yang memiliki banyak bebatuan besar, berpasir putih, dan berair bening. Saya sendiri sampai terkesima melihat betapa cantiknya pantai Tanjung Tinggi. Namun sayangnya, butuh waktu 30 menit untuk sampai ke pantai Tanjung Tinggi dari Tanjung Pandan. Di wilayah ini juga tidak terlalu banyak tempat jajan atau toko. Saya kira tempat ini dipilih memang khsusus bagi para wisatawan yang benar-benar ingin melepaskan stress dengan suasana yang tenang dan pemandangan indah. Harga permalam di Lor-In Hotel and Resort mulai dari Rp.600.000 – Rp.800.000,- untuk Deluxe Room.

Nah, tapi jangan khawatir buat mereka yang senang berwisata ala Backpacker. Belitung juga memiliki banyak akomodasi yang murah meriah, namun bersih. Di kota sendiri, kita dapat memilih Hotel Pondok Impian yang letaknya dekat dengan pantai Tanjung Pendam. Harga per malamnya sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000,-. Atau sewa sejenis cottage di Jln. Dipenogoro. Bisa pilih antara kamar privat atau rumah. Saran saya lebih baik menyewa rumah pondokannya. Disetiap rumah ada 2 kamar tidur, kamar mandi dalam, dan AC. Harga per-malamnya adalah Rp.300.000,- untuk rumah dan Rp. 150.000,- untuk kamar privat. Di depan penginapan, ada warung Soto Bandung dan toko serba ada. Sehingga kita tidak perlu khawatir jika malam-malam butuh minuman atau camilan. Selain penginapan ini, pada dasarnya masih banyak penginapan lain yang bisa kita cari di Google. Tinggal catat nomor teleponnya dan Tanya-tanya informasinya, deh!

Kekurangan di Belitung adalah tidak ada angkutan umum. Di Tanjung Pandan saya perhatikan jarang sekali ada angkutan umum dan susah menyewa ojek. Memang lebih enak jika kita menyewa mobil (patungan akan terasa lebih ringan untuk urusan sewa mobil ini). Biaya per-hari diluar bensin dan sopir sekitar Rp. 300.000,-. Saya menyarankan untuk menyewa sopirnya sekalian. Sebab sekalipun kota Tanjung Pandan atau Belitung tidak terlalu besar, jarak dari satu objek ke objek lain cukup jauh. Jalannya juga agak membingungkan karena bisa saja kita melewati perkampungan warga atau hutan di kiri kanannya. Belum lagi jika jalan dikelilingi hutan, tidak ada penerangan jalan. Jadi dibutuhkan sopir yang tahu medan untuk memastikan perjalanan kita selamat. Hehe..

Saat di Belitung, saya berkesempatan untuk mengunjungi Tanjung Binga (kampung nelayan, sekitar 20 km dari Tanjung Pandan), Kecamatan Badau (untuk melihat Tarsius Bancanus, hewan endemic Belitung), Tanjung Tinggi (tempat shooting Laskar Pelangi), Gantung (melihat set SD Muhammadiyah untuk film Laskar Pelangi) dan menyeberang ke Selat Nasik (melihat acara Maras Tahun, yaitu tradisi syukuran masyarakat Selat Nasik – Belitung). Perjalanan saya cukup lengkap karena saya mengunjungi dari mulai daerah gunung, pesisir, hingga menyeberang ke pulau Belitung lainnya.

Tarsius Bancanus, hewan mungil lucu yang masuk dalam daftar hewan langka dunia, saya lihat di Kecamatan Badau, tepatnya di Gunung Tajam. Gunung Tajam merupakan titik tertinggi di Belitung dan menjadi rumah bagi ribuan hewan nocturnal ini. Pemerintah daerah sedang mencoba mengembangkan wisata alam untuk melihat Tarsius sekaligus sebagai program konservasi. Melihat Tarsius merupakan pengalaman menarik, sebab saya harus masuk hingga kedalam hutan ditemani masyarakat local sebagai penunjuk jalan. Hewan ini tidak lebih besar dari kepalan tangan manusia dewasa dan merupakan hewan malam. Agak sulit dicari karena bulunya yang mirip warna dahan pohon. Untungnya masyarakat sekitar cukup terbiasa mengenal bagaimana mencari Tarsius. Saya dan rekan-rekan saya menghabiskan waktu 3 jam dengan 2 hari pencarian (sebab pencarian hari pertama gagal) untuk dapat menemukan makhluk mungil ini.

Selain Gunung Tajam, wisata yang menjadi andalan di Belitung tentunya adalah wisata pantai dan laut. Saya menyeberang ke Selat Nasik yang berada sekitar 20 menit dari Belitung menggunakan kapal cepat. Ditengah jalan, saya berhenti di tempat pengembang biakkan kerang mutiara. Tidak disangka, karena alam yang masih terjaga dengan baik, air laut yang bening menjadi seperti etalase untuk melihat terumbu karang dibawahnya. Tidak perlu diving, karena sudah terlihat dengan jelas. Tapi, jika mereka senang dengan olah raga diving, wilayah pesisir Belitung dengan pulau-pulaunya sangat direkomendasikan. Tidak perlu jauh-jauh ke Bunaken atau Bali, kan. Dari bincang-bincang dengan Pemda setempat, Belitung ternyata memiliki sekitar 100 pulau-pulau luar yang kesemuanya memiliki nama dan berpotensi menjadi objek wisata. Wow!

Buat pengagum Laskar Pelangi, bisa juga napak tilas jejak Andrea Hirata dengan pergi ke tempat yang disebutkannya dalam cerita. Saya hanya mengunjungi dua tempat shootingnya saja di Tanjung Tinggi dan Gantong (Belitung Timur). Waktu tempuh ke Gantong sekitar 1 jam, dan kita masih dapat melihat set SD Muhammadiyah yang dibangun untuk menghidupkan kembali cerita Andrea Hirata.

Selain tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi, kita juga bisa mencicipi makanan yang tentunya tidak terlalu mahal. Favorit saya adalah Bakmi Ayam Jamur “Rumah Besar” yang terletak di Jln. Yos Sudarso. Mi ayam jamurnya enak sekali menurut saya. Hanya dengan 12.000 perak, kita sudah dapat menikmati seporsi mi ayam. Kalau beruntung, kita juga bisa mencoba makan dim sum ceker ayamnya. Saya agak heran awalnya karena ceker ayam yang dijadikan dim sum itu besar sekali. Tapi buat saya makanannya enak dan bahannya segar. Rumah makan ini juga menjual terasi buatan sendiri tanpa bahan pengawet.

Ingin coba mi khas Belitung, bisa mampir di Jln. Sriwijaya. Ada restoran mi khas belitung, yang menurut saya mirip dengan mi celor palembang. Harganya juga tidak mahal, dan di kiri kanannya diapit dengan toko oleh-oleh khas Belitung. Jadi sehabis makan, kita bisa cari oleh-oleh yang super lengkap, dari mulai kerupuk ikan sampai dodol!

Salah satu khasnya kota Belitung adalah warung kopi yang rasanya tidak kalah dengan Starbucks. Menurut mitra saya, warung kopi yang paling enak di Belitung adalah warung kopi “Hong Ji” kalau saya tidak salah ingat namanya. Posisinya ada di pojokan dekat gereja Kristen. Warung kopi di Tanjung Pandan sudah buka sejak jam 7 pagi. Biasanya orang mampir kesana membeli kopi untuk diminum ditempat atau dibawa pulang. Segelas kopi harganya cuma 2.500 perak, dan masih ada jajanan pengganjal perut seperti donat, bakpau, pisang goreng, lumpia, kue basah, dsb yang dihargai sama rata, yakni 1.000 perak! Wajib coba juga!

Yah, begitulah. Belitung memang punya kesan tersendiri bagi saya. Saya terkesima dengan keindahan pantainya, kesederhanaan kotanya, keramahan orang-orangnya, dan begitu banyak hal yang bisa saya nikmati di sini. Selama beberapa hari disana, saya merasa jatuh cinta dengan kota ini. Dan sebagai seorang yang hobinya fotografi, semua tempat disini dapat diabadikan. Tidak rugi datang ke Belitung. Besok-besok, Puncak sudah bukan lagi tujuan getaway saya deh. Bagi mereka yang belum pernah ke Belitung, barangkali ini bisa dijadikan referensi tempat wisata murah meriah tapi puas. 

The “P” Day

•July 8, 2009 • 1 Comment

Setelah berbulan-bulan jadi bahan omongan alias gosip seantero jagad, ini adalah “hari”nya. Sejak pagi saya membuka facebook dan membaca status teman-teman, rata-rata bersemangat untuk menunaikan ibadah politiknya. Yah, ada sih yang biasa saja. Tapi status-status itu cukuplah menggambarkan bagaimana suasana Indonesia pagi ini.

Itu juga terjadi di rumah saya. Sejak pagi, ayah saya sudah sibuk menyetel TV dan memantau perkembangan diluar sana. Ibu saya, juga sama. Membangunkan saya pagi-pagi (padahal malamnya saya sampai jam 4 pagi menonton siaran ulang pemakaman Michael Jackson!), menyuruh saya bersiap-siap, dan katanya “Nanti kita bertiga sama-sama ke TPS!”. Wah! Sampai urusan contrang contreng saja harus bareng-bareng. Dan kali ini, nama saya tidak mungkin tidak ada di DPT. Sebab sudah dari sebulan juga Ibu bolak balik ke rumah Ketua RT untuk memastikan nama-nama potensial pemilih ada didalam DPT itu. Saya tidak apatis terhadap politik, namun juga tidak terlalu merasa berapi-api dengan event yang hanya 5 tahun sekali ini. Buat saya, mencontreng, ya sudah mencontreng. Selama ini juga saya memilih, dan pasal apakah si yang terpilih itu menepati janji-janjinya pasti akan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Periode-periode sebelumnya juga begitu. Pada masa kampanye jualan kecap. Saat sudah terpilih, 60% janji politiknya terpenuhi saja sudah bagus dan luar biasa. Nothing is perfect. Begitu juga kandidat yang terpilih. : )

Semalam, setelah pulang dari Kantor menyelesaikan pekerjaan rutin mendukung masyarakat kecil di akar rumput dan persiapan ke Belitung, saya sempatkan untuk bertemu dengan teman-teman kuliah dan SMA. Tidak lama. Tapi topiknya juga menyinggung-nyinggung soal Pemilu. Apa yang akan dipilih hari ini, dan privilege apa yang akan didapat oleh si pemilih. Strategi Pemilu sekarang cukup pintar. Beberapa merchant diajak bekerjasama untuk mau memberikan “hadiah” bagi para pemilih yang menggunakan hak suaranya. Kopi gratis di Starbucks lah, potongan harga 50% di Pizza Marzano lah, potongan harga di Matahari Department Store lah, sampai potongan harga di Alfamart ! Tidak ada yang salah memang. Justru ini jadi menarik. Sebab semua orang jadi tertarik juga untuk memilih karena bisa dapat secangkir kopi susu gratis di Starbucks. Teman saya bilang, “kalau lo mau gratisannya banyak, lo keliling-keliling aja ke store Starbucks sambil nunjukin kelingking lo! puas deh lo sama kopi susu!”. Hihihihi.. Yah, seru juga pesta demokrasi sekarang ini. Kandidat-kandidat makin kreatif untuk menarik orang memilih.

Saat pulang, saya sengaja menyusuri jalan utama Jakarta yang biasanya macet parah karena jam pulang kantor. Entah karena anak sekolah sedang liburan, tapi jalan Jend. Sudirman, Gatot Subroto sampai M.T Haryono lengang sekali. Saya bisa sambil ngebut dan berpikir hari ini mau milih apa. Ah, andai saja presiden baru nanti bisa bikin Jakarta tidak macet, banjir, dan masalah kemiskinan kota ditanggulagi, barangkali saking berterima kasihnya, saya akan jadi simpatisan partainya. Andai saja. Tapi saya tahu itu tidak mungkin. Dalam beberapa jam, teman-teman di Facebook pasti sudah siap menulis ulasan singkat mengenai hasil pemilu, atau kandidat A versus kandidat B, atau ekonomi kerakyatan versus ekonomi neo-liberal. Semuanya bahasan berat-berat. Saya, cukuplah menuliskan sedikit catatan ini. Toh setelah nyontreng nanti saya akan ke Pizza Marzano. Cari yang diskon 50% supaya puas makan.

Selamat memilih !

A U T I S

•May 28, 2009 • 2 Comments

Wah, sudah lama sekali saya tidak menulis di blog saya. Kangen sekali rasanya ngobrol (dengan diri sendiri! hehe..) dan cerita sana sini. Yah, apa boleh buat. Kerjaan sedang kelewat batas, dari mulai kerjaan di kantor sampai tugas lapangan. Apa boleh buat juga hal itu jadi membuat saya autis. Hidup di dunia saya sendiri. :P

Eh, omong-omong soal autis, sepertinya obrolan saya sekarang akan sedikit bersinggungan dengan tulisan tepat sebelum ini. Dan bukan dalam maksud menyindir atau sirik-sirikan sih. Hanya mencoba mengamati dan mencerna beberapa kejadian,  apalagi yang menyangkut dengan gaya hidup kaum urban seperti di Jakarta ini.

Jadi, beberapa hari yang lalu, teman saya di kantor heboh dengan memberitahukan kepada khalayak kantor (yang hanya segelintir orang itu), tentang fatwa yang dikeluarkan MUI. Saya tidak ikutan heboh karena merasa bahwa MUI memang sedang cari-cari kerjaan dengan melakukan berbagai macam fatwa terhadap apapun. Tapi, akhirnya saya tertarik juga dengan topik “Fatwa Terbaru MUI” itu. Karena ternyata yang difatwakan kali ini adalah FACEBOOK !

Setengah ketawa, saya mendengarkan cerita teman saya mengenai alasan MUI sampai harus memfatwa Facebook. Katanya, Facebook itu dapat menghalalkan maksiat secara online, sebab arus informasi betul-betul terbuka lebar. Tidak ada sekat, tidak ada filter. Orang bisa pasang foto apapun yang dia mau. Orang bisa ngobrol apapun yang dia mau. Yah, intinya, you can do whatever you wanna do through this fenomenal social networking system.

Beberapa negara memang sudah meninjau kembali fungsi Facebook sebagai media jejaring. Saking hebatnya kemampuan Facebook dalam mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat, Iran sampai harus menutup dan melarang situs ini, akibat dari kampanye politik yang kian marak menggunakan situs jejaring Facebook. Luar biasa !

Yah, apapun itu, saya sebetulnya tidak terlalu peduli dengan alasan MUI yang memfatwa Facebook karena menghalalkan kemaksiatan di dunia maya. Atau presiden Iran yang harus menutup situs ini untuk mencegah terjadinya propaganda politik dari pihak lain. Tapi, ketika saya mengingat Facebook, saya cuma ingat satu kata: Autis.

Facebook menurunkan produktivitas seseorang, yah, masih bisa disanggah. Facebook membuat orang kecanduan, saya setuju. Dan kecanduan ini yang bikin jadi Autis. Dalam tahap yang ekstrim, iya betul-betul menjadi akut. Bagaimana tidak ? Pada situs ini tersedia berbagai macam hal yang mengasikkan untuk diulik. Dari hanya sekadar menulis komentar tentang status seseorang, menulis notes, upload foto, mengisi kuis, sampai permainan online yang tidak ada habisnya.

Sejak saya memiliki Facebook di tahun 2007, saya secara konstan akan membuka situs ini pada tab Firefox saya, tepat di sebelah email pribadi. Dan dari lebih 600 teman yang saya miliki, 50-70 orang diantaranya secara konstan online di Facebook. Terkadang, orang-orang tersebut begitu konstannya memusatkan perhatian pada Facebook, hingga membuat tanda bulatan hijau di samping namanya terus menyala. Tandanya, ia tidak pernah beranjak dari situs itu. Wow !

Itu satu. Autisme nomor 2 bersumber dari Blackberry. Yah, bukan barang baru dan sudah jadi rahasia umum bahwa Blackberry bikin orang seperti orang gila. Barangkali suatu saat MUI juga akan memfatwa Blackberry karena membuat orang asik dengan dirinya sendiri, dan dunianya sendiri. Hehe..

Kira-kira sebulan yang lalu, saya membaca dua buah majalah yang berbeda. Satu adalah majalah gaya hidup dan satu lagi majalah yang diterbitkan oleh organisasi perempuan feminis. Pada salah satu feature-nya, kedua majalah ini sama-sama membahas generasi Blackberry ini. Dan sampai pada kesimpulan yang sama. Blackberry memang barang yang seharusnya dimiliki oleh para CEO dan bukan karyawan. Mengapa ? Yah, efeknya seperti Facebook itu. Dialog chatting yang secara konstan muncul seperti sms, membuat ketagihan untuk terus membaca dan membalas semua pesan-pesan itu. Apalagi, sekarang ini operator pintar sekali membidik para konsumennya, dengan mempromosikan chatting dan online dimana saja dan kapan saja.

Jadi, saya sudah tidak heran lagi ketika saya memiliki teman-teman yang menenteng Blackberry di tangannya (bahkan 2 buah!), bertemu dengan saya, lalu kemudian seharusnya kami menghabiskan waktu dengan ngobrol, dia malah sibuk pencet sana sini tombol Blackberry-nya. Saya jadi berasa seperti pajangan. Hehehe..

Yah, teknologi memang memberikan kemudahan dan keleluasaan bagi kita. Dengan Facebook, kita tidak perlu lagi mengangkat telpon untuk berbicara dengan siapa saja karena tersedia chatt box. Dan kita juga tidak perlu lagi sibuk bikin jarkom alias jaringan komunikasi untuk menemukan teman yang sudah 50 tahun hilang. Cukup gunakan fasilitas search friends atau mencari dalam daftar teman dari teman kita, maka hal yang tadinya mustahil untuk ditemukan, hanya dalam hitungan jam atau hari, sudah bisa ditemukan. Belum lagi dengan model jejaring ini, akan sangat membantu kita menambah teman, relasi, pelanggan, atau apapun itu.

Demikian halnya dengan Blackberry. Terlepas dari gaya anak remaja sekarang yang nenteng Blackberry untuk gaya atau cuma untuk fasilitas chatting di Yahoo atau update status di Facebook, Blackberry memudahkan kita untuk terhubung dengan dunia maya kapanpun dan dimanapun. Tidak perlu repot bawa laptop segede sapi, atau celingak celinguk cari hotspot. Blackberry sudah sangat membantu kita yang begitu mobile dan butuh terhubung dalam waktu 24/7.

Tapi ya efek sampingnya itu tadi. Autis. Serius deh. Hehe.. Sekalipun sebetulnya sumber autisme gaya hidup itu tidak hanya datang dari Facebook atau Blackberry saja. Cuma, ya, ketika kita sudah merasa kecanduan akan satu hal, otomatis kita hanya terfokus pada hal itu. Sekalinya hilang, dunia seperti runtuh! (Ah, lebay deh gue! hihihi..)

Saya bukan pemegang Blackberry. Jadi saya tidak bisa terima chatting-an seperti saya menerima SMS. Saya masih kuno dan konvensional. Dan sudah seminggu lebih ini, saya menonaktifkan akun di Facebook saya. Ingin melihat apakah saya akan merasa hidup saya gelap pasca non-aktifnya Facebook saya. Ternyata tidak. Yah, Alhamdulillah ternyata kecanduan saya masih dalam taraf normal. Belum autis, dan belum perlu pergi ke pusat terapi diri.

Mudah-mudahan bertahan lama. Hehe..

K o n t r a d i k s i

•April 3, 2009 • 1 Comment

Sudah satu abad terakhir sepertinya dari tulisan terakhir di blog saya ini. Kangen juga menulis. Setelah lulus dari kelas fotografi (ah, ya! Harus memproklamirkan diri sebagai fotografer “bersertifikat” sekarang! Hehe),saya ternyata lebih banyak ngopeni kamera dan foto ketimbang menulis. Padahal tadinya saya berniat untuk menggabungkan kedua-duanya, atau setidaknya berjalan simultan. Ah, ternyata memang otak cuma satu dan tangan cuma dua. Atau mungkin besok harus mulai berlatih melakukan semuanya dalam waktu bersamaan.

Life’s never been so great. And yet,never been so difficult. Tapi tergantung siapa yang lihat tentunya. Dan dalam rentang waktu kekosongan menulis, saya menemukan hal baru yang, yah sebetulnya bukan lagu lama, tapi tetap saja menarik buat saya. Namanya, kontradiksi. Hehe. Bukan hal yang berkaitan dengan baik dan buruk, angel vs evil. Hanya merupakan bagian dari percikan-percikan dari kembang api kehidupan.

Kata orang, ekonomi global saat ini sedang mengalami resesi. Semua pasti akan terkena imbasnya. Termasuk negara ini. Entah dari segi mana yang ‘terkena dampak resesi’ itu, namun kenyatannya billboard jalanan dengan jualan utama berharga seharga minimal 5 juta perak bernama, Blackberry, oleh provider-provider raksasa kian menjamur. Dan dengan demikian, semakin banyak teman-teman di sekeliling saya, yang mengganti kewarganegaraannya menjadi : Blackberry-an. Oh, senangnya punya kebun Blackberry sendiri. Hehe.

Dengan demikian, saya sadar, bahwa apapun situasinya,mau itu katanya resesi dunia,pergolakan politik yang menyebabkan harga-harga naik, setiap manusia masih bisa menemukan caranya sendiri untuk menikmati hidup. Dan saya mungkin hampir melihat runtuhnya tesis dimana, krisis ekonomi global berbanding lurus dengan kesejahteraan manusia. Bisa benar. Bisa salah. Bagaimanapun, kontradiksi itu juga ternyata masih punya nilai relativitas tersendiri.

Ah, benar-benar, sepertinya saya harus menelan kata-kata saya sendiri. Ada juga beberapa orang yang saya temukan masih mengeluh dengan hidupnya. Seperti saat ini, ketika saya sedang duduk manis menikmati minuman bernama Shirley Temple (yang sebetulnya hanya campuran air soda dan sirup Grenadine), saya mendapat telepon dari teman saya, bahwa dirinya habis kecelakaan. Wah! Berita yang mengejutkan. Saya kira kenapa. Ternyata penyebabnya adalah tukang ojek yang nyebrang sembarangan, dan dia menginjak rem mendadak, menyebabkan motor dibelakangnya jatuh. Bukan salah dia sebetulnya. Tapi tukang ojek tak mau ganti rugi,sementara yang jatuh nuntut ganti rugi. Maka dia yang berkorban atas nama keadilan, membayar ‘uang kaget’ korban di belakangnya. Tidak hanya itu, teman ini baru saja kehilangan helmnya yang harganya mahal, dan sekarang dia juga harus ganti ban ke tukang tambal ban. Dunia memang aneh.

Kenapa cerita saya jadi ngalor ngidul begini ? Hehe. Tak apa. Sembari menunggu teman saya itu ganti ban, lumayan saya bisa ngobrol dengan diri saya sendiri. Bukan hal yang dilarang.

Baru –baru ini, ditengah perjalanan pulang saya dari Yogyakarta ke Jakarta, saya kebetulan melihat sebuah buku bagus di toko buku Periplus bandara. Judulnya “Miss Chopstix” yang ditulis oleh penulis favorit saya, Xinran. Buku itu sederhana sekali. Penulisnya adalah seorang Jurnalis keturunan Cina yang menjadi warga negara Inggris. Saya selalu suka tulisannya karena ia mendasarkannya pada riset dan kisah nyata. Bukunya kali ini mengupas tentang bagaimana tiga orang perempuan desa yang mencoba peruntungannya ke kota, demi meruntuhkan nilai-nilai filosofis kuno yang sangat merepresi kaum perempuan.

Cerita ini, seperti yang menjadi judul tulisan ini, memunculkan sifat kontradiktif. Perbenturan antara kultu desa dan kota, serta nilai lama dan “modern”. Bukan hal baru sebetulnya mendapatkan nilai-nilai lama di Cina yang demikian patriarkinya sehingga menempatkan perempuan pada posisi paling bawah. Tak ada harganya. Dan demikianlah yang terjadi dalam cerita itu. Ketiga perempuan ini mencoba melarikan diri dari kultur dan nilai tradisional yang kolot dan membelenggu. Namun demikian, begitu terkejutnya mereka saat melihat kultur dan nilai-nilai “modern” perkotaan. Di satu sisi positif karena untuk pertama kalinya mereka dapat melihat perempuan berdiri sejajar dengan kaum laki-laki, perempuan dapat bekerja dan dihargai lebih baik di kota, dan tak ketinggalan, kebebasan.

Nah, seharusnya itu menjadi hal yang baik bukan? Toh tujuan mereka juga untuk meruntuhkan nilai-nilai tradisional yang sangat tidak adil. Tetapi, disana juga mereka melihat dan menemukan bagaimana keterbukaan dan kekritisan itu membuat sifat manusia menjadi orang-orang yang tidak pernah puas, tidak pernah sabar, terobsesi, dan menciptakan standard serta ekspekstasi tertentu terhadap suatu hal. Bukan hal yang salah juga. Namun, lihat hasilnya. Orang-orang kota tidak pernah berhenti untuk mengejar dan mengejar. Apapun. Yang akhirnya, hidup mereka sebagian besar dipenuhi dengan obsesi, target, standar, dll. Tidak pernah puas. Jauh dari kata tenang dan damai.

Dan kontradiksi itu terjadi pada rentang waktu yang sama, pada negara yang sama. Pemisahnya hanya batas ‘desa’ dan ‘kota’, ‘tradisional’ dan ‘modern’, ‘patriarkhi dan egaliter’.

Apa kesimpulan dari buku ? Bukunya tidak menyimpulkan apa-apa karena ia hanya mengisahkan pengalaman perempuan-perempuan desa nan lugu itu. Tapi, ada satu kalimat yang saya suka ditengah-tengah cerita, ketika salah satu tokoh mencoba merefleksikan pengalamannya yang begitu kontradiktif itu. Katanya,kedamaian itu hanya bisa didapat saat kita bisa menyeleraskan diri dengan garis nasib kita. Kuno tapi barangkali ada benarnya. Seperti ketika di yogyakarta kemarin, saat saya menemui komunitas yang menjadi target dana bantuan kantor saya, mereka hanya menjalankan hidup apa adanya,sekalipun cuma petani. Dan sejauh ini, merek a memang tidak kekurangan pangan. Bahkan raskin (beras miskin) yang diberikan oleh pemerintah mereka jadikan pakan ternak. “Berasnya, ndak bagus, mbak! Mendingan beras yang kami panen sendiri!”. Lho? Ternyata dikira miskin, malah sebetulnya kaya akan kebutuhan subsisten.

Saya ingin coba ah mengikuti kalimat yang ada di buku Xinran itu. Tenang dan apa adanya. Eh, tapi saya baru ingat ding, saya lupa bawa charger laptop! Ah sial! Padahal saya masih ingin browsing setelah menulis. Alamat BT nih!!

S o u l m a t e

•February 19, 2009 • 2 Comments

Dulu saya masih berusia remaja, saya sering berandai-andai mengenai soulmate. Barangkali karena terpengaruh dengan cerita-cerita klasik zaman dulu atau bahkan komik-komik yang sering saya baca, dimana hampir semuanya menceritakan kisah-kisah romantis tentang keberadaan seseorang yang memang sudah ditakdirkan ada, suatu saat akan dating pada kita dengan sendirinya, dan akan bersama menjalin cerita indah.
Seiring saya tumbuh dan belajar banyak hal dari sekeliling saya, akhirnya saya menilai, betapa absurdnya konsep soulmate itu. Bagi beberapa teman saya yang meyakini keberaaan soulmate di suatu tempat, pada suatu waktu, keabsurd-an itu bagi mereka merupakan bentuk penyangkalan saya. Saya tidak tahu siapa yang tengah terjebak dengan romantisme absurd semacam itu. Apakah saya yang terus memikirkan tentang logika soulmate, atau teman-teman saya yang cukup meyakini bahwa jodoh atau soulmate memang sudah diciptakan dari sananya untuk kita.
Pertanyaan yang paling mengganggu saya sebetulnya adalah : apakah mereka benar-benar ada ? Bagaimana cara kita menemukan si pasangan jiwa itu? Bagaimana kita tahu seseorang betul-betul pasangan jiwa kita ? Tidak pernah ada penjelasan logis mengenai ini, atau rumus-rumusan baku mengenai keberadaan si soulmate. Tidak ada satupun teman-teman saya yang meyakini konsep tersebut mampu menjelaskan pada saya mengenai jawaban itu.
Lalu, kenapa juga saya menjadi terganggu dengan masalah si soulmate-soulmate ini ? Bukannya saya sendiri selalu bilang, bahwa hidup itu dibawa praktis saja. Tidak perlu pusing-pusing memikirkan hal-hal tidak penting semacam ini, apalagi membawanya menjadi sebuah penjelasan yang sangat logis hingga diterima akal. Yah, barangkali akan butuh seorang Einstein untuk dapat menjelaskan perkara metafisik dari hal ini. Itupun kalau Einstein juga paham.
Rasa penasaran yang selalu saja mengusik akal dan pikiran saya. Terbiasa mendengar berbagi curahan hati dari orang-orang membuat saya berpikir banyak seusai mereka berceriita. Salah satunya mengenai hal ini. Belakangan ini, saya banyak sekali mendengar cerita ironi pernikahan dari beberapa orang teman-teman saya. Kalau mau diskalakan, 6 dari 10 teman saya, memiliki permasalahan yang pada dasarnya sama, namun dengan cara berbeda. Perpisahan keluarga. Sebagian mencoba untuk mencari cara berkompromi dengan keadaan, sekalipun tidak berimbang, tetapi sisanya memilih untuk berpisah.
Saya tidak pernah tahu juga apakah konsep soulmate ini berhubungan langsung dengan masalah pernikahan atau tidak. Tetapi bukankah ketika kita sudah memutuskan untuk membina suatu hubungan dalam ikatan yang lebih nyata seperti pernikahan, kita sudah merasa yakin bahwa orang yang ada disebelah kita adalah soulmate kita, pasangan hidup kita ? Dan bagaimana ceritanya itu bisa menghilang begitu saja dalam suatu rentang waktu, hanya karena merasa tidak cocok ? Apakah si pasangan jiwa ini, meminjam istilah dari Dewi Lestari, juga memiliki masa kadaluarsanya ?
Suatu saat, ketika saya sedang iseng berbicara dengan teman saya, teman ini berkata bahwa soulmate itu tidak untuk ditemukan, tetapi diciptakan. Nah, barangkali ini yang agak masuk di akal saya. Teman itu mengatakan kemungkinan kita untuk bertemu soulmate setiap harinya ada banyak. Ketika kita mendapatkan chemistry itu pada seseorang, bisa saja kita menemukan soulmate itu. Tapi akan sangat sulit mempertahankannya manakala kita hanya taken for granted. Sehingga konsep soulmate itu memang harus diciptakan oleh diri kita sendiri, tidak hanya sekedar merasakan bahwa, ya ini memang pasangan jiwa saya dan berjalan begitu saja.
Barangkali ada benarnya juga teman ini. Jika memang kita kemudian menciptakan konsep pasangan jiwa itu saat kita telah menemukan seseorang yang pas, barangkali pula perpisahan tidak akan terjadi. Toh ketika berkaca pada hubungan pernikahan orang tua zaman dulu yang bisa sampai diujung umur, yang mereka tahu adalah komitmen untuk bersama, dan bagaimana cara me-manage si pasangan hidup itu untuk tetap menjadi pasangan jiwanya.
Saya mungkin adalah orag yang cukup pahit dalam memandang sisi hidup. Bagi saya, perpisahan itu adalah hal yang menakutkan dan berat. Tidak semudah membalikkan telapak tangan saja. Dan itu juga mungkin yang membawa saya pada suatu sikap tidak mau terlalu terjebak pada romantisme-romantisme dunia, sekalipun pernah juga terpikir bahwa dunia memang akan lebih berarti saat ada hal-hal menyenangkan terjadi bagi diri kita.
Maka, jawaban dari pertanyaan saya ? Yah, saya belum tahu pasti. Untuk saat ini barangkali saya cukup setuju dengan pendapat teman saya itu bahwa soulmate tidak untuk ditemukan, tetapi untuk diciptakan saat kita sudah memiliki orang yang ada disamping kita. Sekalipun, kita tidak merasakan perasaan “ya, sepertinya ini memang orangnya!”.

S a y a p

•January 18, 2009 • 2 Comments

Sayap itu hanya untukku.

Begitu indah.

Halus, lembut, namun kuat mengangkatku.

Suatu hari nanti, ia yang akan membawaku

Terbang menyusuri hening dan gelapnya malam.

Bercengkrama dengan bias warna dan cahaya petang.

Sayap itu hanya untukku.

Begitu indah.

Halus, lembut, namun kuat mengangkatku.

Pergi dari dunia yang indah ini.

Terbang dari taman penuh dengan cantiknya bunga.

Lepas dari kehangatan matahari dan belaian angin surgawi.

Sayap itu hanya untukku.

Begitu indah.

Halus, lembut, namun kuat mengangkatku.

Agar tak perlu lagi kulihat tangis dan duka disekelilingku.

Menutup seluruh kecewa yang hadir dalam jiwa-jiwa dunia.

Menghapus pedih yang tak mungkin mampu ku atasi.

Sayap itu hanya untukku.

Begitu indah.

Halus, lembut, namun kuat mengangkatku.

Membawaku pada suatu tempat.

Yang hanya kutahu sendiri jawabannya.

Sekalipun ia harus gersang atau terjal atau berbatu tajam.

Sayap itu hanya untukku.

Begitu indah.

Halus, lembut, namun kuat mengangkatku.

Mengisi kehampaan jiwa.

Menghangatkan dinginnya hati.

Meninggalkan tempat yang tak semestinya ku hadir.

Photography : Between Passion and Curiosity

•January 12, 2009 • 1 Comment

Selama ini, saya hanya menganggap fotografi sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Seperti posting di bulan-bulan sebelumnya, fotografi buat saya lebih pada merekam gambar-gambar bebas, tanpa aturan, dan tanpa batas, kecuali celengan semakin ringan karena uangnya habis untuk beli dan cetak film! Posting sebelum ini bercerita tentang bagaimana saya menemukan dan membedakan passion dan curiosity. Hasrat dan rasa penasaran. Kadang kala hal tersbut tidak bisa dibedakan, tapi betul-betul terlihat dari hasil akhirnya.

Bermain dengan kamera memberikan rasa tersendiri bagi saya. Otak saya memang mampu merekam gambar-gambar yang ada di sekeliling saya. Senang, sedih, marah, bahagia, dsb. Tetapi gambar itu hanya ada dalam ingatan saya. Tok. Tidak bisa saya bagikan kepada teman-teman lain, atau untuk dinikmati kembali dalam bentuk yang lebih nyata. Di kamar mandi, misalnya. Hehe.

Untuk mengetahui apakah fotografi hanya sekedar rasa penasaran atau memang sesuatu yang ingin saya lakukan, saya mencoba untuk membiarkan diri saya hanya memegang kamera DSLR baru. Kalau hanya sekedar foto-foto bosan, paling hanya bertahan beberapa bulan, setelah itu kamera hanya ngejogrok manis di sudut kamar saya.

Yah, ternyata tidak hanya sekedar rasa penasaran. Bukti memperlihatkan malah saya kerajingan dengan Mas Nikon saya. Sering kali meluangkan waktu untuk menjepret secara acak, bertanya pada teman-teman saya yang sudah lebih dahulu bermain dengan kamera, mendaftar pada galeri online, mengedit foto-foto saya, meng-uploadnya, dan akhirnya saya ikut les foto!

Salah seorang teman saya yang juga jadi salah satu “guru” foto saya mengatakan bahwa saya “terlambat matang” di fotografi. Saya menyukai hal ini saat fotografi sudah seperti “receh” alias mainstream. Dimana-mana orang gandrung fotografi. Beli kamera DSLR dan bergabung dengan galeri-galeri online untuk memamerkan foto mereka. Kalau saya iseng-iseng mencari melalui situs pencari, maka akan keluar tampilan berbagai halaman yang dibuka oleh para fotografer, baik freelance maupun yang sudah well-established dengan studio fotografinya. Tentunya akan berbeda dari beberapa tahun ke belakang.

Ke-mainstream-an ini tidak menyurutkan langkah saya untuk mengambil kelas fotografi. Saya pikir,tidak pernah ada terlambat buat seseorang demi memulai sesuatu, tidak peduli apakah di sekelilingnya hal tersebut sudah jadi barang umum atau tidak. Dengan dorongan teman dan Ayah saya pula, saya akhirnya bergabung bersama Neumatt-Center for Photography Studies, untuk mempelajari teori-teori fotografi. Baru kelas dasar memang, tapi saya berpikir untuk melanjutkannya pada kelas lanjutan, foto jurnalistik.

Selama ini, saya tidak pernah peduli dengan komposisi dan teknis-teknis dalam fotografi. Saya hanya mengambil gambar dan mengambil gambar. Jika saya rasa ia kurang memunculkan suatu nuansa yang saya inginkan, Photoshop akan menjadi andalan saya dalam melakukan post-processing dari sebuah foto. Zaman memang memberikan keuntungan buat saya atau katakanlah para fotografer masa kini. Semua serba digital dan komputerisasi. Apa yang dulu tidak bisa langsung dilihat dan dicetak, sudah bisa dilakukan dalam hitungan menit. Tapi tentunya saya tidak akan pernah belajar teknis-teknis sebenarnya dari foto itu sendiri.

Kelas pertama saya, dimulai pada awal Januari ini. Hanya beberapa orang yang ikut kelas dasar reguler. Kelas ini betul-betul menarik bagi saya. Karena sekalipun kita bisa mendapatkan pelajaran mengenai dasar-dasar itu dari berbagai sumber, saya merasa lebih “PD” jika ada mentor disamping saya. Setidaknya, dari mentor inilah saya diberikan ilmu, untuk kemudian saya proses sendiri dalam diri saya hingga saya temukan bentuk yang saya suka.

Kelas saya sekarang sudah berjalan pada sesi pertengahan. Pada sesi berikutnya, mentor saya akan membawa kami ke “lapangan” untuk diajarkan teknis-teknis pengambilan foto, sekaligus untuk menemukan minat kami dalam foto. Saya tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Dan tentunya lebih tidak sabar lagi untuk melihat objek-objek apa yang akan saya temukan dan saya bidik melalui lensa saya.

Sekarang, sembari menunggu waktu itu datang, saya sibuk mencari berbagai sumber tambahan untuk menambah ilmu saya. Tidak hanya itu, saya juga rajin masuk ke berbagai bursa untuk melihat apa ada kira-kira lensa bekas pakai yang masih bagus dan harga yang cocok dengan kantong saya untuk saya beli.

Ah, sepertinya saya harus mengatur keuangan saya. Mudah-mudahan saya bisa menghasilkan dari sini. Tapi itu tidak jadi tujuan utama saya. Yang ingin saya lakukan adalah merekam gambar-gambar yang saya lihat, dan berbagi dengan teman-teman saya. Jika ada hal yang bersifat menguntungkan di belakangnya, yah, itu adalah berkat. Alhamdulillah.

New Year, New Life!

•January 12, 2009 • Leave a Comment

HAPPY NEW YEAR !!

Ahhh… selalu seperti ini. Tahun berjalan tidak pernah terasa bagi saya. Sepertinya baru kemarin saya merayakan Tahun Baru bersama keluarga. Sekarang sudah tahun baru lagi. Umur makin tua lagi. Hehehe.. Dan seharusnya posting ini, saya lakukan pas di tanggal 1 Januari kemarin. Tapi, otak, tangan, dan kaki saya sedang sibuk dengan hal lain. Maka, yah, menebus dosa saya karena kepikiran terus, saya posting saja saat ini. Kelihatannya dalam satu hari ini akan ada beberapa posting  berbeda saking numpuknya bahan di urat berpikir saya.

Semua orang, yah setidaknya, sebagian dari yang saya kenal, akan melakukan ritual yang sama. Tahun baru, resolusi baru. Tahun baru, rencana baru. Tahun baru, apa pun itu lah yang baru. Dan itu semua biasanya terjadi pada malam sebelum pergatian tahun. Merenung apa saja yang sudah dilewati, dan menulis apa saja yang ingin dilakukan di tahun berikutnya. Tidak heran, setiap awal tahun, cerita-cerita teman saya akan berkutat seputar, “tahun ini, gue mau…..”.

Dua teman sekampus di tahun 2009 ini sudah akan memulai lembaran baru dalam pekerjaannya. Dan dua-duanya akan menambah daftar KOPRI (Korps Pegawai -yang-kayaknya-nggak- PRIHATIN – banget!). Meninggalkan pekerjaan sebelumnya, dan melangkah masuk dalam jajaran birokrat negeri ini. Senangnya! Setidaknya, dalam peer group saya, hanya saya yang bekerja di NGO, dan satu lagi bekerja di sektor swasta! Pas sudah! Hehehe..

Lalu, teman lainnya, sedang merintis cerita barunya dalam bidang akademis. Mendaftar S2 di luar negeri. Ah, ini juga barangkali impian beberapa teman lainnya yang mendambakan bisa melanjutkan studi di luar negeri. Ah ya, segudang rencana buat setiap kepala yang saya temui. Dan pastinya akan lebih banyak lagi seiring saya berbagi cerita dengan masing-masing dari mereka di awal tahun ini.

Bagaimana dengan saya ? Hm, saya tidak menuliskannya dalam lembar-lembar panjang apa resolusi saya di tahun 2009. Tapi, ya, saya juga sudah menyiapkan rencana-rencana seperti teman-teman saya itu. Dua yang berada pada top priority adalah melanjutkan belajar Bahasa Mandarin, dan kursus fotografi. Satu sedang berjalan, dan satu sedang menunggu kuota kelas.

Ayah saya seringkali heran dengan rencana-rencana saya. Katanya, seperti tidak terarah. Sebentar-sebentar mau ini, sebentar mau itu. Dan beliau selalu menuntut agar hidup saya lebih ter-planning. Hehehehe.. Yah, ada benarnya juga sih. Tapi sepertinya, dua hal ini sudah menjadi passion dalam diri saya. Bukan lagi sekedar curiosity. Hasrat yang bukan lagi sekedar penasaran. Maka, yang harus saya lakukan terutama adalah memanage waktu dan budget. Supaya semuanya dapat.

Yah, setidaknya itu dulu untuk 2009 ini. Further plan : belum ada. Ditengah jalan dapat inspirasi dan menggebrak, barangkali akan buat saya putar haluan, geser sedikit ke kiri atau kanan, atau malah jalan terus. Siapa tahu.

Back to The City of Banjir : Jakarta

•December 8, 2008 • 1 Comment

Akhirnya saya pulang juga ke Jakarta, salah satu kota dengan seribu masalah di dunia! Hahaha.. Setelah seminggu berada di negeri orang, sekarang saya duduk dengan manisnya di The Pancake Parlour, Kemang, menunggu pesanan caramel pancake saya datang. Ah, nikmatnya!

Saya tidak tahu mengapa kepulangan saya ke Jakarta ini begitu “luar biasa”. Padahal bukan sekali ini saja saya berkelana ke negara-negara tetangga. Selama sembilan tahun terakhir, saya sudah mengunjungi Singapura, Malaysia, Australia, Inggris, Belgia, Belanda, Perancis, Italia, Jerman, Swiss, Amerika, Cina, Jepang, Thailand, Kamboja, dan terakhir ini, Vietnam. Baru setelah seminggu di Vietnam ini saya uring-uringan, ingin segera pulang ke Jakarta.

Travelling memang bukan hal baru buat saya. Setelah saya bergabung di lembaga donor internasional, agenda traveling saya bahkan bertambah, terutama perjalanan domestic untuk melakukan project assessment atau monitoring and evaluation. Hampir setiap bulan, ada saja tempat baru yang saya kunjungi. Dari mulai kota besar yang saat dengan hiburan untuk turis seperti Bali, hingga ke pedalaman desa di Nusa Tenggara Timur. Dan harus saya akui, daerah-daerah yang saya kunjungi ini selalu punya cerita baru nan unik.

Entah apa yang terjadi dengan perjalanan saya kemarin. Tetapi barangkali ada beberapa hal yang membuat saya rindu akan ke-orisinal-an Indonesia. Kata orang, jika sedang berada di tempat asing, cobalah hal-hal asli setempat. Termasuk makanan. Ini juga terjadi selama saya di Vietnam. Makanan Vietnam menjadi menu sehari-hari, yang pada awalnya bisa saya terima dan nikmati, namun lama kelamaan jadi eneg sendiri, sehingga tidak jarang saya mencari restoran asing, yang bisa mentralisir lidah saya.

Saya masih ingat saat makan siang selama meeting di Nha Trang, menu yang disajikan selalu sama. Cumi rebus sayuran, daging sapi masak sayuran, kari babi, sayur masak bawang putih, kari ikan. Hanya gaya makanannya saja yang terkadang di rubah. Itupun, kadang. Hingga suatu saat, saya menemukan semangkuk sayuran. Saya tidak tahu apa namanya karena dalam bahasa Vietnam. Yang membuatnya tampak “menjijikkan”adalah kuahnya yang kental dan seperti liur! Rasanya memang enak, tetapi saya jadi membayangkan bahwa sayuran itu seperti dicampur liur yang masaknya. Hahahah.. Pada sesi makan siang hari berikutnya, saya sudah siap dengan roti isi yang saya beli dipinggir jalan!

Belum lagi dengan kendala bahasa. Ahahaha.. Cerita sebelumnya saya sudah menjelaskan momen-momen tulalit yang saya hadapi di sana. Lucu sih dan saya memang harus maklum karena mereka bukan masyarakat penutur bahasa Inggris. Tapi kalau tulalitnya sudah keterlaluan walaupun dijelaskan dengan menggunakan contoh! Saya dan Joy pernah nyasar ketika mencari Central Market gara-gara yang ditanya sebetulnya berusaha menjelaskan tapi tidak tau apa yang dijelaskan. Hihihi..

Jadi, setelah sehari mendaratkan pantat di Jakarta (walaupun kecewa karena keinginan pijat dan creambath batal gara-gara salonnya tutup Lebaranan Haji!), saya kalap makan berbagai macam makanan Indonesia. Hari ini saya sudah menyelesaikan misi pertama saya, makan nasi uduk, ayam Mbok Berek, dan otak-otak. Besok, saya masih mau lanjutkan misi ini dengan makan gulai otak dan paru goreng Padang! Hahahaha.. Indahnya hidup ini.

Hhh..sepertinya untuk saat ini memang benar, “Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik kebanjiran di negeri sendiri”!

Tulalit

•December 6, 2008 • Leave a Comment

Nyebelin banget nggak sih kalau kita diperhadapkan dengan situasi kayak gini ? Kita ngomong A, orang nangkepnya B, hasilnya,eh, malah jadi C! Tapi sekalipun menyebalkan, kadang ada lucunya juga. Jadi bisa menduga level pembicaraan seseorang seperti apa. Selama saya di Vietnam, banyak sekali kejadian lucu yang persis menggambarkan ke-”tulalit”-an itu. Language barrier, kata orang. Yang artinya adalah kendala bahasa. Sebagai turis, yang umum kita gunakan adalah bahasa Inggris sebagai bahasa internasional untuk berkomunikasi. Namun kadang, ya itu tadi, ngomong A, nangkepnya B, jadinya C.

Sebagai salah satu kota wisata yang dikembangkan untuk menerima turis internasional, seharusnya para pelaku pariwisata di Nha Trang juga dibekali pelatihan khusus untuk memahami bahasa Inggris. Tapi tidak demikian pada kenyataannya. Hari pertama saya tiba di The Light Hotel, saya mencoba untuk menanyakan akses internet wireless yang mereka miliki.

Saya :   (Di telepon) “Hello, I’d like to ask how can i connect to the internet here ?”

Reception : “Connection ? Ah, wait. I’ll send someone to your room, miss..”

Saya  : Thank you..

Nggak lama kemudian, seorang staff hotel datang ke kamar saya.

Staff Hotel : “You ask for connection, miss ?”

Saya : “Yes..”

Staff Hotel : “Ah, you just press 9, and then 0, and country code, and your local country number…”

Saya : …….

Dikiranya saya mau nelpon ke luar negeri!

Lalu pada sebuah acara makan malam di sebuah restoran yang mengaku “served international and viatnamese cuisine”, Melinda, peserta dari Filipina yang duduk di sebelah saya, ingin memsan Coca-Cola.Lalu dia memanggil pelayan restoran dan bilang :

Melinda : “I want to order 1 Coke, please..”

Pelayan : “1 Coke ? Ok. Ice or no ice ?”

Melinda : “No ice, thank you..”

Dan sepuluh menit kemudian, pelayannya datang dengan 1 BUTIR KELAPA, lengkap dengan sedotan dan payung-payungannya! Ahahahahahaha.. Coke-o-nut! Dikira pelayannya, Melinda mau pesan kelapa sebiji ! Terang saja Melinda lalu misuh-misuh dan memesan kembali minumannya, yang setelah mendengar saran saya, mengganti kata “Coke” menjadi “Coca-Cola”, supaya jangan sampai pohon kelapa yang kali ini dibawa pelayannya ke meja!

Di lain waktu, saya sedang menulis beberapa hal di laptop saya, dan ingin sekali merokok karena sudah penat dengan seharian meeting. Hotel ini sebetulnya bisa membantu membelikannya. Saya menelpon room service, dan minta tolong dibelikan satu bungkus Marlboro Light Menthol.  Itu saja. Dan mereka sudah bilang,”oke, oke, miss. Wait i’ll bring itu for you..”. Setengah jam lewat, pesanan saya datang. Ketika buka pintu kamar, yang saya dapatkan adalah “1 bungkus Marlboro Lights putih, dan 2 gelas orange juice. Dengan es! Hahahahaha..ha!

Siapa juga yang mesan orange juice dengan es ?? Dan rokoknya pun salah lagi. Yah mungkin pelayannya tidak menangkap apa yang saya maksud. Akhirnya saya harus menjelaskan ulang dan minta dia mengucapkan didepan saya. “Marrlllbbooorrrooo…Llllliiigggghhhtttsss..Mennnnttthhhoooolll..”, begitu. Lalu, saya bilang, “Green one ya.. Green color..”. Pelayan bilang, “ah, ok. Green..green.. yes.. green..”. Minuman saya minta kembalikan ke dapur, dan diapun pergi. Setengah jam kemudian, dia datang dengan Marlboro…..MERAH ! Huahahahaha.. Dengan tampang sudah hampir ketakutan, saya bilang, “never mind, i’ll buy by myself. You take it, and its the money.”. Walaupun gondok, akhirnya saya turun kebawah, membeli sendiri apa yang saya butuhkan. 1 jam hanya untuk urusan beli-beli rokok.

Kalau sedang dalam kondisi santai sih tidak apa-apa kadang berhadapan dengan situasi begini. Tapi kalau sedang buru-buru, saat saya harus sesegera mungkin packing karena tiba-tiba harus mengejar pesawat lebih awal ke Saigon, saya bertanya kepada reception apakah mereka punya box untuk menaruh barang-barang tambahan saya.

Saya : “Hi, do you have any box ?”

Reception : “Box ?”

Saya : “Yes..Box.. Small Box..”

Reception : “Ah, wait a second, i’ll check..”

Saya : (menunggu di telepon dengan harap-harap cemas)

Reception : “Ah, miss..He’s not coming today…”

Saya : …….

Dia mendengarnya Boss, bukan Box. Oh Tuhan!

Jadi dalam seminggu ini, saya sudah berkali-kali ketempuhan “tulalit” karena language barrier ini. Yah, mungkin memang karena berbeda bahasa dan tidak terlalu paham apa maksud saya dengan bahasa Inggris. Tapi… kok rasanya nggak cuma karena kondisi itu aja, ya.

Suatu hari ditelepon untuk mengecek pesanan tempat makan malam disebuah kafe di Kemang.

Saya : “Mbak, saya mau ngecek bookingan dinner, donk..”

Mbak : “Oh, bisa, atas nama siapa ya, Mbak ?”

Saya : “Asyma. Alpha Sierra Yank…”

Mbak : “Alphanya pake F apa pake V, ya mbak ?”

Hehehe.. Plakkk!  *tampar muka sendiri mode on*