Celengan Ayam

Dulu sekali, ketika saya masih kecil dan berseragam putih merah, saya ingat saya dan keluarga punya sebuah celengan ayam. Celengan kecil berwarna hijau yang terbuat dari tanah liat. Entah siapa awal mulanya yang mencetuskan membeli celengan itu. Saya tidak ingat. Tapi barangkali, celengan itu dibeli karena saya merajuk setelah melihat ayam berwarna-warni lucu itu di pinggir jalan. Maka, sejak itu, celengan itu menjadi bagian dari keluarga kami.

Celengan ayam mungkin tidak menarik. Tapi itu mempunyai arti dan kenangan tersendiri bagi saya, terutama jika mengingat tentang keluarga. Saya kecil ketika itu suka dibilang boros oleh orang tua saya. Maka untuk melatih saya menabung, orang tua saya dengan sabar menggunakan cara menabung bersama di celengan ini. Setiap hari, kami bertiga (ayah, ibu dan saya) memasukkan uang selembar demi selembar kedalam celengan itu. Ayah dan Ibu saya menyumbang uang Rp.1.000,- tiap harinya, sementara saya yang baru punya uang jajan Rp.1.000,-/hari itu, memasukkan sisa uang jajan hari itu kedalam celengan. Bisa Rp.50 perak, bisa Rp.200,- atau bisa Rp.500,-. Tergantung dari seberapa rakusnya saya pada hari itu.

Lalu, setelah menabung bersama untuk beberapa waktu, Ibu atau Ayah saya akan mengangkat celengan itu. Kalau sudah berat dan uang tidak lagi bisa dimasukkan dari belakang ayamnya, itu pertanda celengan itu sudah penuh! Ha! Inilah saat-saat yang menyenangkan. Ayah saya kemudian akan mengeluarkan uang simpanan kami dengan cara membuat lubang dari bawah celengan ayam. Bukan dengan cara memboboknya dengan batu, apalagi membantingnya ke lantai. Lubang itu tidak terlalu besar, sehingga nanti jika uangnya sudah dikeluarkan, celengan itu masih bisa digunakan lagi untuk menabung.

Pada saat pertama membobol celengan, kami semua duduk di lantai. Melihat uang yang jatuh ke lantai. Setelah memastikan isinya kosong, Ibu mulai menghitung. Saya ingat waktu itu, banya sekali uang koin. Pantas saja celengannya jadi berat sekali. Lha wong uang koin jaman itu kan berat-berat, tidak seperti sekarang. “Yak! sudah semua. Kita bisa nonton dengan hasil uang tabungan!”, begitu kata Ayah. Horeee !! Saya senang sekali. Pergi menonton ke bioskop bertiga dengan hasil menabung bersama. Dan setelah itu, ada banyak sekali kegiatan yang dilakukan bareng-bareng. Berenang di Ancol, jalan-jalan di kota, dll.

Delapan belas tahun kemudian, saya mendapati celengan serupa di rumah saya. Ia empat kali lebih besar dari celengan hijau dulu. Sepuluh kali lebih kuat dibanding celengan hijau dulu. Dan Seratus kali lebih cantik dari celengan hijau dulu. Tapi, sudah lebih dari empat tahun pula celengan itu hanya menjadi hiasan di atas buffet dekat kamar. Hanya kadang-kadang saja kami mengisinya. Bahkan seringnya saya tidak menyadari ada sebongkah ayam besar yang bertengger di buffet dekat kamar.

Dan sama halnya dengan kondisi celengan itu yang ‘kadang-kadang diisi’, sudah sejak lama kami tidak lagi pergi menonton bioskop bersama. Jarang sekali berenang bersama. Waktu yang dihabiskan paling hanya makan malam bersama saja. We still family. But we dont do what we used to do.

Jadi, pertanyaannya adalah, apa bedanya antara celengan ayam jelek berwarna hijau dari tanah liat dengan celengan ayam besar nan cantik terplitur indah berwarna oranye kemerahan ? Ada yang tahu jawabannya ? Beri tahu saya, ya.

2 Comments (+add yours?)

  1. Herianto Batubara
    Nov 10, 2008 @ 16:32:53

    Blog ini pun sepertinya sudah jadi “celengan” yang kadang-kadang diisi. hahaha…

    Saya pembaca setianya, kadang jadi kecewa karena kepuasan saya tidak terpenuhi.

    padahal, setiap saya menjelajahi dunia maya, saya selalu sengaja menyempatkan diri melihat blog ini.

    Ini adalah salah satu blog faforit saya-bahkan list pertama dari beberapa blog yang saya minati- buktinya, sekali pun ada tulisan berhuruf sipit-Maksud saya huruf cina- saya pasti sekuat tenaga mentranslate tulisan tersebut hingga saya paham.

    Menjawab keresahanmu, Celengan itu jelek atau indah-bahkan terbuat dari berlian sekalipun- tetap saja namanya CELENGAN.

    Celengan itu benda mati, dan kau mahluk hidup. jadi kau punya kuasa sepenuhnya atas celengan itu. kau mau mulai mengisinya atau tetap membiarkannya menjadi hiasan buffet di kamar?

    Cara simpelnya, taruh celengan yang sama seperti dulu-berwarna hijau. terbuat dari tanah liat-di dekat celengan megah itu. mulailah mengisinya setiap hari.dan ceritakanlah semua yang kau ungkapkan lewat tulisan berhargamu ini kepada papa dan mama. aku yakin celengan MEGAH itu sekali pun pasti akan terisi.

    aku yakin, tentunya yang berharga bukan uang yang di tabung tetapi keceriaan, kebersamaan dan kesederhanaan yang hadir lewat celengan tersebut.

    HIDUP INI SEPERTI CELENGAN
    KELUARGA SEPERTI CELENGAN
    PERSAHABATAN SEPERTI CELENGAN

    “Luangkan waktu untuk mengisinya, dengan perhatian dan kasih sayang. dengan sebuah ketulusan, kesederhanaan. berikanlah. Seberapa pun itu. sama seperti kamu mengisi celengan tersebut dengan uang lima ratus, seratus, atau lima puluh rupiah”

    GBU

    Reply

  2. 140201
    Nov 11, 2008 @ 07:51:43

    he.he.he yang beda tuh harganya kali non…
    kok sedih banget sih nulisnya, de?
    jangan mello-mello yaksssss!!!!
    smili..smile..and smilee..
    tuhan jesus memberkatimu, de.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: