Titik Nol

Jakarta masih dalam suasana Lebaran. Senang sekali sebetulnya. Bukan hanya menyangkut perayaan Lebaran yang pasti dipenuhi dengan makanan-makanan nikmat, tetapi lebih kepada lengangnya lalu lintas kota ! Hm, yah, aku barangkali mencoba melihat Lebaran dari sudut pandang yang benar-benar lain. Hahahaha… Sejenak terlepas dari ketegangan khas ibukota Republik Indonesia ini. Macet.

Dimana-mana, jika sudah masuk dalam perayaan hari yang fitri bagi umat Islam ini, seluruh slogan-slogan menyematkan kata ”penyucian diri”,”lahir baru”, ”kembali putih”, dsb, yang semuanya bagi saya terangkum dalam sebuah istilah ”titik nol”. Coba perhatikan iklan-iklan yang dikeluarkan setiap perusahaan besar, baik di media elektronik, maupun media cetak. Semua pasti menggambarkan titik nol tersebut. Bagaimana tidak ? Selama sebulan, umat Islam diuji kekuatan mental dan imannya dalam sebuah ritual puasa menahan berbagai macam hawa nafsu. Dan jika sudah berhasil dengan gemilang, semuanya kembali pada titik nolnya masing-masing. Tersucikan dosanya, untuk kemudian kembali pada kehidupan dunia yang fana dan sarat godaan.

Anyway, berbicara masalah titik nol ini, bagi saya adalah hal yang jamak ketika setiap tahun berbagai umat lintas agama diperhadapkan dengan suatu ritual semacam ini. Kejadiannya akan berulang dan berulang. Kalau umat Islam punya hari raya Lebaran, maka umat Kristiani tentunya punya hari raya Paskah, selain setiap minggu wajib mengaku dosa dan memohon ampunan. Begitu pula dengan Budha, Hindu, dan agama serta kepercayaan lain yang ada di muka bumi ini. Bukan hal yang baru, dan bukan pula hal yang aneh.

Buat saya, titik nol tidak hanya terwakilkan dalam sebuah ritual simbolik. Ia memiliki makna yang luas dan tidak terikat ruang serta waktu. Setiap manusia akan selalu diperhadapkan dengan titik nol-nya sendiri, dari setiap detik perjalanan hidupnya. Akan sangat menarik untuk melihat dan memahami bagaimana setiap individu menemukan titik nol-nya. Entah akibat insipirasi, suatu kejadian, atau apapun itu. Setiap saat dapat dijadikan titik nol. Tinggal bagaimana kita meresponsnya.

Sesaat setelah memikirkan ide tulisan mengenai titik nol dan pengamatan luar biasa selama satu minggu ini atas situasi yang terjadi diluar sana dalam suasana hari raya Idul Fitri, saya mencoba bertanya pada diri saya sendiri, apa makna titik nol tersebut bagi saya. Sedalam apakah ia dan apa yang saya lihat kedepan dari sebuah titik nol itu.

Pengalaman mengajarkan saya untuk lebih bijak dalam berjalan. Ada banyak hal di masa lalu yang tentunya membuat saya seringkali tersandung, hingga berjalan tak tentu arah. Terasa sangat rumit jika mengurainya satu per satu. Pastinya, akan butuh waktu lama untuk membuat segala sesuatu berjalan dengan sempurna. Tetapi, memang tidak akan pernah ada yang sempurna. Manusia hanya memerlukan keberanian untuk memperbaiki potongan-potongan kecil dalam hidupnya yang mampu ia lakukan dengan sebaik-baiknya.

Titik nol ini membawa saya untuk membuat coretan-coretan dalam sebuah kertas. Kira-kira apa saja yang bisa saya perbaiki dan jika perlu harus saya mulai dari awal ? Tidak perlu hal yang terlalu besar dan sulit. Cukup hal-hal yang terjadi dalam keseharian saya saja dahulu. Jika sudah melewati ini semua, mudah-mudahan hal yang jauh lebih besar bisa pula saya atasi. Setelah berpikir beberapa lama, merenung,dan akhirnya membuat daftar, saya menemukan beberapa hal yang paling esensial dan ingin saya perbaiki.

Komitmen adalah hal pertama. Di masa lalu, saya kira saya adalah orang yang tidak terlalu serius menanggapi komitmen. Entah itu dalam dunia kerja, studi, keluarga, pertemanan atau apapun itu. Saya tidak tahu apakah saya adalah orang yang tidak mau ribet atau memang saya malas menghadapi tantangan terlalu sulit. Saya akan cenderung mundur juga, mengalah pada sebuah keadaan jika saya rasa ini akan membahayakan saya, padahal saya tahu itu adalah yang saya inginkan. Pada awalnya, saya berkomitmen untuk teguh dalam menjalaninya. Namun ketika tantangan itu ada, saya memilih mundur. Atau ketika sudah tidak lagi menarik, ya,saya akan tinggalkan untuk mencari sesuatu yang bisa memicu adrenalin saya. Padahal bisa saja hal yang terbaik dalam hidup saya tengah saya jalani pada masa itu.

Janji adalah hal kedua yang mengikuti komitmen. Tidak akan pernah mudah bagi seorang manusia untuk menepati janji. Itu pula mengapa kita dilarang untuk berjanji jika kita tidak yakin kita mampu berkomitmen teguh pada janji itu, atau tidak dapat dilaksanakan. Janji menjadi hutang yang harus dibayar. Kapanpun itu, tetaplah harus terbayarkan. Jika tidak, ya, saya akan dikejar rasa bersalah. Dan saya mencoba mengingat janji apa yang pernah saya katakan sebelumnya dan pada siapa ? Perlahan-lahan, saya menocoba untuk menepatinya. Saya senang sekali saat saya mulai melakukannya dari rumah saya sendiri. Membelikan sebuah mukena untuk pembantu yang sudah setia merawat saya sejak kecil, dan melihatnya menangis bahagia ketika menerima mukena berenda seperti yang diinginkannya. Janji yang seharusnya saya penuhi pada Lebaran tahun lalu, namun belum sempat saya penuhi karena berbagai macam hal.

Ada banyak titik nol yang perlu saya lihat. Titik nol pada keluarga saya, titik nol pada hubungan cinta saya, titik nol pada pertemanan saya, titik nol pada pekerjaan saya, titik nol pada kegiatan lain saya, titik nol pada mimpi saya, titik nol pada harapan saya, titik nol pada komitmen saya. Dengan atau tanpa perayaan besar kembali ke titik nol, bagi saya, detik-detik dalam hidup saya dapat menuntun dan mengingatkan saya pada sebuah titik nol. Bukan akhir dari sebuah awalan. Tetapi awalan dari sebuah akhir.

2 Comments (+add yours?)

  1. Tiur
    Oct 24, 2008 @ 07:48:49

    My dear Ima… You have a lot of bless.
    You can write so good like this..
    I love you, sis.

    Reply

  2. 140201
    Nov 11, 2008 @ 08:02:52

    sebuah awal pasti ada akhirnya de..
    semua serba dua, kanan-kiri,datang-pergi,siang-malam, dsb.
    bgm menyikapi semua itu adalah seperti yang pernah abang katakan ke ade, ” rasakan apa yang ada dalam hatimu,lakukan apa yang ada dalam benakmu,tetapi berpikirlah juga tentang orang-orang di sekelilingmu “…
    ayo kembali dari nol, karena kita juga akan kembali lagi ke titik nol itu (one day), berliku-liku perjalanan cuma ada dua (ke kanan ataukah ke kiri?), saat berjalan cuma ada dua pilihan (maju ke depan atau mundur ke belakang) dan saat terjatuh cuma ada dua pilihan (bangkit atau tetap diam)…manakah yang ima pilih???
    Tuhan Jesus memberkatimu, de..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: