Singapore Chili Crab a la saya !

Memasak memang sudah menjadi salah satu hobi saya, apalagi karena saya paling senang menonton acara masak memasak melalui channel yang terdapat di TV Kabel, seperti Discovery Travel and Living atau Asian Food Channel. Sudah beberapa kali pula saya menguji masakan hasil olahan sendiri, mengikuti resep gratisan yang saya buru dari internet. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Tapi saya senang! Setidaknya pengalaman untuk tahu teknik yang tepat mengolah suatu masakan hasil eksperimen dan kenekatan sendiri, saya alami.

Minggu ini adalah minggu dimana saya sangat penasaran dengan masakan Singapore Chili Crab. Saya sangan suka kepiting. Sekalipun kebanyakan orang justru bilang kepiting itu ribet makannya, justru buat saya kepuasan ada ketika kita berhasil mencungkil bagian-bagian daging dari cangkang kerasnya. Apalagi jika kepiting itu dimasak dengan bumbu olahan yang tepat. Dijamin ketagihan !

Nah, Singapore Chili Crab (atau kalau dalam bentuk masakan lokalnya hampir mirip Kepiting Saus Padang), adalah olahan kepiting kegemaran saya. Capek karena harus mengeluarkan kocek banyak, belum lagi kemacetan yang harus dilalui jika ingin menyantap seporsi kepiting khas negeri Singapura ini, saya penasaran untuk mencobanya sendiri. Riset punya riset, akhirnya saya menemukan satu resep yang bahannya pun tidak rumit, dan cara memasaknya tidak perlu terlalu banyak iris ini itu.

Maka, dihari Sabtu yang cerah ini, pergilah saya berbelanja kepiting telur di hipermarket dekat rumah. Sayang memang kepitingnya kurus-kurus gara-gara stress tinggal di Jakarta. Tapi sebagai debut pertama saya dalam mengolah Kepiting, tak apalah dapat kepiting langsing ! Hehehe..

Ini sekedar resep yang saya modifikasi sendiri agar lebih praktis :

Bahan :

4 ekor kepiting telur

2 buah bawang bombay, cincang kasar

4 buah cabe rawit merah, iris

1 keping terasi kecil (bisa dibeli dalam bentuk sachet di supermarket)

1 botol saus Asam Pedas, atau saus tomat dan sambal

4 sdm gula

2 sdt garam

1 butir telur

air

Cara Memasak :

1.  Bersihkan kepiting, dan rebus selama 10 menit atau hingga cangkang berwarna merah, sisihkan

2. Blender halus bawang bombay cincang dan cabe rawit, sisihkan

3. Panaskan minyak

4. Tumis bumbu halus hingga air-nya terserap

5. Tambahkan terasi, aduk rata

6. Masukkan 1/2 – 1 botol saus Asam Pedas (tergantung tingkat  kepedasan yang disuka), aduk merata.

7. Tambahkan gula, garam, dan air. Aduk hingga mendidih

8. Masukkan kepiting, aduk lagi selama beberapa menit.

9. Masukkan telur, dan aduk hingga kuah mengental.

10. Kepiting telah matang dan siap untuk dinikmati.

Dan setelah dicoba, yah rasanya tidak kalah dengan rasa kepiting restoran! Untuk membuatnya sempurna, santap kepiting dengan roti mantau goreng. Pasti ketagihan !

Selamat Mencoba !

Dessert Yummy di Negara Singa

Papan namanya kayak di zaman Dinasti Tang!

Saya doyan jalan ? Jelas! Saya doyan makan ? Wah, itu sudah pasti! Nah, karena biasanya dua hal ini jadi the perfect combination buat orang yang kepengen nikmatin hidup (atau sekedar punya waktu luang dan ingin diisi kegiatan “produktif”), maka saya juga menerapkan kombinasi itu di setiap perjalanan saya. Sekalipun tiga posting terakhir di blog ini isinya tentang Singapura, ya, anggap saja baca versi KW 7-nya Lonely Planet, deh. :)

Mungkin orang-orang sudah agak basi ya kalau cerita soal Singapura. Apalagi lokasi negaranya yang tinggal “ngesot doank sampe”. Tapi, mungkin yang banyak populer di kalangan masyarakat adalah Orchard Road, si lokasi khusus buat para penggila shopping. Kalau cari makan di daerah sana, memang mudah. Selain mall-mall dan sudut jalan banyak cafenya, didalamnya pun ada berbagai food court yang punya pilihan dan kriteria makanan yang segudang banyaknya. Dari yang halal sampe yang al-harram-minal asoy. Semua ada, dan harganya pun standar foodcourt. Oke banget memang buat mereka yang udah ngabisin tenaga buat keliling mall, dan pengen me-recharge energinya. Cuma, apakah semua turis tahu tentang rumah makan kecil yang khusus menjual dessert ? Nah, ini dia yang perlu dipertanyakan. :D

Enaknya punya teman yang orang Singapura adalah kita dikasih tahu banyak tempat-tempat makan yang oke. Termasuk si tempat dessert ini. Namanya Ah Chew Dessert. Letaknya di Leang Seah Street, persis di seberang Bugis Junction. Saya tanya sama dia, darimana dia tahu ada dessert house seperti itu. Jawabnya simple “Teman gw banyak yang makan disitu. Kalau orang Singapura kan asal ngantri, artinya tempatnya oke punya, loh. Jadi gw ikutan juga.”. Jiah! Kalo gw ngantri sembako, lo mau ikut ? Hehehe..

Interior Ah Chew Dessert.

Dalemannya Ah Chew Dessert. Antik kan ?

Nah, si Ah Chew Dessert ini, interiornya seperti di zaman kerajaan. Hohohoho.. Maksudnya, bergaya Cina kuno gitu deh. Kursi kayu, papan nama kayu dengan grafir emas dia atas pintu. Terus, kalau kita ke jalan ini, tempatnya nempel di deretan toko-toko atau rumah makan. Jadi kalau kemari, harus sering-sering juga dongakin kepala, lihat nama tokonya. Kalau nggak, bisa kelewatan. Waktu saya kesana, cuma ada 2 orang Mbak-Mbak yang sedang asik nyeruput dessert. Mungkin ramainya waktu malam, kali ya.

Ah Chew Dessert ini spesialisasinya adalah makanan pencuci mulut berkuah. Panas atau dingin. Jadi, jangan harap kalau disini adalah toko kue yang bisa nyari klepon atau puding. Sajiannya kudu di sruput, nek ! Hehehe.. Katanya, yang oke punya disini adalah Mango Sago. Campurannya adalah sari mangga, susu, potongan buah mangga, butiran sagu dan es batu. Segeeeerrr beeennnneeerrr deh! Selain itu masih banyak dessert yang lain. Dari yang umum, seperti Es Ketan Item (kayak yang dijual abang-abang pinggir jalan), sampai yang aneh-aneh, seperti Lidah Buaya dengan Jeruk Nipis dan Madu! (Jangan salah nek, mereka juga jual loh campuran telur dengan jahe!). Saya memang doyan makan. Tapi untuk mencoba yang aneh-aneh buat dessert masih “a big no no”. Kalau makanan aneh saya lebih milih di menu utama. Pencuci mulut adalah penawar dari keanehan rasa makanan di menu utama (teringat hidangan kadal cincang di Vietnam. Yaiks!). Maka, saya bertahan dengan Ice Mango Sago.

Rasanya buat saya tidak mengecewakan. Dengan harga sekitar Sing $ 3 – 3.80, saya dapat sari mangga asli (jus kali versi Indonesianya, mah!), dicampur susu kental manis, potongan es, butiran sagu, dan buah mangga yang manis. Hmmm.. asik berat! Kalau ibu saya, memilih es ketan hitam (di Singapura, ibu saya makannya nggak jauh-jauh dari Rendang Sapi ala Padang, Nasi Lemak, dan Mi Rebus Medan).

Pulut Hitam with Ice dan Ice Mango Sago. 1 buat ibu saya, dan 2 buat saya!

Meniru orang Singapura dengan Singlishnya, saya bilang this is not bad lahhh.. ! Untuk mencapai tempat ini pun tidak perlu repot. Tinggal naik MRT dari Orchard lalu turun di Bugis. Keluar dari Bugis Junction (stasiun MRT-nya nempel sama Bugis Junction), nyeberang sudah langsung ketemu jalan tempat Ah Chew Dessert ini. Next time kalau ada yang ke Singapura, boleh coba dessert berkuah ini. Dijamin deh, bisa cuci mulut sepuasnya!

Back to The City of Banjir : Jakarta

Akhirnya saya pulang juga ke Jakarta, salah satu kota dengan seribu masalah di dunia! Hahaha.. Setelah seminggu berada di negeri orang, sekarang saya duduk dengan manisnya di The Pancake Parlour, Kemang, menunggu pesanan caramel pancake saya datang. Ah, nikmatnya!

Saya tidak tahu mengapa kepulangan saya ke Jakarta ini begitu “luar biasa”. Padahal bukan sekali ini saja saya berkelana ke negara-negara tetangga. Selama sembilan tahun terakhir, saya sudah mengunjungi Singapura, Malaysia, Australia, Inggris, Belgia, Belanda, Perancis, Italia, Jerman, Swiss, Amerika, Cina, Jepang, Thailand, Kamboja, dan terakhir ini, Vietnam. Baru setelah seminggu di Vietnam ini saya uring-uringan, ingin segera pulang ke Jakarta.

Travelling memang bukan hal baru buat saya. Setelah saya bergabung di lembaga donor internasional, agenda traveling saya bahkan bertambah, terutama perjalanan domestic untuk melakukan project assessment atau monitoring and evaluation. Hampir setiap bulan, ada saja tempat baru yang saya kunjungi. Dari mulai kota besar yang saat dengan hiburan untuk turis seperti Bali, hingga ke pedalaman desa di Nusa Tenggara Timur. Dan harus saya akui, daerah-daerah yang saya kunjungi ini selalu punya cerita baru nan unik.

Entah apa yang terjadi dengan perjalanan saya kemarin. Tetapi barangkali ada beberapa hal yang membuat saya rindu akan ke-orisinal-an Indonesia. Kata orang, jika sedang berada di tempat asing, cobalah hal-hal asli setempat. Termasuk makanan. Ini juga terjadi selama saya di Vietnam. Makanan Vietnam menjadi menu sehari-hari, yang pada awalnya bisa saya terima dan nikmati, namun lama kelamaan jadi eneg sendiri, sehingga tidak jarang saya mencari restoran asing, yang bisa mentralisir lidah saya.

Saya masih ingat saat makan siang selama meeting di Nha Trang, menu yang disajikan selalu sama. Cumi rebus sayuran, daging sapi masak sayuran, kari babi, sayur masak bawang putih, kari ikan. Hanya gaya makanannya saja yang terkadang di rubah. Itupun, kadang. Hingga suatu saat, saya menemukan semangkuk sayuran. Saya tidak tahu apa namanya karena dalam bahasa Vietnam. Yang membuatnya tampak “menjijikkan”adalah kuahnya yang kental dan seperti liur! Rasanya memang enak, tetapi saya jadi membayangkan bahwa sayuran itu seperti dicampur liur yang masaknya. Hahahah.. Pada sesi makan siang hari berikutnya, saya sudah siap dengan roti isi yang saya beli dipinggir jalan!

Belum lagi dengan kendala bahasa. Ahahaha.. Cerita sebelumnya saya sudah menjelaskan momen-momen tulalit yang saya hadapi di sana. Lucu sih dan saya memang harus maklum karena mereka bukan masyarakat penutur bahasa Inggris. Tapi kalau tulalitnya sudah keterlaluan walaupun dijelaskan dengan menggunakan contoh! Saya dan Joy pernah nyasar ketika mencari Central Market gara-gara yang ditanya sebetulnya berusaha menjelaskan tapi tidak tau apa yang dijelaskan. Hihihi..

Jadi, setelah sehari mendaratkan pantat di Jakarta (walaupun kecewa karena keinginan pijat dan creambath batal gara-gara salonnya tutup Lebaranan Haji!), saya kalap makan berbagai macam makanan Indonesia. Hari ini saya sudah menyelesaikan misi pertama saya, makan nasi uduk, ayam Mbok Berek, dan otak-otak. Besok, saya masih mau lanjutkan misi ini dengan makan gulai otak dan paru goreng Padang! Hahahaha.. Indahnya hidup ini.

Hhh..sepertinya untuk saat ini memang benar, “Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik kebanjiran di negeri sendiri”!

Sedikit Cerita Dari Nha Trang, Vietnam

Ini adalah hari terakhir saya berada di kota Nha Trang, Vietnam setelah seminggu menghadiri roundtable meeting di kota ini. Kantor yang mengirimkan saya kemari, menggantikan Supervisor saya yang sedang mengambil cuti panjang pulang kampungnya. Dengan berbekal beberapa dokumen presentasi, merchandise-merchandise kantor untuk dibagikan, maka berangkatlah saya menuju ke kota Nha Trang, Vietnam untuk ikut serta dalam NGO Forum and 4th Mayor Roundtable Disucussion on South China Sea Project yang diselenggarakan oleh GEF/UNEP.

Wow! Vietnam! Belum pernah dalam bayangan saya bahwa tahun ini saya akan menginjakkan kaki di negara ini, sekalipun sempat terbersit “kapan ya, saya bisa datang ke kotanya Ho Chin Minh ini ?”. Hanya untuk berkeliling-keliling mungkin, atau untuk urusan kerjaan. Selama ini,saya hanya mendengar cerita-ceritanya dari TV atau buku, bahkan dari kelas mata kuliah Politik Indocina, ketika saya masih kuliah di Universitas Indonesia. Tampaknya menarik. Karena dari segi ekonomi, politik, sosial, dan budaya, Vietnam lebih memiliki dinamika,dibandingkan dua negara tetangganya, Laos dan Kamboja sebagai satu bagian dari Indocina.

Perjalanan saya ke negara ini bukan hal yang mudah. Bersama dengan salah satu board program GEF SGP Indonesia, dalam satu hari saya harus beberapa kali berganti pesawat. Jakarta-Singapura-Ho Chin Minh City-Nha Trang. Yah, karena lokasi pertemuan ini bukan di Ho Chin Minh City,maka setelah mendarat disana (yang mana sudah habis energi terguncang di pesawat karena cuaca yang kurang baik), kami harus terbang selama 50 menit ke kota Nha Trang.

Dalam pengetahuan saya, saya hanya familiar dengan Hanoi dan Saigon alias Ho Chin Minh City. Baru kali ini saya mendengar keberadaan Nha Trang,sebuah kota yang terletak di pesisir selatan Vietnam. Dan pada awalnya pula,saya sempat sedikit skeptis mengenai negara berkembang ini. Selama 1,5 tahun bergabung dalam program GEF SGP Indonesia, saya akhirnya menjadi orang yang sangat bergantung dengan internet. Maka, ukuran keberhasilan suatu negara dalam bayangan saya, juga dapat menyediakan fasilitas internet, yah minimal mudah kalau tidak gratis.  Bukannya apa-apa, tapi internet bisa memudahkan komunikasi dengan dunia luar, tanpa harus bayar mahal. Dalam situs hotel, saya lihat tersedia koneksi wireless, bahkan di setiap kamar. Tapi saya meragukannya!

Tiba di airport Cam Ranh, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Badan rasanya sudah letih sekali dan ingin segera sampai di hotel, karena malamnya ada acara welcoming dinner untuk keluarga SGP yang hadir yaitu Indonesia, Filipina, Kamboja, Thailand, Cina, Vietnam. Agak sedikit heran juga ketika keluar dari pesawat, angin dingin menyambut saya. Seharusnya kota pantai panas dan lembab. Ini tidak. Ternyata di Nha Trang sedang sering angin kencang. Beberapa penerbangan juga sempat ter-cancel karena badai. Tapi tidak berapa lama, sunset sudah membayangi perjalanan kami ke pusat kota.

Nha Trang sebetulnya adalah kota pariwisata yang bagus di Vietnam. Ditempat ini pula lah kegiatan Miss Universe 2008 di selenggarakan. Selama perjalanan dari airport ke kota, saya sempat melihat gedung acara Miss Universe 2008 yang masih lengkap dengan banner-banner besar. Bahkan di sepanjang jalan, ada beberapa billboard besar berwarna ungu dengan tulisan Miss Universe 2008 .  Dan yang paling penting, kota ini bersih. Wow! Menarik! Sepertinya saya harus mulai menghapus praduga-praduga saya sebelumnya.

Nha Trang merupakan ibu kota dari Propinsi Khan Hoa, Vietnam bagian selatan. Sebagai kota pesisir, Nha Trang sangat maju dalam hal riset oseanografinya. Ia dikenal dengan pantai yang bersih dan indah, serta tempat untuk para scube diver menyelam.  Teluk Nha Trang (Nha Trang Bay) adalah salah satu yang terindah di dunia. Selain itu, kota ini juga memiliki area konservasi kelautan Hon Mun, yang menjadi salah satu wilayah konservasi dunia diakui oleh IUCN.Berkembang sebagai kota pariwisata, yang menurut Khang, local organizer kami, Nha Trang tercatat sebagai salah satu tempat pariwisata terbaik di ASEAN.

Saya sendiri mengakuinya. paling tidak setelah enam hari menghabiskan waktu di kota ini. Pemerintah Vietnam tampaknya memang serius menggarap potensi pariwisata di kota ini, sehingga tidak sulit menemukan hotel serta tempat berbelanja dan nongkrong bagi para turis. Polisi-polisi pariwisata pun disiagakan di kota ini untuk membantu para turis serta menjaga keamanannya. Teman saya beberapa kali keliling kota pada waktu tengah malam, hanya untuk merasakan suasana malam kota yang sedang lengang. Ia perempuan, dan sama sekali tidak ada gangguan dari pada preman ataupun pencopet.

Saya menginap di sebuah hotel yang tepat berada di jalan besar, dan menghadap ke arah pantai. The Light Hotel namanya, atau yang disebut dalam bahasa Vietnam, Duyun Hai Hotel. Hotel ini terletak di Jln. Tran Phu dan bukan merupakan jaringan hotel internasional. Namun, bersih dan memiliki fasilitas yang lengkap. Disinilah saya baru merasakan nikmatnya ber-wireless ria di segala penjuru hotel, 24 jam non-stop! Suatu “kemewahan” yang tidak saya temukan, bahkan di jaringan hotel internasional bintang tiga keatas manapun sebelumnya!

Mereka memiliki fasilitas yang ditata seperti hotel lokal kebanyakan. Tidak terlalu berdisain modern, tapi nyaman. Kamar saya sendiri besar sekali. Terdapat dua buah tempat tidur Queen Size, yang membuat saya agak ragu untuk tidur sendirian di kamar ini pada malam pertama karena takut. Namun, yah, yang kemudian menyita perhatian saya adalah koneksi wirelessnya yang cepat dan tidak pernah diputus oleh hotelnya! Ha! Ini sudah sangat membuat saya senang, karena akhirnya setelah serentetan acara yang menyita waktu dan energi berbicara tentang project konservasi, saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang saya rindukan di Indonesia.

Seusai konferensi, malam hari selama beberapa malam saya habiskan berjalan kaki menyelusuri kota dan melihat toko-toko disekitarnya. Untuk ini saya sudah punya grup “tukang shopping” tak terbantahkan dari keluarga SGP. Saya (Program Asisten SGP Indonesia), Joy (National Coordinator SGP Filipina), dan Sovanna (Program Asisten SGP Kamboja). Biasanya malam hari waktu bebas. Kita boleh memilih ikut makan malam yang sudah diatur, atau berjalan-jalan. Tentunya, kami bertiga lebih memilih melihat-lihat kota.

Disekitar hotel banyak sekali toko-toko suvenir yang menjual barang kerajinan dari mulai kaos bertuliskan Vietnam, anyaman, scraft, sampai kerajinan kerang-kerangan. Tidak sulit juga mencari money changer sekitar situ serta toko serba ada. Jangan harap ada Circle K atau AMPM. Tapi setidaknya toko serba ada itu, cukup bisa memenuhi kebutuhan kita, seperti snack,minuman ringan (sampai keras juga ada!), body lotion, shampoo, dll. Bahkan kalau butuh kartu pra-bayar lokal juga tersedia disitu. Saya beli nomor lokal mengingat akan ada waktu 1 minggu disini, dan akan sangat membantu kalau saya punya nomor seluler lokal. Harganya 115.000 Vietnam Dong, dengan nilai pulsa 150.000. Kartu ini cukup hemat, karena beberapa kali saya menelepon ke Indonesia, pulsa tidak tersedot banyak. Hanya saja, trafik komunikasi memang agak padat pada jam-jam tertentu. Kita harus berkali-kali mencoba.

Bagi yang ingin membeli oleh-oleh, boleh pilih dari toko-toko sekitar situ. Karena saya hanya membawa koper kecil, saya hanya membeli oleh-oleh untuk beberapa orang saja. Orang tua saya, kekasih saya, dan teman-teman terdekat saya. Saya tidak mau membebani diri saya dengan banyak barang bawaan. Di toko bernama Nam Khang, saya menemukan tas paspor warna-warni dengan sulaman bergambar gadis Vietnam. Unik. Harganya sekitar VND 20.000. Saya ingat kata Kim Anh (Koordinator Nasional SGP Vietnam),kalau mau beli apa-apa,ditawar saja, kecuali memang sudah fixed price. Maka saya dan Joy menggunakan siasat itu. Lumayan juga, kami dapat VND 15.000 per tas. Nilai tukar USD 1 setara dengan VND 16.500. Jadi satu tas itu harganya kurang dari 1 dollar US.

Di toko lain, saya menemukan kaus-kaus bertuliskan Vietnam. Harganya US$ 3,per kaus. Cukup mahal menurut saya mengingat bahannya yang tipis. Di toko itu juga banyak pilihan seperti dompet sulaman yang dihargai US$ 2,5.Lalu ada cermin kecil dengan hiasan pecahan kulit kerang dengan harga US$ 2. Atau tatakan piring makan US$ 6 (6 buah). Di toko-toko suvenir ini sebetulnya juga menjual syal beraneka macam.Tapi sayang harganya menurut saya sangat mahal. Saya menggunakan syal yang ternyata dijual di hampir semua toko suvenir disekitar situ. Syal ini saya beli di Kamboja dengan harga hanya US$ 1. Tapi begitu masuk toko suvenir itu, harganya melambung jadi US$ 7 !! Gila! Mahal sekali! Bahkan pelayan tokonya saja tidak percaya saya membeli syal tersebut dengan harga US$ 1. Yah, intinya sih, kita harus pintar memilih barang dan menawar.

Sebetulnya ada juga tempat belanja yang bisa lebih murah dan masih bisa tawar menawar,seperti saat saya pergi membeli syal tersebut di Central Market,Pnom Penh. Disini juga mereka punya Central Market sejenis itu. Namanya Dam Market.  Jaraknya sekitar 2 km dari hotel tempat kami tinggal. Jika punya waktu luang dan senang melihat-lihat kota sembari santai, pasar ini bisa juga ditempuh dengan berjalan kaki. Tetapi agak susah mencari belokannya. Jadi, saran yang paling mungkin adalah menggunakan bis atau taksi. Untuk taksi, ongkosnya sekitar VNG 20.000 – 35.0000. Jangan takut dikibulin, karena taksi disini menggunakan argo.

Saya pergi ke Dam Market suatu malam bersama Joy, tanpa Sovanna. Karena kami hanya punya waktu malam hari, maka saat tiba disitu sebagian besar toko sudah tutup. Padahal Joy ingin sekali membeli buah-buahan segar untuk dibawa pulang ke Filipina. Jadi,kami hanya berputar disekitar Dam Market, melihat kehidupan sebenar-benarnya dari masyarakat Vietnam. Oh,disini banyak sekali toko yang menjual bahan-bahan makanan laut yang dikeringkan. Dari mulai ikan asin sampai cumi-cumi. Dan mereka juga punya toko-toko makanan ringan khas Vietnam. Saya mampir di salah satu toko. Karena tidak mungkin membeli hadiah barang untuk kolega kantor yang banyak, saya putuskan untuk membali satu-dua pak camilan khas Vietnam. Saya menemukan satu camilan unik. Bentuknya seperti martabak tipker, yang dipotong  jadi empat bagian. Satu bungkus terdiri dari 12 potongan besar, dan tersedia berbagai rasa,seperti kelapa, durian, kacang, dan susu. Harganya VND 10.000 per pak.

Untuk makanan, disini banyak sekali pilihan. Dari mulai restoran sampai jajanan pinggir jalan yang bervariasi. Dua kali kami mencoba makan di restoran yang menyajikan makanan khas Vietnam. Joy senang sekali makan sayur dan seafood. Karena harganya relatif mahal (per porsi hidangan utama sekitar VND 45.oooo – 135.000), kami memesan dua jenis makanan yang lengkap, seperti hot pot seafood dan lumpia vietnam, yang bisa kami bagi bertiga bayarnya. Ini jauh menghemat tapi tetap bisa merasakan makanan asli di negaranya. Porsi makanan disini banyak dan besar. Jadi sebetulnya, satu porsi pun bisa untuk dua orang.

Bagi yang senang jalan-jalan ala backpacker, makanan pinggir jalan bisa jadi pilihan karena variatif dan porsinya juga banyak. Saya hanya mencoba membeli nasi campur yang harganya VND 15.000 dan sudah bisa membuat saya hampir mati kekenyangan. Nasi campur ini unik sekali. Nasi ketan aneka warna (kuning, hijau,ungu, oranye, dan hitam) yang dicampur dengan kacang merah rebus, jagung rebus, potongan daging panggang, sayuran, dan disiram sedikit kuah kaldu untuk menambah rasa. Rasanya gurih. Nasi seperti ini tidak akan saya dapat di Indonesia! Hahahaha.. Selain itu,masih ada jajanan lain. Salah satu yang unik lagi adalah “warung” seafood. Sebetulnya bukan warung sih,karena mereka hanya menaruh ember-ember berisi makanan laut segar seperti  aneka kerang, cumi, kepiting, keong laut serta panggangan. Para pembeli bisa langsung memanggang ditempat dan makan sambil berdiri, atau duduk dilantai, atau jongkok! Menarik sekali! Saya tidak sempat mencoba model makanan ini.Lalu, ada sandwich Vietnam yang dibuat dari roti baguette perancis diisi daging panggang, jagung bakar, sosis panggang, dll! Hmmm ! Yummy !!

Hmm..saya sepertinya sudah cukup merasakan tinggal di Nha Trang dan “menjadi” orang Vietnam. Pengalaman yang menyenangkan bisa mendapatkan pelajaran baru manajemen dan pengembangan project, berkenalan dengan orang-orang baru (delegasi dari negara-negara tetangga), serta jalan-jalan menyelusuri kota Nha Trang. Pada akhirnya sebelum saya meninggalkan kota ini, saya sudah memiliki kesan yang sangat baik untuk Nha Trang. Besok saya sudah akan kembali ke Indonesia, tapi menginap dulu satu malam di Ho Chin Minh City. Pasti pengalamannya lebih menarik lagi, dan ada hal-hal baru yang tidak saya temukan sebelumnya. Haaa..! Saigon, here I commeeee.. !!!

Jalan-Jalan Ke Es Krim Ragusa

Pagi-pagi sampai di kantor, seperti biasa saya sedang mengumpulkan mood untuk melihat kerjaan apa hari ini yang harus diselesaikan. Biasanya ini akan berhasil ketika sampai di meja, menyalakan komputer, mengeluarkan iPod, sign in sana sini, dan mulai mengetik sambil mendengarkan musik. Tapi kadang juga harus menggunakan cara lain. Maka hari ini, yang saya lakukan adalah dengan mengingat kejadian apa pada hari kemarin yang membuat saya senang. Jawabannya adalah : MAKAN ES KRIM!

Kemarin sepulang kantor, niatan saya adalah mengajak teman-teman perempuan di kantor untuk nongkrong dimana saja. Pilihan umum sih biasanya nggak jauh-jauh dari coffee shop. Tapi salah satu teman saya melontarkan idenya untuk makan es krim. Saya pikir, saya sudah lama juga tidak menyempatkan waktu untuk jalan bareng mereka, dan es krim sepertinya menyenangkan. Tanpa pikir panjang, saya langsung setuju. Dan tujuan ‘ngeskrim’ kita sore itu adalah Es Krim Ragusa di Jln. Vetera, Jakarta Pusat.

Ragusa selalu menjadi pilihan saya manakala saya ingin mencari jajanan ringan, sehat, tetapi terjangkau. Awalnya, saya tahu tentang keberadaan es krim yang sebenarnya cukup terkenal di Jakarta ini dari sebuah artikel kuliner di koran. Disebutkan disitu bahwa si Es Krim Ragusa ini merupakan es krim tertua di Jakarta karena sudah ada sejak zaman Hindia Belanda, alias tahun 1932 ! Hebat sekali mereka masih bisa bertahan hingga sekarang, dan tetap mempertahankan keaslian resep es krimnya.

Apa yang membedakan Ragusa dari es krim-es krim lainnya ? Sebagai es krim ala Italia, es krim ini punya rasa yang betul-betul segar. Hal ini karena sejak dulu, es krim ini tidak menggunakan bahan pengawet atau pengental apapun dan hanya terbuat dari susu, air, dan perasa lainnya. Rasa yang keluar dari es krim ini pun benar-benar asli, bukan dari bahan perasa buatan. Kalau makan es krim ini, harus cepat. Karena dalam waktu kurang dari 15-30 menit saja, dia sudah meleleh.

Banyak sekali menu es krim yang ditawarkan. Yang paling terkenal sih Tutti Frutti dan Casata Sicilliana yang warna es krimnya belang-belang putih, hijau, coklat dan dilapisi roti. Selain itu, yang unik, mereka juga punya Spaghetti Ice Cream yang bentuknya betul-betul seperti mi. TIdak hanya itu, mereka menyediakan jenis lain seperti rum raisin, vanilla, coklat, nougat, dsb. Semua dengan harga yang masih sangat terjangkau dan sebanding dengan rasanya.

Kemarin, saya memesan es krim Nougat. Es krim single scope ini, warnanya hijau dan ditaburi kacang tanah. Rasa kelapa yang bercampur dengan gurihnya kacang, bikin stress saya hilang pada hari itu. Sementara teman-teman saya lainnya memesan Casata Sicilliana dan Spaghetti Ice Cream. Untuk makanan, say tidak pernah melihat bahwa Ragusa juga menyediakan menu makanan. Tapi diluar restoran es krim ini ada beberapa pedagang makanan yang selalu mangkal dan dapat kita pesan untuk makan ditempat. Dua pilihan jajanan yang pasti adalah Asinan & Mi Juhi serta Satai Ayam! Itu sudah pasti! Rasanya pun enak, dan harganya nggak lebih dari Rp. 10.000,- / porsi. Jadi, lumayan juga, makan es krim ditemani asinan atau satai ayam.

Selain Ragusa, sebenarnya es krim lainnya yang saya rekomendasikan adalah Es Krim Baltic. Ini juga sama dengan es krim Ragusa, sama-sama es krim yang umurnya uzur. Tapi Baltic ini lebih mudaan sedikit dari Ragusa, karena berdiri tahun 1939. Dari segi rasa, saya sebenarnya lebih suka Es Krim Baltic karena lebih ‘nendang’. Rasa dari setiap es krimnya lebih ‘keras’ dibanding Ragusa yang barangkali terlalu lembut, jadi rada ‘sayup-sayup’. Kalau Ragusa punya restoran yang nyaman dengan cukup banyak bangku-bangku, maka Es Krim Baltic yang letaknya di Jln. Kramat Raya, Jakarta Pusat tidak terlalu besar. Dulu, tempatnya memang besar. Namun setelah makin lama terkikis akibat pelebaran jalan, ya hanya sisanya saja. Tapi yah, ada masih ruang juga untuk makan ditempat. Saya lebih memilih untuk take away. Dulu,  ibu saya suka beli borongan. Beli es batangannya, satu kotak besar dengan tujuan untuk stok camilan 1 bulan. Nyatanya, kurang dari 1 minggu pasti sudah saya habiskan! Hehehehe..

Hm, kelihatannya ini sudah cukup panjang bercerita sana sini tentang es krim. Saya jadi lapar sekarang! Hehehehe.. Tapi jalan-jalan kemarin ke Ragusa bersama dengan teman-teman memang menyenangkan. Walaupun topiknya sebenarnya ‘aneh’ (udah nongkrong pulang kantor, tetap aja yang dibahas masalah kantor!), nggak akan berasa apa-apa kalau ngobrolnya sambil jilatin es krim! Besok jalan-jalannya kemana lagi ya ?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.