Vox Populi, Vox Dei. Benarkah ?

Saya ingat ketika masa-masa saya kuliah dulu, saya seringkali mendengar kalimat ini keluar dari mulut dosen ataupun senior-senior saya. Awalnya, saya tidak terlalu memahaminya dan tidak terlalu ambil pusing untuk mencari di kamus. Lama-lama, barangkali karena menjadi keharusan (kalau tidak, nilai mata kuliah saya bisa apes!!), saya akhirnya memahami arti kalimat Latin ini. “Vox Populi, Vox Dei”. “Suara Rakyat, Suara Tuhan”.

Beberapa hari lalu, saya baru turun lapangan dari Lampung, betemu dengan kelompok perempuan “miskin kota” (mereka menyebut diri mereka demikian!) yang berani mengirimkan sebuah proposal tentang penanggulangan sampah sebagai sebuah solusi mengatasi ancaman hidupnya (yang kalau dipikir-pikir, 85% datang dari pemerintah, 15% dan lain-lain) kepada lembaga saya. Saya cukup diuntungkan dengan keadaan. Karena ketika saya berada disana, saya berinteraksi langsung dengan apa yang disebut rakyat miskin kota dan pada saat keadaan sedang berada pada transisi menuju kenaikan BBM.

Dua hari saya disana, saya diajak untuk mendengarkan keluh kesah warga. Warga disini lebih kepada ibu-ibu, karena merekalah yang kemudian melakukan terobosan baru dan berani dengan memberdayakan diri mereka melalui sebuah kelompok jaringan aksi perempuan. Dari bibir para ibu-ibu ini saya mendengar bagaimana mereka harus berjuang melawan sengketa tanah, berjuang melawan ancaman penggusuran/penertiban, berjuang meningkatkan taraf hidup, berjuang mendapatkan hak-hak mereka, berjuang untuk suatu masa dimana anak-anak mereka dapat memiliki hidup dan masa depan lebih baik.

Daerah yang saya kunjungi tersebar di beberapa wilayah. Tanjung Krawang-Garuntang, Sukaraja, Rawajaya, Gubuksero, Panjang. Semua memiliki potret-potret tersendiri yang saya sendiri membatin bagaimana mereka dapat terus menjalani kehidupannya sebagai masyarakat ditengah himpitan kondisi ekonomi.

Saya terinspirasi oleh Ibu Sumiati. Seorang janda, ibu beranak satu, yang tinggal di sebuah gubug kecil di kelurahan Sukaraja. Ibu ini sekalipun miskin, mau memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat sekitarnya. Sudah setahun ini, Ibu Sumi dibantu oleh seorang temannya, mengumpulkan sampah-sampah yang diolah menjadi kompos dan sampah non-organik untuk dijual kembali. Setiap harinya Ibu Sumi mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah dengan hanya bermodalkan karung goni atau plastik besar. 150-200 kg sampah setiap harinya dapat dikumpulkan olehnya. Dibersihkan, lalu diolah. Cita-citanya tidak muluk-muluk. Tidak mendamba sebuah rumah mewah, mobil mewah, atau hal-hal material lainnyal. Ia hanya ingin ibu-ibu disekitar tempat tinggalnya sadar akan lingkungan, mau membersihkannya dari sampah. Yang ini juga dengan harapan pemerintah lebih memperhatikan kondisi mereka, dan bukan malah mau menggusurnya. Dan cita-cita lainnya adalah kalau bisa melihat anaknya sekolah hingga jadi dokter. Aaahhh… betapa sederhananya…

Itu sebelum BBM diputuskan naik. Jumat malam, ketika saya bersama seorang konsultan sedang mengadakan evaluasi proposal untuk lebih bisa dikembangkan, saya mendapat sms dari teman saya yang dua hari sebelumnya digaruk oleh aparat akibat demo anti kenaikan BBM di depan istana. Isinya, “Siap-siap. Malam ini, pkl. 00.00, pemerintah akan resmi mencabut subsidi. Harga minyak akan menjadi Rp.6000/liter”. Saya terdiam membacanya. Bukannya saya merasa kenaikan ini akan sangat berdampak pada diri saya. Tapi saya melihat wajah-wajah di depan saya. Para ibu yang ditangannyalah tanggung jawab terberat disandang. Saat membaca sms tersebut para ibu-ibu ini tengah bercerita tentang bagaimana harga sekolah mahal, transportasi mahal, harga buku mahal, harga ini dan itu dan ini dan itu… Semua tentang harga mahal! Apakah mereka terlalu mendramatisir keadaan ? tidak juga. Itu adalah realita yang harus mereka hadapi.

Diujung belahan bumi sana, ada jutaan orang yang terperangkap dalam situasi ini. Mereka tidak bisa bergerak dengan keadaan yang semakin menekan. Jauh ketika kenaikan BBM masih menjadi wacana, rakyat ini sudah berteriak agar pemerintah memberikan perhatian pada nasib mereka. Nasib yang sulit dirubah ketika pilihan yang ada hanya terbatas. Jauh sebelum pemerintah ketok palu, kasus-kasus di beberapa daerah menyebutkan warga miskin memilih bunuh diri bersama dengan anak-anak mereka karena tidak tahan lagi menghadapi kerasnya hidup, apalagi dengan naiknya harga BBM.

Mereka semua berteriak. Tapi tidak ada yang mendengarkan. Maka apa artinya slogan “Vox Populi, Vox Dei”? apa arti “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan” ?. Omong kosong. Suara rakyat adalah suara rakyat. Tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah. Mau rakyat jerit-jerit sampai pita suara putus, kalau pemerintahan sudah berketetapan, lantas, mau apa ?

Kemarin, saya membaca bahwa jajaran menteri sudah siap dengan tameng alasan. “Tahun 2008 dengan kenaikan BBM ini, memang pasti akan memberatkan keadaan. Tapi di tahun 2009, inflasi akan menjadi stabil, dan keadaan akan membaik. Ya, memang akan berat dan sakit pada awalnya, tapi yakinlah bahwa kedepannya akan lebih mudah.”. Begitu kata salah seorang menteri.

Apakah keadaan yang membaik itu akan benar-benar terwujud jika harga bahan makanan pokok juga turut naik, ongkos transportasi juga naik hingga 50%, dan ongkos-ongkos lainnya. Apakah keadaan akan membaik jika jaring pengaman sosial dan hak-hak rakyat cenderung diacuhkan ? Pada golongan menengah keatas barangkali bisa menghadapinya. Lalu dengan mereka yang ada dibawah, bagaimana ? Apa yang akan dilakukan untuk dapat menenangkan mereka sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang damai dan sejahtera ?

Jadi, barangkali William of Malmesbury harus mencoba untuk merumuskan ulang sebuah kalimat pengganti “Vox Populi, Vox Dei” agar sesuai dengan kenyataan. Yah, nasib.. yah, nasib!

1 Comment (+add yours?)

  1. Damar
    Jul 28, 2008 @ 07:50:24

    Saya lagi nyari-nyari teman kuliah istri saya di UPN Jakarta yang bernama Sumiati.
    Kalau boleh nanya apakah tokoh Sumiati yang Anda sebutkan di atas adalah alumni UPN Jakarta?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: