Testing WordPress From iPhone 4s
01 Mar 2012 2 Comments
in New Discovery Tags: iPhone 4s
Iya! Akhirnya gw harus narik kata-kata gw dulu, bahwa gw nggak akan beli iPhone. Setelah melewati beberapa generasi iPhone, baru sekaranglah gw beli si putih yang konon mulai menggeser kedudukan BlackBerry di Amerika sana.
Belum sebulan juga gw pegang gadget ini. Dan ternyata memang terasa lebih mudah dari segi unduhan aplikasi dan penggunaannya. Belum lagi variasi aplikasi yang juga banyak di iTunes Store. Okelah buat bunuh waktu kalau kebetulan lagi nongkrong sendiri.
Tulisan ini diketik dari aplikasi WordPress for iPhone. Percobaan pertama buat lihat enak apa nggak nulis blog dari smartphone.
So, yes. This white gadget will be my next bestfriend!
Abraham Benedict Aviandra Hasian Hutapea
01 Jan 2012 Leave a Comment
in I Say
HAPPY NEW YEAR, ALL !
Wow! Nggak kerasa hari ini kita sudah melangkah lagi ke tahun 2012 yang baru, meninggalkan 2011 yang penuh dengan kenangan. Bagi saya, 2011 memang adalah tahunnya saya. Tahun saya menjadi istri, dan di penghujung tahun kemarin, saya masih diberi kesempatan mendapatkan hadiah luar biasa, seorang putra tampan bernama Abraham Benedict Aviandra Hasian Hutapea.
Yes ! Dia sudah datang ke dunia pada tanggal 28 Desember 2011, 3 hari setelah Natal dan 3 hari sebelum Tahun Baru melalui operasi sesar. Kalau di postingan sebelumnya saya sempat menulis menunggu si kecil yang diperkirakan lahir di bulan Januari 2012, ternyata Tuhan punya kehendak lain. Dan Puji Tuhan si dedek kecil nan lucu lahir sehat dengan berat 3,915 kg dan panjang 51,5 cm.
Hari ini sudah hari ke empat Abraham ada ditengah keluarga kami. Ia benar-benar memberikan kebahagiaan buat semuanya, terutama kakek-neneknya dan tentunya juga kami, orang tuanya. Well, saya sendiri benar-benar menikmati peran sebagai ibu dari si bulet yang menggemaskan itu. Mengalahkan semua rasa sakit pasca operasi sesar, saya betul-betul berusaha menjadi ibu yang baik bagi si kecil Abraham.
Semoga nanti, putra kecil kami akan tumbuh menjadi pria yang kuat dan bijaksana serta jadi kebanggaan buat keluarganya.
So, our little love Abraham, welcome to the world, and enjoy your new life in a very new year! We love you so much!
Online Gold Trading : Bisnis Betulan Atau Tipuan ?
22 Dec 2011 2 Comments
in I Say, New Discovery
Jadi beberapa waktu lalu, kebetulan saya diberikan modal oleh orang tua untuk ikutan bermain di online trading, khususnya komoditas gold alias emas. Awalnya, sempat ragu-ragu juga karena begitu banyaknya cerita-cerita negatif mengenai perusahaan berjangka yang kerjanya hanya menipu konsumen dengan sengaja melenyapkan uang mereka pada saat trading. Tapi kemudian, karena ayah saya bilang dicoba saja dulu dengan nominal yang sedikit dan kalau misalnya merasa tidak nyaman bisa quit kapan saja, maka saya pikir, kenapa nggak dicoba saja ?
Nah, setelah tanda tangan sana sini, ini itu, dsb dengan perusahaan yang bersangkutan, serta bertemu langsung dengan si broker, saya mulai bermain sendiri komoditas ini sejak minggu lalu. Ketika pertama kali bermain, yah lumayan saya bisa dapat keuntungan dari point yang saya pasang. Hingga seminggu ini saya terjun langsung, profit dan loss sudah saya lalui. Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Kalau loss, prinsip saya adalah saya harus bisa kembalikan ke modal awal, untuk kemudian cari profit lagi. Begitulah manajemen dagang yang saya lakukan.
Akhir-akhir ini, kondisi ekonomi dan politik dunia sedang tidak stabil. Salah satu isu yang saya dengar selama masa perkuliahan Intelijen, adalah adanya krisis keuangan Eropa yang berpengaruh ke harga emas itu sendiri. Sebelum bermain gold trading ini, barangkali analisa-analisa ekonomi itu tidak terlalu menarik perhatian saya. Namun ternyata, ketika terjun langsung sebagai pedagang/investor, seluruh perkembangan ekonomi dan politik dunia itu betul2 berpengaruh terhadap pelaku pasar dan harga komoditas emas itu sendiri. Apalagi, emas dianggap sebagai “save hafen” atau alat hedging, yang umumnya digunakan untuk mempertahankan aset.
Terlepas dari permasalahan-permasalahan ekonomi yang ada, saya sendiri juga merasakan suka duka dalam memprediksi pasar melalui online gold trading. Kadangkala, saya juga merasa cemas atau takut bahwa saran-saran yang diberikan oleh broker saya, sengaja dibuat untuk membuat saya loss banyak, seperti yang seringkali diceritakan dalam berbagai forum-forum. Namun, sejak awal bermain pun, saya sudah mengantisipasi hal-hal ini dengan memeriksa apakah metatrader yang diberikan benar2 realtime atau bodong (beberapa kasus orang yang tertipu, sengaja diberikan metatrader bodong), saya tidak memperkenankan broker saya untuk bermain atas nama akun saya, saya sendiri terjun langsung dalam mencari berita perkembangan terakhir menganai situasi ekonomi dan politik dunia.
Nah, dengan demikian, selama saya melakukan trading ini, saya tidak merasa terbeban atau merasa dibohongi oleh siapa-siapa oleh karena saya lah yang memutuskan untuk ambil posisi dimana dan likuidasi pada level berapa. Bukan broker saya. Mereka tugasnya hanya memberikan saran kepada saya, dan sayalah yang menjalakan semua prosedur perdagangannya.
Kalau saya perhatikan, banyak sekali investor-investor yang berani melakukan online trading ini tidak berpikir panjang mengenai strategi perdagangan. Banyak barangkali yang menyangka bahwa online trading ini semacam judi. Hanya faktor luck dan insting yang bermain. Padahal sama sekali tidak. Setelah saya cermati, dibutuhkan kesiapan mental, pengetahuan ekonomi, kemampuan analisa, dan strategi yang matang dalam melakukan trading ini.
Misalnya saja saya. Sebelum saya memutuskan untuk ikut, saya banyak sekali diwanti-wanti oleh orang mengenai penipuan-penipuan itu. Maka dari itu, untuk menghindarinya saya mencari banyak-banyak data mengenai perusahaan tempat saya percayakan dana saya. Apakah tercatat di Bapeppti atau tidak, sejak kapan ia berjalan, brokernya siapa saja, dsb. Kalau merasa tidak yakin, ya jangan ikut. So far, saya masih yakin dengan perusahaan ini, maka saya putuskan ikut.
Kemudian, sejak awal saya berprinsip bahwa online trading itu sama seperti toko. Saya yang memiliki toko, sehingga harus saya yang menjual barang-barang di toko saya, dan bukan orang lain. Fungsi dari orang lain hanya sampai memberikan saran. Tapi kendali keputusan, ada di tangan saya. Masa saya yang punya usaha, tapi orang lain yang jalankan ? Kan lucu. Kerja keras oleh diri sendiri adalah hal yang paling logis. Bukan dengan menunggu orang lain yang mencetak keuntungan untuk kita.
Punya toko dan berjualan sesuatu, tentu tidak mungkin asal-asalan. Sebagai seorang usahwan yang baik, kita harus kenal barang dagang kita. Kita harus tau karakteristiknya seperti apa, siapa yang akan membeli, saat ini harga sedang naik atau turun, dsb. Semua itu dalam perdagangan komoditas dapat dianalisa melalui analisa teknikal dan analisa fundamental. Maka, jangan malas untuk banyak cari tau perkembangan terakhir. Berdagangan bukan berjudi. Kalau kita punya data yang akurat, ya mudah-mudahan itu semua akan menghasilkan.
Saya sendiri sejak bergabung dengan online trading, berusaha menambah pengetahuan dan memahami online trading ini melalui buku yang saya beli di Gramedia, forum-forum forex dan derivatifnya, banyak berdiskusi dengan saudara saya yang orang bank, membaca berita pada situs-situs komoditi emas dunia yang relevan, dsb. Jadi ketika kita ambil posisi, kita sudah tau kenapa kita ambil posisi itu.
Memang trend pasar dunia tidak bisa ditebak. Apalagi kita hanya memantaunya melalui chart-chart yang bergerak naik turun. Tidak sekali saja terjadi loss. Saya sempat dalam seminggu ini delapan kali profit, dua kali loss. Nah, ketika loss terjadi, saya tidak mau putus asa. Saya berpikir, pasti ada yang salah dengan analisa saya, atau sesuatu tiba2 terjadi pada ekonomi dan politik dunia di jam tersebut. Oleh karena itu, kita juga harus paham strategi apa yang bisa digunakan apabila terjadi pembalikan arah pasar, untuk meminimalisir loss. Yah, namanya juga dagang. Pasti ada masa untung dan rugi. Begitu juga di online trading. Sekarang lebih kepada perkara bagaimana kita bisa me-manage itu semua.
Kemudian hal sepele tapi penting adalah kita harus sesering mungkin melihat perkembangan chart. Jangan sampai kehilangan momen. Loss saya sebetulnya banyak terjadi akibat dari kehilangan momen tersebut. Ketika ada waktu yang tepat untuk likuidasi, saya malah sedang berada di luar, tidak bawa laptop, sehingga tidak bisa likuidasi. Jadi, perlengkapilah diri kita dengan komputer kecil (netbook atau tablet) yang bisa kita install metatrader kita, plus dengan koneksi internet, dan bawalah kemana-mana. Jadi kapanpun kita lihat ada momen yang baik untuk likuidasi posisi, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.
Terakhir dan yang utama adalah manajemen mental. Saya selalu setuju untuk melihat keuntungan sebagai hasil yang kita dapatkan karena kerja keras kita. Jangan serakah dalam menentukan keuntungan. Ada banyak momentum yang bisa digunakan, sehingga keuntungan kecil tapi sering menjadi lebih penting ketimbang banyak tapi besoknya loss lebih banyak akibat rakus. Selain itu, kalau kita sejak awal memutuskan terlibat sendiri, tentunya kita akan lebih legowo dalam bermain. Sadar bahwa semua yang kita lakukan, kitalah yang putuskan bukan orang lain.
Jadi, begitu deh cerita saya mengenai si trading-tradingan ini. Saya masih dalam tahap belajar juga untuk lebih mendalami. Semoga dalam bulan-bulan kedepan ada banyak strategi baik yang bisa saya dapatkan dalam proses belajar ini. Kesimpulan saya sih, perdagangan ini harus diperlakukan sama dengan bisnis kita yang lain. Kenali, pelajari dan lakukan sendiri.
Menunggu Januari
16 Nov 2011 Leave a Comment
in I Say, New Discovery
Oh, Dear ! Nggak kerasa ya, sudah 7 bulan saja usia kandungan saya. Perut sudah sekarang sudah semakin besar, tanda-tanda stretch mark sudah keluar di beberapa tempat, sakit pinggang, nyeri pangkal paha, suilt tidur, dan segudang pengalaman baru lainnya. Hehehehe… Jadi Ibu itu memang tidak mudah ya. Perjuangannya luar biasa! Tapi istilah itu juga yang bisa saya bilang selama masa kehamilan ini. LUAR BIASA !
Rasanya kok seperti baru kemarin saja saya pertama kali terkejut melihat hasil dua test-pack yang saya beli. Rasanya kok seperti kemarin saja saya masuk ke gejala trimester pertama yang sangat menantang (sampai masuk rumah sakit dua kali!). Rasanya kok seperti kemarin saja saya muntah hampir sepanjang waktu. Rasanya kok seperti kemarin saja saya mengadakan acara syukuran 4 bulanan. Rasanya kok seperti kemarin saja, saya mulai rakus makan dan mulai sibuk kuliah. Yah, semua itu rasanya kok seperti kemarin saja! Dan saat ini, tahu-tahu saya sudah masuk usia kandungan 7 bulan, habis belanja perlengkapan bayi bersama Mama (dengan kalap tentunya!), dan siapin mental menjelang lahiran.
Yes, jadi perempuan dan Ibu itu tidak mudah. Walaupun saya sangat senang dan menanti kelahiran si buah hati, tapi betul-betul jadi pengalaman baru yang sangat berharga dan ya itu, MENANTANG. Banyak yang menasehati saya bahwa hamil itu harus disikapi dengan rasa syukur dan sabar. Ahahaha.. Well, they spoke to the wrong person, i guess. Karena buat saya, bukan karena kita hamil lantas kita harus berubah 180 derajat jadi sok kalem. Produksi hormon yang bermacam-macam di badan kita ternyata bisa memicu berbagai macam emosi, dari mulai sedih yang keterlaluan, marah yang keterlaluan, sampai senang yang keterlaluan. Hwehehehehe.. But then again, it doesn’t mean that i dont feel grateful. Tentu saja saya bersyukur dengan berusaha sebaik mungkin menjaga dedek bayi. Just like something i wrote couple months ago, untuk sesuatu yang sangat berharga, saya rela melakukan apa saja.
Dokter kemarin bilang, due datenya 15 Januari. Dan teman saya bilang, ada baiknya menunggu seminggu sampai selesai Imlek di tanggal 23 Januari. Alasannya ? Karena setelah Imlek dia lahir, berarati si jagoan kecil akan ber-shio Naga. Hahahaha.. Well, tempting! Pengen juga punya anak bershio Naga. ![]()
Tapi itu urusan belakangan lah.. Apakah dia akan lebih cepat atau lebih lama dari perkiraan, sepanjang bayinya sehat dan baik-baik saja, it would be fine for me. Malah harusnya saya yang lebih fokus untuk mempersiapkan diri untuk lahiran normal atau caesar. Huhuhuhu..
Yah, sisa 2 bulan lagi. Kata orang, nikmatin saja masa-masa menuju persalinan. Karena nanti setelah melahirkan, pastinya akan kangen masa-masa hamil… (ummmm… i… dont think so.. kalau buat sekarang.. :p). Sembari menunggu Januari datang, saya harus banyak berdoa semoga semua lancar dan selamat.
Wish me luck!
Nyanyian Sang Penjaga
19 Sep 2011 Leave a Comment
in I Say
Dear Little Precious,
Jika engkau telah bisa mendengar dan mengingat, maka dengar dan ingatlah ini :
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.
Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya…”
(Mazmur 121 : 1-8 “Tuhan Penjaga Israel”)
Ini adalah pesan Papa dan Bunda yang suatu saat akan membawamu pada ketenangan hati dan jiwa, kebijaksanaan pikiran, dan kecerdasan dalam bertindak. Apapun yang badai dan tebing terjal yang kau lalui, ingatlah bahwa hanya Tuhan satu-satunya penjaga setiamu…
If Life Can Be Paused
19 Sep 2011 Leave a Comment
in I Say
Pernah nggak sih dalam keseharian kita, kita merenung dan berpikir jika saja kehidupan punya tombol “play”, “delete”, atau “paused” ? Tentunya kehidupan itu akan bisa kita atur sekehendak kita. Sayangnya, hidup ya hidup. Kita mungkin diberikan privileges sebagai makhluk Tuhan yang mampu mencipta, merasakan, dan menikmati apa yang ada disekitar kita. Tapi sekali lagi, privileges itu tidak pernah 100 % ada pada kita, karena pada akhirnya garis hidup sudah ditentukan dari Sang Maha ‘Director’.
Tahun ini terasa banyak sekali yang terjadi hingga saya sendiri tidak memiliki waktu benar-benar untuk merenung. Hal yang sedih, menyakitkan, senang dan membahagiakan terjadi sepanjang tahun ini. Dimulai dari keputusan untuk menikah setelah jalan terjal yang harus saya lalui di tahun-tahun lalu. Adalah hal yang membahagikan sekaligus luar biasa bagi saya karena dulu ketika banyak sekali permasalahan yang mendera saya dan dia, saya mulai memutuskan untuk berhenti berharap dan menjalani saja apa yang akan terjadi. Saya tidak mau sakit dan kecewa. Saya yakin, Tuhan telah mengatur garis hidup kita, termasuk jodoh. Maka saya tidak perlu khawatir untuk itu semua. Yang perlu saya lakukan hanya berdoa agar perjalanan hidup saya diberikan berkah oleh Tuhan, dan saya masih diberi kesempatan menyenangkan orang tua saya.
Ketika akhirnya pernikahan itu terjadi, luar biasa bersyukurnya saya. Dan setelah itu, segalanya terasa cepat. Saya resmi menjadi seorang istri, saya membuka lembaran baru kehidupan, saya belajar hal-hal baru mengenai hidup berumah tangga, saya mengandung, saya memiliki anggota keluarga baru berkaki empat, dsb. Kurang apalagi ? Seorang sahabat saya berkata bahwa ini adalah tahun saya. This is totally my year. Karena dari dulu, saya tidak pernah begitu berambisi menjadi seseorang yang terkenal, atau punya kekuasaan, atau apa saja yang heboh-heboh. Saya hanya menginginkan kehidupan yang tenang. Dan tahun ini, semuanya seakan menjadi nyata. Saya memiliki keluarga kecil. Saya membangun rumah kami bersama. Orang tua saya juga merasa bahagia karena tidak diberikan waktu lama oleh Tuhan untuk menjadikan generasi penerus keluarga dalam rahim saya. Dalam waktu empat bulan, kami sedang menantikan kelahiran anak laki-laki pertama ini. Well, again i ask, what more can i expect ?
Seandainya saja waktu dan kehidupan memiliki tombol ‘paused’, maka ingin sekali saya menghentikannya untuk sejenak, agar apa yang saya miliki dan rasakan saat ini tidak pernah hilang, untuk 1000 tahun lamanya.
… And it’s a BOY!
16 Sep 2011 Leave a Comment
in I Say, New Discovery
Yes! It’s a BOY! Officially! No, i am not talking about my dog or other pets. I am talking about our first child.
Hehehehe..
Jadi hari ini ceritanya saya, suami dan nyokap memenuhi janji temu dengan dokter kandungan di Brawijaya Women and Children Hospital. Kali ini memang agak berbeda dari check-up biasanya, karena ini adalah kali pertama saya dan suami gw melihat secara “utuh” bayi yang ada dalam kandungan saya. Yap ! Kalau selama ini kita cuma USG 2 dimensi saja, maka kali ini kita sudah bisa melakukan USG 4 dimensi! I was super excited and yet nervous! Segudang pertanyaan “bagaimana kalau” terus melintas selama seminggu terakhir. Tapi berbekal dengan doa dan pikiran yang positif, akhirnya tadi saya memberanikan diri untuk melangkah ke ruang periksa.
Basically, tidak ada perbedaan mendasar USG 4 dimensi ini dengan sesi USG sebelumnya. Saya berbaring di ranjang periksa, lalu bidan mengoleskan gel, dan dokter mulai menggerakkan alat USG diatas perut saya. Bedanya cuma tampilan gambarnya lebih jelas dan sudah terlihat bagian2 tubuhnya. Sesi berjalan tadi agak lama, karena pas bagian mau melihat muka bayi kami, si bayi malah sibuk menutup mukanya dengan tangan. Sempat diguncang-guncang sebentar dengan dokternya, tapi sama saja. Tangannya masih menutup muka. Tapi, yang bikin kami jadi super senang adalah kami sudah bisa tahu jenis kelaminnya. It’s a BOY! Yaay! hahahahaha..
Sebetulnya kalau buat saya pribadi, tidak jadi masalah sih apakah ini anak laki-laki atau perempuan. Tapi sepertinya kakeknya lebih banyak berharap agar cucu pertamanya itu laki-laki. Mungkin karena selama 27 tahun ini, dia cuma punya anak sebiji, perempuan dan nakal pulak! Hehehehe.. makanya keinginan punya penerus keluarga laki-laki jadi harapannya melalui saya. Well, Tuhan memang begitu baik. Doanya terkabul. Bayi laki-laki kami yang masih berada dalam kandungan, ternyata normal dan sehat. Seluruh organ tubuhnya diperiksa oleh dokter. Lengkap. Organ luarnya, seperti tangan, kepala, kaki, paha, dll juga lengkap dan normal. Memang hanya wajahnya saja yang belum begitu jelas karena terhalang tangannya dia. Dan saking dokternya juga penasaran, saya tadi sampai harus diminta untuk jalan-jalan dulu, agar bayinya berubah posisi, dan mudah-mudahan bisa terlihat wajahnya. Sudah dilakukan, tapi itupun cuma terlihat sedikit. Hehehehehe..
Anyway, apapun pengalaman USG 4 dimensi tadi, yang jelas saya sendiri sangat senang mengetahui bahwa bayi yang saya kandung sehat dan baik-baik saja. Kandungan saya baru berusia 5 bulan, dan masih ada 4 bulan lagi hingga waktu kelahirannya. Saya harap semua juga berjalan lancar sampai si dedek gendut ini lahir dan melihat dunia. Dan tugas kami sekarang ? Mungkin sudah mulai mencari-cari nama yang pas untuk si kecil ya!
Samantha
14 Sep 2011 2 Comments
Sudah hampir dua minggu ini, keluarga kecil saya ketambahan anggota baru. Namanya: Samantha. Yess! Sa-man-tha.
Dia adalah bayi anjing yang saya dan suami ambil dari seorang breeder di Jakarta Utara. Samantha baru berusia 3 minggu waktu kami ambil. Dan ini kali pertamanya saya, apalagi suami, merawat seekor anjing dari usia bayi. Wah! Pengalaman yang menegangkan sih. Apalagi setelah banyak baca di review-review, hingga usia anak anjing mencapai 8 minggu sebaiknya tidak dipisahkan dulu dari induknya. Anak-anak anjing itu selain masih membutuhkan kasih sayang dari induknya, juga akan rentan terhadap penyakit akibat tidak diberi ASI.
Anyway, sebetulnya awalnya suami saya sih yang ngebet banget pengen punya anjing. Sekalipun tahu bahwa kami tinggal di apartemen, tapi sepertinya keinginan dia untuk punya anjing tidak terbendung. Beberapa kali dia sudah mengutarakan keinginannya. Sampai suatu ketika, saya lihat iklan di sebuah forum online mengenai breeder yang menjual bayi husky betina. Usianya bayi itu 3 minggu. Dan waktu saya melihat fotonya, saya dan suami langsung jatuh cinta! Maka tidak berapa lama, bayi Husky yang kemudian kami beri nama Samantha itu, resmi jadi anggota keluarga kami.
Ketika pertama kali Sam ada di pangkuan saya, ia begitu kecil. Bulunya yang tebal dan matanya yang masih belum terlalu awas, membuat saya dan suami sempat khawatir apakah mampu ya kami merawat bayi ini. Apalagi saya yang sedang hamil 5 bulan. Pastinya segala sesuatu yang berurusan dengan kebersihan Sam, harus dipikirkan bersama. Belum lagi dengan frekuensi makannya dia yang masih cukup sering, plus suka menangis karena masih bayi. Wah! Tidak terbayang saat itu bagaimana kami akan menjalani hari-hari kedepan dengan mengurus Sam.
Hari pertama Sam ada di rumah, saya dan suami bergantian memberikan susu pengganti ASI yang segera kami beli di petshop. Sebelumnya, walaupun saya sudah berjanji untuk lebih berhemat bulan ini, saya dan suami akhirnya harus mengeluarkan kocek yang lumayan juga untuk membeli perlengkapan Sam. Dari mulai susu, handuk untuk selimut, kandang, sisir, bedak kering, obat kulit, dsb. Lumayan juga kami menguras dompet kami untuk itu semua. Tapi ya karena sudah terlanjur sayang dengan Sam, sepanjang kami bisa memenuhi, ya akan kami coba penuhi. Samantha tidak hanya sekedar seekor anjing bagi kami. Saya dan suami merawatnya sudah seperti anak sendiri.
Hari-hari kami juga berlalu dengan berbagai suka duka merawat Sam. Dulu pertama kali diambil, Samantha masih belum bisa berjalan dengan baik. Masih suka sempoyongan. Apalagi karena lantai unit kami dari tegel, kalau ia jalan masih suka terpeleset sana sini. Antara lucu dan kasihan melihatnya. Heheheh.. Dan demi menjaga Sam, saya dan suami akhirnya membuat kesepakatan pembagian waktu. Kalau saya keluar, berarti suami dirumah dulu sampai saya pulang untuk bisa memberi makan Sam. Begitu juga sebaliknya. Pengorbanan waktu yang kami berikan rasanya memang luar biasa. Tadinya saya dan suami masih bisa melakukan aktivitas untuk diri kami sendiri atau bersantai berdua. Sekarang, tiap kali keluar, yang ada di pikiran cuma bagaimana keadaan Sam. Well, ternyata begitu ya merawat bayi. Baru bayi Husky saja sudah begini, apalagi nanti kalau saya sudah melahirkan bayi kami ? hehehehe..
Sekarang Samantha sudah menginjak usia 5 minggu lebih. Dia sudah bisa berjalan dengan benar, bisa berlari, giginya sudah tumbuh, dan sudah tidak mau lagi ngedot. Sejak minggu lalu, dia sudah mulai makan seperti anak anjing lainnya yaitu dog food yang saya campur dengan susu cair. Walau masih makanan lunak, tapi Sam terbilang rakus! Tadinya kami memberi makan dia dengan frekuensi 4 jam sekali. Tapi karena sudah mulai besar, kami mulai melatihnya untuk bisa makan setiap 6 jam sekali. Dan karena anjing Husky termasuk anjing yang punya intelijensi tinggi, di usia 5 minggu dia sudah bisa membedakan bunyi. Kalau saya atau suami sedang mengocok makanannya di mangkuknya, dia sudah akan langsung berdiri, menyalak dan heboh sendiri minta segera diturunkan mangkuknya.
Saat saya menulis mengenai Sam, kami baru saja pulang dari Anyer, perjalanan jauh pertama Sam di usia balita. Sempat takut juga dia akan stress, tidak mau makan, lantas sakit. Tapi ternyata tidak. Makannya tetap lahap dan dia juga tetap aktif. Bahkan kemarin ada momen bagus. Sam pertama kalinya makan malam di pantai. Hahahaha.. Tidak sengaja sih. Tapi lucu juga. Dia makan malam di pantai pas waktu matahari terbenam.
Well, saya dan suami senang sekali bisa memiliki Sam. Kelak kalau anak kami sudah lahir, Sam harus bisa menjadi sahabatnya. Dan kami pun berharap dia untuk mendampingi keluarga kami, menjadi bagian cerita kehidupan kami, merasakan suka dan dukanya bersama, hingga ia tutup usia, 15 tahun nanti. Sam our little baby, we love you so much! Tetap sehat ya, Sam!
Jebakan Penawaran BANCASSURANCE
30 Aug 2011 8 Comments
in I Say
Minggu lalu, saya sempat menuliskan share di salah satu forum online mengenai kasus saya terkait dengan asuransi. Sebetulnya share itu juga saya maksudkan sebagai bentuk surat pembaca dan ekpsresi kekesalan saya terhadap Citibank dan Panin Life. Jadi begini, ceritanya.
Tahun 2010 sekitar bulan Juni, saya sempat dihubungi oleh seorang telemarketer yang mengaku sebagai representatif Citibank dan Panin Life. Si mbak-mbak telemarketer ini menyebutkan bahwa saya, sebagai nasabah terpilih Citibank, berhak untuk mendapatkan asuransi jiwa 20 Years in Safe, kerjasama antara Citibank dan Panin Life. Sebetulnya sejak awal percakapan, saya tidak sama sekali tidak tertarik. Apalagi karena ini menyangkut penawaran produk via telepon. Bukan yang pertama kali juga saya dihubungi oleh berbagai jenis telemarketer dan semuanya selalu berhasil saya tolak. Namun, entah kenapa ketika telepon yang satu ini masuk, saya malah ‘kesangkut’. Bukan karena saya tertarik. Tapi awalnya karena saya merasa ingin memberi kesempatan kepada mbak-mbaknya dalam menjelaskan. Dan disinilah mulai permasalahannya.
Selama penjelasan yang terburu-buru itu, si telemarketer menyebutkan bahwa asuransi Panin Life 20 Years in Safe ini merupakan program yang sangat bermanfaat. Karena dalam waktu dua tahun saja, uang tersebut sudah bisa saya ambil kembali. Premi yang dibayar pun perbulannya hanya Rp. 300.000,- saja yang akan langsung di auto-debet dari kartu kredit Citibank saya. Dan beribu-ribu penjelasan berbunga lainnya untuk meyakinkan saya bahwa saya harus mengambil asuransi tersebut.
Memiliki asuransi bukanlah hal pertama kali bagi saya. Sebelumnya saya juga telah membuka unit asuransi plus investasi Prudential melalui teman saya. Dan dengan begitu, saya tahu langkah-langkah seperti apa yang harusnya saya, sebagai konsumen, lakukan ketika akan membeli produk asuransi. Tentunya juga, proses penjelasan dan penawaran tidak hanya dilakukan melalui telepon semata, melainkan secara tatap muka. Dan bagi saya, cara tersebut adalah yang paling memenuhi etika dilakukan, sebab kita sendiri bisa mendapatkan penjelasan secara detail mengenai apa saja berkaitan dengan produk yang kita beli. Ditambah lagi, kita tidak perlu menentukan hari itu langsung jadi. Masih memiliki waktu untuk pikir-pikir terlebih dahulu.
Apa yang terjadi melalui telemarketing ini menurut saya sudah menyalahi etika. Setelah selesai mbak-mbak telemarketer itu memberi penjelasan, saya kemudian ditanya berbagai macam hal berkaitan dengan data diri. Saya hanya jawab apa adanya karena asumsi saya ketika itu adalah ia hanya bertanya, sesuai dengan data yang ia miliki melalui Citibank. Tapi kemudian diakhir, si telemarketer ini kemudian meminta persetujuan saya untuk menjadikan polis asuransi tersebut. Saya sendiri bilang bahwa saya mungkin tertarik. Tetapi saya butuh melihat skemanya terlebih dahulu atau dokumen-dokumen penjelas lainnya. Saya tidak mau beli kucing dalam karung. Namun entah bagaimana, yang saya rasakan ketika itu, si telemarketer mampu memutar-mutar percakapan dan mengkondisiksan agar saya menjawab “Ya” saat ia bertanya apakah saya tertarik dengan asuransi tersebut. Lalu apa yang terjadi kemudian ? Saya dinyatakan membeli polis asuransi jiwa 20 Years in Safe ! Hebat!
Setelah menutup telepon, saya kemudian sadar bahwa ada yang tidak beres dalam penawaran ini. Lalu saya kemudian menelepon Citibank untuk melaporkan kejadian tersebut dan saya hendak membatalkan apapun yang telah menjadi keputusan telepon sebelumnya karena saya keberatan. Saya keberatan dengan cara penawarannya. Saya keberatan dengan proses asuransi ini. Saya keberatan karena saya merasa saya dipaksa untuk membeli kucing dalam karung. Namun apa tanggapan Citibank ? Seperti yang umum terjadi di negara ini, semua angkat tangan. Pihak Citibank tidak tahu menahu perkara telemarketer yang menelpon saya, dan mengatakan bahwa telemarketer tersebut adalah orang-orang Panin. Saya diminta untuk langsung mengurus ke Panin Life jika memang saya keberatan. Wah! Luar biasa! Di awal, telamarketer tersebut menelpon saya dengan mengatakan bahwa ia perwakilan dari Citibank dan Panin. Ia bahkan menyebutkan bahwa saya adalah NASABAH TERPILIH Citibank yang berhak atas Asuransi Jiwa 20 Years In Safe Panin Life dan Citibank. Secara logika, seharusnya berbagai hal bisa diselesaikan pada salah satu pihak atau kedua belah pihak.
Saya sendiri hanya menjadi nasabah Citibank untuk kartu kredit Visa Telkomsel. Saya tidak menabung disana, karena ketika itu saya membuka kartu kredit Citibank hanya karena penawaran bundling visa Telkomsel. Dan selama ini pula, hubungan saya dengan bank tersebut tidak pernah buruk. Baru setelah kejadian dengan Panin Life ini lah saya kemudian jadi malas berurusan dengan Citibank.
Kembali ke cerita sebelumnya, saya kemudian mencoba menelpon Panin dan sekali lagi bercerita mengenai kejadian telemarketer yang menghubungi saya, saya keberatan dan ingin membatalkan apapun keputusan saya yang telah saya nyatakan sebelumnya. Sekali lagi, saya mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. Untuk membatalkan polis akibat keberatan dari pihak konsumen atas penawaran yang dilakukan telemarketing, terlebih dahulu harus dicek melalui rekaman percakapan telepon. Dan itu butuh waktu yang tidak sebentar. Saya terus mencoba berdebat untuk memperjuangkan hak saya sebagai customer. Hingga akhirnya, karena kelelahan di ping pong sana sini, saya memutuskan untuk menyerah ketika itu. Saya berpikir, yah ini asuransi jiwa toh. Saya hanya bayar premi Rp. 300.000,- / bulan dan tentunya saya akan mendapatkan manfaat seperti asuransi Prudential saya. Jadi, ya sudahlah, biarkan saja berjalan. Di akhir bulan Juli 2010, saya kemudian mendapatkan surat polis dari Panin Life yang didepannya hanya tertera tanda tangan Direksi Panin. Tanpa tanda tangan saya.
Mungkin Tuhan bermaksud baik pada saya, ketika setelah beberapa bulan setelah saya menikah, saya diingatkan kembali dengan asuransi Panin itu. Selama ini, saya nyaris lupa dengan asuransi tersebut, karena tidak pernah ada satupun statement dari Panin Life mengenai sudah berapa lama premi saya berjalan dan berapa jumlah akhir dari premi saya. Lalu, ketika saya sempat masuk rumah sakit, suami saya mengingatkan saya untuk menggunakan saja manfaat asuransi jiwa yang saya miliki. Dan barulah saya teringat bahwa saya masih memiliki satu asuransi lain selain Prudential, yaitu Panin.
Namun, betapa terkejutnya saya ketika saya membuka lagi polis asuransi saya. Ternyata, polis asuransi tersebut adalah ASURANSI KEMATIAN ! OMG! Saya selama ini tidak menyadarinya, karena tulisan asuransi kematian itu hanya kecil saja, berada di deretan data diri saya, sementara tulisan ASURANSI JIWA dibuat sedemikian besar di halaman paling atas! Ah! Saya kena jebakan batman!
Saya masih ingat ketika dulu telemarketer itu menelpon saya, tidak satupun dia sebutkan bahwa ini hanyalah asuransi kematian. Dia hanya bilang bahwa ini adalah asuransi jiwa kerjasama antara Citibank dan Panin Life. Kemudian, untuk mengkonfirmasi kembali dugaan saya, saya mencoba meng-klik situs Panin Life berkaitan dengan asuransi tersebut. Dan benarlah, claim-claim yang diberitakan oleh Panin, ternyata claim yang diberikan saat pemegang polis telah meninggal! Lain daripada itu, tidak ada.
Saya semakin marah saat saya membalik pasal-pasal yang ada di belakang polis saya yang menyebutkan bahwa pada tahun pertama, uang saya tidak akan bisa di claim. Seluruhnya menjadi milik Panin. Baru ditahun kedua bisa diambil. tetapi itu pun uang yang diakumulasi dari pembayaran premi pada tahun kedua saja. Jadi, selama setahun pertama saya memberikan uang GRATIS kepada Panin! Hebat sekali! Saya semakin muak dengan yang namanya permainan asuransi ini. Ditambah lagi, dengan asuransi kematian ini saya sama sekali tidak bisa mengclaim apapun yang berkaitan dengan urusan kesehatan, seperti biaya rumah sakit atau obat-obatan. Claim akan lancar keluar sejumlah Rp. 55 juta rupiah saat saya mati. FUCK YOU!
Well, inilah bobroknya permainan asuransi dan penawaran telemarketing. Saya jadi paham kenapa ayah dan ibu saya sangat tidak suka dengan asuransi. Bagi saya yang seorang konsumen, sangat tidak mengerti mengenai sistem penawaran via telemarketing dan approval hanya melalui telepon. Bagi saya, pembelian asuransi itu bukan hal yang main-main. Ini kenapa banyak sekali perusahaan asuransi yang kaya hanya dengan modal kertas dan printer saja. Bagaimana tidak ? Di tahun pertama seluruh uang yang dibayarkan nasabahnya masuk ke kantong asuransi tersebut. Tidak bisa ditarik. Entah dengan alasan apa. Padahal buat saya, asuransi itu sama saja dengan menabung. Kecuali jika memang saya dengan sengaja membeli unit investasi seperti Prudential, dimana uang-uang kita ditahun pertama diputar untuk keperluan investasi tersebut.
Saya juga sangat menyayangkan sikap bank yang bekerjasama dengan pihak asuransi. Bagi saya mereka seperti kongkalikong memperdaya nasabah. Program ini sudah seharusnya menjadi perhatian kedua belah pihak, karena bagaimanapu, nasabah yang ditarik oleh Panin Life adalah nasabah Citibank yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan perusahaan asuransi tersebut. Proses autod-debet dari kartu kredit pun seharusnya kembali di konfirmasi ulang kepada saya, sebagai nasabah kartu kredit Citibank. Jika saya keberatan, seharusnya auto-debet itu tidak perlu dilaksanakan. Lah, ini malah sibuk bilang bahwa Citibank hanya sebagai bank perantara saja, tidak ada sangkut pautnya dengan masalah apapun. Tugas dari Citibank hanya melalukan pemindahan sejumlah dana saja, sesuai dengan yang tertera dalam polis asuransi nasabah. Bagus sekali alasannya. Padahal, program yang ditawarkan oleh Panin tersebut juga terdapat di website Citibank. Aneh kalau menurut saya jika pihak bank sama sekali tidak membantu.
Sampai saat ini, saya masih berusaha untuk memutuskan kontrak asuransi tersebut dan menutup kartu kredit Citibank saya. Total uang yang saya setorkan saat ini Rp. 3.000.000,-. Mungkin bagi sebagian orang tidak besar. Tapi bagi saya, memberikan uang gratis ini ke Panin Life sangat tidak ikhlas. Lebih baik saya bereskan semuanya sekarang ketimbang nanti semakin banyak dan semakin sulit untuk diclaim. Ini semua saya anggap pelajaran berharga. Saya tidak mau lagi menjawab apapun yang berkaitan dengan penawaran asuransi. Mau dijelaskan manfaatnya dunia akhirat, saya tidak mau. Saya akan beli asuransi jika memang saya butuhkan. Dan tentunya langsung ke kantor asuransi yang saya pilih atas kesadaran saya. Mudah-mudahan kedepannya para telemarketing dan lembaga-lembaga ini semakin ditertibkan dan dibakukan etikanya. Jangan lagi sampai ada orang yang terkena jebakan bodoh seperti ini.
Karena Hilal Setitik, Rusak Opor Senegara!
29 Aug 2011 Leave a Comment
in I Say
Judul ini saya dapat dari tweet salah seorang pemilik akun setelah sejak selepas maghrib, hebohlah warga Indonesia akibat pengumuman Kementerian Agaman mengenai tanggal jatuhnya bulan Syawal alias Lebaran. Lucu sekali, karena setelah itu, Twitter kemudian dihiasi dengan ekspresi kekecewaan orang-orang tentang batalnya perayaan hari raya Idul Fithri, Selasa besok sebagaimana yang tercantum dalam kalender tahunan 2011. Menariknya, ekspresi kekecewaan itu berubah menjadi tweet olok-olok. Ada yang menyebutkan sudah kadung ke salon demi blow dan sasak rambut, menyiapkan kaftan ala Syahrini untuk dipakai kompakan lebaran dengan ibu-ibu satu RT, bahkan sampai tweet menjual ketupat dan opor ayam yang telah kadung dibuat daripada basi!
Lebaran kali ini memang menjadi Lebaran pertama saya di Jakarta. Biasanya, saya akan menghabiskan sepanjang waktu Lebaran dengan mudik ke kampung halaman ibu di Ciamis. Dan belakangan memang sudah berubah, sejak Ibu dan Ayah saya yang mulai malas bermacet-macetan di jalan. Jadilah sejak tahun lalu, tanggal Lebaran saya dan keluarga malah berlibur ke luar negeri. Nah, Lebaran kali ini memang beda. Saya tengah hamil muda, sehingga orang tua juga agak takut mengajak saya kemana-mana. Tapi, saya senang. Sebab saya tidak pernah benar-benar merasakan suasana Jakarta yang lengang.
Baiklah! Kembali ke topik yang saya ingin cerita. Lebaran kali ini juga menurut saya lucu karena dihiasi dengan kejadian hilal bin hilal ini. Padahal sejak pagi-pagi, BBM saya sudah riuh berbunyi dengan pesan Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Belum lagi di linimasa Twitter saya, semua orang sempat membahas bahwa hari ini adalah puasa terakhir, bahwa bulan Ramadhan terasa begitu cepat, bahwa besok sudah Lebaran, dsb. Bahkan ada juga yang men-tweet kegiatan mereka dalam menyambut Lebaran besok, seperti memasak hidangan lebaran, ke salon untuk mempercantik diri, memborong kue-kue lebaran sebelum tokonya tutup, dsb. Hingga kemudian, terjadilah kehebohan itu!
Dimulai dengan pas sore, saya masih melihat suasana Jakarta yang begitu lengang dan sepi. Tumben, pikir saya. Padahal biasanya selepas maghrib, semua orang sudah siap-siap dengan konvoy Takbiran dengan gema Takbir yang berkumandang dimana-mana. Tapi ini sunyi. Mobil yang berlalu lalang pun hanya mobil-mobil pribadi. Usut punya usut, ternyata kata salah satu karyawan salon Ibu saya, pemerintah hingga waktu tadi belum memutuskan kapan tepatnya lebaran. Apakah Selasa besok atau Rabu. Dan kalau belum ditentukan, tidak ada yang berani melalukan takbiran. Wah! Tumben banget, ya. Sebab di tahun-tahun sebelumnya sepertinya sudah ada penentuan yang cepat.
Ketika saya menyimak berita di televisi mengenai Sidang Itsbat di Kementerian Agama, tampak semua peserta sidang pun sedang berkerut dahi. Tak tahu kapan bisa memutuskan. Konon, itu karena bulan yang dicari-cari masih belum tampak sejak sidang dimulai. Hal itulah yang membuat pemerintah tidak bisa sembarangan membuat keputusan hari raya Idul Fithri. Memang sih, ada sebagian kalangan yang sudah menentukan hari raya mereka. Seperti misalnya komunitas di Padang, lebaran sudah jatuh pada hari ini. Dan Muhammadiyah adalah esok hari. Tidak ada yang aneh sebetulnya, karena setiap tahun pun perayaan lebaran tidak pernah serentak antar komunitas Islam. Namun mungkin karena penentuan hilal ini berlangsung lama, sementara persiapan lebaranan sudah dilakukan sejak hari ini, maka itu yang kemudian bikin heboh.
Sampai mengikuti terus sidang tersebut hingga pukul 19.15 WIB dimana akhirnya pemerintah berhasil mencapai keputusan bahwa 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada hari Rabu! Darrr !! Dan hebohlah semua orang. Akibatnya ya seperti itu. Tweet-tweet dan status-status lucu yang saya baca di akun social media orang-orang. Well, beberapa saat setelah mengetahui kehebohan yang terjadi, pemerintah berusaha mengklarifikasi mengapa terjadi perbedaan antara keputusan pemerintah dengan kalender tahunan. Tapi, apa mau dikata. Semua orang sudah heboh! Dn tampaknya, tweet-tweet romantis bin galau yang menyebutkan bahwa hari ini adalah puasa terakhir, terpaksa menarik kembali ucapannya. Yang mengikuti anjuran pemerintah akan kembali sahur esok hari dengan, tentunya, hidangan Lebaran berupa Ketupat dan Opar Ayam!
Jadi, benar juga kata salah satu pemilik akun itu. Karena Hilal setitik, rusak opor senegara ! LOL !
