Renungan Di Bayang Asa

Namanya Zainal Abidin. Biasa dipanggil oleh Abid oleh orang-orang di sekitarnya. Seorang muda yang cerdas. Aku baru mengenalnya beberapa hari. Itupun karena tugas yang memaksaku untuk datang, bertemu dengannya dan orang-orang disekitarnya. Tapi, aku senang. Pada akhirnya dalam rentang perjalanan hidupku, aku bisa mendengarkan lebih banyak cerita maupun keluh kesah.

 

Dia adalah salah satu pengungsi Porong yang kini tinggal di Pasar Baru bersama dengan ratusan keluarga lainnya. Lumpur  itu telah merenggut berbagai harta benda miliknya, termasuk rumah yang pernah menaungi dan menjadi tempat ribuan kisah dalam hari-hari kehidupannya. Hilang dalam sekejap.

 

Aku tidak terlalu mengenalnya. Tapi aku mendengar berbagai kisahnya sejak menjadi pengungsi di Pasar Baru itu. Menyedihkan sekaligus menyentuhku. Dulu dia bekerja sebagai pekerja kasar dari PT. Lapindo Brantas. Tahu betul bagaimana proses pengeboran blok-blok yang dilakukan oleh perusahaan ini. Tentunya menjadi saksi atas apa yang terjadi saat semburan lumpur mulai luber dan menenggelamkan kampungnya. Rumahnya. Tempat tinggalnya. Tempat ribuan kisah selama puluhan tahun terajut disana.

 

Namanya Pak Buang. Aku tidak tahu nama lengkapnya siapa. Itu tidak penting buatku. Ia juga salah satu korban dari semburan lumpur panas. Tidak sampai kehilangan rumahnya, tapi jelas kejadian itu berdampak pada kehidupannya. Kehidupan yang dulunya berjalan dengan apa adanya, sekalipun sederhana dan barangkali dihimpit dengan tuntutan-tuntutan dunia saat ini, kini harus diperhadapkan dengan berbagai kekhawatiran. Semua itu,diluar kuasanya.

 

Wajahnya sangat polos. Menyiratkan cara hidupnya yang juga barangkali tidak terkontaminasi oleh obsesi dan keserakahan. Melalui tutur katanya, aku ketahui bahwa dulu ia bekerja sebagai supir truk antar kabupaten dan antar kota yang mengangkut sayur mayur untuk dijual. Aku lupa entah sejak kapan ia beralih profesi menjadi sopir mobil pinjaman. Tapi yang jelas, diantara beban hidup yang menghimpitnya, ia masih beruntung. Masih memiliki cara untuk bertahan hidup demi dirinya dan keluarganya.

 

Aku berkunjung ke rumahnya. Rumah yang letaknya tidak jauh dari tanggul yang dibuat oleh pemerintah dan Lapindo untuk menahan luberan lumpur. Sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Di depan rumahnya, Pak Buang dan istrinya, membuka sebuah kios kecil untuk sekedar menjual makanan dan minunan ringan. Kios ini juga jadi sumber penghidupan keluarganya.

 

“Tekanan tanah itu sudah membuat berbagai retakan, Mbak, di dalam rumah saya.”, katanya ketika aku dan salah seorang temanku, Ime, diperbolehkan masuk untuk melihat kondisi rumahnya. “Rumah-rumah yang lain, sudah ada yang ambruk karena retakan ini. Mbak lihat kan rumah di samping rumah saya ?”. Aku menanggapinya dalam diam, memperhatikan setiap retakan halus dan kasar di dinding serta lantai rumahnya. Rumahnya masih berdiri tegak hingga sekarang. Tapi melihat retakan yang menjalar, aku juga tidak tahu sampai kapan ia mampu bertahan.

 

Kedua orang ini, merupakan wajah-wajah letih korban lumpur yang hingga sekarang masih dibayangi ketidakpastian akan masa depan dirinya dan keluarganya. Masa depan.. Ahhh.. betul-betul rangkaian kata yang absurd..

 

“Saya masih harus membayar berbagai kebutuhan hidup. Anak-anak saya harus sekolah, Mbak. Pendidikannya mahal.Alhamdulillah masih bisa saya cukupi sekalipun angin-anginan. Kalau ada duit, ya saya bayar. Kalau tidak, ya pasti telat, sampai harus dipanggil rapat oleh gurunya.”, Pak Buang menjelaskan kondisi dan keinginannya untuk anak-anaknya.

 

”Mau bagaimana lagi kami ini, Mbak ? Kami terus menerus berada diambang ketidakpastian. Sementara keluarga-keluarga pengungsi disini juga hidupnya susah. Tidak punya pekerjaan. Apalagi mau berpikir tentang pendidikan atau pelayanan kesehatan lainnya. Kami hanya bergantung pada kemurahan hati orang-orang atau lembaga yang membantu kami. Tapi kami tidak mau menyerah. Kami tetap berjuang untuk kehidupan yang pernah terenggut dari kami.”, Tutur Abid dalam sebuah perbincangan antara aku dengannya.

 

Pada suatu senja, aku berdiri diatas pinggiran tanggul. Menjejakkan kaki diatas lumpur kering. Dibawah kakiku, terendam ratusan rumah dan hektar-hektar sawah. Lokasi lumpur ini kala senja menyiratkan keindahan. Langit senja memancarkan bias warna dan diujung sana terlihat siluet bangunan yang masih berdiri tegak. Ahhh.. dibalik keindahan mata ini, tersimpan sejuta tangis dan asa bagi kehidupan mereka yang terhempas. Terenggut.

 

Aku mencoba melihat jauh kedalam mata dan hati kedua orang ini. Mencari harapan disela-sela kekhawatirannya akan masa depan.

 

Dunia ini tidak pernah bisa adil. Saat ada orang-orang dibelahan dunia lain menikmati kemewahan dan kenyamanan, mereka harus menanggung beban yang bahkan tidak pernah diharap akan terjadi. Atau itukah yang disebut keadilan ? Semua menjadi absurd. Berada dalam garis abu-abu.

 

Renungan dibayang asa ini menjadi berat untukku. Aku hanya mampu berdoa agar mereka tetap kuat dalam menggapai jutaan asa yang mengambang dalam gelapnya warna malam.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: