“Kamu Kan Tau, Aku Doyan Makan..”

Yap. Itu adalah kalimat yang tiba-tiba saja terlontar saat saya sedang ngobrol dengan sahabat saya, Muthia, melalui YM. Awalnya, kami sedang berbincang tentang negara mana yang kira-kira cocok untuk dijadikan tempat bulan madu. Sahabat saya itu, menawarkan Maldives, karena katanya ia sangat ingin ke Maldives. Entah kenapa, sudah dua orang yang menyarankan demikian. Sahabat saya dan Ayah saya. Dan itu lah dia kalimat yang saya katakan, saya doyan makan.

Sebetulnya, ada temuan baru setelah saya berbicara dengan teman saya itu. Kenapa saya mengganggap bahwa tempat yang paling enak dikunjungi sebetulnya adalah di negara-negara Asia Tenggara. Barangkali setelah saya beberapa kali ke beberapa negara di kawasan itu, saya melihat bahwa orang-orangnya memiliki ras yang mirip dengan orang Indonesia, budayanya unik, pemandangannya juga ada yang stunning, dan terlebih lagi, makanannya murah-murah ! Hahaha. Jadi, yah, sesederhana itu.

Entah kapan mulainya makanan dan harga makanan menjadi preferensi saya dalam menentukan tempat saya berkunjung. Barangkali itu terjadi secara tidak sadar. Pengalaman travelling saya luar dan dalam negeri, barangkali tidak terlalu banyak. Belum sampai Mbak Trinity yang sudah advanced sampai buku jalan-jalannya di bukukan (saya suka banget lho baca blog-nya dia!). Tapi yang saya tahu, setiap kali saya menjejakkan kaki ke negara lain, local delicacies menjadi hal yang sering masuk dalam agenda saya.

Lihat saja ketika saya pergi ke Vietnam (tulisannya sudah pernah saya muat dalam blog ini!). Ketika saya ditugaskan oleh kantor datang ke Konferensi South China Sea Project, saya seringkali kabur dari makanan hotel. Atau malamnya setelah konferensi selesai berjalan-jalan dengan National Coordinator dari Filipina, Joy Esquiera. Kenapa saya sering kabur saat makan siang ? Bukannya saya tidak menghargai makanan yang sudah disajikan. Tetapi ada beberapa kali tampilan menu makanan bikin saya jadi hilang napsu makan. Seperti misalnya suatu siang, ada sajian berupa sayur cacah. Kalau di Indonesia, ibaratnya makan sayur daun singkong di Lapo Batak. Tapi, bedanya, di Lapo itu kuahnya dikasih santan, sementara di Vietnam tidak. Dan yang ajaibnya lagi, sudah pun kuahnya bening, dia sangat kental ! Sehingga kalau disendok, tampak seperti air liur yang menetes ! Yaiks !

Daripada saya tidak menikmati makanan, saya hanya mencomot beberapa appetizer dan dessert. Lalu setelah itu permisi istirahat. Waktu istirahat itu biasanya saya pakai untuk jalan ke kios-kios di seputaran hotel. Saat saya di Nha Trang itu, saya perhatikan bahwa Vietnam punya waktu istirahat. Tidak terkecuali pada toko-tokonya. Kadang, saat jam 12 siang saya keliling, toko-toko tersebut masih tutup. Atau mungkin sengaja tutup untuk rehat. Nah, untungnya tidak dengan jajanan kaki limanya. Selama ini saya sering mendengar tentang Vietnam Sandwich yang enak dan banyak sayurnya. Kalau di Jakarta dijajakan melalui resto Cali Deli dengan harga yang selangit, di Vietnam saya selalu bisa mendapatkannya di pinggir jalan, dengan rasa asli Vietnam (plus daging babi tentunya!), dan harga yang kurang dari Rp. 10.000 (satu Vietnam Sandwich dihargai VND 10.000.). Saya kenyang, puas, dan kantong nggak bolong!

Sama juga kejadian di Thailand. Karena sejak saya bergabung dengan ex-kantor saya dulu, saya jadi mulai terbiasa bepergian ala backpacker. Kita jalan-jalan dan tidak selalu makan fancy di restoran mahal dengan rasa turis. Saya dan teman-teman kantor saya waktu itu menyempatkan diri jalan-jalan ke Phat Phong, kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Bukan buat iseng nyari-nyari PSK, tapi cuma pengen jajan makanan pinggiran. Sambil melihat suasana malam dan hingar bingarnya sudut kota Bangkok, saya dan teman saya jajan ayam goreng, seafood goreng di pinggir jalan, yang harganya kira-kira Rp. 4.000 – Rp. 6.000 per porsi. Lalu beli martabak manis khasnya Thailand. Enak banget, deh !

Maka, kebiasaan berjalan-jalan mencari makanan enak, murah, dan lokal itu terbawa sampai saat saya sedang berpikir destinasi bulan madu saya. Apakah ke Eropa ? Apakah ke Asia ? Apakah ke Pasifik ? Apakah kemana ? Saya juga masih belum pasti. Tapi yang jelas, setiap kali ada sebuah negara terlintas di kepala saya, yang pasti muncul pertama kali adalah “ada jajanan pinggir jalannya nggak ya ? yang enak, murah meriah, dan bikin kenyang !”. Jadi memang agak saru antara bulan madu bikin anak, atau bulan madu nggragas makanan. hahahahaha.

Dessert Yummy di Negara Singa

Papan namanya kayak di zaman Dinasti Tang!

Saya doyan jalan ? Jelas! Saya doyan makan ? Wah, itu sudah pasti! Nah, karena biasanya dua hal ini jadi the perfect combination buat orang yang kepengen nikmatin hidup (atau sekedar punya waktu luang dan ingin diisi kegiatan “produktif”), maka saya juga menerapkan kombinasi itu di setiap perjalanan saya. Sekalipun tiga posting terakhir di blog ini isinya tentang Singapura, ya, anggap saja baca versi KW 7-nya Lonely Planet, deh. :)

Mungkin orang-orang sudah agak basi ya kalau cerita soal Singapura. Apalagi lokasi negaranya yang tinggal “ngesot doank sampe”. Tapi, mungkin yang banyak populer di kalangan masyarakat adalah Orchard Road, si lokasi khusus buat para penggila shopping. Kalau cari makan di daerah sana, memang mudah. Selain mall-mall dan sudut jalan banyak cafenya, didalamnya pun ada berbagai food court yang punya pilihan dan kriteria makanan yang segudang banyaknya. Dari yang halal sampe yang al-harram-minal asoy. Semua ada, dan harganya pun standar foodcourt. Oke banget memang buat mereka yang udah ngabisin tenaga buat keliling mall, dan pengen me-recharge energinya. Cuma, apakah semua turis tahu tentang rumah makan kecil yang khusus menjual dessert ? Nah, ini dia yang perlu dipertanyakan. :D

Enaknya punya teman yang orang Singapura adalah kita dikasih tahu banyak tempat-tempat makan yang oke. Termasuk si tempat dessert ini. Namanya Ah Chew Dessert. Letaknya di Leang Seah Street, persis di seberang Bugis Junction. Saya tanya sama dia, darimana dia tahu ada dessert house seperti itu. Jawabnya simple “Teman gw banyak yang makan disitu. Kalau orang Singapura kan asal ngantri, artinya tempatnya oke punya, loh. Jadi gw ikutan juga.”. Jiah! Kalo gw ngantri sembako, lo mau ikut ? Hehehe..

Interior Ah Chew Dessert.

Dalemannya Ah Chew Dessert. Antik kan ?

Nah, si Ah Chew Dessert ini, interiornya seperti di zaman kerajaan. Hohohoho.. Maksudnya, bergaya Cina kuno gitu deh. Kursi kayu, papan nama kayu dengan grafir emas dia atas pintu. Terus, kalau kita ke jalan ini, tempatnya nempel di deretan toko-toko atau rumah makan. Jadi kalau kemari, harus sering-sering juga dongakin kepala, lihat nama tokonya. Kalau nggak, bisa kelewatan. Waktu saya kesana, cuma ada 2 orang Mbak-Mbak yang sedang asik nyeruput dessert. Mungkin ramainya waktu malam, kali ya.

Ah Chew Dessert ini spesialisasinya adalah makanan pencuci mulut berkuah. Panas atau dingin. Jadi, jangan harap kalau disini adalah toko kue yang bisa nyari klepon atau puding. Sajiannya kudu di sruput, nek ! Hehehe.. Katanya, yang oke punya disini adalah Mango Sago. Campurannya adalah sari mangga, susu, potongan buah mangga, butiran sagu dan es batu. Segeeeerrr beeennnneeerrr deh! Selain itu masih banyak dessert yang lain. Dari yang umum, seperti Es Ketan Item (kayak yang dijual abang-abang pinggir jalan), sampai yang aneh-aneh, seperti Lidah Buaya dengan Jeruk Nipis dan Madu! (Jangan salah nek, mereka juga jual loh campuran telur dengan jahe!). Saya memang doyan makan. Tapi untuk mencoba yang aneh-aneh buat dessert masih “a big no no”. Kalau makanan aneh saya lebih milih di menu utama. Pencuci mulut adalah penawar dari keanehan rasa makanan di menu utama (teringat hidangan kadal cincang di Vietnam. Yaiks!). Maka, saya bertahan dengan Ice Mango Sago.

Rasanya buat saya tidak mengecewakan. Dengan harga sekitar Sing $ 3 – 3.80, saya dapat sari mangga asli (jus kali versi Indonesianya, mah!), dicampur susu kental manis, potongan es, butiran sagu, dan buah mangga yang manis. Hmmm.. asik berat! Kalau ibu saya, memilih es ketan hitam (di Singapura, ibu saya makannya nggak jauh-jauh dari Rendang Sapi ala Padang, Nasi Lemak, dan Mi Rebus Medan).

Pulut Hitam with Ice dan Ice Mango Sago. 1 buat ibu saya, dan 2 buat saya!

Meniru orang Singapura dengan Singlishnya, saya bilang this is not bad lahhh.. ! Untuk mencapai tempat ini pun tidak perlu repot. Tinggal naik MRT dari Orchard lalu turun di Bugis. Keluar dari Bugis Junction (stasiun MRT-nya nempel sama Bugis Junction), nyeberang sudah langsung ketemu jalan tempat Ah Chew Dessert ini. Next time kalau ada yang ke Singapura, boleh coba dessert berkuah ini. Dijamin deh, bisa cuci mulut sepuasnya!

Rempong.com!

Dasar perempuan ya, yang tadinya sudah berjanji sama diri sendiri buat “nggak belanja lagi ah!”, tapi ya janji tinggal janji. Tiap masuk ke shopping mall yang penuh dengan outlet-outlet barang, langsung nyari justifikasi bahwa beli barang A  butuh karena, atau beli barang B perlu karena.. Ya gitu deh! Buntut-buntutnya, kalau sedang traveling ke luar kota atau luar negeri, yang tadinya cuma bawa koper sebiji, beranak jadi beberapa biji.

Weekend ini, saya sedang bepergian ke luar negeri. Ya nggak bisa dibilang keluar negeri juga sih. Soalnya cuma terbang ke Singapura saja, yang jarak terbangnya lebih cepat daripada ke Medan atau ke Bali. Hehehe.. Karena belakangan sedang ada keperluan ke Singapura, maka saya dan ibu saya bolak balik ke Singapura.

Tapi sebelum berangkat ini, saya sudah mengingatkan ibu saya supaya tidak terlalu banyak belanja. Bukannya apa-apa sih, tapi pengalaman ke Singapura beberapa bulan sebelumnya, saya dan ibu saya berakhir dengan membeli koper super duper besar ke Mustafa, alias kampung india di Singapura. Mengapa? Lantaran ibu saya membeli beberapa sepatu, dan ngotot ingin bawa pulang kotaknya!

Saya sebetulnya tidak terlalu doyan belanja, kecuali memang ada barang yang benar-benar perlu. Dan sudah sejak bekerja di LSM saya belajar menjadi light traveler, alias penjelajah dengan barang gembolan sedikit. Kalau sedang tugas lapangan yang hanya makan waktu 3 hari, saya paling cuma bawa tas ransel yang bisa muat baju, alat mandi, plus laptop untuk kerja. Akan nambah satu lagi kalau saya juga berniat hunting foto saat tugas lapangan tersebut. Itu pun isinya hanya kamera, flash gun dan berbagai lensa yang mungkin saya perlukan.

Itu kalau saya pergi sendiri. Tapi kalau saya pergi dengan ayah atau ibu saya, pastinya sistem light traveling ini bubar jalan. Soalnya, ibu saya termasuk orang yang “kalau-kalau perlu”. Ya, sekarang sih sudah jauh mendingan, saat dia mulai melihat saya dengan cueknya jalan keluar kota hanya bermodal ransel dan sendal jepit doank. Heheheh.. Tapi duluuuuuuuuuuuuu… ?????

Saya masih ingat beberapa tahun lalu, saat ibu dan ayah saya pergi ke negara Eropa jalan-jalan untuk waktu kira-kira 10 hari, kami sampai harus membawa  5 buah koper ukuran besar ! Ya ampun! Dan isinya sebagian besar nggak dipakai juga oleh ayah atau ibu saya. Padahal ketika di Jakarta sebelum berangkat, mereka sudah cukup wanti-wanti “Kayaknya butuh tas ini deh.. kalau-kalau nanti…” atau “bawa sepatu ini juga ah, kalau-kalau nanti…”. Ujung-ujungnya,  kita adalah turis yang paling rempong sedunia! Yang paling malu adalah waktu kita mau terbang dari bandara Frankfurt. Setiap kita bawa dorongan yang isinya 2 koper besar, sampai dilihat orang disangka mau pindahan! ahahahaha..

Nah, hari ini nih adalah hari ke-2 saya di Singapura. Lusa saya baru pulang. Tadi ibu saya sudah hunting sana sini, dan dapat 2 biji sepatu. Saya sih selama di Singapura lebih milih wisata kuliner, karena kalau di Singapura kan banyak banget yang jual babi panggang dengan harga murah dan rasa yang cihuy. Tapi, sepertinya hari ini dan hari besok sampai pulang akan terus full dengan acara jalan sana sini deh. Apalagi di sini ada anaknya teman ibu yang hafal benar mall-mall disini.

Liatin aja, nanti setelah saya selonjoran istirahat di kamar hotel, saya akan pergi ke mall ini mall itu mall sana mall sini, pokoknya mall ! Kalau sudah begini, saya cuma bisa kasih judul rempong.com deh !

Cerita Dari Tanah Laskar Pelangi

Siapa yang tidak kenal Andrea Hirata yang sukse menciptakan novel berjudul Laskar Pelangi beserta karya-karya lanjutannya. Segera setelah buku dan film Laskar Pelangi ini meledak di pasaran, masyarakat kemudian mulai melirik Belitung sebagai tempat kunjungan wisata. Entah itu penasaran dengan wajah kampung halaman Lintang, Ikal beserta teman-teman lainnya, atau karena potensi wisatanya yang mulai muncul ke permukaan. Apapun itu, tapi film Laskar Pelangi memang menyumbang peran besar dalam menaikkan propinsi kepulauan Bangka-Belitung ini.

Dalam tiga bulan terakhir, saya berkesempatan mengunjungi tanah Laskar Pelangi ini dengan dua tujuan yaitu bekerja sekaligus refreshing. Bekerja sebagai program asisten di sebuah lembaga donor mengaharuskan saya berkeliling ke berbagai wilayah di pelosok Indonesia. Dan betapa senangnya saya ketika tiba saat untuk terbang ke Belitung. Wilayah yang terkenal sebagai wilayah tambang di buku-buku sejarah zaman sekolah dulu, hingga kota ini mulai dihidupkan kembali melalui layar lebar.

Perjalanan ke Belitung tidak memakan waktu lama. Awalnya, saya agak kesulitan mencari referensi penerbangan, akomodasi serta transportasi menuju dan selama saya disana. Beruntung saya punya mitra kerja yang siap membantu kapan saja. Dan dari merekalah saya tahu bahwa hanya dibutuhkan waktu 40-50 menit terbang ke Belitung menggunakan maskapai Sriwijaya Airlines atau Batavia Air. Hanya dua maskapai yang melayani penerbangan kesana. Tapi tidak perlu takut, karena mereka terbang dua kali sehari. Dan dengan waktu tempuh yang singkat, kedepannya saya pikir akan lebih baik ber-weekend getaway ke Belitung ketimbang ke Puncak atau Bandung yang macet. Lagipula, harga tiketnya tidak terlalu mahal, sekitar Rp.500 – 800 ribu (PP) di waktu normal, dan kurang lebih Rp. 1.000.000,- (PP) saat high season.

Tiba di Bandara Hanandjoedin – Tanjung Pandan, saya langsung menuju ke penginapan di pusat kota Tanjung Pandan. Jarak kota ke airport tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit dan tidak perlu khawatir terjebak macet. Untuk penginapan pun tidak terlalu sulit dicari. Di kota Tanjung Pandan sendiri, Hotel Biliton merupakan hotel kelas bintang yang baru saja dibuka pada tahun ini. Bangunannya minimalis dan modern. Untuk penginapan yang sekelas hotel mewah di kota, Hotel Biliton ini bias jadi pilihan, dengan harga Rp. 500.000,- untuk kamar standar.

Hotel lainnya yang setara dengan resort adalah Lor In yang terletak di Tanjung Tinggi. Lor In Hotel and Resort ini berada di kawasan shooting salah satu scence Laskar Pelangi. Dan saat proses shooting, Lor In dijadikan penginapan oleh para crew film. Bagi mereka yang ingin menikmati pantai, Lor In dapat dijadikan pilihan. Tepat disebarangnya adalah pantai Tanjung Tinggi yang memiliki banyak bebatuan besar, berpasir putih, dan berair bening. Saya sendiri sampai terkesima melihat betapa cantiknya pantai Tanjung Tinggi. Namun sayangnya, butuh waktu 30 menit untuk sampai ke pantai Tanjung Tinggi dari Tanjung Pandan. Di wilayah ini juga tidak terlalu banyak tempat jajan atau toko. Saya kira tempat ini dipilih memang khsusus bagi para wisatawan yang benar-benar ingin melepaskan stress dengan suasana yang tenang dan pemandangan indah. Harga permalam di Lor-In Hotel and Resort mulai dari Rp.600.000 – Rp.800.000,- untuk Deluxe Room.

Nah, tapi jangan khawatir buat mereka yang senang berwisata ala Backpacker. Belitung juga memiliki banyak akomodasi yang murah meriah, namun bersih. Di kota sendiri, kita dapat memilih Hotel Pondok Impian yang letaknya dekat dengan pantai Tanjung Pendam. Harga per malamnya sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000,-. Atau sewa sejenis cottage di Jln. Dipenogoro. Bisa pilih antara kamar privat atau rumah. Saran saya lebih baik menyewa rumah pondokannya. Disetiap rumah ada 2 kamar tidur, kamar mandi dalam, dan AC. Harga per-malamnya adalah Rp.300.000,- untuk rumah dan Rp. 150.000,- untuk kamar privat. Di depan penginapan, ada warung Soto Bandung dan toko serba ada. Sehingga kita tidak perlu khawatir jika malam-malam butuh minuman atau camilan. Selain penginapan ini, pada dasarnya masih banyak penginapan lain yang bisa kita cari di Google. Tinggal catat nomor teleponnya dan Tanya-tanya informasinya, deh!

Kekurangan di Belitung adalah tidak ada angkutan umum. Di Tanjung Pandan saya perhatikan jarang sekali ada angkutan umum dan susah menyewa ojek. Memang lebih enak jika kita menyewa mobil (patungan akan terasa lebih ringan untuk urusan sewa mobil ini). Biaya per-hari diluar bensin dan sopir sekitar Rp. 300.000,-. Saya menyarankan untuk menyewa sopirnya sekalian. Sebab sekalipun kota Tanjung Pandan atau Belitung tidak terlalu besar, jarak dari satu objek ke objek lain cukup jauh. Jalannya juga agak membingungkan karena bisa saja kita melewati perkampungan warga atau hutan di kiri kanannya. Belum lagi jika jalan dikelilingi hutan, tidak ada penerangan jalan. Jadi dibutuhkan sopir yang tahu medan untuk memastikan perjalanan kita selamat. Hehe..

Saat di Belitung, saya berkesempatan untuk mengunjungi Tanjung Binga (kampung nelayan, sekitar 20 km dari Tanjung Pandan), Kecamatan Badau (untuk melihat Tarsius Bancanus, hewan endemic Belitung), Tanjung Tinggi (tempat shooting Laskar Pelangi), Gantung (melihat set SD Muhammadiyah untuk film Laskar Pelangi) dan menyeberang ke Selat Nasik (melihat acara Maras Tahun, yaitu tradisi syukuran masyarakat Selat Nasik – Belitung). Perjalanan saya cukup lengkap karena saya mengunjungi dari mulai daerah gunung, pesisir, hingga menyeberang ke pulau Belitung lainnya.

Tarsius Bancanus, hewan mungil lucu yang masuk dalam daftar hewan langka dunia, saya lihat di Kecamatan Badau, tepatnya di Gunung Tajam. Gunung Tajam merupakan titik tertinggi di Belitung dan menjadi rumah bagi ribuan hewan nocturnal ini. Pemerintah daerah sedang mencoba mengembangkan wisata alam untuk melihat Tarsius sekaligus sebagai program konservasi. Melihat Tarsius merupakan pengalaman menarik, sebab saya harus masuk hingga kedalam hutan ditemani masyarakat local sebagai penunjuk jalan. Hewan ini tidak lebih besar dari kepalan tangan manusia dewasa dan merupakan hewan malam. Agak sulit dicari karena bulunya yang mirip warna dahan pohon. Untungnya masyarakat sekitar cukup terbiasa mengenal bagaimana mencari Tarsius. Saya dan rekan-rekan saya menghabiskan waktu 3 jam dengan 2 hari pencarian (sebab pencarian hari pertama gagal) untuk dapat menemukan makhluk mungil ini.

Selain Gunung Tajam, wisata yang menjadi andalan di Belitung tentunya adalah wisata pantai dan laut. Saya menyeberang ke Selat Nasik yang berada sekitar 20 menit dari Belitung menggunakan kapal cepat. Ditengah jalan, saya berhenti di tempat pengembang biakkan kerang mutiara. Tidak disangka, karena alam yang masih terjaga dengan baik, air laut yang bening menjadi seperti etalase untuk melihat terumbu karang dibawahnya. Tidak perlu diving, karena sudah terlihat dengan jelas. Tapi, jika mereka senang dengan olah raga diving, wilayah pesisir Belitung dengan pulau-pulaunya sangat direkomendasikan. Tidak perlu jauh-jauh ke Bunaken atau Bali, kan. Dari bincang-bincang dengan Pemda setempat, Belitung ternyata memiliki sekitar 100 pulau-pulau luar yang kesemuanya memiliki nama dan berpotensi menjadi objek wisata. Wow!

Buat pengagum Laskar Pelangi, bisa juga napak tilas jejak Andrea Hirata dengan pergi ke tempat yang disebutkannya dalam cerita. Saya hanya mengunjungi dua tempat shootingnya saja di Tanjung Tinggi dan Gantong (Belitung Timur). Waktu tempuh ke Gantong sekitar 1 jam, dan kita masih dapat melihat set SD Muhammadiyah yang dibangun untuk menghidupkan kembali cerita Andrea Hirata.

Selain tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi, kita juga bisa mencicipi makanan yang tentunya tidak terlalu mahal. Favorit saya adalah Bakmi Ayam Jamur “Rumah Besar” yang terletak di Jln. Yos Sudarso. Mi ayam jamurnya enak sekali menurut saya. Hanya dengan 12.000 perak, kita sudah dapat menikmati seporsi mi ayam. Kalau beruntung, kita juga bisa mencoba makan dim sum ceker ayamnya. Saya agak heran awalnya karena ceker ayam yang dijadikan dim sum itu besar sekali. Tapi buat saya makanannya enak dan bahannya segar. Rumah makan ini juga menjual terasi buatan sendiri tanpa bahan pengawet.

Ingin coba mi khas Belitung, bisa mampir di Jln. Sriwijaya. Ada restoran mi khas belitung, yang menurut saya mirip dengan mi celor palembang. Harganya juga tidak mahal, dan di kiri kanannya diapit dengan toko oleh-oleh khas Belitung. Jadi sehabis makan, kita bisa cari oleh-oleh yang super lengkap, dari mulai kerupuk ikan sampai dodol!

Salah satu khasnya kota Belitung adalah warung kopi yang rasanya tidak kalah dengan Starbucks. Menurut mitra saya, warung kopi yang paling enak di Belitung adalah warung kopi “Hong Ji” kalau saya tidak salah ingat namanya. Posisinya ada di pojokan dekat gereja Kristen. Warung kopi di Tanjung Pandan sudah buka sejak jam 7 pagi. Biasanya orang mampir kesana membeli kopi untuk diminum ditempat atau dibawa pulang. Segelas kopi harganya cuma 2.500 perak, dan masih ada jajanan pengganjal perut seperti donat, bakpau, pisang goreng, lumpia, kue basah, dsb yang dihargai sama rata, yakni 1.000 perak! Wajib coba juga!

Yah, begitulah. Belitung memang punya kesan tersendiri bagi saya. Saya terkesima dengan keindahan pantainya, kesederhanaan kotanya, keramahan orang-orangnya, dan begitu banyak hal yang bisa saya nikmati di sini. Selama beberapa hari disana, saya merasa jatuh cinta dengan kota ini. Dan sebagai seorang yang hobinya fotografi, semua tempat disini dapat diabadikan. Tidak rugi datang ke Belitung. Besok-besok, Puncak sudah bukan lagi tujuan getaway saya deh. Bagi mereka yang belum pernah ke Belitung, barangkali ini bisa dijadikan referensi tempat wisata murah meriah tapi puas. 

I am in Saigon!

Senang rasanya mengetahui bahwa roundtable meeting yang saya hadiri sudah berakhir. Itu artinya, saya bisa kembali ke tanah air. Ah! Saya sangat merindukan Jakarta, sekalipun kotanya yang berpolusi,berisik,macet, dan rajin banjir. Tapi, sekali lagi, saya merasa lebih nyaman berada di negara sendiri. Hahahaha.. Yah, mungkin karena sudah seminggu ini saya berkelana di sebuah kota di negara asing. Maka saya sangat merindukan pulang. Rindu bisa kembali makan-makanan di Jakarta.

Tapi perjalanan pulang saya tidak semudah yang saya duga. Saya harus berhenti satu malam di Saigon untuk meneruskan penerbangan keesokan harinya menuju Jakarta. Hm, hanya satu malam tidak akan menjadi masalah. Lagipula, saya tertarik untuk mengetahui wajah salah satu kota terbesar di Vietnam ini. Dan saat ini, saya sudah menyelesaikan misi saya melihat-lihat kota. Sedang duduk di kasur hotel, memangku laptop, dan tidak sabar menuliskan pengalaman saya di Saigon.

Berada di kota yang begitu cantik, santai, dan bersih seperti Nha Trang, membuat saya menduga bahwa saya akan menemukan hal yang sama di Saigon, walaupun saya tahu kota ini merupakan kota metropolitan sebagaimana Jakarta. Perjalanan menuju Saigon pun sempat diwarnai sesi “hubar-habir” alias terburu-buru. Sehari sebelumnya, penerbangan Sulan Chen, program specialist GEF SGP sempat dibatalkan karena cuaca buruk. Pesawat yang hendak mendarat di Nha Trang terpaksa kembali lagi, karena tidak bisa melihat landasan, tertutup awan tebal. Saya dan Pak Zainal sempat cemas akan mengalami hal serupa. Maka dari itu, kami buru-buru ke airport sekalipun penerbangan yang dijadwalkan untuk kami adalah pukul 7 malam. Siapa tahu, bisa digeser ke penerbangan siang.

Butuh waktu 35 menit terbang menuju kota Saigon dengan menggunakan Vietnam Airlines. Dan saat mendarat, kami sudah disambut dengan banyaknya mobil dan motor di kota ini. Persis Jakarta! Gambaran mengenai kota yang lebih teratur, runtuh seketika manakala dalam perjalanan menuju hotel, kami harus tersendat kemacetan di tengah kota. Kota ini betul-betul kota metropolitan! Besar, dengan populasi manusia yang padat, dan kendaraan yang juga tumpah ruah.

Jika mereka yang sering mendengar kota Saigon di Vietnam barangkali sering tertukar dengan Hanoi. Sama halnya seperti saya.Saya selalu menganggap Saigon sebagai ibu kota negara. Padahal ibu kota Vietnam sebenarnya adalah Hanoi yang terletak di utara. Saigon memang pernah menjadi ibu kota pada masa kolonial Indocina Perancis, dan saat negara Vietnam Selatan berdiri antara tahun 1954 – 1975. Menariknya, kota ini pada mulanya merupakan pelabuhan utama Kamboja sebelum dianeksasi oleh Vietnam di abad ke-17. Setelah unifikasi negara Vietnam, Saigon hanya merupakan salah satu kota besar dengan pengembangan pusat-pusat ekonomi Vietnam. Pada masa ini juga, nama Saigon kemudian dirubah menjadi Ho Chin Minh City, walau masyarakat Vietnam kerap menyebutnya sebagai Saigon.

Sama halnya dengan kota metropolitan di Asia Tenggara dengan pusat-pusat bisnis, Saigon berkembang menjadi kota besar padat penduduk. Populasinya mencapai 7 juta jiwa, dengan kepadatan penduduk sekitar 3.175 per km2. Kim Anh, Koordinator Nasional GEF SGP Vietnam, mengatakan Saigon adalah kota yang lebih besar dibandingkan Hanoi. Di Saigon, kita bisa melihat bagaimana urat-urat perekonomian melaju setelah proses liberalisasi ekonomi Doi Moi pada era 80-an. Hanoi barangkali dapat dikatakan lebih menjadi pusat politik dan pemerintahan negara Vietnam.

Barangkali benar apa yang dikatakan Kim Anh. Sepanjang jalan menuju tempat saya menginap, setidaknya ada 3-4 mall yang saya lihat. Tidak terlalu besar seperti mall-mall yang ada di Jakarta, tetapi cukup mampu menggambarkan denyut perekonomian negara ini. Di sepanjang jalan dipadati dengan toko-toko aneka rupa. Dari mulai toko telepon seluler yang eksklusif, sampai penjual suku cadang motor. Padat sekali! Belum lagi dengan restoran siap saji seperti Pizza Hut, KFC yang tersebar dimana-mana.Uniknya, toko-toko disini “nyempil” sana sini. Termasuk sebagian hotel-hotel hemat lainnya.

Saya menginap di sebuah hotel “nyempil” ini yang bernama Huy Chuong Hotel di Jln.Trung Quang Khai. Hotel Maharani di Jakarta saja, masih lebih besar dibandingkan hotel ini. Sekilas, ia akan tampak seperti ruko berlantai 7. Tetapi, hebatnya, hotel ini bersih dalam segala hal, baik fasilitas dan tamu, karena pada buku petunjuk hotel tertulis “Dilarang terima tamu dikamar! Harus di lobby, kecuali seizin manager! (Ya Ampun!!!). Sebagai hotel yang dijalankan melalui bisnis keluarga, hotel ini mengambil standar sekelas bintang dua yang punya fasilitas lengkap, termasuk koneksi internet wireless, yang membuat saya bisa bersabar menunggu waktu kepulangan saya. Didalamnya pun, terdapat lift, dengan ruang makan tidak terlalu luas, namun bersih. Pelayan hotelnya pun ramah-ramah, dan relatif bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit, walaupun kadang bisa juga membuat kita hampir gantung diri karena tulalit.

Jln. Trung Quang Khai tempat hotel ini berada juga merupakan wilayah kota dengan toko-toko di kanan-kiri serta seberang jalan. Yah, paling tidak, ia berada pada wilayah strategis dimana kita bisa menemukan makanan dan toko serba ada 24 jam! Ha! Kalau di Nha Trang tidak ada model toko serba ada sejenis Circle K, maka disini mereka punya Shop & Go yang sama modelnya dengan Circle K. Jadi kalau malam butuh sesuatu, tinggal jalan sekitar 5 menit dan borong semua barang yang ada disitu, kalau sedang kumat gilanya. Hehe..

Saya menginap disini bersama dengan delegasi Indonesia lainnya. Selain saya dan Pak Zainal yang adalah anggota GEF SGP, masih ada Pak Nazalyus dan istri (dari pemerintah Belitung), Pak Tri Budi dan istri (dari pemerintah Kalimantan Barat), serta Pak Faisal (dari NGO Bogor/Kalbar). Sudah sejak mendarat, Pak Faisal bilang bahwa ia ingin makan KFC! Hahaha..! Rupanya selama seminggu berada di Nha Trang dengan makanan-makanan Vietnam, ia sudah sedikit muak dan butuh makanan yang lebih familiar di lidahnya. Serta halal tentunya. Maka, jadilah seusai maghrib kami berjalan menyusuri jalan untuk menemukan restoran siap saja, seperti yang telah ditunjukkan mbak-mbak resepsionis.

Tidak ada toko suvenir yang kami temukan. Hanya ada toko-toko biasa serta warung-warung makan pinggir jalan kecil yang dipadati pengunjung. Oh, ini Sabtu rupanya. Malam minggu. Pantas saja orang-orang pada keluar rumah. Dan kata “orang-orang pada keluar rumah” ini punya dampak yang dashyat dengan hiruk pikuknya sepeda motor di sepanjang jalan. Salah satu kebiasaan orang Vietnam yang saya perhatikan adalah : lampur hijau jalan, lampu merah jalan terus! Hahahaha.. Lebih parah dari di Jakarta! Selain itu, motor-motor ini sama gilanya dengan mobil-mobil yang tidak mau berhenti sekalipun ada orang yang hendak menyeberang. Beberapa kali saya dan Ibu Tri Budi hampir terserempet motor dan membuat saya teriak, “Woy! Rem lo dol apa ?!”. Huhuhuhu.. Yang diteriaki hanya melihat dengan tatapan tidak mengerti kepada saya.

Kami makan di restoran siap saji bernama Lotteri di tikungan jalan, 20 menit berjalan kaki dari hotel. Bukan KFC memang, tetapi yang disajikan,yah, nyerempet-nyerempet itu lah. Terbukti kangen pulang, para peserta kalap memesan ayam, kentang goreng, nasi, dan minuman ringan. Cukup masuk akal juga harganya. Untuk 1 paket makanan terdiri dari 2 ayam goreng, 1 porsi kentang, dan 1 coca cola, saya hanya membayar VND 45.000. Sudah membuat saya kenyang sampai besok hari sepertinya karena potongan ayamnya yang lumayan.

Karena penasaran dengan toko-toko (biasalah Ibu-Ibu!),kami berjalan kaki lagi sekitar 30 menit. Saya tidak membeli apa-apa, karena saya sudah selesai agenda suvenir di Nha Trang. Jadi saya hanya main-main dengan kamera pocket saya, mencoba mengambil gambar-gambar aneh sepanjang jalan Saigon. Jalan disini lumayan dipenuhui “Cafe-Cafe”. Berbeda dengan Cafe di Jakarta yang mewah dan nyaman, Cafe disini betul-betul warung kopi pinggir jalan, dengan bangku-bangku kecilnya di trotoar. Yah, tidak salah juga sih, karena dalam bahasa Perancisnya sendiri, Cafe artinya warung buat ngopi. Dan inilah “cafe” ala Vietnam.

Hm.. belum banyak cerita yang bisa digali sih. Sejauh ini saya sudah melihat kota Saigon dan unik-uniknya kota ini. Besok saya masih punya waktu setengah hari sebelum meninggalkan Vietnam. Mudah-mudahan, masih bisa lagi melihat yang baru. Ngantuk ah, mau tidur dulu ! Hehe..

Sedikit Cerita Dari Nha Trang, Vietnam

Ini adalah hari terakhir saya berada di kota Nha Trang, Vietnam setelah seminggu menghadiri roundtable meeting di kota ini. Kantor yang mengirimkan saya kemari, menggantikan Supervisor saya yang sedang mengambil cuti panjang pulang kampungnya. Dengan berbekal beberapa dokumen presentasi, merchandise-merchandise kantor untuk dibagikan, maka berangkatlah saya menuju ke kota Nha Trang, Vietnam untuk ikut serta dalam NGO Forum and 4th Mayor Roundtable Disucussion on South China Sea Project yang diselenggarakan oleh GEF/UNEP.

Wow! Vietnam! Belum pernah dalam bayangan saya bahwa tahun ini saya akan menginjakkan kaki di negara ini, sekalipun sempat terbersit “kapan ya, saya bisa datang ke kotanya Ho Chin Minh ini ?”. Hanya untuk berkeliling-keliling mungkin, atau untuk urusan kerjaan. Selama ini,saya hanya mendengar cerita-ceritanya dari TV atau buku, bahkan dari kelas mata kuliah Politik Indocina, ketika saya masih kuliah di Universitas Indonesia. Tampaknya menarik. Karena dari segi ekonomi, politik, sosial, dan budaya, Vietnam lebih memiliki dinamika,dibandingkan dua negara tetangganya, Laos dan Kamboja sebagai satu bagian dari Indocina.

Perjalanan saya ke negara ini bukan hal yang mudah. Bersama dengan salah satu board program GEF SGP Indonesia, dalam satu hari saya harus beberapa kali berganti pesawat. Jakarta-Singapura-Ho Chin Minh City-Nha Trang. Yah, karena lokasi pertemuan ini bukan di Ho Chin Minh City,maka setelah mendarat disana (yang mana sudah habis energi terguncang di pesawat karena cuaca yang kurang baik), kami harus terbang selama 50 menit ke kota Nha Trang.

Dalam pengetahuan saya, saya hanya familiar dengan Hanoi dan Saigon alias Ho Chin Minh City. Baru kali ini saya mendengar keberadaan Nha Trang,sebuah kota yang terletak di pesisir selatan Vietnam. Dan pada awalnya pula,saya sempat sedikit skeptis mengenai negara berkembang ini. Selama 1,5 tahun bergabung dalam program GEF SGP Indonesia, saya akhirnya menjadi orang yang sangat bergantung dengan internet. Maka, ukuran keberhasilan suatu negara dalam bayangan saya, juga dapat menyediakan fasilitas internet, yah minimal mudah kalau tidak gratis.  Bukannya apa-apa, tapi internet bisa memudahkan komunikasi dengan dunia luar, tanpa harus bayar mahal. Dalam situs hotel, saya lihat tersedia koneksi wireless, bahkan di setiap kamar. Tapi saya meragukannya!

Tiba di airport Cam Ranh, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Badan rasanya sudah letih sekali dan ingin segera sampai di hotel, karena malamnya ada acara welcoming dinner untuk keluarga SGP yang hadir yaitu Indonesia, Filipina, Kamboja, Thailand, Cina, Vietnam. Agak sedikit heran juga ketika keluar dari pesawat, angin dingin menyambut saya. Seharusnya kota pantai panas dan lembab. Ini tidak. Ternyata di Nha Trang sedang sering angin kencang. Beberapa penerbangan juga sempat ter-cancel karena badai. Tapi tidak berapa lama, sunset sudah membayangi perjalanan kami ke pusat kota.

Nha Trang sebetulnya adalah kota pariwisata yang bagus di Vietnam. Ditempat ini pula lah kegiatan Miss Universe 2008 di selenggarakan. Selama perjalanan dari airport ke kota, saya sempat melihat gedung acara Miss Universe 2008 yang masih lengkap dengan banner-banner besar. Bahkan di sepanjang jalan, ada beberapa billboard besar berwarna ungu dengan tulisan Miss Universe 2008 .  Dan yang paling penting, kota ini bersih. Wow! Menarik! Sepertinya saya harus mulai menghapus praduga-praduga saya sebelumnya.

Nha Trang merupakan ibu kota dari Propinsi Khan Hoa, Vietnam bagian selatan. Sebagai kota pesisir, Nha Trang sangat maju dalam hal riset oseanografinya. Ia dikenal dengan pantai yang bersih dan indah, serta tempat untuk para scube diver menyelam.  Teluk Nha Trang (Nha Trang Bay) adalah salah satu yang terindah di dunia. Selain itu, kota ini juga memiliki area konservasi kelautan Hon Mun, yang menjadi salah satu wilayah konservasi dunia diakui oleh IUCN.Berkembang sebagai kota pariwisata, yang menurut Khang, local organizer kami, Nha Trang tercatat sebagai salah satu tempat pariwisata terbaik di ASEAN.

Saya sendiri mengakuinya. paling tidak setelah enam hari menghabiskan waktu di kota ini. Pemerintah Vietnam tampaknya memang serius menggarap potensi pariwisata di kota ini, sehingga tidak sulit menemukan hotel serta tempat berbelanja dan nongkrong bagi para turis. Polisi-polisi pariwisata pun disiagakan di kota ini untuk membantu para turis serta menjaga keamanannya. Teman saya beberapa kali keliling kota pada waktu tengah malam, hanya untuk merasakan suasana malam kota yang sedang lengang. Ia perempuan, dan sama sekali tidak ada gangguan dari pada preman ataupun pencopet.

Saya menginap di sebuah hotel yang tepat berada di jalan besar, dan menghadap ke arah pantai. The Light Hotel namanya, atau yang disebut dalam bahasa Vietnam, Duyun Hai Hotel. Hotel ini terletak di Jln. Tran Phu dan bukan merupakan jaringan hotel internasional. Namun, bersih dan memiliki fasilitas yang lengkap. Disinilah saya baru merasakan nikmatnya ber-wireless ria di segala penjuru hotel, 24 jam non-stop! Suatu “kemewahan” yang tidak saya temukan, bahkan di jaringan hotel internasional bintang tiga keatas manapun sebelumnya!

Mereka memiliki fasilitas yang ditata seperti hotel lokal kebanyakan. Tidak terlalu berdisain modern, tapi nyaman. Kamar saya sendiri besar sekali. Terdapat dua buah tempat tidur Queen Size, yang membuat saya agak ragu untuk tidur sendirian di kamar ini pada malam pertama karena takut. Namun, yah, yang kemudian menyita perhatian saya adalah koneksi wirelessnya yang cepat dan tidak pernah diputus oleh hotelnya! Ha! Ini sudah sangat membuat saya senang, karena akhirnya setelah serentetan acara yang menyita waktu dan energi berbicara tentang project konservasi, saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang saya rindukan di Indonesia.

Seusai konferensi, malam hari selama beberapa malam saya habiskan berjalan kaki menyelusuri kota dan melihat toko-toko disekitarnya. Untuk ini saya sudah punya grup “tukang shopping” tak terbantahkan dari keluarga SGP. Saya (Program Asisten SGP Indonesia), Joy (National Coordinator SGP Filipina), dan Sovanna (Program Asisten SGP Kamboja). Biasanya malam hari waktu bebas. Kita boleh memilih ikut makan malam yang sudah diatur, atau berjalan-jalan. Tentunya, kami bertiga lebih memilih melihat-lihat kota.

Disekitar hotel banyak sekali toko-toko suvenir yang menjual barang kerajinan dari mulai kaos bertuliskan Vietnam, anyaman, scraft, sampai kerajinan kerang-kerangan. Tidak sulit juga mencari money changer sekitar situ serta toko serba ada. Jangan harap ada Circle K atau AMPM. Tapi setidaknya toko serba ada itu, cukup bisa memenuhi kebutuhan kita, seperti snack,minuman ringan (sampai keras juga ada!), body lotion, shampoo, dll. Bahkan kalau butuh kartu pra-bayar lokal juga tersedia disitu. Saya beli nomor lokal mengingat akan ada waktu 1 minggu disini, dan akan sangat membantu kalau saya punya nomor seluler lokal. Harganya 115.000 Vietnam Dong, dengan nilai pulsa 150.000. Kartu ini cukup hemat, karena beberapa kali saya menelepon ke Indonesia, pulsa tidak tersedot banyak. Hanya saja, trafik komunikasi memang agak padat pada jam-jam tertentu. Kita harus berkali-kali mencoba.

Bagi yang ingin membeli oleh-oleh, boleh pilih dari toko-toko sekitar situ. Karena saya hanya membawa koper kecil, saya hanya membeli oleh-oleh untuk beberapa orang saja. Orang tua saya, kekasih saya, dan teman-teman terdekat saya. Saya tidak mau membebani diri saya dengan banyak barang bawaan. Di toko bernama Nam Khang, saya menemukan tas paspor warna-warni dengan sulaman bergambar gadis Vietnam. Unik. Harganya sekitar VND 20.000. Saya ingat kata Kim Anh (Koordinator Nasional SGP Vietnam),kalau mau beli apa-apa,ditawar saja, kecuali memang sudah fixed price. Maka saya dan Joy menggunakan siasat itu. Lumayan juga, kami dapat VND 15.000 per tas. Nilai tukar USD 1 setara dengan VND 16.500. Jadi satu tas itu harganya kurang dari 1 dollar US.

Di toko lain, saya menemukan kaus-kaus bertuliskan Vietnam. Harganya US$ 3,per kaus. Cukup mahal menurut saya mengingat bahannya yang tipis. Di toko itu juga banyak pilihan seperti dompet sulaman yang dihargai US$ 2,5.Lalu ada cermin kecil dengan hiasan pecahan kulit kerang dengan harga US$ 2. Atau tatakan piring makan US$ 6 (6 buah). Di toko-toko suvenir ini sebetulnya juga menjual syal beraneka macam.Tapi sayang harganya menurut saya sangat mahal. Saya menggunakan syal yang ternyata dijual di hampir semua toko suvenir disekitar situ. Syal ini saya beli di Kamboja dengan harga hanya US$ 1. Tapi begitu masuk toko suvenir itu, harganya melambung jadi US$ 7 !! Gila! Mahal sekali! Bahkan pelayan tokonya saja tidak percaya saya membeli syal tersebut dengan harga US$ 1. Yah, intinya sih, kita harus pintar memilih barang dan menawar.

Sebetulnya ada juga tempat belanja yang bisa lebih murah dan masih bisa tawar menawar,seperti saat saya pergi membeli syal tersebut di Central Market,Pnom Penh. Disini juga mereka punya Central Market sejenis itu. Namanya Dam Market.  Jaraknya sekitar 2 km dari hotel tempat kami tinggal. Jika punya waktu luang dan senang melihat-lihat kota sembari santai, pasar ini bisa juga ditempuh dengan berjalan kaki. Tetapi agak susah mencari belokannya. Jadi, saran yang paling mungkin adalah menggunakan bis atau taksi. Untuk taksi, ongkosnya sekitar VNG 20.000 – 35.0000. Jangan takut dikibulin, karena taksi disini menggunakan argo.

Saya pergi ke Dam Market suatu malam bersama Joy, tanpa Sovanna. Karena kami hanya punya waktu malam hari, maka saat tiba disitu sebagian besar toko sudah tutup. Padahal Joy ingin sekali membeli buah-buahan segar untuk dibawa pulang ke Filipina. Jadi,kami hanya berputar disekitar Dam Market, melihat kehidupan sebenar-benarnya dari masyarakat Vietnam. Oh,disini banyak sekali toko yang menjual bahan-bahan makanan laut yang dikeringkan. Dari mulai ikan asin sampai cumi-cumi. Dan mereka juga punya toko-toko makanan ringan khas Vietnam. Saya mampir di salah satu toko. Karena tidak mungkin membeli hadiah barang untuk kolega kantor yang banyak, saya putuskan untuk membali satu-dua pak camilan khas Vietnam. Saya menemukan satu camilan unik. Bentuknya seperti martabak tipker, yang dipotong  jadi empat bagian. Satu bungkus terdiri dari 12 potongan besar, dan tersedia berbagai rasa,seperti kelapa, durian, kacang, dan susu. Harganya VND 10.000 per pak.

Untuk makanan, disini banyak sekali pilihan. Dari mulai restoran sampai jajanan pinggir jalan yang bervariasi. Dua kali kami mencoba makan di restoran yang menyajikan makanan khas Vietnam. Joy senang sekali makan sayur dan seafood. Karena harganya relatif mahal (per porsi hidangan utama sekitar VND 45.oooo – 135.000), kami memesan dua jenis makanan yang lengkap, seperti hot pot seafood dan lumpia vietnam, yang bisa kami bagi bertiga bayarnya. Ini jauh menghemat tapi tetap bisa merasakan makanan asli di negaranya. Porsi makanan disini banyak dan besar. Jadi sebetulnya, satu porsi pun bisa untuk dua orang.

Bagi yang senang jalan-jalan ala backpacker, makanan pinggir jalan bisa jadi pilihan karena variatif dan porsinya juga banyak. Saya hanya mencoba membeli nasi campur yang harganya VND 15.000 dan sudah bisa membuat saya hampir mati kekenyangan. Nasi campur ini unik sekali. Nasi ketan aneka warna (kuning, hijau,ungu, oranye, dan hitam) yang dicampur dengan kacang merah rebus, jagung rebus, potongan daging panggang, sayuran, dan disiram sedikit kuah kaldu untuk menambah rasa. Rasanya gurih. Nasi seperti ini tidak akan saya dapat di Indonesia! Hahahaha.. Selain itu,masih ada jajanan lain. Salah satu yang unik lagi adalah “warung” seafood. Sebetulnya bukan warung sih,karena mereka hanya menaruh ember-ember berisi makanan laut segar seperti  aneka kerang, cumi, kepiting, keong laut serta panggangan. Para pembeli bisa langsung memanggang ditempat dan makan sambil berdiri, atau duduk dilantai, atau jongkok! Menarik sekali! Saya tidak sempat mencoba model makanan ini.Lalu, ada sandwich Vietnam yang dibuat dari roti baguette perancis diisi daging panggang, jagung bakar, sosis panggang, dll! Hmmm ! Yummy !!

Hmm..saya sepertinya sudah cukup merasakan tinggal di Nha Trang dan “menjadi” orang Vietnam. Pengalaman yang menyenangkan bisa mendapatkan pelajaran baru manajemen dan pengembangan project, berkenalan dengan orang-orang baru (delegasi dari negara-negara tetangga), serta jalan-jalan menyelusuri kota Nha Trang. Pada akhirnya sebelum saya meninggalkan kota ini, saya sudah memiliki kesan yang sangat baik untuk Nha Trang. Besok saya sudah akan kembali ke Indonesia, tapi menginap dulu satu malam di Ho Chin Minh City. Pasti pengalamannya lebih menarik lagi, dan ada hal-hal baru yang tidak saya temukan sebelumnya. Haaa..! Saigon, here I commeeee.. !!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.