Your Life, Your Choice!

Pagi ini, ketika saya membuka message di Facebook, ada seorang teman yang penasaran akan status Facebook saya yang berbunyi “…planning to go see Tarot Reader”. Dia lalu bertanya, kenapa saya ingin bertemu dengan tarot reader ? (Barangkali ini juga kelanjutan shock setelah saya bilang bahwa saya adalah agnostic! Hahahaha..) Mengapa harus tarot reader ? Dan walaupun alasannya hanya untuk lucu-lucuan saja (dan juga penasaran, sejauh mana sih tarot bisa membaca saya ?), teman saya itu menyarankan untuk tidak menemui pembaca tarot, dan “kembali ke jalan yang benar, dan serahkan segalanya kepada Tuhan!”.

Saya cukup terkejut mendengar pendapatnya yang buat saya sedikit judgemental. Pertama ketika saya bilang bahwa saya agnostic (walaupun belum tentu benar juga!), dan kedua ketika saya bilang ingin bertemu dengan tarot reader (meski tujuannya iseng!). Dan tanpa melanjutkan pembicaraan lebih jauh mengenai hal ini, saya sudah tahu apa yang ada dalam pikirannya.

Hidup dalam masyarakat konstruktif memang gampang-gampang susah. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Seringkali pilihan kita ditentukan oleh apa yang ada disekeliling kita. Orang tua, keluarga, masyarakat, dsb. Nilai-nilai yang sudah dibentuk dan didoktrinkan sejak kecil, menjadi dinding-dinding yang membatasi kita. Terlebih lagi dalam masyarakat “timur”. Nilai-nilai individual seringkali harus ditekan demi kepentingan bersama. Akibatnya, kita terlatih untuk memperhatikan “apa kata orang” dibanding “apa kata diri kita”. Sekalipun kita enjoy dengan apa yang kita lakukan, kalau orang lain menganggapnya tidak berkenan, ya kita harus siap terima dengan pilihan, ikuti maunya diri sendiri tapi “dipergunjingkan”, atau ngikutin kata orang tapi diri sendiri susah menerimanya.

Buat saya, apa yang ada di tengah-tengah masyarakat merupakan produk budaya yang terkonstruksi sejak dulu. Sama ketika saya sering mendapatkan kuliah, hal-hal yang kadang-kadang taken for granted dan alpha dari pemikiran, seperti jender, juga merupakan bentukan sosial. Kenapa perempuan harus pakai rok ? Kenapa laki-laki tidak boleh pakai rok ? Kenapa perempuan dicitrakan lembut ? Sementara laki-laki dicitrakan tegas ? Lantas bagaimana kalau peran ini terbalik ? Perempuannya tegas, dan laki-lakinya lembut ? Apakah tidak boleh ?

Menjadi diri sendiri memang banyak tantangannya. Suatu ketika, Ibu saya yang mulai pusing karena anaknya belum mau menikah, ngoceh panjang lebar tentang masalah perempuan dan ke-perempuan-an. Ibu saya bilang, “Jadi perempuan itu, jangan gagah! Nanti nggak ada laki-laki yang mau. Perempuan itu harus mau menikah, dan jadi ibu. Perempuan itu harus begini, begitu, begini, begitu…” yang semunya menurut saya adalah pemikiran yang terkonstruksi dari nilai yang selama ini diturunkan, tanpa ada yang mempertanyakan kembali.

Tanpa bermaksud melawan (karena masih takut jadi anak durhaka!), saya bertanya balik kepada Ibu saya, “Kenapa harus perempuan yang punya banyak tugas ? Kalau perempuan memilih untuk menjadi single dan mengangkat anak, apakah tidak ada pahalanya ? Kenapa perempuan yang harus mati-matian bersikap agar suaminya tidak pergi ke lain hati ? Kalau laki-laki bisa poligami, kenapa tidak perempuan juga poliandri ? Kenapa perempuan harus bersikap sesuatu agar sekelilingnya menerimanya atau demi suaminya ?”. Yah, bisa diduga. Ibu saya langsung shock mendengar pertanyaan saya.

“Hidupmu, adalah pilihanmu!”, begitu teman saya pernah bilang. Apapun yang ingin kita lakukan, lakukanlah atas dasar keinginan diri, bukan karena sekelilingmu. Dan sebaliknya, saya pikir sudah saatnya kita mulai untuk melepaskan pikiran-pikiran judgmental satu dengan lainnya. Tidak baik untuk kesehatan. Curiga dan berpikir buruk selain dosa (kata agama ya!), juga malah bikin kita nggak bisa tenang. Sibuk nyinyir ngomongin orang. Yang ada hidup juga jadi tidak ada damai-damainya.  Biarlah orang dengan pilihan yang memang menurutnya baik untuknya. Karena hidupnya adalah hidupnya. Sama seperti hidup kita adalah hidup kita. Bukan hidup orang lain.

Jadi, apakah hari ini saya ingin menjadi seorang agnostic atau orang beragama, apakah saya ingin bertemu dengan pembaca tarot atau duduk di sudut kamar membaca buku-buku religi, apakah saya mau menjadi seorang wanita karir atau menjadi seorang ibu rumah tangga, apakah saya ingin menikah atau melajang, itu tergantug apa yang ingin saya jalani. Karena hidup saya, pilihan saya.

Selamat berpikir terbuka!

2 Comments (+add yours?)

  1. rynal
    May 07, 2008 @ 10:05:27

    ima….kadang pemikiran radikal sering terbentur ma norma-norma yang sebenarnya juga merupakan hasil kesepakatan,,,,so have fun go mad ajalah

    Reply

  2. 140201
    Jul 08, 2008 @ 16:26:51

    pendapat yang baguss,ma..karakter bahasa yang tegas, lugas, dan sedikit pedas yaa…he.he.he..itulah ima…tetapi kita lihat yah, apakah ini akan seperti cerita ini?or????????…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: