Pendidikan oh Pendidikan

Well, tulisan ini sebenarnya di tulis oleh teman saya dari Komunitas Gelang Putih sebagai refleksi Hari Pendidikan Nasional 2008. Titip edar gitu ceritanya. Hehehehe…

Selamat Baca !

PS : Cay, nih gue udah posting ye..!

Bla..Bla..Bla..Bla.. [1]

Kondisi pendidikan Indonesia kini sangat mengkhawatirkan, banyaknya problem yang timbul karena banyakannya anak sekolah (siswa) yang tidak dapat memecahkan masalahnya, dan mereka cenderung untuk lari dari kenyataan tersebut. Banyaknya sekolah yang masih menggunakan orientasi belajar yang sangat konvensional menyebabkan anak-anak tidak dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kesehariannya, karena metode belajar yang kreatif, inovatif, imajinatif, dan aktif.

Metode balajar lama hanya berhasil dalam skala ingatan saja, tetapi tidak dapat membekali anak didik untuk mendapatkan jawaban atas tantangan yang ada dalam keseharian mereka.

Metode pendidikan humanis dapat dianggap sebagai jalan keluar dari kekakuan yang terdapat dalam kurikulum Indonesia, kurikulum yang ada saat ini merupakan sebuah wujud penyeragaman karakter anak didik (siswa). Kita dapat melihat contoh nayat dari kurikulum yang ada. Penyeragaman kurikulum memang didasari atas pencapaian pendidikan yang sebaik-baiknya, tapi dalam kenyataannya kurikulum yang bersifat sentralistis tidak mendapatkan jawaban dari daerah dimana siswa berada.

Metode pembelajaran yang ada saat ini masih cenderung menggunakan konsep lama, dimana siswa masih menjadi objek belajar, dan guru masih menajdi sumber ilmu. Pada dasarnya, siswa mempunyai karakter tersendiri dan unik. Maka, dalam setiap materi pembelajaran, guru tidak dapat mengeneralisir setiap siswa.

Seharusnya sistem belajar ataupun pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, dan dalam pembantukan kurikulum setidaknya pemerintah dapat mengembalikan itu kepada masing-masing sehingga terdapat keselarasan dalam pembelajaran. Seharusnya belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi setiap anak belajar dari mengalami, dan pengetahuan tidak dapat dipisahkan.

Pendidikan Indonesia selama ini lebih cenderung mengarah pada dehumanisasi (tidak memanusiakan manusia) sehingga out put dari pendidikan tersebut menjadi sia-sia. Seharusnya pendidikan di Indonesia lebih humanis (memanusiakan manusia) karena pada dasarnya pendidikan merupakan langkah awal dari pencerdasan dan pembebasan.

Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan demikian, “pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri, tetapi juag sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang ilmu pengetahuan.

Pendidikan Indonesia sekarang ini dihadapkan pada tantangan kehidupan manusia modern. Dengan demikian, pendidikan Indonesia harus diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat mdoern. Dalam menghadapi suatu perubahan, “diperlukan suatu disain paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang baru”, demikian kata filsuf Kuhn. Menurut Kuhn, apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha yang dijalankan akan memenuhi kegagalan. Untuk itu, pendidikan Indonesia perlu didisain untuk menjawab tantangan perubahan zaman tersebut, baik pada sisi konsepnya, kurikulum, kualitas sumber daya insaninya, lembaga-lembaga dan organisasinya, serta mengkonstruksinya agar dapat relevan dengan perubahan masyarakat tersebut.

Dengan mendisain ulang konsep yang telah diciptakan oleh banyak pemikir besar, setidaknya dapat memberikan sebuah jalan terbaik bagi pendidikan Indonesia. Sehingga pendidikan Indonesia lebih relevan, dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang dialami oleh bangsa kita, menjadi sebuah pencarahan, dan mencegah siswa, mahasiswa, dosen, pejabat, dan rakyat menjadi penindas-penindas baru.

Penindas yang tercipta dari latar belakang dimana mereka mengecap atau mengenyam bangku pendidikan yang mahal dan atas dasar pemenuhan kebutahan pasar, tuntutan orang tua, impian karir, dan segala obsesi yang menjadi ambisi besar.

Jadi, buat apa lo sekolah tinggi-tinggi kalo cuma mau jadi penindas baru !!!

Selamat Hari Pendidikan !


[1]Ditulis oleh Ahmad Fadillah ( Komunitas Gelang Putih dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta).

1 Comment (+add yours?)

  1. kit-cat
    May 02, 2008 @ 09:07:35

    HOHOHOHOHO…. posting pertama, bukti bahwa tulisan ini masih ada yang mbaca, kalo nggak ada tolong mbak2/mas2 dari wordpress dicut aja nih bloughh, wakakakak. andtheho, “paradigm shift” memang menjadi kunci untuk memperbaiki pendidikan kita, jadi saya setuju untuk merubah paradigma pendidikan kita, untuk menciptakan generasi terdidik (gue ngomong apa sih?!). so, blueprintya sudah ada kah?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: