Pram dan Secangkir Coklat Hangat

“Aku sudah bosan takut. Kita sudah bosan putus asa. Kita tak akan putus asa lagi. Kita akan perbaiki keadaan kita.”

Pramoedya Ananta Toer –

Pada suatu sore, aku duduk di salah satu sudut ruangan sebuah kafe. Sudut yang menjadi tempat favoritku. Di sudut ini, aku bisa melihat dengan jelas ke berbagai penjuru ruangan. Dan dari sudut ini pula lah, seringkali aku banyak menuangkan pikiran-pikiranku. Dalam tulisan tak beraturan, tentunya.

Seperti biasa, sore itu, aku duduk manis di sofa kesayanganku. Memesan secangkir coklat hangat, dan mengeluarkan secarik kertas. Memandang berkeliling dan mendapati berbagai rupa manusia dengan segala aktivitasnya. Di sudut seberang, seorang pria sedang khusyuk dengan laptopnya. Seorang pekerja kantoran yang barangkali sedang pusing dengan deadline kantor. Atau sekedar mengecek pergerakan harga saham. Dua meja berselang, seorang anak muda dengan gaya jaman sekarang, juga sedang sibuk bermain-main dengan mouse laptopnya. Disainer grafis barangkali. Tidak jauh dari tempatku duduk, sekelompok cewek-cewek gaul terlibat dengan pembicaraan seru, seputar akhir pekan yang mereka lalui di club tempo hari.

Kuteguk coklat hangat yang sedari tadi sudah ada di depanku. Berpikir. Menebak. Kira-kira, apa ya yang mereka lakukan setelah keluar dari kafe ini ? Bagaimana keluarga mereka ? Apa yang mereka lakukan kalau weekend ? Apa pendidikan mereka ? Berapa banyak uang yang mereka habiskan dalam satu minggu ? Apakah mereka punya masalah ? Dari apa yang saya lihat, barangkali hidup tidak terlalu sulit bagi mereka. Well, itu tampak luarnya. Aku bisa salah. Lagipula, aku tidak boleh berprasangka. Bisa juga keluar dari kafe ini, mereka kembali pada realitas hidup yang ternyata berat.

Tanpa sadar, secarik kertas tadi sudah terisi dengan apa yang ada didalam kepalaku. Kebiasaan aneh. Lalu, setelah bosan memperhatikan sekeliling, kukeluarkan satu lagi sumber inspirasiku dalam melihat dunia dan berpikir. Buku Pram. Yah. Pramoedya Ananta Toer. Seorang budayawan, seniman, dan sejarawan yang memiliki pemikiran kuat dan mampu membiusku dalam berbagai tutur ceritanya. Aku tidak tahu jelas apakah larangan Jaksa Agung tentang buku-buku Pram sudah dicabut atau belum. Yang jelas, aku menyukai cerita-ceritanya. Melalui ceritanyalah aku bisa melihat lebih lagi pada situasi di sekelilingku dan mulai bertanya, “kontribusi apa yang bisa saya beri untuk yang lain ?”, “apakah saya berani untuk menjadi diri saya sendiri ?”, “apakah saya bersedia untuk turut menangis atas suatu ketidakadilan dan bersama mengubahnya ?”

Buku yang ada di tanganku ini, judulnya Gadis Pantai. Suatu cerita yang mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan desa pada zaman kolonial dengan segala ketidakadilannya. Dipelihara oleh seorang Tuan Belanda, untuk kemudian dikembalikan kepada orang tuanya setelah Tuan tersebut mendapatkan perempuan sederajat yang bisa dinikahinya. Gadis Pantai ini harus terpisah oleh putra yang dilahirkannya dari sang Tuan, bukan karena nasib atau takdir. Tetapi karena sebuah sistem, produk budaya manusia yang dikekalkan oleh manusia itu sendiri. Tokoh yang hampir mirip dengan Nyai Ontosoroh dari Tetralogi Buru, sekalipun dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Perempuan ini, tidak mampu menerjang apa yang ada dihadapannya. Namun, benang merah dari tokoh-tokoh perempuan Pram, mereka diberi peluang untuk menjadi perempuan yang kritis, berpikiran maju, dan tidak mau begitu saja terjebak dalam sistem. Yang ironisnya, dibantu oleh Tuan Belandanya sendiri.

Aku meneguk coklat hangat di cangkirku. Aku memandang sekilas ke arah gerombolan cewek-cewek yang masih saja asik dengan pembicaraan sana-sini mereka. Kali ini sudah berganti topik ternyata. Tapi isinya tetap sama. Ringan dan seputar dunia muda yang penuh dengan hal-hal menyenangkan. Ahhh.. sungguh berbeda dengan nasib Gadis Pantai ini. Barangkali, jika Gadis Pantai hidup di zaman sekarang, perkara seperti yang dialaminya sudah dibawa ke pengadilan!

Tapi, apa benar zaman ini sudah benar-benar berubah ? Apa betul perempuan sudah banyak berubah ? (pertanyaan ini langsung disanggah oleh dosenku dulu, Mas Nur Iman Subono yang dengan tangkas mengatakan “Jelas sudah berubah! Tapi, perubahan yang seperti apa dulu…!”). Pada beberapa tingkat, perempuan sudah lebih bebas menentukan apa yang diinginkannya. Walau belum menyeluruh juga, ya. Namun permasalahannya kini tidak sampai pada batas sistem itu sudah mulai terbuka. Well, seperti esensi manusia hidup di dunia yang senantias menemukan masalah untuk proses belajar hidupnya, masalah yang ada kini adalah akses yang ternyata tidak dimiliki pula oleh semua orang.

Suatu kali, dalam rangka mewujudkan keinginan untuk membantu masyarakat melalui sekolah binaan, aku berkunjung ke sebuah kampung di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. Kampung Kebon Pala namanya. Baiklah, aku harus jujur. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di dalam kampung tersebut sekalipun sudah belasan tahun tinggal di Jakarta. Maafkan. Tapi, apa yang aku lihat dan aku dengar, mengingatkanku pada tulisan-tulisan Pram. Zaman ini, tidak benar-benar berubah. Ia hanya beralih pada satu masa ke masa lain, namun tetap pada permasalahan yang sama. Permasalahan Superordinat – Subordinat. Penindas dan tertindas.  Kalau kata  mudahnya, zaman ini hanya berganti pakaian saja.

Penduduk di kampung ini, hidup dalam lingkungan yang sangat tidak sehat. Terlalu padat. Proporsi rumah dan penghuninya tidak sebanding. Aku memang tidak masuk satu per satu ke rumah tersebut. Tapi, aku hampir yakin, keluarga yang tinggal disini, bukan pengikut setia program Keluarga Berencana. Mereka bahkan mungkin tidak terlalu peduli. Jadi, bukan tempat yang layak untuk dihuni. Belum lagi ditambah tingkat putus sekolah yang tinggi. Kaum perempuan disini pun, sekalipun sudah memasuki usia tua, belum tentu bisa membaca. Paling banter mereka berhitung karena terbiasa dengan kegiatan jual-beli. Tanyakan rumus matematika sederhana ? Cuma bisa nyengir kuda.

Apa yang jadi masalahnya ? Dunia ini sudah terbuka kini. Sudah bebas. Tidak ada lagi model zaman feodal-kolonial dulu dimana rakyat kecil tak boleh dan tak bisa sekolah (secara khusus, perempuan tidak boleh sekolah tinggi-tinggi). Tidak ada lagi Tuan-Tuan Belanda yang menghisap dan menggerogoti masyarakat kita. Tidak ada lagi perang-perang pertahanan. Hellloooo… We are free now! Independent! Ada apa sih dengan dunia ini ? Kenapa masih ada orang-orang yang aku lihat di Kebon Pala itu ? Ini baru satu tempat. Masih ada jutaan tempat di muka bumi ini yang bernasib serupa. Dan ini baru satu contoh kecil. Aku yakin di negeri ini, kita punya banyak contoh yang merepresentasikan kegelisahanku.

Kuteguk lagi coklat hangat yang sudah tersisa seperempat. Yah, memang tidak akan pernah bisa dijelaskan hanya dengan waktu satu cangkir coklat hangat. Dan tidak perlu ditanya kenapa. Karena sudah terlalu lelah juga bertanya “kenapa?” tetapi tidak ada yang menjawab sempurna. Maka, seperti kata Pram, aku sudah bosan putus asa. Aku mau mencoba memperbaiki keadaan. Sedikit, sih. Tapi setidaknya ada yang bisa aku kerjakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: