Jebakan Penawaran BANCASSURANCE

Minggu lalu, saya sempat menuliskan share di salah satu forum online mengenai kasus saya terkait dengan asuransi. Sebetulnya share itu juga saya maksudkan sebagai bentuk surat pembaca dan ekpsresi kekesalan saya terhadap Citibank dan Panin Life. Jadi begini, ceritanya.

Tahun 2010 sekitar bulan Juni, saya sempat dihubungi oleh seorang telemarketer yang mengaku sebagai representatif Citibank dan Panin Life. Si mbak-mbak telemarketer ini menyebutkan bahwa saya, sebagai nasabah terpilih Citibank, berhak untuk mendapatkan asuransi jiwa 20 Years in Safe, kerjasama antara Citibank dan Panin Life. Sebetulnya sejak awal percakapan, saya tidak sama sekali tidak tertarik. Apalagi karena ini menyangkut penawaran produk via telepon. Bukan yang pertama kali juga saya dihubungi oleh berbagai jenis telemarketer dan semuanya selalu berhasil saya tolak. Namun, entah kenapa ketika telepon yang satu ini masuk, saya malah ‘kesangkut’. Bukan karena saya tertarik. Tapi awalnya karena saya merasa ingin memberi kesempatan kepada mbak-mbaknya dalam menjelaskan. Dan disinilah mulai permasalahannya.

Selama penjelasan yang terburu-buru itu, si telemarketer menyebutkan bahwa asuransi Panin Life 20 Years in Safe ini merupakan program yang sangat bermanfaat. Karena dalam waktu dua tahun saja, uang tersebut sudah bisa saya ambil kembali. Premi yang dibayar pun perbulannya hanya Rp. 300.000,- saja yang akan langsung di auto-debet dari kartu kredit Citibank saya. Dan beribu-ribu penjelasan berbunga lainnya untuk meyakinkan saya bahwa saya harus mengambil asuransi tersebut.

Memiliki asuransi bukanlah hal pertama kali bagi saya. Sebelumnya saya juga telah membuka unit asuransi plus investasi Prudential melalui teman saya. Dan dengan begitu, saya tahu langkah-langkah seperti apa yang harusnya saya, sebagai konsumen, lakukan ketika akan membeli produk asuransi. Tentunya juga, proses penjelasan dan penawaran tidak hanya dilakukan melalui telepon semata, melainkan secara tatap muka. Dan bagi saya, cara tersebut adalah yang paling memenuhi etika dilakukan, sebab kita sendiri bisa mendapatkan penjelasan secara detail mengenai apa saja berkaitan dengan produk yang kita beli. Ditambah lagi, kita tidak perlu menentukan hari itu langsung jadi. Masih memiliki waktu untuk pikir-pikir terlebih dahulu.

Apa yang terjadi melalui telemarketing ini menurut saya sudah menyalahi etika. Setelah selesai mbak-mbak telemarketer itu memberi penjelasan, saya kemudian ditanya berbagai macam hal berkaitan dengan data diri. Saya hanya jawab apa adanya karena asumsi saya ketika itu adalah ia hanya bertanya, sesuai dengan data yang ia miliki melalui Citibank. Tapi kemudian diakhir, si telemarketer ini kemudian meminta persetujuan saya untuk menjadikan polis asuransi tersebut. Saya sendiri bilang bahwa saya mungkin tertarik. Tetapi saya butuh melihat skemanya terlebih dahulu atau dokumen-dokumen penjelas lainnya. Saya tidak mau beli kucing dalam karung. Namun entah bagaimana, yang saya rasakan ketika itu, si telemarketer mampu memutar-mutar percakapan dan mengkondisiksan agar saya menjawab “Ya” saat ia bertanya apakah saya tertarik dengan asuransi tersebut. Lalu apa yang terjadi kemudian ? Saya dinyatakan membeli polis asuransi jiwa 20 Years in Safe ! Hebat!

Setelah menutup telepon, saya kemudian sadar bahwa ada yang tidak beres dalam penawaran ini. Lalu saya kemudian menelepon Citibank untuk melaporkan kejadian tersebut dan saya hendak membatalkan apapun yang telah menjadi keputusan telepon sebelumnya karena saya keberatan. Saya keberatan dengan cara penawarannya. Saya keberatan dengan proses asuransi ini. Saya keberatan karena saya merasa saya dipaksa untuk membeli kucing dalam karung. Namun apa tanggapan Citibank ? Seperti yang umum terjadi di negara ini, semua angkat tangan. Pihak Citibank tidak tahu menahu perkara telemarketer yang menelpon saya, dan mengatakan bahwa telemarketer tersebut adalah orang-orang Panin. Saya diminta untuk langsung mengurus ke Panin Life jika memang saya keberatan. Wah! Luar biasa! Di awal, telamarketer tersebut menelpon saya dengan mengatakan bahwa ia perwakilan dari Citibank dan Panin. Ia bahkan menyebutkan bahwa saya adalah NASABAH TERPILIH Citibank yang berhak atas Asuransi Jiwa 20 Years In Safe Panin Life dan Citibank. Secara logika, seharusnya berbagai hal bisa diselesaikan pada salah satu pihak atau kedua belah pihak.

Saya sendiri hanya menjadi nasabah Citibank untuk kartu kredit Visa Telkomsel. Saya tidak menabung disana, karena ketika itu saya membuka kartu kredit Citibank hanya karena penawaran bundling visa Telkomsel. Dan selama ini pula, hubungan saya dengan bank tersebut tidak pernah buruk. Baru setelah kejadian dengan Panin Life ini lah saya kemudian jadi malas berurusan dengan Citibank.

Kembali ke cerita sebelumnya, saya kemudian mencoba menelpon Panin dan sekali lagi bercerita mengenai kejadian telemarketer yang menghubungi saya, saya keberatan dan ingin membatalkan apapun keputusan saya yang telah saya nyatakan sebelumnya. Sekali lagi, saya mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. Untuk membatalkan polis akibat keberatan dari pihak konsumen atas penawaran yang dilakukan telemarketing, terlebih dahulu harus dicek melalui rekaman percakapan telepon. Dan itu butuh waktu yang tidak sebentar. Saya terus mencoba berdebat untuk memperjuangkan hak saya sebagai customer. Hingga akhirnya, karena kelelahan di ping pong sana sini, saya memutuskan untuk menyerah ketika itu. Saya berpikir, yah ini asuransi jiwa toh. Saya hanya bayar premi Rp. 300.000,- / bulan dan tentunya saya akan mendapatkan manfaat seperti asuransi Prudential saya. Jadi, ya sudahlah, biarkan saja berjalan. Di akhir bulan Juli 2010, saya kemudian mendapatkan surat polis dari Panin Life yang didepannya hanya tertera tanda tangan Direksi Panin. Tanpa tanda tangan saya.

Mungkin Tuhan bermaksud baik pada saya, ketika setelah beberapa bulan setelah saya menikah, saya diingatkan kembali dengan asuransi Panin itu. Selama ini, saya nyaris lupa dengan asuransi tersebut, karena tidak pernah ada satupun statement dari Panin Life mengenai sudah berapa lama premi saya berjalan dan berapa jumlah akhir dari premi saya. Lalu, ketika saya sempat masuk rumah sakit, suami saya mengingatkan saya untuk menggunakan saja manfaat asuransi jiwa yang saya miliki. Dan barulah saya teringat bahwa saya masih memiliki satu asuransi lain selain Prudential, yaitu Panin.

Namun, betapa terkejutnya saya ketika saya membuka lagi polis asuransi saya. Ternyata, polis asuransi tersebut adalah ASURANSI KEMATIAN ! OMG! Saya selama ini tidak menyadarinya, karena tulisan asuransi kematian itu hanya kecil saja, berada di deretan data diri saya, sementara tulisan ASURANSI JIWA dibuat sedemikian besar di halaman paling atas! Ah! Saya kena jebakan batman!

Saya masih ingat ketika dulu telemarketer itu menelpon saya, tidak satupun dia sebutkan bahwa ini hanyalah asuransi kematian. Dia hanya bilang bahwa ini adalah asuransi jiwa kerjasama antara Citibank dan Panin Life. Kemudian, untuk mengkonfirmasi kembali dugaan saya, saya mencoba meng-klik situs Panin Life berkaitan dengan asuransi tersebut. Dan benarlah, claim-claim yang diberitakan oleh Panin, ternyata claim yang diberikan saat pemegang polis telah meninggal! Lain daripada itu, tidak ada.

Saya semakin marah saat saya membalik pasal-pasal yang ada di belakang polis saya yang menyebutkan bahwa pada tahun pertama, uang saya tidak akan bisa di claim. Seluruhnya menjadi milik Panin. Baru ditahun kedua bisa diambil. tetapi itu pun uang yang diakumulasi dari pembayaran premi pada tahun kedua saja. Jadi, selama setahun pertama saya memberikan uang GRATIS kepada Panin! Hebat sekali! Saya semakin muak dengan yang namanya permainan asuransi ini. Ditambah lagi, dengan asuransi kematian ini saya sama sekali tidak bisa mengclaim apapun yang berkaitan dengan urusan kesehatan, seperti biaya rumah sakit atau obat-obatan. Claim akan lancar keluar sejumlah Rp. 55 juta rupiah saat saya mati. FUCK YOU!

Well, inilah bobroknya permainan asuransi dan penawaran telemarketing. Saya jadi paham kenapa ayah dan ibu saya sangat tidak suka dengan asuransi. Bagi saya yang seorang konsumen, sangat tidak mengerti mengenai sistem penawaran via telemarketing dan approval hanya melalui telepon. Bagi saya, pembelian asuransi itu bukan hal yang main-main. Ini kenapa banyak sekali perusahaan asuransi yang kaya hanya dengan modal kertas dan printer saja. Bagaimana tidak ? Di tahun pertama seluruh uang yang dibayarkan nasabahnya masuk ke kantong asuransi tersebut. Tidak bisa ditarik. Entah dengan alasan apa. Padahal buat saya, asuransi itu sama saja dengan menabung. Kecuali jika memang saya dengan sengaja membeli unit investasi seperti Prudential, dimana uang-uang kita ditahun pertama diputar untuk keperluan investasi tersebut.

Saya juga sangat menyayangkan sikap bank yang bekerjasama dengan pihak asuransi. Bagi saya mereka seperti kongkalikong memperdaya nasabah. Program ini sudah seharusnya menjadi perhatian kedua belah pihak, karena bagaimanapu, nasabah yang ditarik oleh Panin Life adalah nasabah Citibank yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan perusahaan asuransi tersebut. Proses autod-debet dari kartu kredit pun seharusnya kembali di konfirmasi ulang kepada saya, sebagai nasabah kartu kredit Citibank. Jika saya keberatan, seharusnya auto-debet itu tidak perlu dilaksanakan. Lah, ini malah sibuk bilang bahwa Citibank hanya sebagai bank perantara saja, tidak ada sangkut pautnya dengan masalah apapun. Tugas dari Citibank hanya melalukan pemindahan sejumlah dana saja, sesuai dengan yang tertera dalam polis asuransi nasabah. Bagus sekali alasannya. Padahal, program yang ditawarkan oleh Panin tersebut juga terdapat di website Citibank. Aneh kalau menurut saya jika pihak bank sama sekali tidak membantu.

Sampai saat ini, saya masih berusaha untuk memutuskan kontrak asuransi tersebut dan menutup kartu kredit Citibank saya. Total uang yang saya setorkan saat ini Rp. 3.000.000,-. Mungkin bagi sebagian orang tidak besar. Tapi bagi saya, memberikan uang gratis ini ke Panin Life sangat tidak ikhlas. Lebih baik saya bereskan semuanya sekarang ketimbang nanti semakin banyak dan semakin sulit untuk diclaim. Ini semua saya anggap pelajaran berharga. Saya tidak mau lagi menjawab apapun yang berkaitan dengan penawaran asuransi. Mau dijelaskan manfaatnya dunia akhirat, saya tidak mau. Saya akan beli asuransi jika memang saya butuhkan. Dan tentunya langsung ke kantor asuransi yang saya pilih atas kesadaran saya. Mudah-mudahan kedepannya para telemarketing dan lembaga-lembaga ini semakin ditertibkan dan dibakukan etikanya. Jangan lagi sampai ada orang yang terkena jebakan bodoh seperti ini.

Karena Hilal Setitik, Rusak Opor Senegara!

Judul ini saya dapat dari tweet salah seorang pemilik akun setelah sejak selepas maghrib, hebohlah warga Indonesia akibat pengumuman Kementerian Agaman mengenai tanggal jatuhnya bulan Syawal alias Lebaran. Lucu sekali, karena setelah itu, Twitter kemudian dihiasi dengan ekspresi kekecewaan orang-orang tentang batalnya perayaan hari raya Idul Fithri, Selasa besok sebagaimana yang tercantum dalam kalender tahunan 2011. Menariknya, ekspresi kekecewaan itu berubah menjadi tweet olok-olok. Ada yang menyebutkan sudah kadung ke salon demi blow dan sasak rambut, menyiapkan kaftan ala Syahrini untuk dipakai kompakan lebaran dengan ibu-ibu satu RT, bahkan sampai tweet menjual ketupat dan opor ayam yang telah kadung dibuat daripada basi!

Lebaran kali ini memang menjadi Lebaran pertama saya di Jakarta. Biasanya, saya akan menghabiskan sepanjang waktu Lebaran dengan mudik ke kampung halaman ibu di Ciamis. Dan belakangan memang sudah berubah, sejak Ibu dan Ayah saya yang mulai malas bermacet-macetan di jalan. Jadilah sejak tahun lalu, tanggal Lebaran saya dan keluarga malah berlibur ke luar negeri. Nah, Lebaran kali ini memang beda. Saya tengah hamil muda, sehingga orang tua juga agak takut mengajak saya kemana-mana. Tapi, saya senang. Sebab saya tidak pernah benar-benar merasakan suasana Jakarta yang lengang.

Baiklah! Kembali ke topik yang saya ingin cerita. Lebaran kali ini juga menurut saya lucu karena dihiasi dengan kejadian hilal bin hilal ini. Padahal sejak pagi-pagi, BBM saya sudah riuh berbunyi dengan pesan Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Belum lagi di linimasa Twitter saya, semua orang sempat membahas bahwa hari ini adalah puasa terakhir, bahwa bulan Ramadhan terasa begitu cepat, bahwa besok sudah Lebaran, dsb. Bahkan ada juga yang men-tweet kegiatan mereka dalam menyambut Lebaran besok, seperti memasak hidangan lebaran, ke salon untuk mempercantik diri, memborong kue-kue lebaran sebelum tokonya tutup, dsb. Hingga kemudian, terjadilah kehebohan itu!

Dimulai dengan pas sore, saya masih melihat suasana Jakarta yang begitu lengang dan sepi. Tumben, pikir saya. Padahal biasanya selepas maghrib, semua orang sudah siap-siap dengan konvoy Takbiran dengan gema Takbir yang berkumandang dimana-mana. Tapi ini sunyi. Mobil yang berlalu lalang pun hanya mobil-mobil pribadi. Usut punya usut, ternyata kata salah satu karyawan salon Ibu saya, pemerintah hingga waktu tadi belum memutuskan kapan tepatnya lebaran. Apakah Selasa besok atau Rabu. Dan kalau belum ditentukan, tidak ada yang berani melalukan takbiran. Wah! Tumben banget, ya. Sebab di tahun-tahun sebelumnya sepertinya sudah ada penentuan yang cepat.

Ketika saya menyimak berita di televisi mengenai Sidang Itsbat di Kementerian Agama, tampak semua peserta sidang pun sedang berkerut dahi. Tak tahu kapan bisa memutuskan. Konon, itu karena bulan yang dicari-cari masih belum tampak sejak sidang dimulai. Hal itulah yang membuat pemerintah tidak bisa sembarangan membuat keputusan hari raya Idul Fithri. Memang sih, ada sebagian kalangan yang sudah menentukan hari raya mereka. Seperti misalnya komunitas di Padang, lebaran sudah jatuh pada hari ini. Dan Muhammadiyah adalah esok hari. Tidak ada yang aneh sebetulnya, karena setiap tahun pun perayaan lebaran tidak pernah serentak antar komunitas Islam. Namun mungkin karena penentuan hilal ini berlangsung lama, sementara persiapan lebaranan sudah dilakukan sejak hari ini, maka itu yang kemudian bikin heboh.

Sampai mengikuti terus sidang tersebut hingga pukul 19.15 WIB dimana akhirnya pemerintah berhasil mencapai keputusan bahwa 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada hari Rabu! Darrr !! Dan hebohlah semua orang. Akibatnya ya seperti itu. Tweet-tweet dan status-status lucu yang saya baca di akun social media orang-orang. Well, beberapa saat setelah mengetahui kehebohan yang terjadi, pemerintah berusaha mengklarifikasi mengapa terjadi perbedaan antara keputusan pemerintah dengan kalender tahunan. Tapi, apa mau dikata. Semua orang sudah heboh! Dn tampaknya, tweet-tweet romantis bin galau yang menyebutkan bahwa hari ini adalah puasa terakhir, terpaksa menarik kembali ucapannya. Yang mengikuti anjuran pemerintah akan kembali sahur esok hari dengan, tentunya, hidangan Lebaran berupa Ketupat dan Opar Ayam! :D

Jadi, benar juga kata salah satu pemilik akun itu. Karena Hilal setitik, rusak opor senegara ! LOL !

“cin(T)a”, “?” dan “Partition”

Kemarin, disela-sela berita mengenai jelang Lebaran 2011, ada satu berita yang lucu dan cukup mengusik saya. Berita itu mengenai gerombolan FPI yang menyerbu gedung SCTV untuk berdemo, memaksa agar film “?” karya Hanung Bramantyo tidak diputar. Alasannya : film tersebut berbahaya dan menghina umat Islam. Suatu alasan klise yang dalam dekade belakangan ini seringkali saya dengar. Bahkan saking seringnya, alasan tersebut malah membuat saya jadi ingin tertawa.

Saya sendiri belum menonton film “?” yang menghebohkan itu, tapi saya sudah lihat trailernya. Dan menurut saya, sebagai penikmat film, Hanung terbilang sangat berani dan mampu menggambarkan kondisi riil masyarakat pluralis Indonesia saat ini. Sekalipun barangkali plot-plot cerita dibuat lebih ekstrem. Tapi intinya, jika kita mampu berpikir lebih luas lagi, cerita tersebut dibuat untuk mengingatkan kita bahwa inilah wajah nyata kemajemukan Indonesia saat ini.

Jauh sebelum film Hanung ini diproduksi, saya sudah melihat film “cin(T)a” garapan Sammaria Simanjuntak, sebuah film indie yang mengedepankan persoalan keyakinan di Indonesia. Film yang sangat bagus menurut saya, yang dilatar belakangi romansa generasi muda. Film tersebut memang tidak se-ekstrem “?”, karena sepanjang cerita, isinya lebih banyak dialog yang bersumber mengenai kegelisahan dua orang anak muda akan konflik-konflik yang terjadi di tengah-tengah mereka demi membela Tuhannya, membela keyakinannya. Tidak ada penggambaran se-eksplisit restoran Cina yang berdagang makanan mengandung babi, lalu didemo oleh ormas Islam sebagaimana di film Hanung. Tapi jika disimak dialog demi dialog, ia cukup keras menyindir perilaku beragama masyarakat Indonesia saat ini. Setidaknya, begitulah yang saya tangkap dari hasil menonton film tersebut. Persepsi tiap orang bisa beda-beda, kan.

Apa benang merah kedua film tersebut selain isi cerita yang mencoba memberikan gambaran nyata masyarakat majemuk Indonesia sekarang ? Dua-duanya mendulang protes. Bedanya, film “cin(T)a” sempat diprotes oleh kelompok mahasiswa Indonesia di London karena dianggap terlalu berani menampilkan isu keyakinan tersebut dalam sebuah film layar lebar. Mungkin tidak seheboh film “?” yang sampai di fatwa MUI akibat pandangan pluralis-nya. Tapi keduanya sama-sama menerima tentangan bahwa film yang dibuat terlalu sensitif dan dapat mengganggu kehidupan beragama masyarakat kita.

Ketika mendengar dan membaca kritikan itu, saya hanya bertanya dalam diri sendiri : “mengapa kita harus takut dan marah menerima kenyataan yang memang seperti itulah adanya ?”. Tokoh yang ada didalam cerita barangkali fiktif. Tetapi alur cerita dan gambaran-gambarannya adalah nyata. Dan hingga saat ini, usaha untuk dialog antar agama yang dilakukan masih belum maksimal. Entah karena hanya segelintir orang atau kelompok saja yang mau giat melakukannya, atau karena sudah terlalu banyak individu yang didoktrin untuk menjadi fundamentalis militan.

Kenapa harus takut akan perbedaan ? Pertanyaan itu selalu ada di otak saya manakala saya membaca berita mengenai fatwa a,i,u,e,o ; demo kegiatan antar agama a,i,u,e,o ; dsb. Indonesia tidak pernah menyatakan dirinya sebagai negara yang mutlak memeluk satu jenis keyakinan saja. Sudah sejak zaman nenek moyang kita dulu, berbagai ras dan keyakinan ada di Indonesia. Jika tidak, kita tidak akan pernah memiliki kekayaan budaya seperti Candi Borobudur yang mewakili Budha kuno, Candi Prambanan yang mewakili Hindu kuno, Kelenteng Tek Bio di Tangerang yang mewakili suku Cina dan keyakinan Kong Hu Cu, Masjid Demak, Gereja Kathedral, dsb. Kita tidak akan memiliki semua itu. Lalu pertanyaannya, kenapa kita harus menjadi takut akan perbedaan ?

Saya ingat dulu saya pernah menonton sebuah film berjudul “Partition” garapan sutradara Vic Sarin. Film yang sangat menyentuh dan bagus yang dilatar belakangi konflik agama Sikh dan Islam di India pada tahun 1947. Film ini jelas-jelas memperlihatkan bagaimana kedua belah pihak saling membunuh dengan terbuka. Bagaimana kelompok Sikh merampok, membunuh, bahkan memperkosa masyrakat muslim yang kala itu tengah eksodus keluar dari India. Dan bagaimana kelompok Muslim juga menyerang kelompok Sikh. Akibat dari konflik keras dan berkepanjangan itu, pecahlah negara tersebut. Kelompok Sikh tetap berada di India, sementara golongan Muslim yang terusir kemudian mendirikan negara baru, negara yang kini kita kenal sebagai Pakistan.

Bukan masalah gambaran konflik yang membuat saya tersentuh melihat film tersebut. Tapi kisah cinta yang ada digambarkan antara pemuda Sikh dan gadis Muslim yang ia selamatkan saat terjadi perampokan dan pembunuhan dalam eksodus warga Muslim masuk ke Pakistan. Gadis Muslim tersebut diselamatkan oleh si pemuda dan dirawat di perkampungan Sikh, sesuatu yang sangat tabu pada masa itu. Hingga akhirnya, si gadis dipaksa pulang ke Pakistan dan pemuda Sikh ini harus berjuang mati-matian agar bisa bersama dengannya. Akhirnya, pemuda Sikh ini nekad. Masuk ke Pakistan, mengganti agamanya menjadi Muslim, demi cintanya kepada si gadis. Lalu apa yang dia dapat ? Perlakuan kejam dari keluarga si gadis, karena tahu dulunya pemuda ini adalah bagian dari komunitas Sikh yang menindasnya.

Pertanyaan yang dilontarkan dalam film tersebut masih terus terngiang-ngiang di kepala saya hingga saat ini. “Kenapa kemudian agama menjadi sebuah partisi yang menyekat-nyekat antara kita dan lainnya ?”. Dan pertanyaan yang samalah harusnya juga dijawab oleh sebagian besar mereka yang mati-matian membela keyakinannya hingga menyakiti manusia lain. Jika memang negara ini menyadari betul apa artinya masyarakat majemuk, pertanyaan dan konflik yang ada tidak sepatutnya ada dan tumbuh subur. Itu jika memang menyadari. :)

Dear, Little Precious

Dear Little Precious,

Akhirnya Bunda diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk merasakanmu dalam perut Bunda. Sudah lima bulan ini kamu berada dalam perut Bunda, Nak. Dan Bunda betul-betul merasakan kebahagiaan dengan kehadiranmu kini dalam hidup Bunda dan Papa.

Dear Little Precious,

Bunda tidak akan pernah melupakan saat-saat pertama kali kamu mengawali perjalanan untuk datang ke dunia ini. Kala itu, beberapa waktu setelah Bunda dan Papa menikah, Bunda begitu mengharapkan kehadiranmu secepat mungkin. Saking berharapnya, sampai Bunda sempat menangis ketika melakukan tes dengan testpack dan mengetahui hasilnya negatif. Lucu juga kalau mengingat waktu itu, Precious. Bunda sempat ketakutan bahwa Bunda tidak akan diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memilikimu. Bunda menangis dalam hati dan meminta ampun jika selama ini Bunda memiliki dosa-dosa yang menghalangimu untuk dititipkan pada kami. Hingga beberapa minggu setelah Bunda mendapati testpack negatif itu, Bunda nekat melakukan tes lagi sekalipun Papamu melarang Bunda. Dan, betapa bahagianya Bunda, Nak. Dua strip yang Bunda nantikan itu, muncul dalam testpack Bunda! Ah, Tuhan! Suatu keajaiban dan berkat tiada tara yang Kau berikan untuk kami.

Dear Little Precious,

Bunda juga tidak akan pernah lupa bagaimana awal perjalanan mengandungmu di perut Bunda adalah sesuatu yang penuh perjuangan. Barangkali berbeda dengan sebagian besar teman-teman Bunda. Bagaimana tidak ? Dalam bulan-bulan pertama, Bunda tidak bisa apa-apa selain muntah dan muntah sepanjang waktu. Di awal, Bunda masih mampu bertahan dan memaksa makan apapun yang Bunda bisa, agar kamu tidak kelaparan. Tapi seiring bertambah waktu, frekuensi mual Bunda menjadi semakin hebat. Sehari Bunda bisa muntah lebih dari 15 kali. Makanan yang Bunda makan hanya bertahan tidak lebih dari 10 menit. Kala itu, Bunda begitu merasakan bagaimana perjuangan seorang Ibu dalam melindungi anaknya, sama seperti dulu nenekmu mengandung Bunda. Karena Bunda tidak kuat lagi ditambah dengan demam tinggi yang mungkin terjadi karena kekurangan cairan dan turunnya daya tahan tubuh, Bunda terpaksa masuk rumah sakit.

Dear Little Precious,

Bunda tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya jarum-jarum itu menusuki tangan Bunda. Bunda tidak akan pernah lupa dosis obat yang dimasukkan dalam tubuh Bunda. Bunda tidak akan pernah lupa letih dan lemasnya Bunda kala itu. Bunda tidak akan pernah lupa. Dan Bunda tidak pernah menyesal menjalaninya. Itu semua Bunda lakukan untuk menyelamatkanmu. Bunda rela diapakan saja, asal kamu bisa selamat didalam sana, Nak. Sekalipun Bunda kadang merasa malu karena dianggap lemah dengan kehamilan Bunda, Bunda tidak peduli. Semua akan Bunda lakukan demi kamu. Suatu saat nanti, perjuangan Bunda akan tertebus dengan melihatmu lahir sehat dan tumbuh menjadi anak yang pintar.

Dear Little Precious,

Sudah lima bulan kamu bersama Bunda. Bunda sudah bisa merasakan gerakan halusmu dikala malam. Seringnya kita terjaga sama-sama ya, Nak. Bunda malah seringkali berpikiran lucu jika merasakan kamu begitu aktif didalam perut Bunda. Bunda suka membayangkan kamu yang sedang bermain-main sepatu roda, atau basket, atau petak umpet, atau dansa-dansa. Yah, bayangan konyol semacam itulah. Dan setiap kali Bunda memikirkan itu, Bunda pasti akan tersenyum sendiri. Bunda lalu akan dengan gemas memanggilmu “Genduuuttt.. gerak-gerak melulu!”. Kalau sudah begitu, Papa juga akan dengan semangat datang ke perut Bunda dan mengusap-usap kamu. Papa juga suka penasaran dengan gerakanmu. Dia seringkali menempelkan pipinya atau telinganya ke perut Bunda, berharap dapat merasakan gerakanmu atau menangkap suaramu. Entah dia bisa merasakan atau tidak, tapi setelah itu dia pasti mengelus-elusmu melalui perut Bunda.

Dear Little Precious,

Tumbuhlah jadi anak yang sehat di dalam perut Bunda. Tidak ada hal lain yang Bunda harapkan di dunia ini selain kesehatanmu, Nak. Maafkan Bunda yang kadang suka telat memberi kamu vitamin. Bunda janji tidak akan lalai lagi terhadapmu. Bunda akan makan apapun yang kamu perlukan untuk pertumbuhanmu di dalam sana. Bunda janji.

Dear Little Precious,

Bulan depan, untuk pertama kalinya kami akan melihatmu dalam citra 4 dimensi. Disana kamu akan di screening untuk dilihat bentuk utuhmu didalam perut Bunda. Bunda gugup, Nak menanti saat-saat itu. Bukannya Bunda tidak yakin akan kesehatanmu. Hanya saja Bunda tidak ingin ada sesuatu yang terjadi sama kamu. Kalau itu sampai terjadi, Bunda tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri, selamanya. Tapi Bunda yakin kamu akan baik-baik saja. Kamu anak yang kuat, Nak. Sekalipun Bunda harus terbaring lemah dalam bulan-bulan kemarin, tapi kamu tidak pernah rewel. Dalam perjalanan 5 bulanmu bersama Bunda, tidak sekalipun kamu menunjukkan tanda-tanda yang fatal. Kamu bahkan bergerak aktif di usia 5 bulan ini. Dan Bunda bangga padamu, Nak. Bunda dan Papa selalu doakan yang terbaik untukmu.

Dear Little Precious,

Sehat-sehat di perut Bunda ya, Nak. Bunda dan Papa sangat sayang pada kamu. Tahun depan, saat ulang tahun Papa, Bunda, Kakek dan Nenekmu, kamu sudah ada di dunia ini. Bunda dan Papa tidak sabar menantikan kehadiranmu. Sehat-sehat dan kuat ya, Nak. Bunda dan Papa akan terus menjagamu.

Dari Yang Menyayangimu,

Bunda dan Papa. :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.