Nyanyian Sang Penjaga

Dear Little Precious,

Jika engkau telah bisa mendengar dan mengingat, maka dengar dan ingatlah ini :

“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.
Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya…”
(Mazmur 121 : 1-8 “Tuhan Penjaga Israel”)

Ini adalah pesan Papa dan Bunda yang suatu saat akan membawamu pada ketenangan hati dan jiwa, kebijaksanaan pikiran, dan kecerdasan dalam bertindak. Apapun yang badai dan tebing terjal yang kau lalui, ingatlah bahwa hanya Tuhan satu-satunya penjaga setiamu…

If Life Can Be Paused

Pernah nggak sih dalam keseharian kita, kita merenung dan berpikir jika saja kehidupan punya tombol “play”, “delete”, atau “paused” ? Tentunya kehidupan itu akan bisa kita atur sekehendak kita. Sayangnya, hidup ya hidup. Kita mungkin diberikan privileges sebagai makhluk Tuhan yang mampu mencipta, merasakan, dan menikmati apa yang ada disekitar kita. Tapi sekali lagi, privileges itu tidak pernah 100 % ada pada kita, karena pada akhirnya garis hidup sudah ditentukan dari Sang Maha ‘Director’.

Tahun ini terasa banyak sekali yang terjadi hingga saya sendiri tidak memiliki waktu benar-benar untuk merenung. Hal yang sedih, menyakitkan, senang dan membahagiakan terjadi sepanjang tahun ini. Dimulai dari keputusan untuk menikah setelah jalan terjal yang harus saya lalui di tahun-tahun lalu. Adalah hal yang membahagikan sekaligus luar biasa bagi saya karena dulu ketika banyak sekali permasalahan yang mendera saya dan dia, saya mulai memutuskan untuk berhenti berharap dan menjalani saja apa yang akan terjadi. Saya tidak mau sakit dan kecewa. Saya yakin, Tuhan telah mengatur garis hidup kita, termasuk jodoh. Maka saya tidak perlu khawatir untuk itu semua. Yang perlu saya lakukan hanya berdoa agar perjalanan hidup saya diberikan berkah oleh Tuhan, dan saya masih diberi kesempatan menyenangkan orang tua saya.

Ketika akhirnya pernikahan itu terjadi, luar biasa bersyukurnya saya. Dan setelah itu, segalanya terasa cepat. Saya resmi menjadi seorang istri, saya membuka lembaran baru kehidupan, saya belajar hal-hal baru mengenai hidup berumah tangga, saya mengandung, saya memiliki anggota keluarga baru berkaki empat, dsb. Kurang apalagi ? Seorang sahabat saya berkata bahwa ini adalah tahun saya. This is totally my year. Karena dari dulu, saya tidak pernah begitu berambisi menjadi seseorang yang terkenal, atau punya kekuasaan, atau apa saja yang heboh-heboh. Saya hanya menginginkan kehidupan yang tenang. Dan tahun ini, semuanya seakan menjadi nyata. Saya memiliki keluarga kecil. Saya membangun rumah kami bersama. Orang tua saya juga merasa bahagia karena tidak diberikan waktu lama oleh Tuhan untuk menjadikan generasi penerus keluarga dalam rahim saya. Dalam waktu empat bulan, kami sedang menantikan kelahiran anak laki-laki pertama ini. Well, again i ask, what more can i expect ?

Seandainya saja waktu dan kehidupan memiliki tombol ‘paused’, maka ingin sekali saya menghentikannya untuk sejenak, agar apa yang saya miliki dan rasakan saat ini tidak pernah hilang, untuk 1000 tahun lamanya. :)

… And it’s a BOY!

Yes! It’s a BOY! Officially! No, i am not talking about my dog or other pets. I am talking about our first child. :) Hehehehe..

Jadi hari ini ceritanya saya, suami dan nyokap memenuhi janji temu dengan dokter kandungan di Brawijaya Women and Children Hospital. Kali ini memang agak berbeda dari check-up biasanya, karena ini adalah kali pertama saya dan suami gw melihat secara “utuh” bayi yang ada dalam kandungan saya. Yap ! Kalau selama ini kita cuma USG 2 dimensi saja, maka kali ini kita sudah bisa melakukan USG 4 dimensi! I was super excited and yet nervous! Segudang pertanyaan “bagaimana kalau” terus melintas selama seminggu terakhir. Tapi berbekal dengan doa dan pikiran yang positif, akhirnya tadi saya memberanikan diri untuk melangkah ke ruang periksa.

Basically, tidak ada perbedaan mendasar USG 4 dimensi ini dengan sesi USG sebelumnya. Saya berbaring di ranjang periksa, lalu bidan mengoleskan gel, dan dokter mulai menggerakkan alat USG diatas perut saya. Bedanya cuma tampilan gambarnya lebih jelas dan sudah terlihat bagian2 tubuhnya. Sesi berjalan tadi agak lama, karena pas bagian mau melihat muka bayi kami, si bayi malah sibuk menutup mukanya dengan tangan. Sempat diguncang-guncang sebentar dengan dokternya, tapi sama saja. Tangannya masih menutup muka. Tapi, yang bikin kami jadi super senang adalah kami sudah bisa tahu jenis kelaminnya. It’s a BOY! Yaay! hahahahaha..

Sebetulnya kalau buat saya pribadi, tidak jadi masalah sih apakah ini anak laki-laki atau perempuan. Tapi sepertinya kakeknya lebih banyak berharap agar cucu pertamanya itu laki-laki. Mungkin karena selama 27 tahun ini, dia cuma punya anak sebiji, perempuan dan nakal pulak! Hehehehe.. makanya keinginan punya penerus keluarga laki-laki jadi harapannya melalui saya. Well, Tuhan memang begitu baik. Doanya terkabul. Bayi laki-laki kami yang masih berada dalam kandungan, ternyata normal dan sehat. Seluruh organ tubuhnya diperiksa oleh dokter. Lengkap. Organ luarnya, seperti tangan, kepala, kaki, paha, dll juga lengkap dan normal. Memang hanya wajahnya saja yang belum begitu jelas karena terhalang tangannya dia. Dan saking dokternya juga penasaran, saya tadi sampai harus diminta untuk jalan-jalan dulu, agar bayinya berubah posisi, dan mudah-mudahan bisa terlihat wajahnya. Sudah dilakukan, tapi itupun cuma terlihat sedikit. Hehehehehe..

Anyway, apapun pengalaman USG 4 dimensi tadi, yang jelas saya sendiri sangat senang mengetahui bahwa bayi yang saya kandung sehat dan baik-baik saja. Kandungan saya baru berusia 5 bulan, dan masih ada 4 bulan lagi hingga waktu kelahirannya. Saya harap semua juga berjalan lancar sampai si dedek gendut ini lahir dan melihat dunia. Dan tugas kami sekarang ? Mungkin sudah mulai mencari-cari nama yang pas untuk si kecil ya! :)

Samantha

Sudah hampir dua minggu ini, keluarga kecil saya ketambahan anggota baru. Namanya: Samantha. Yess! Sa-man-tha. :) Dia adalah bayi anjing yang saya dan suami ambil dari seorang breeder di Jakarta Utara. Samantha baru berusia 3 minggu waktu kami ambil. Dan ini kali pertamanya saya, apalagi suami, merawat seekor anjing dari usia bayi. Wah! Pengalaman yang menegangkan sih. Apalagi setelah banyak baca di review-review, hingga usia anak anjing mencapai 8 minggu sebaiknya tidak dipisahkan dulu dari induknya. Anak-anak anjing itu selain masih membutuhkan kasih sayang dari induknya, juga akan rentan terhadap penyakit akibat tidak diberi ASI.

Anyway, sebetulnya awalnya suami saya sih yang ngebet banget pengen punya anjing. Sekalipun tahu bahwa kami tinggal di apartemen, tapi sepertinya keinginan dia untuk punya anjing tidak terbendung. Beberapa kali dia sudah mengutarakan keinginannya. Sampai suatu ketika, saya lihat iklan di sebuah forum online mengenai breeder yang menjual bayi husky betina. Usianya bayi itu 3 minggu. Dan waktu saya melihat fotonya, saya dan suami langsung jatuh cinta! Maka tidak berapa lama, bayi Husky yang kemudian kami beri nama Samantha itu, resmi jadi anggota keluarga kami.

Ketika pertama kali Sam ada di pangkuan saya, ia begitu kecil. Bulunya yang tebal dan matanya yang masih belum terlalu awas, membuat saya dan suami sempat khawatir apakah mampu ya kami merawat bayi ini. Apalagi saya yang sedang hamil 5 bulan. Pastinya segala sesuatu yang berurusan dengan kebersihan Sam, harus dipikirkan bersama. Belum lagi dengan frekuensi makannya dia yang masih cukup sering, plus suka menangis karena masih bayi. Wah! Tidak terbayang saat itu bagaimana kami akan menjalani hari-hari kedepan dengan mengurus Sam.

Hari pertama Sam ada di rumah, saya dan suami bergantian memberikan susu pengganti ASI yang segera kami beli di petshop. Sebelumnya, walaupun saya sudah berjanji untuk lebih berhemat bulan ini, saya dan suami akhirnya harus mengeluarkan kocek yang lumayan juga untuk membeli perlengkapan Sam. Dari mulai susu, handuk untuk selimut, kandang, sisir, bedak kering, obat kulit, dsb. Lumayan juga kami menguras dompet kami untuk itu semua. Tapi ya karena sudah terlanjur sayang dengan Sam, sepanjang kami bisa memenuhi, ya akan kami coba penuhi. Samantha tidak hanya sekedar seekor anjing bagi kami. Saya dan suami merawatnya sudah seperti anak sendiri.

Hari-hari kami juga berlalu dengan berbagai suka duka merawat Sam. Dulu pertama kali diambil, Samantha masih belum bisa berjalan dengan baik. Masih suka sempoyongan. Apalagi karena lantai unit kami dari tegel, kalau ia jalan masih suka terpeleset sana sini. Antara lucu dan kasihan melihatnya. Heheheh.. Dan demi menjaga Sam, saya dan suami akhirnya membuat kesepakatan pembagian waktu. Kalau saya keluar, berarti suami dirumah dulu sampai saya pulang untuk bisa memberi makan Sam. Begitu juga sebaliknya. Pengorbanan waktu yang kami berikan rasanya memang luar biasa. Tadinya saya dan suami masih bisa melakukan aktivitas untuk diri kami sendiri atau bersantai berdua. Sekarang, tiap kali keluar, yang ada di pikiran cuma bagaimana keadaan Sam. Well, ternyata begitu ya merawat bayi. Baru bayi Husky saja sudah begini, apalagi nanti kalau saya sudah melahirkan bayi kami ? hehehehe..

Sekarang Samantha sudah menginjak usia 5 minggu lebih. Dia sudah bisa berjalan dengan benar, bisa berlari, giginya sudah tumbuh, dan sudah tidak mau lagi ngedot. Sejak minggu lalu, dia sudah mulai makan seperti anak anjing lainnya yaitu dog food yang saya campur dengan susu cair. Walau masih makanan lunak, tapi Sam terbilang rakus! Tadinya kami memberi makan dia dengan frekuensi 4 jam sekali. Tapi karena sudah mulai besar, kami mulai melatihnya untuk bisa makan setiap 6 jam sekali. Dan karena anjing Husky termasuk anjing yang punya intelijensi tinggi, di usia 5 minggu dia sudah bisa membedakan bunyi. Kalau saya atau suami sedang mengocok makanannya di mangkuknya, dia sudah akan langsung berdiri, menyalak dan heboh sendiri minta segera diturunkan mangkuknya.

Saat saya menulis mengenai Sam, kami baru saja pulang dari Anyer, perjalanan jauh pertama Sam di usia balita. Sempat takut juga dia akan stress, tidak mau makan, lantas sakit. Tapi ternyata tidak. Makannya tetap lahap dan dia juga tetap aktif. Bahkan kemarin ada momen bagus. Sam pertama kalinya makan malam di pantai. Hahahaha.. Tidak sengaja sih. Tapi lucu juga. Dia makan malam di pantai pas waktu matahari terbenam. :D

Well, saya dan suami senang sekali bisa memiliki Sam. Kelak kalau anak kami sudah lahir, Sam harus bisa menjadi sahabatnya. Dan kami pun berharap dia untuk mendampingi keluarga kami, menjadi bagian cerita kehidupan kami, merasakan suka dan dukanya bersama, hingga ia tutup usia, 15 tahun nanti. Sam our little baby, we love you so much! Tetap sehat ya, Sam! :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.