Looking Back, Looking Forward
21 Mar 2010 Leave a Comment
Kalimat “Looking Back, Looking Forward” ini pertama kali saya lihat ketika dulu sedang mencari bahan untuk membuat makalah salah satu mata kuliah Ilmu Politik. Dalam salah satu bahan yang saya dapatkan di internet, judul ini menjadi menarik buat saya karena isinya adalah untuk melihat perbandingan dari suatu sistem yang tengah berjalan di masa lalu dan memprediksi apa yang terbaik di masa depan. Tentunya, istilah ini kadang juga seringkali kita gunakan untuk menilai dari tahap-tahap hidup kita. Apa yang pernah kita harapkan, apa yang sudah kita capai, dan apa yang akan kita harapkan lagi di masa depan untuk membuat segala sesuatunya berarti.
Saya sedang berada di Yogyakarta ketika saya memutuskan untuk kembali memposting sesuatu di blog saya yang telah lama sepi tulisan. Tentunya saat ini pun saya sedang berada di tengah-tengah dinas luar kota yang harus saya selesaikan dalam waktu satu minggu kedepan. Setelah menghabiskan waktu mengobrol ringan menemani atasan saya, ada hal yang tiba-tiba melintas dan sekaligus menjadi refleksi saya atas pertanyaan maupun pernyataan diatas.
Barangkali, tugas Yogyakarta ini akan menjadi tugas luar kota terakhir saya bersama GEF SGP Indonesia. Sebuah lembaga dana hibah lingkungan dimana selama hampir 3 tahun ini, saya bernaung dan banyak menggali ilmu dari padanya. Sudah saya putuskan bahwa saya akan mengakhiri pengabdian saya di lembaga ini dalam beberapa bulan mendatang. For good, tentunya. Dan inilah saat-saat dimana saya harus melihat kembali keseluruhan perjalanan karir saya untuk menyusun apa yang (barangkali) terbaik di masa depan.
Saya masih ingat saat pertama kali saya bergabung dengan lembaga ini, saya masih baru beberapa bulan lulus dari kampus. Ketika itu, saya sebetulnya belum pada posisi mencari kerja. Tetapi saya bertemu dengan mantan atasan yang kemudian menawarkan membantunya di lembaganya. Saya tidak punya pikiran apapun, dan mencoba karena sudah sejak lama saya ingin sekali membuktikan pada semua orang bahwa saya mampu melakukan sesuatu. Pada akhirnya, saya mengetahui bahwa lembaga yang kemudian meng-hired saya sebagai Asisten Program ini adalah lembaga dana hibah lingkungan internasional yang juga bekerjasama dengan UNDP. Sesuatu yang selalu saya impikan sejak saya sekolah dulu. Bekerja dengan lembaga internasional.
Bukan pula hal yang mudah ketika pertama kali bergabung di sini. Latar belakang pendidikan saya yang Ilmu Politik dengan kekhususan Politik Cina, dan kecenderungan saya dulu untuk tidak mengambil mata kuliah politik lingkungan, membuat saya harus belajar dari nol beberapa isu-isu lingkungan. Ada banyak sekali hal-hal baru yang harus saya pelajari dari nol. Dari mulai apa itu perubahan iklim, apa itu konservasi keanekaragaman hayati, apa itu energi terbarukan, dsb. Semua saya lakukan dengan seringkali berselancar di dunia maya untuk menambah sedikit ilmu di otak saya tentang apa yang saya kerjakan.
Tetapi, lebih dari pada itu, bekerja dengan masyarakat adalah intinya. Sudah menjadi impian saya, bahwa sebagian dari apa yang saya miliki atau kemampuan saya ingin saya kontribusikan untuk membantu masyarakat. Apapun bentuknya. Dan beruntung sekali saya bergabung dengan GEF SGP Indonesia. Karena diluar daripada dana hibah yang setiap beberapa bulan sekali disebarkan untuk membantu mengatasi problema lingkungan sekaligus kesejahteraan masyarakat, lembaga ini membantu saya untuk bisa melihat realita kehidupan dari berbagai sudut. Pengalaman-pengalaman baru saya dapatkan disini.
Tugas lapangan pertama saya di tahun 2007 adalah mendampingi atasan saya untuk persiapan UNFCCC-COP 13 di Bali. Saat itu, karena masih baru, saya masih sering membawa kedalam perasaan jika ada hal-hal yang dicomplain oleh atasan saya. Agak sulit juga ketika itu untuk bisa betul-betul memahami apa yang sebetulnya diinginkan dari saya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai belajar apa yang disebut dengan manajemen kerja. Mungkin tugas pertama ini belum begitu menyentuh masyarakat karena lebih bersifat momentum. Tapi tentunya pasang surut emosi sudah mulai terasa. Dan saya belajar untuk bisa mengelola hal tersebut.
Tugas kedua yang benar-benar berkaitan dengan monitoring kerja adalah ketika saya diminta untuk mendampingi atasan saya commissioning mikrohidro di Gunung Lumut, Kalimantan Timur. Bagi saya, itu adalah pengalaman yang luar biasa dan, yah, bisa dibilang cukup heroik buat saya yang selama ini mungkin lebih banyak berkutat pada hal-hal di kota. Sekalipun hanya untuk 2 hari waktu monitoring, saya merasakan bagaimana perjalanan dan proses yang ditempuh hingga acara peluncuran mikrohidro tersebut dilaksanakan.
Gunung Lumut adalah salah satu gunung dengan hutan lindung di wilayah Kalimantan Timur yang harus ditempuh dengan jarak yang jauh. Karena letaknya di Kabupaten Paser Panajam, saya harus menggunakan kapal feri untuk sampai di kabupaten tersebut. Lalu kemudian lanjut selama 2 jam menyusuri jalan hingga sampai ke kaki Gunung Lumut, yang merupakan pintu masuk dari kampung penerima hibah, yaitu Kampung Muluy. Saya ingat ketika itu hari sudah malam saat akan naik ke Gunung Lumut. Karena di kaki gunung tersebut sudah terjadi konversi lahan sawit sepanjang 20 km, maka kondisi jalan kiri-kanan sangat gelap. Sejak dari Balikpapan pun sudah diwanti-wanti agar kami berhati-hati dengan truk pengangkut kayu yang bisa membahayakan, apalagi jalanannya adalah tanah merah yang licin jika hujan.
Total hampir 5 jam kami harus menempuh perjalanan untuk sampai ke Kampung Muluy. Telepon seluler pun cuma jadi pajangan disana karena termasuk daerah yang tidak tersentuh sinyal telepon (kecuali kalau agak naik sedikit, kata salah satu anggota mitra kami). Tiba di kampung tersebut sudah pukul 11 malam, yang mana udaranya mulai terasa dingin dan menggigit. Tapi kami memang tidak bisa langsung istirahat, karena ternyata harus berkumpul dulu di rumah Bapak Zidan, kepala adat Kampung Muluy, untuk melaksanakan ritual adat penyambutan tamu asing.
Itulah kali pertama saya benar-benar berhadapan dan mendengar langsung cerita dari masyarakat adat Dayak Paser yang selama ini menghadapi berbagai macam ancaman hidup dari berbagai pihak. Seusai upacara, karena harus juga membahas keperluan dokumentasi, saya terus terjaga hingga pukul 2 pagi, berbicara dengan beberapa masyarakat yang masih tersisa. Saat istirahat pun, saya agak kesulitan karena bingung mau buang air kecil dimana. Warga Kampung Muluy biasanya mandi dan membersihkan diri di sungai. Kalaupun ada WC buatan untuk buang air, permasalahannya air itu harus ditimba dulu dari sungai. Hahaha.. Jadi, saya masih ingat waktu itu, saya disuruh buang air saja di dapur. Karena lantainya kayu dan bercelah, tentunya akan langsung terbuang ke tanah dibawahnya. Nah, karena saya masih lugu, saya justru mengambil air dari gentong didekat saya. Ternyata, gentong itu adalah untuk persediaan air minum! hahaha… Tidak saya habiskan memang. Tapi saya jadi merasa bersalah, karena sudah mengambil sedikit jatah air minum yang punya rumah!
Keesokan harinya saat saya harus memonitor mikrohidro sebelum acara peluncuran dimulai pun tidak kalah menariknya. Mikrohidro tersebut dipasang didalam hutan Gunung Lumut, berdekatan dengan Sungai Muluy yang mengalir. Jarak dari kampung kedalam, cukup jauh. Sekitar 5-6 km. Memang ada cara singkat untuk menembusnya, adalah dengan menggunakan motor hingga sampai di pintu masuk hutan (dimana pintu masuk ini artinya adalah jalan yang terputus!). Sisanya, ya harus dengan berjalan kaki. Menembus sisa 3 km kedalam hutan, memang tidak mudah. Apalagi hutan itu, sesuai dengan namanya, banyak sekali batu yang berlumut. Licin! Beberapa kali saya hampir terjatuh karenanya (untuk yang ini, kami memang ditertawakan dengan pemuda Dayak yang menjadi pemandu kami! Dasar orang kota, pikirnya). Tetapi setelah melewati itu semua, tidak terbayangkan bagaimana senangnya saya ketika melihat mikrohidro tersebut yang sudah dibantu oleh lembaga kami, beroperasi dengan baik dengan listrik yang mengaliri 54 rumah masyarakat.
Yah, itu adalah sepenggal dan sebagian kecil pengalaman serta pembelajaran saya melihat dunia baru melalui GEF SGP Indonesia. Setelah penugasan hutan Lumut pertama itu, masih banyak perjalanan lainnya yang tidak kalah menarik. Dan saya senang telah melakukannya. Saya senang diberikan kesempatan untuk bisa belajar, mendengar, dan bercerita bersama masyarakat. Kesempatan-kesempatan yang mungkin baru akan saya rasakan kembali setelah nanti bertahun-tahun hidup saya.Lembaga ini tidak hanya menjadi ruang belajar bagi saya, tetapi juga keluarga saya. Selalu ada hal-hal baru yang bisa didiskusikan dan dibagi baik antar pekerja GEF SGP maupun mitra kerja yang tersebar di daerah.
Menghitung waktu-waktu yang tersisa mengabdi bersama GEF SGP, seperti berusaha untuk melepaskan kelekatan sebuah keluarga yang selama 3 tahun terakhir menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saya. Suka-duka, senang-sedih, bahagia-marah yang saya rasakan tidak hanya menjadi penggalan cerita karir saya, tetapi juga bentuk kontribusi atas mimpi bekerja untuk masyarakat yang selama ini ada. Dan mimpi itu tidak pernah padam dalam diri saya.
So, teman-teman, terima kasih banyak atas kesempatan dan pengalaman yang sudah diberikan kepada saya. Maybe its time for me to move on. Hopefully, we’ll still be a family. Like we used to be in GEF SGP Indonesia.
Ganti Baju, Ah!
23 Jan 2010 Leave a Comment
Sebenernya saya rada nggak ngerti sih, kenapa tampilan blog wordpressnya harus berat ke kiri ketimbang di tengah-tengah. Ngeliatnya kan jadi pegel! But anyway, nggak apa-apa deh sekali-kali nyoba yang agak nggak biasa. Lagipula, blog saya itu kalau kata teman-teman suram banget. Udah backgroundnya hitam, tampilan foto diatasnya pun terlalu mellow. Jadinya terkesan serius. Padahal niatan saya sebetulnya ingin cerita yang asik-asik, sekalipun kadang bisa juga sih sentimentil. :p
So anyway, semoga tampilan baru ini tetap enak dibaca. Enjoy !
H O R O R
21 Sep 2008 1 Comment
Pernah kenalan sama yang namanya “hantu” ? Pernah tetanggaan? Atau malah pernah dikerjain? Hehehehe… Cerita tentang si oknum itu memang selalu jadi bahan omongan menarik dimana-mana! Perhatiin deh, dari mulai jaman gue SD sampe (kayaknya sih ya) sekarang, tiap malam Jumat, suka ada segmen di radio yang isinya tentang cerita hantu. Bahkan saat hantu-hantuan ini sedang booming, seluruh stasiun TV di republik ini nayangin reality show ngejar-ngejar hantu! Dan selalu saja orang yang mistis sampe belagak mistis dengan cerita hantunya, selalu menarik orang lain untuk dengerin ceritanya. Hah!
Cerita-cerita soal hantu, gue sebetulnya orang yang yah kalo bisa sih jangan deh ketemuan sama oknum mengerikan itu. Tapi, gue selalu suka dengerin cerita atau nonton film horor! Entah karena penasaran, atau ya sekedar tes nyali. Sekalipun in the end, gue mungkin akan ketakutan sendiri. Hehehehehe..
Sabtu kemarin, iseng-iseng gue nonton film yang waktu gue lihat trailer-nya, betul-betul nyeremin. Film Asia, dan lebih spesifik lagi adalah film Thailand! Tau kan gimana kualitas antara hantu Asia dengan hantu Hollywood ? Jelas lebih menjanjikan nonton film horor Asia,donk! Nggak bakalan rugi deh. Dan kebetulan, ini adalah pertama kalinya sejak jutaan tahun lamanya gue nggak beli tiket bioskop cuma buat nontonin orang jerit-jerit ketakutan digodain sama yang namanya hantu. Biasanya, gue hanya akan nonton DVD-nya, siang hari, dimana seluruh kamar gue pasti tembus cahaya. Dan gue pastinya akan nggak konsen. Soalnya ditengah nonton, gue akan 1) Ke kamar mandi, buang hajat; 2) Nelpon temen atau pacar; 3) Dipanggil nyokap; atau malah 4) Ketiduran! So, efek nyereminnya akan sangat jauh banget ketimbang gue nonton bioskop.
Film yang gue pilih untuk gue tonton adalah 4BIA. Film yang bikin gue penasaran karena dari reviewnya aja katanya memang layak tonton buat yang penakut. Kebetulan hantu-hantu 4BIA ini masih bertahan di Blitz Megaplex, jadilah gue dan cowok gue sengaja datang, beli tiket seharga Rp.50.000,- perak, dan melototin kerjaan si hantu itu. Dari seluruh film horor Asia, yang paling gue suka selalu film buatan Thailand. Entah karena ceritanya lebih membumi, kualitas gambarnya enak dilihat, atau memang bener-bener nyeremin. Makin semangat lah gue karena si 4BIA ini juga besutan sutradara Thailand, lengkap dengan bahasanya yang nggak di-dubbing.
Si 4BIA ini ternyata terdiri dari 4 cerita yang berbeda. Tapi si sutradaranya adalah orang yang cerdas dengan membuat benang merah cerita hanya dari clue-clue kecil yang terdapat dalam setiap cerita. Cerita pertama dimulai dari sms hantu, dimana ada seorang cewek yang habis kecelakaan, tinggal di apartemen, dan kemudian menerima sms misterius. Si cewek itu sudah GR, karena dia pikir, sms misterius ini datang dari cowok (dan manusia normal!) yang barangkali jadi peluang besar untuk jadi pacar! Ternyata eh ternyataaaaaa…….. Yah, itu adalah sms dari roh cowok yang meninggal bunuh diri, dan dia bisa mainan sms dari dalam peti matinya! Hmm.. hihihihihi.. Yang ini sih agak lucu ya. Karena sepanjang cerita sms hantu itu, gue mikir, gimana cara si hantu nge-charge tuh hp ya kalo habis batere ?
Lalu, cerita yang kedua tentang kenakalan geng remaja SMA, yang berakhir tragis. Yang awalnya cuma iseng menzolimi salah satu siswa, ternyata malah berbuntut panjang dengan kutukan. Karena ternyata si siswa yang nggak terima di zolimi ini, membaca mantra dari setiap foto anak-anak geng itu. Maka jadilah semua anak-anak ini meninggal. Kecuali satu cewek yang namanya, Pink. Dia agak terbebas dari kutukan mautnya, karena saat si siswa malang itu disiksa, si Pink ini yang membela, walaupun nggak mencegah. Cuma, ya, nggak lucu juga sih kalau nggak diapa-apain. Di akhir ceritanya, si Pink membebaskan dirinya dari kutukan dengan cara mencongkel keluar kedua bola matanya! Yaiks! Jijay!
Cerita ketiga, rada mirip film The Others-nya Nicole Kidman. Tapi versi plesetannya dan rada lucu. Tentang empat orang cowok-cowok yang sedang melakukan hobi rafting-nya. Keempat cowok ini meninggal saat perahu karetnya terbalik pada jeram yang keras. Awalnya, dikira mereka selamat, karena adegannya adalah mereka berenang ke tepi sungai. Hanya satu yang hilang, namanya Aey. Lalu teman-temannya mulai khawatir, kembali ke tenda, dan memutuskan untuk mencari keesokan harinya. Tiba-tiba si Aey ini, bisa balik lagi ke tenda pas tengah malam buta dengan kondisi basah dan kedinginan. Teman-temannya curiga donk. Apalagi di malam sebelumnya, si Aey ini bilang bahwa kalau di mati, dia akan mendatangi teman-temannya untuk melihat apakah mereka takut dan masih mau temenan sama dia atau nggak ? Disini mulai agak seram, karena sudah muncul bentuk-bentuk hantu menyeramkan. Sampai akhirnya setelah mereka setengah mati berusaha meminta Aey kembali ke alamnya dan nggak mengganggu mereka lagi, barulah mereka tahu bahwa mereka semua sebetulnya juga sudah mati. Ketahuannya karena ternyata keempat mayat itu ngambang di sungai, dekat tenda mereka! Hyaaaaa….
Cerita keempat tentang penerbangan terakhir seorang pramugari. Kalau ini,melibatkan dendam. Soalnya dalam penerbangan privat yang disewa seorang putri Persia, ternyata pramugari yang sengaja diminta untuk melayani penerbangan oleh sang putri, diketahui sebagai selingkuhan suaminya si putri. Sampai akhirnya sang putri meninggal karena keracunan udang (ya ampun! Udang !?! Itu kan enak!!!!), dan harus diterbangkan kembali dalam waktu 15 jam ke Persia. Well, cerita mulai tegang disini. Soalnya, mayat sang putri yang udah dibalut kafan putih seperti mumi, ternyata ditaruh di KURSI KABIN, saudara-saudara!! Hahahahaha… Hah! (ketawa miris gue..!). Si pramugari mulai berhalusinasi, dengan melihat kafannya terbuka, jenazah putri hilang, dan ternyata meneror dia didalam kabin pesawat! Asli deh yang ini serem banget! Serem inget tampang hantu si putri itu doank.. hehehehe.. dan ngagetin! Akhir cerita, ya si pramugari ini mati (juga).
Keluar bioskop, gue masih kebayang-bayang sih sama si cerita 4BIA itu. Sebagian nggak terlalu masuk di kepala. Tapi cerita terakhir itu nggak tahu kenapa, kok ya nempel terus ya? Mungkin karena udah lah cerita terakhir, ngagetinnya juga gila-gilaan, bo! Keluar bioskop, gue menenangkan diri dengan makan di foodcourt sambil ngebahas cerita horor lintas benua. Berharap bayangan si pramugari dan putri Persia itu hilang dari ingatan gue. Yah, well, basically, berharap SEMUA cerita-cerita itu lenyap dari otak gue sih. Hehehe..
Sampailah saat malam tiba, gue mulai rungsing sendiri. Dan ini menjadi peringatan baik bagi para insomnia. JANGAN NONTON FILM HOROR KALO LO NGGAK YAKIN MALAM BISA MEREM! Saat seluruh penghuni rumah gue sudah pada mimpi kemana-mana, gue masih kletak-kletuk dan celingak-celinguk nggak bisa tidur. Jadi, obat terakhir gue adalah menyalakan komputer, ngedit foto sambil dengerin musik. Lalu….. lalu……..
‘dung..dung..dung..’. Ada bunyi itu. Gue diem. Mikir positif sambil narik napas. ’dung..dung..dung..’. Ada lagi.Dan bunyi itu seperti bunyi kaca kamar gue yang digedor halus. Gue kecilin suara musik, dan…. bunyinya ada lagi! Sialan! Gue buka korden, ternyata tak ada apa-apa. Sepi diluar sana. Ok. Ini cuma perasaan gue aja. Jadi gue mainan komputer lagi sambil nyanyi-nyanyi. Jam udah menunjukkan waktu setengah tiga pagi.
Lalu….. ’tok..tok..tok..’. HAH ?!!!! Apaan tuh ????! ’tok..tok..tok..’. Sekarang giliran PINTU KAMAR gue yang diketok! Gue diem, dia sempet diem sebentar. Gue masih berpikir,barangkali gue mabok teh botol kali, ya. Terus suara itu muncul lagi. Harus gue lihat nih. Pilihannya cuma dua, maling atau bukan maling. Gue buka, dan… yep! Nggak ada siapa-siapa…. !! Huaaaaaa… pengen teriak!
Akhirnya gue telpon lah, laki gue.
Gue : Eh, eh, aduh! Ini nggak banget deh! Aku denger suara kaca kamarku kayak ada yang ngetok halus, lalu pintu kamarku. Tapi pas dilihat, nggak ada siapa-siapa….!?!
Dia : Masa ??????? Yakin kamu ??!! Gue : Iyaaaa… !!! Loh, kok, kamu belum bobo ?
Dia : Aku juga dari tadi merinding nggak tau kenapa…
Gue : ……….
Pram dan Secangkir Coklat Hangat
07 May 2008 Leave a Comment
“Aku sudah bosan takut. Kita sudah bosan putus asa. Kita tak akan putus asa lagi. Kita akan perbaiki keadaan kita.”
- Pramoedya Ananta Toer -
Pada suatu sore, aku duduk di salah satu sudut ruangan sebuah kafe. Sudut yang menjadi tempat favoritku. Di sudut ini, aku bisa melihat dengan jelas ke berbagai penjuru ruangan. Dan dari sudut ini pula lah, seringkali aku banyak menuangkan pikiran-pikiranku. Dalam tulisan tak beraturan, tentunya.
Seperti biasa, sore itu, aku duduk manis di sofa kesayanganku. Memesan secangkir coklat hangat, dan mengeluarkan secarik kertas. Memandang berkeliling dan mendapati berbagai rupa manusia dengan segala aktivitasnya. Di sudut seberang, seorang pria sedang khusyuk dengan laptopnya. Seorang pekerja kantoran yang barangkali sedang pusing dengan deadline kantor. Atau sekedar mengecek pergerakan harga saham. Dua meja berselang, seorang anak muda dengan gaya jaman sekarang, juga sedang sibuk bermain-main dengan mouse laptopnya. Disainer grafis barangkali. Tidak jauh dari tempatku duduk, sekelompok cewek-cewek gaul terlibat dengan pembicaraan seru, seputar akhir pekan yang mereka lalui di club tempo hari.
Kuteguk coklat hangat yang sedari tadi sudah ada di depanku. Berpikir. Menebak. Kira-kira, apa ya yang mereka lakukan setelah keluar dari kafe ini ? Bagaimana keluarga mereka ? Apa yang mereka lakukan kalau weekend ? Apa pendidikan mereka ? Berapa banyak uang yang mereka habiskan dalam satu minggu ? Apakah mereka punya masalah ? Dari apa yang saya lihat, barangkali hidup tidak terlalu sulit bagi mereka. Well, itu tampak luarnya. Aku bisa salah. Lagipula, aku tidak boleh berprasangka. Bisa juga keluar dari kafe ini, mereka kembali pada realitas hidup yang ternyata berat.
Tanpa sadar, secarik kertas tadi sudah terisi dengan apa yang ada didalam kepalaku. Kebiasaan aneh. Lalu, setelah bosan memperhatikan sekeliling, kukeluarkan satu lagi sumber inspirasiku dalam melihat dunia dan berpikir. Buku Pram. Yah. Pramoedya Ananta Toer. Seorang budayawan, seniman, dan sejarawan yang memiliki pemikiran kuat dan mampu membiusku dalam berbagai tutur ceritanya. Aku tidak tahu jelas apakah larangan Jaksa Agung tentang buku-buku Pram sudah dicabut atau belum. Yang jelas, aku menyukai cerita-ceritanya. Melalui ceritanyalah aku bisa melihat lebih lagi pada situasi di sekelilingku dan mulai bertanya, “kontribusi apa yang bisa saya beri untuk yang lain ?”, “apakah saya berani untuk menjadi diri saya sendiri ?”, “apakah saya bersedia untuk turut menangis atas suatu ketidakadilan dan bersama mengubahnya ?”
Buku yang ada di tanganku ini, judulnya Gadis Pantai. Suatu cerita yang mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan desa pada zaman kolonial dengan segala ketidakadilannya. Dipelihara oleh seorang Tuan Belanda, untuk kemudian dikembalikan kepada orang tuanya setelah Tuan tersebut mendapatkan perempuan sederajat yang bisa dinikahinya. Gadis Pantai ini harus terpisah oleh putra yang dilahirkannya dari sang Tuan, bukan karena nasib atau takdir. Tetapi karena sebuah sistem, produk budaya manusia yang dikekalkan oleh manusia itu sendiri. Tokoh yang hampir mirip dengan Nyai Ontosoroh dari Tetralogi Buru, sekalipun dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Perempuan ini, tidak mampu menerjang apa yang ada dihadapannya. Namun, benang merah dari tokoh-tokoh perempuan Pram, mereka diberi peluang untuk menjadi perempuan yang kritis, berpikiran maju, dan tidak mau begitu saja terjebak dalam sistem. Yang ironisnya, dibantu oleh Tuan Belandanya sendiri.
Aku meneguk coklat hangat di cangkirku. Aku memandang sekilas ke arah gerombolan cewek-cewek yang masih saja asik dengan pembicaraan sana-sini mereka. Kali ini sudah berganti topik ternyata. Tapi isinya tetap sama. Ringan dan seputar dunia muda yang penuh dengan hal-hal menyenangkan. Ahhh.. sungguh berbeda dengan nasib Gadis Pantai ini. Barangkali, jika Gadis Pantai hidup di zaman sekarang, perkara seperti yang dialaminya sudah dibawa ke pengadilan!
Tapi, apa benar zaman ini sudah benar-benar berubah ? Apa betul perempuan sudah banyak berubah ? (pertanyaan ini langsung disanggah oleh dosenku dulu, Mas Nur Iman Subono yang dengan tangkas mengatakan “Jelas sudah berubah! Tapi, perubahan yang seperti apa dulu…!”). Pada beberapa tingkat, perempuan sudah lebih bebas menentukan apa yang diinginkannya. Walau belum menyeluruh juga, ya. Namun permasalahannya kini tidak sampai pada batas sistem itu sudah mulai terbuka. Well, seperti esensi manusia hidup di dunia yang senantias menemukan masalah untuk proses belajar hidupnya, masalah yang ada kini adalah akses yang ternyata tidak dimiliki pula oleh semua orang.
Suatu kali, dalam rangka mewujudkan keinginan untuk membantu masyarakat melalui sekolah binaan, aku berkunjung ke sebuah kampung di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. Kampung Kebon Pala namanya. Baiklah, aku harus jujur. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di dalam kampung tersebut sekalipun sudah belasan tahun tinggal di Jakarta. Maafkan. Tapi, apa yang aku lihat dan aku dengar, mengingatkanku pada tulisan-tulisan Pram. Zaman ini, tidak benar-benar berubah. Ia hanya beralih pada satu masa ke masa lain, namun tetap pada permasalahan yang sama. Permasalahan Superordinat – Subordinat. Penindas dan tertindas. Kalau kata mudahnya, zaman ini hanya berganti pakaian saja.
Penduduk di kampung ini, hidup dalam lingkungan yang sangat tidak sehat. Terlalu padat. Proporsi rumah dan penghuninya tidak sebanding. Aku memang tidak masuk satu per satu ke rumah tersebut. Tapi, aku hampir yakin, keluarga yang tinggal disini, bukan pengikut setia program Keluarga Berencana. Mereka bahkan mungkin tidak terlalu peduli. Jadi, bukan tempat yang layak untuk dihuni. Belum lagi ditambah tingkat putus sekolah yang tinggi. Kaum perempuan disini pun, sekalipun sudah memasuki usia tua, belum tentu bisa membaca. Paling banter mereka berhitung karena terbiasa dengan kegiatan jual-beli. Tanyakan rumus matematika sederhana ? Cuma bisa nyengir kuda.
Apa yang jadi masalahnya ? Dunia ini sudah terbuka kini. Sudah bebas. Tidak ada lagi model zaman feodal-kolonial dulu dimana rakyat kecil tak boleh dan tak bisa sekolah (secara khusus, perempuan tidak boleh sekolah tinggi-tinggi). Tidak ada lagi Tuan-Tuan Belanda yang menghisap dan menggerogoti masyarakat kita. Tidak ada lagi perang-perang pertahanan. Hellloooo… We are free now! Independent! Ada apa sih dengan dunia ini ? Kenapa masih ada orang-orang yang aku lihat di Kebon Pala itu ? Ini baru satu tempat. Masih ada jutaan tempat di muka bumi ini yang bernasib serupa. Dan ini baru satu contoh kecil. Aku yakin di negeri ini, kita punya banyak contoh yang merepresentasikan kegelisahanku.
Kuteguk lagi coklat hangat yang sudah tersisa seperempat. Yah, memang tidak akan pernah bisa dijelaskan hanya dengan waktu satu cangkir coklat hangat. Dan tidak perlu ditanya kenapa. Karena sudah terlalu lelah juga bertanya “kenapa?” tetapi tidak ada yang menjawab sempurna. Maka, seperti kata Pram, aku sudah bosan putus asa. Aku mau mencoba memperbaiki keadaan. Sedikit, sih. Tapi setidaknya ada yang bisa aku kerjakan.
At The Beginning..
25 Apr 2008 Leave a Comment
Phew!
Akhirnya, setelah sekian lama berpikir untuk punya sebuah “blog”, baru sekarang kesampaian. Bukan karena ikut-ikutan teman yang sudah duluan punya blog, tapi karena lebih merasa butuh untuk memiliki wadah menulis yang lebih dari sekedar “Ms. Words”, “Friendster Comment”, atau “Field Trip Report”. Hahaha.. Maka, setelah beberapa jam kembali ke rumah, pada dini hari yang tidak terlalu sunyi (bahkan cenderung berisik dengan suara motor lalu lalang!), saya mulai membuka sebuah BLOG !
Yah, “Selamat Datang” saya ucapkan pada diri saya sendiri.. Semoga langgeng dan semakin banyak kreativitas tertuang disini..
Karena bingung untuk awalan mau nulis apa, well, saya putuskan untuk meracau sekenanya. Dan mengingat-ingat apa yang sudah terjadi pada 24 jam kebelakang tadi.
Hari ini, saya bertemu kembali dengan teman-teman se”pernongkrongan” saya sejak di kampus. Janjian dadakan (yang anehnya selalu bisa!) gara-gara teknologi bernama “Messenger”!. Kebetulan weekend, tidak terlalu ada yang dikerjakan, dan sudah lama juga sepertinya tidak bergosip dengan mereka (padahal baru sebulan!), maka jadilah saya sepulang kantor bermacet-macet ria menuju cafe Au Lait di daerah Cikini yang berdasarkan janji dan promosi salah satu teman saya, “akan ada live music-nya, Ma! Jazz lagi!”. Hmm.. terbayang juga bisa menikmati live music, sambil ngopi (atau nyoklat karena saya nggak suka kopi!) lalu bergunjing sana sini dengan teman-teman. Ohya, harap dicatat bahwa ke-empat teman saya yang dimaksud berjenis kelamin pria! Teman-teman nongkrong yang asik sejak kuliah dan berlanjut hingga sekarang.
Setibanya disana, well, mereka semua sudah pada datang. Kami ngobrol ngalor ngidul. Dari mulai ngobrolin kondisi negara dan masyarakat (sok politik banget!) sampai ngobrolin teman yang lain. Seru juga sih. Nggak kebayang sebelumnya waktu di kampus dulu kalau anak-anak (baca: kami!) akan cukup senang membahas masalah sosial dan politik. Dulu semasa masih menimba ilmu di Ilmu Politik Universitas Indonesia, boro-boro ngomongin politik, ngomongin tugas aja udah bikin mpet! Nah, baru sekarang sepertinya sadar kalau dulu kuliah di Ilmu Politik. Menarik juga sih. Saya bisa melihat teman-teman saya yang masing-masing sudah punya pekerjaan sendiri-sendiri dan mendengarkan berbagai sudut pandangnya tentang negara dan masyarakat. Mungkin kedepannya kami akan membuka partai. (Partai PD Jaya, barangkali ? Hehehehe…)
Satu jam…Satu jam setengah.. setelah ngobrol ngalor ngidul, musik yang ditunggu tak kunjung ada. Sampai saya harus meyakinkan diri saya bahwa teman saya yang promosi itu tidak salah kafe! Karena nggak tahan nahan lapar (yah, inilah dia kelemahan saya.. tahan banting sih iya..tahan lapar yang gak bisa!), akhirnya kita semua sepakat cari tempat makan yang murah meriah porsi banyak. Kalau makan di kafe yang bersangkutan, hmmm… bisa jebol kantong kita semua. Tanggal tua. Lagian, janjiannya tadi juga kesitu cuma buat NGOPI dan DENGER LIVE MUSIC. Urusan makan, tetep di emperan. Hahahaha..
Meluncurlah kita semua ke Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang enak dan terkenal itu. Selama ini, walaupun sudah bangkotan tinggal di Jakarta, tapi saya makan nasi goreng nan terkenal ini di cabangnya saja! Oh tidak! Memalukan! Makanya, waktu ditawarin cari tempat makan, saya langsung ingat saya harus coba makan di tempat aslinya. Mungkin akan berbeda. Setidaknya suasananya kalau tidak masakannya.
Saya memesan nasi goreng kambing dan teh botol. Banu, teman saya yang sama kelaparannya dengan saya, memesan nasi goreng kambing (“gajihnya yang banyak, ya Bang!”, gitu katanya), satu porsi sate kambing (untuk dirinya sendiri), dan teh botol. Tiga teman lainnya cukup ngeroyokin satu porsi sate kambing. Dan disitulah kami berada. Sambil menikmati makanan, melihat mobil yang lalu lalang, mendengarkan para pengamen menyanyikan berbagai lagu top 40, kami terus bercerita. Sampai hampir tengah malam.
Saya selalu senang berkumpul dengan teman-teman. Mendengarkan cerita mereka diselingi bercandaannya, tidak hanya membuat saya relaks setelah seharian bekerja, tetapi juga menambah pengetahuan baru. Apapun itu. Saya kadang suka berpikir, apa rasanya ya kalau hidup tanpa memiliki teman yang mau meluangkan waktu untuk kita ? berbagi, tertawa bersama dan kadang menangis bersama ?
Saya pulang menyusuri jalan kota Jakarta di malam hari sambil mengingat berbagai pembicaraan ringan bersama dengan teman-teman saya itu. Besok, pasti saya akan menemukan hal-hal baru. Dan untuk melengkapinya, saya menutup hari dengan membuat rumah bagi tulisan dan pengalaman saya.
Saya sudah tidak sabar menanti apa yang akan terjadi selanjutnya dan merekamnya dengan ribuan kata-kata.
Sampai besok!