Jebakan Penawaran Asuransi Citibank dan Panin Life

Minggu lalu, saya sempat menuliskan share di salah satu forum online mengenai kasus saya terkait dengan asuransi. Sebetulnya share itu juga saya maksudkan sebagai bentuk surat pembaca dan ekpsresi kekesalan saya terhadap Citibank dan Panin Life. Jadi begini, ceritanya.

Tahun 2010 sekitar bulan Juni, saya sempat dihubungi oleh seorang telemarketer yang mengaku sebagai representatif Citibank dan Panin Life. Si mbak-mbak telemarketer ini menyebutkan bahwa saya, sebagai nasabah terpilih Citibank, berhak untuk mendapatkan asuransi jiwa 20 Years in Safe, kerjasama antara Citibank dan Panin Life. Sebetulnya sejak awal percakapan, saya tidak sama sekali tidak tertarik. Apalagi karena ini menyangkut penawaran produk via telepon. Bukan yang pertama kali juga saya dihubungi oleh berbagai jenis telemarketer dan semuanya selalu berhasil saya tolak. Namun, entah kenapa ketika telepon yang satu ini masuk, saya malah ‘kesangkut’. Bukan karena saya tertarik. Tapi awalnya karena saya merasa ingin memberi kesempatan kepada mbak-mbaknya dalam menjelaskan. Dan disinilah mulai permasalahannya.

Selama penjelasan yang terburu-buru itu, si telemarketer menyebutkan bahwa asuransi Panin Life 20 Years in Safe ini merupakan program yang sangat bermanfaat. Karena dalam waktu dua tahun saja, uang tersebut sudah bisa saya ambil kembali. Premi yang dibayar pun perbulannya hanya Rp. 300.000,- saja yang akan langsung di auto-debet dari kartu kredit Citibank saya. Dan beribu-ribu penjelasan berbunga lainnya untuk meyakinkan saya bahwa saya harus mengambil asuransi tersebut.

Memiliki asuransi bukanlah hal pertama kali bagi saya. Sebelumnya saya juga telah membuka unit asuransi plus investasi Prudential melalui teman saya. Dan dengan begitu, saya tahu langkah-langkah seperti apa yang harusnya saya, sebagai konsumen, lakukan ketika akan membeli produk asuransi. Tentunya juga, proses penjelasan dan penawaran tidak hanya dilakukan melalui telepon semata, melainkan secara tatap muka. Dan bagi saya, cara tersebut adalah yang paling memenuhi etika dilakukan, sebab kita sendiri bisa mendapatkan penjelasan secara detail mengenai apa saja berkaitan dengan produk yang kita beli. Ditambah lagi, kita tidak perlu menentukan hari itu langsung jadi. Masih memiliki waktu untuk pikir-pikir terlebih dahulu.

Apa yang terjadi melalui telemarketing ini menurut saya sudah menyalahi etika. Setelah selesai mbak-mbak telemarketer itu memberi penjelasan, saya kemudian ditanya berbagai macam hal berkaitan dengan data diri. Saya hanya jawab apa adanya karena asumsi saya ketika itu adalah ia hanya bertanya, sesuai dengan data yang ia miliki melalui Citibank. Tapi kemudian diakhir, si telemarketer ini kemudian meminta persetujuan saya untuk menjadikan polis asuransi tersebut. Saya sendiri bilang bahwa saya mungkin tertarik. Tetapi saya butuh melihat skemanya terlebih dahulu atau dokumen-dokumen penjelas lainnya. Saya tidak mau beli kucing dalam karung. Namun entah bagaimana, yang saya rasakan ketika itu, si telemarketer mampu memutar-mutar percakapan dan mengkondisiksan agar saya menjawab “Ya” saat ia bertanya apakah saya tertarik dengan asuransi tersebut. Lalu apa yang terjadi kemudian ? Saya dinyatakan membeli polis asuransi jiwa 20 Years in Safe ! Hebat!

Setelah menutup telepon, saya kemudian sadar bahwa ada yang tidak beres dalam penawaran ini. Lalu saya kemudian menelepon Citibank untuk melaporkan kejadian tersebut dan saya hendak membatalkan apapun yang telah menjadi keputusan telepon sebelumnya karena saya keberatan. Saya keberatan dengan cara penawarannya. Saya keberatan dengan proses asuransi ini. Saya keberatan karena saya merasa saya dipaksa untuk membeli kucing dalam karung. Namun apa tanggapan Citibank ? Seperti yang umum terjadi di negara ini, semua angkat tangan. Pihak Citibank tidak tahu menahu perkara telemarketer yang menelpon saya, dan mengatakan bahwa telemarketer tersebut adalah orang-orang Panin. Saya diminta untuk langsung mengurus ke Panin Life jika memang saya keberatan. Wah! Luar biasa! Di awal, telamarketer tersebut menelpon saya dengan mengatakan bahwa ia perwakilan dari Citibank dan Panin. Ia bahkan menyebutkan bahwa saya adalah NASABAH TERPILIH Citibank yang berhak atas Asuransi Jiwa 20 Years In Safe Panin Life dan Citibank. Secara logika, seharusnya berbagai hal bisa diselesaikan pada salah satu pihak atau kedua belah pihak.

Saya sendiri hanya menjadi nasabah Citibank untuk kartu kredit Visa Telkomsel. Saya tidak menabung disana, karena ketika itu saya membuka kartu kredit Citibank hanya karena penawaran bundling visa Telkomsel. Dan selama ini pula, hubungan saya dengan bank tersebut tidak pernah buruk. Baru setelah kejadian dengan Panin Life ini lah saya kemudian jadi malas berurusan dengan Citibank.

Kembali ke cerita sebelumnya, saya kemudian mencoba menelpon Panin dan sekali lagi bercerita mengenai kejadian telemarketer yang menghubungi saya, saya keberatan dan ingin membatalkan apapun keputusan saya yang telah saya nyatakan sebelumnya. Sekali lagi, saya mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. Untuk membatalkan polis akibat keberatan dari pihak konsumen atas penawaran yang dilakukan telemarketing, terlebih dahulu harus dicek melalui rekaman percakapan telepon. Dan itu butuh waktu yang tidak sebentar. Saya terus mencoba berdebat untuk memperjuangkan hak saya sebagai customer. Hingga akhirnya, karena kelelahan di ping pong sana sini, saya memutuskan untuk menyerah ketika itu. Saya berpikir, yah ini asuransi jiwa toh. Saya hanya bayar premi Rp. 300.000,- / bulan dan tentunya saya akan mendapatkan manfaat seperti asuransi Prudential saya. Jadi, ya sudahlah, biarkan saja berjalan. Di akhir bulan Juli 2010, saya kemudian mendapatkan surat polis dari Panin Life yang didepannya hanya tertera tanda tangan Direksi Panin. Tanpa tanda tangan saya.

Mungkin Tuhan bermaksud baik pada saya, ketika setelah beberapa bulan setelah saya menikah, saya diingatkan kembali dengan asuransi Panin itu. Selama ini, saya nyaris lupa dengan asuransi tersebut, karena tidak pernah ada satupun statement dari Panin Life mengenai sudah berapa lama premi saya berjalan dan berapa jumlah akhir dari premi saya. Lalu, ketika saya sempat masuk rumah sakit, suami saya mengingatkan saya untuk menggunakan saja manfaat asuransi jiwa yang saya miliki. Dan barulah saya teringat bahwa saya masih memiliki satu asuransi lain selain Prudential, yaitu Panin.

Namun, betapa terkejutnya saya ketika saya membuka lagi polis asuransi saya. Ternyata, polis asuransi tersebut adalah ASURANSI KEMATIAN ! OMG! Saya selama ini tidak menyadarinya, karena tulisan asuransi kematian itu hanya kecil saja, berada di deretan data diri saya, sementara tulisan ASURANSI JIWA dibuat sedemikian besar di halaman paling atas! Ah! Saya kena jebakan batman!

Saya masih ingat ketika dulu telemarketer itu menelpon saya, tidak satupun dia sebutkan bahwa ini hanyalah asuransi kematian. Dia hanya bilang bahwa ini adalah asuransi jiwa kerjasama antara Citibank dan Panin Life. Kemudian, untuk mengkonfirmasi kembali dugaan saya, saya mencoba meng-klik situs Panin Life berkaitan dengan asuransi tersebut. Dan benarlah, claim-claim yang diberitakan oleh Panin, ternyata claim yang diberikan saat pemegang polis telah meninggal! Lain daripada itu, tidak ada.

Saya semakin marah saat saya membalik pasal-pasal yang ada di belakang polis saya yang menyebutkan bahwa pada tahun pertama, uang saya tidak akan bisa di claim. Seluruhnya menjadi milik Panin. Baru ditahun kedua bisa diambil. tetapi itu pun uang yang diakumulasi dari pembayaran premi pada tahun kedua saja. Jadi, selama setahun pertama saya memberikan uang GRATIS kepada Panin! Hebat sekali! Saya semakin muak dengan yang namanya permainan asuransi ini. Ditambah lagi, dengan asuransi kematian ini saya sama sekali tidak bisa mengclaim apapun yang berkaitan dengan urusan kesehatan, seperti biaya rumah sakit atau obat-obatan. Claim akan lancar keluar sejumlah Rp. 55 juta rupiah saat saya mati. FUCK YOU!

Well, inilah bobroknya permainan asuransi dan penawaran telemarketing. Saya jadi paham kenapa ayah dan ibu saya sangat tidak suka dengan asuransi. Bagi saya yang seorang konsumen, sangat tidak mengerti mengenai sistem penawaran via telemarketing dan approval hanya melalui telepon. Bagi saya, pembelian asuransi itu bukan hal yang main-main. Ini kenapa banyak sekali perusahaan asuransi yang kaya hanya dengan modal kertas dan printer saja. Bagaimana tidak ? Di tahun pertama seluruh uang yang dibayarkan nasabahnya masuk ke kantong asuransi tersebut. Tidak bisa ditarik. Entah dengan alasan apa. Padahal buat saya, asuransi itu sama saja dengan menabung. Kecuali jika memang saya dengan sengaja membeli unit investasi seperti Prudential, dimana uang-uang kita ditahun pertama diputar untuk keperluan investasi tersebut.

Saya juga sangat menyayangkan sikap bank yang bekerjasama dengan pihak asuransi. Bagi saya mereka seperti kongkalikong memperdaya nasabah. Program ini sudah seharusnya menjadi perhatian kedua belah pihak, karena bagaimanapu, nasabah yang ditarik oleh Panin Life adalah nasabah Citibank yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan perusahaan asuransi tersebut. Proses autod-debet dari kartu kredit pun seharusnya kembali di konfirmasi ulang kepada saya, sebagai nasabah kartu kredit Citibank. Jika saya keberatan, seharusnya auto-debet itu tidak perlu dilaksanakan. Lah, ini malah sibuk bilang bahwa Citibank hanya sebagai bank perantara saja, tidak ada sangkut pautnya dengan masalah apapun. Tugas dari Citibank hanya melalukan pemindahan sejumlah dana saja, sesuai dengan yang tertera dalam polis asuransi nasabah. Bagus sekali alasannya. Padahal, program yang ditawarkan oleh Panin tersebut juga terdapat di website Citibank. Aneh kalau menurut saya jika pihak bank sama sekali tidak membantu.

Sampai saat ini, saya masih berusaha untuk memutuskan kontrak asuransi tersebut dan menutup kartu kredit Citibank saya. Total uang yang saya setorkan saat ini Rp. 3.000.000,-. Mungkin bagi sebagian orang tidak besar. Tapi bagi saya, memberikan uang gratis ini ke Panin Life sangat tidak ikhlas. Lebih baik saya bereskan semuanya sekarang ketimbang nanti semakin banyak dan semakin sulit untuk diclaim. Ini semua saya anggap pelajaran berharga. Saya tidak mau lagi menjawab apapun yang berkaitan dengan penawaran asuransi. Mau dijelaskan manfaatnya dunia akhirat, saya tidak mau. Saya akan beli asuransi jika memang saya butuhkan. Dan tentunya langsung ke kantor asuransi yang saya pilih atas kesadaran saya. Mudah-mudahan kedepannya para telemarketing dan lembaga-lembaga ini semakin ditertibkan dan dibakukan etikanya. Jangan lagi sampai ada orang yang terkena jebakan bodoh seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.