Kesuksesan Itu..

Suatu ketika di kampus, saat sedang duduk-duduk santai dengan seorang sahabat, ia kemudian bertanya pada saya.

Dia : Eh, Ma, menurut lo sukses itu artinya apa ?

Saya : Sukses ? Hmmm.. Ketika elo berhasil mencapai apa yang selama ini lo sudah kerjakan dengan susah payah lalu bikin orang bangga sama apa yang elo kerjakan!

Dia : Kalau gitu, sukses lo sendiri apa ?

Saya : Hmmm….

Sukses saya apa ? Hmm.. pertanyaan yang gampang-gampang susah buat dijawab. Lantas saya mencoba mencari apa yang kira-kira sudah saya lakukan selama ini. Apakah semua itu sudah bisa dianggap sebagai kesuksesan ? Ataukah saya masih dalam perjalan menuju sebuah kesuksesan ? Tapi, apa sih sebetulnya kesuksesan itu ? Apa sih indikatornya ? Apakah memang berlaku universal dan tiap-tiap orang bisa sama dalam mengalaminya ?

Di tengah pembicaraan saya dengan sahabat saya itu, sebetulnya topik yang sedang kita bahas adalah soal dosen pembimbing saya. Saya katakan padanya bahwa dosen saya ini tergolong unik dan patut untuk dijadikan panutan. Kalau dosen-dosen lainnya sedang sibuk berpolitik praktis atau mejemg sana sini, Bapak saya yang satu ini justru santai di kampus, berjalan apa adanya. Ambisi ? Obsesi ? Saya tidak tahu ada pada urutan keberapa dalam hidupnya. Tapi, jangan kira beliau ini adalah orang yang tidak punya kerja apa-apa. Pemikirannya sangat cemerlang. Dia orang yang sangat pintar. Saya menghormati sekaligus mengagumi pola pikirnya.

Lantas, apakah dengan kondisi seperti ini itu artinya dia tidak bisa dibilang telah meraih kesuksesan ? Saya tidak tahu bagaimana pendapatnya, tapi saya kira kesuskesannya ada pada ukuran dirinya. Sekalipun hidup dan penampilannya sangat sederhana, namun dia mau meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan para mahasiswanya. Mendorong anak-anak ini, dari mereka yang tidak percaya diri, hingga mau menyelesaikan karyanya dengan penuh keyakinan. Saya adalah seorang muridnya yang terus didorong untuk yakin dan percaya bahwa apapun yang saya lakukan akan membuahkan hasil, asal mau bekerja keras. Wow!

Bagi saya itu adalah kesuksesannya. Ia mungkin tidaklah memenuhi standar kesuksesaan absurd masa kini dimana sebagian besar diukur secara materi dan prestis. Yang semua terlihat serba mentereng dari luarnya saja. Dan saya kira, disitulah titik nol saya dalam memahami apa arti kesukesan, keberhasilan atau apapun itu namanya dan terus merefleksikan dengan hal lainnya di sekeliling saya. Seringkali kita terjebak dengan indikator absurd tersebut. Kita dituntut untuk memenuhi standar kriteria yang telah terkonstruksi di tengah masyarakat. Saya mencoba memikirikannya kembali.

Pada beberapa tahun atau dekade lalu, ukuran material dan prestise ini barangkali bisa berlaku. Money can buy anything, sangat relevan, walaupun relevansi itu tetap ada hingga saat ini. Namun, dalam perkembangannya, ternyata ada indikator lain dalam melihat kesuksesan atau keberhasilan itu. Tidak hanya materi semata. Apa yang membuntutinya dan seringkali kita lupa adalah ‘happiness’ atau ‘kebahagiaan’. Sebagian besar orang menilai, kesuksesan akan berbanding lurus dengan kebahagiaan. Kenyataannya, tidak juga. Dalam sebuah artikel dan kajian ilmiah mengenai masyarakat-masyarakat yang sedang berada dalam proses pembangunan, saya menemukan kalimat menarik.

Tingkat perekenomian Cina meningkat tajam, namun dibarengi dengan pola psikologis masyarakatnya yang cenderung berubah. Masyarakat yang tengah menikmati masa jaya ekonominya juga dibarengi dengan peningkatan tekanan psikologis (stress) yang relatif tinggi.”

Kalimat tersebut seakan menjadi kalimat afirmatif bagi saya, bahwa, ya, keberhasilan dan meningkatnya ekonomi tidak melulu dibarengi dengan peningkatabn kebahagiaan dari para individunya. Mereka dituntut bekerja layaknya mesin produksi yang terus menerus mengeluarkan uang. Belum lagi kehilangan waktu untuk menikmati hal-hal sederhana yang luput ia syukuri di sekelilingnya. Plus, hal-hal lainnya yang juga menjadi faktor ‘X’ dalam menambah tekanan psikologis itu.

Memenuhi tuntutan nilai keberhasilan yang dipaksakan oleh sekeliling kita tidaklah mudah. Seringkali kita berubah menjadi sesuatu yang lain demi memenuhi tuntutan tersebut, agar layak diterima oleh masyarakat atau dianggap telah berhasil. Tidak heran, mengapa akhirnya keberhasilan dimana kebahagiaan sebagai salah satu variabelnya, yang seharusnya menjadi kurva linier progresif, berubah menjadi fluktuatif. Bahkan ukuran Human Development Index (Indeks Pembangunan Sumber Daya Manusia) pada masa pun telah memasukan indikator baru dalam mengukur keberhasilan pembangunannya. Dan indikator itu adalah indicator of happiness atau indikator kebahagiaan. Orang miskin, belum tentu merasa menderita. Orang kaya, belum tentu merasa bahagia.

Setelah perenungan sesaat itu, saya lantas mencoba menarik garis kesimpulan dari seluruh bahan analisa yang berputar di kepala saya. Apa sebenarnya kesuksesan itu ? Apakah ketika saya membuat sekeliling saya merasa bangga ? Apakah ketika saya dipuja ? Apakah ketika saya berjalan orang memandang saya dengan takjub karena kepintaran saya ? Apakah karena saya …. ah, banyak sepertinya…

Tapi, saya rasa, dari seluruh pertanyaan itu, saya akhirnya melihat kesuksesan pada saat saya merasa bahagia, apapun kondisi saya ketika itu. Itu adalah kesuksesan. Karena ketika saya tidak bahagia, saya tidak bisa membahagiakan orang-orang disekeliling saya, dan berbuat lebih banyak lagi karya untuk yang lain. Terdengar egoistis, tetapi itulah dia. Letak kesuksesan itu bukan pada prestise atau materi yang mengelilingi kita. Tetapi pada apa yang ada dan dirasakan dalam hati kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: