Diane Arbus : Rahasia Tentang Sebuah Rahasia

A photograph is a secret about a secret. The more it tells you the less you know.

– Diane Arbus (1923-1971) –

Film berjudul “FUR” itu mendorong rasa penasaran saya hingga pada batas maksimal. Namanya Diane Arbus. FIlm itu merupakan kisah yang diinspirasikan dari autobiografinya. Ia adalah seorang fotografer perempuan yang mengalami masa-masa produktifnya di era sesusai Perang Dunia II. Dalam resensi film ini disebutkan bahwa ia adalah “perempuan yang mengubah wajah fotografi jurnalisme Amerika”. Wah! Hebat sekali! Ia fotografer dan ia perempuan. Suatu hal yang barangkali masih bisa dihitung oleh jari dimasa itu. Lalu apa yang membuatnya tampak fenomenal ?

Penelusuran jejaknya saya awali dari membuka foto-foto peninggalannya. Saya terpana melihat foto-foto hitam putih yang seakan memoto secara acak seluruh objeknya. Dari yang saya lihat melalui web balai lelang Christie, foto-fotonya memperlihatkan potret remaja yang sedang berjalan-jalan di taman New York, berdansa, duduk di dermaga. Atau anak-anak kecil. Atau wanita-wanita yang difotonya didalam ruangan, entah itu kamarnya atau ruang tamunya. Ketika saya memperlihatkan foto-foto Arbus kepada salah satu teman saya, ia hanya berkomentar singkat, “Menarik, tapi tidak ‘nendang’. Bagus untuk karya pada zamannya. Buat saya, itu biasa saja”. Ah, ya! Betul. Sekilas, kalau tidak melihat caption atau note yang ia sertakan, tentunya gambar-gambar itu menjadi gambar biasa, diambil secara acak, tanpa maksud apa-apa.

Tapi begitulah Diane Arbus. Penelusuran saya kemudian pindah menuju catatan biografinya. Diane Arbus (Nemerovv) adalah seorang perempuan yang terlahir dari keluarga kaya raya di New York. Ayahnya merupakan pengusan bidang pakaian yang mengkhususkan pada produksi pakaian dari bahan bulu binatang. Mereka memiliki departemen store bernama Russeks yang terletak di Fifth Avenue, New York. Sebagai seorang ‘priyayi’, sejak kecil ia sudah terbiasa dengan doktrinasi apa yang benar dan salah, apa yang dapat diterima dan tidak dapat diterima oleh masyarakat. Sesuatu yang akan menjadi titik awal dari perjalanannya sebagai seorang fotografer.

Ia menikahi Allan Arbus, pegawai toko ayahnya ketika ia berusia 18 tahun, tanpa restu orangtuanya. Allan dapat dikatakan sebagai pintu kebebasan dan pelarian Diane dari keluarganya yang opresif. Allan dalam sebagian perjalanan hidupnya yang memberikan pengetahuan dan pengenalan akan dunia fotografi. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, selain sebagai pegawai toko, Allan juga bekerja sebagai salesman dan menjalankan fashion photography. Pada masa Perang Dunia II, Allan dikirim untuk belajar fotografi di Sekolah Fotografi dekat Forth Monmout, New Jersey. Apa yang didapatnya dikelas, langsung ia ajarkan kepada Diane.

Tidak berapa lama setelah itu, mereka kemudian membuka studio foto dan membuat foto-foto fashion untuk majalah Harper’s Bazaar, Vogue, Glamour, dan majalah-majalah terkemuka lainnya. Sebagai tim, ketika itu Diane hanya mengambil peran sebagai asisten dan pengarah gaya Allan. Diane tidak pernah bisa menyembunyikan perasaan depresinya akibat kepalsuan yang ia lihat dalam industri fashion. Untuk mengatasi itu, Diane seringkali mengambil foto-foto teman-teman, keluarga, tetangganya saat sedang kumpul bersama. Tidak hanya itu, Diane kemudian membebaskan dirinya bereksplorasi dengan mencari objek dari kalangan ‘aneh’ dan ‘ditolak masyarakat’. Untuk objek-objek inilah karya Diane dihargai dan diingat hingga saat ini.

Tahun 1957 merupakan tahun pertama ia diberikan kebebesan oleh suaminya untuk memilih objek fotonya. Sejak itu, produktifitas Diane bersama dengan objek-objek fotonya terus meningkat. Salah satu karyanya yang terkenal adalah foto berjudul “Identical Twins”, yang ia buat ditahun 1962 dan berhasil terjual seharga US$ 478.400,-. Identical Twins hanya merupakan foto dua anak kembar identik, sedang berdiri. Ekspresi satunya tersenyum dan yang lainnya menunjukkan ekspresi sebaliknya. Dalam foto inilah dapat terlihat visi-visi Diane yang unik dan berbeda pada zamannya. Selain itu, Diane juga mengambil foto orang-orang kerdil, gigantis, prostitusi, kelompok punk, dan seluruh objek yang tidak terlihat dalam masyarakat, atau yang ada tetapi tidak diindahkan.

Diane meninggal di tahun 1971 dengan cara bunuh diri akibat depresi yang dideritanya selama bertahun-tahun. Seluruh karyanya tersebar di berbagai museum dan hingga kini ulasan-ulasan mengenai karyanya masih terus dibuat oleh para akademisi, pengamat fotografi, peneliti, dll.

Setelah melihat sejumlah karyanya, saya sendiri tidak merasa aneh mengapa Diane Arbus menjadi sosok yang cukup berpengaruh dalam fotografi jurnalisme Amerika Serikat. Foto-fotonya sekilas tampak biasa saja. Namun, disitulah letak visi, originalitas, dan kejujuran Arbus. Barangkali karena sebelumnya ia terlibat dalam dunia fotografi mode yang serba diatur dan serba palsu, seluruh kejujurannya tampak dalam setiap fot-foto hitam putihnya. Ia juga merupakan fotografer yang tidak hanya memotret, tetapi juga menulis. Ia berani melakukan riset dan menjadi bagian dari kelompok-kelompok tertentu untuk mendapatkan kepercayaan dari objek fotonya. Seperti ketika ia bergabung dengan kelompok nudist selama dua tahun, atau bercerita secara mendalam bersama objek fotonya untuk mengetahui cerita kehidupannya.

Ia memang fenomenal. Ia berani mengambil langkah yang tidak umum dilakukan oleh orang pada masanya. Dan dibalik foto-foto hitam putih karyanya itulah, Diane Arbus seakan hendak bercerita dan mengajak kita untuk melihat hal-hal nyata dalam dunia ini. Saya harus banyak belajar dari peninggalannya. Dalam satu dan lain hal, saya seakan memiliki keterpautan dengan Arbus. Bagi Diane Arbus, lensa kamera akan punya makna lebih ketika dapat memperlihatkan kehidupan nyata di sekitar kita. Dan saya, tinggal mengamininya.

2 Comments (+add yours?)

  1. Herianto Batubara
    Nov 19, 2008 @ 04:56:07

    Man minta ijin. kalau jadi, tulisan kamuh ini, aku muat di bulettin Mika aku yah. rubrik kiriman bebas. okeh…
    Bagus soalnya.

    Reply

  2. ade kn
    Jun 09, 2009 @ 09:57:21

    u just find out, why she committed suicide

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: