I am in Saigon!

Senang rasanya mengetahui bahwa roundtable meeting yang saya hadiri sudah berakhir. Itu artinya, saya bisa kembali ke tanah air. Ah! Saya sangat merindukan Jakarta, sekalipun kotanya yang berpolusi,berisik,macet, dan rajin banjir. Tapi, sekali lagi, saya merasa lebih nyaman berada di negara sendiri. Hahahaha.. Yah, mungkin karena sudah seminggu ini saya berkelana di sebuah kota di negara asing. Maka saya sangat merindukan pulang. Rindu bisa kembali makan-makanan di Jakarta.

Tapi perjalanan pulang saya tidak semudah yang saya duga. Saya harus berhenti satu malam di Saigon untuk meneruskan penerbangan keesokan harinya menuju Jakarta. Hm, hanya satu malam tidak akan menjadi masalah. Lagipula, saya tertarik untuk mengetahui wajah salah satu kota terbesar di Vietnam ini. Dan saat ini, saya sudah menyelesaikan misi saya melihat-lihat kota. Sedang duduk di kasur hotel, memangku laptop, dan tidak sabar menuliskan pengalaman saya di Saigon.

Berada di kota yang begitu cantik, santai, dan bersih seperti Nha Trang, membuat saya menduga bahwa saya akan menemukan hal yang sama di Saigon, walaupun saya tahu kota ini merupakan kota metropolitan sebagaimana Jakarta. Perjalanan menuju Saigon pun sempat diwarnai sesi “hubar-habir” alias terburu-buru. Sehari sebelumnya, penerbangan Sulan Chen, program specialist GEF SGP sempat dibatalkan karena cuaca buruk. Pesawat yang hendak mendarat di Nha Trang terpaksa kembali lagi, karena tidak bisa melihat landasan, tertutup awan tebal. Saya dan Pak Zainal sempat cemas akan mengalami hal serupa. Maka dari itu, kami buru-buru ke airport sekalipun penerbangan yang dijadwalkan untuk kami adalah pukul 7 malam. Siapa tahu, bisa digeser ke penerbangan siang.

Butuh waktu 35 menit terbang menuju kota Saigon dengan menggunakan Vietnam Airlines. Dan saat mendarat, kami sudah disambut dengan banyaknya mobil dan motor di kota ini. Persis Jakarta! Gambaran mengenai kota yang lebih teratur, runtuh seketika manakala dalam perjalanan menuju hotel, kami harus tersendat kemacetan di tengah kota. Kota ini betul-betul kota metropolitan! Besar, dengan populasi manusia yang padat, dan kendaraan yang juga tumpah ruah.

Jika mereka yang sering mendengar kota Saigon di Vietnam barangkali sering tertukar dengan Hanoi. Sama halnya seperti saya.Saya selalu menganggap Saigon sebagai ibu kota negara. Padahal ibu kota Vietnam sebenarnya adalah Hanoi yang terletak di utara. Saigon memang pernah menjadi ibu kota pada masa kolonial Indocina Perancis, dan saat negara Vietnam Selatan berdiri antara tahun 1954 – 1975. Menariknya, kota ini pada mulanya merupakan pelabuhan utama Kamboja sebelum dianeksasi oleh Vietnam di abad ke-17. Setelah unifikasi negara Vietnam, Saigon hanya merupakan salah satu kota besar dengan pengembangan pusat-pusat ekonomi Vietnam. Pada masa ini juga, nama Saigon kemudian dirubah menjadi Ho Chin Minh City, walau masyarakat Vietnam kerap menyebutnya sebagai Saigon.

Sama halnya dengan kota metropolitan di Asia Tenggara dengan pusat-pusat bisnis, Saigon berkembang menjadi kota besar padat penduduk. Populasinya mencapai 7 juta jiwa, dengan kepadatan penduduk sekitar 3.175 per km2. Kim Anh, Koordinator Nasional GEF SGP Vietnam, mengatakan Saigon adalah kota yang lebih besar dibandingkan Hanoi. Di Saigon, kita bisa melihat bagaimana urat-urat perekonomian melaju setelah proses liberalisasi ekonomi Doi Moi pada era 80-an. Hanoi barangkali dapat dikatakan lebih menjadi pusat politik dan pemerintahan negara Vietnam.

Barangkali benar apa yang dikatakan Kim Anh. Sepanjang jalan menuju tempat saya menginap, setidaknya ada 3-4 mall yang saya lihat. Tidak terlalu besar seperti mall-mall yang ada di Jakarta, tetapi cukup mampu menggambarkan denyut perekonomian negara ini. Di sepanjang jalan dipadati dengan toko-toko aneka rupa. Dari mulai toko telepon seluler yang eksklusif, sampai penjual suku cadang motor. Padat sekali! Belum lagi dengan restoran siap saji seperti Pizza Hut, KFC yang tersebar dimana-mana.Uniknya, toko-toko disini “nyempil” sana sini. Termasuk sebagian hotel-hotel hemat lainnya.

Saya menginap di sebuah hotel “nyempil” ini yang bernama Huy Chuong Hotel di Jln.Trung Quang Khai. Hotel Maharani di Jakarta saja, masih lebih besar dibandingkan hotel ini. Sekilas, ia akan tampak seperti ruko berlantai 7. Tetapi, hebatnya, hotel ini bersih dalam segala hal, baik fasilitas dan tamu, karena pada buku petunjuk hotel tertulis “Dilarang terima tamu dikamar! Harus di lobby, kecuali seizin manager! (Ya Ampun!!!). Sebagai hotel yang dijalankan melalui bisnis keluarga, hotel ini mengambil standar sekelas bintang dua yang punya fasilitas lengkap, termasuk koneksi internet wireless, yang membuat saya bisa bersabar menunggu waktu kepulangan saya. Didalamnya pun, terdapat lift, dengan ruang makan tidak terlalu luas, namun bersih. Pelayan hotelnya pun ramah-ramah, dan relatif bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit, walaupun kadang bisa juga membuat kita hampir gantung diri karena tulalit.

Jln. Trung Quang Khai tempat hotel ini berada juga merupakan wilayah kota dengan toko-toko di kanan-kiri serta seberang jalan. Yah, paling tidak, ia berada pada wilayah strategis dimana kita bisa menemukan makanan dan toko serba ada 24 jam! Ha! Kalau di Nha Trang tidak ada model toko serba ada sejenis Circle K, maka disini mereka punya Shop & Go yang sama modelnya dengan Circle K. Jadi kalau malam butuh sesuatu, tinggal jalan sekitar 5 menit dan borong semua barang yang ada disitu, kalau sedang kumat gilanya. Hehe..

Saya menginap disini bersama dengan delegasi Indonesia lainnya. Selain saya dan Pak Zainal yang adalah anggota GEF SGP, masih ada Pak Nazalyus dan istri (dari pemerintah Belitung), Pak Tri Budi dan istri (dari pemerintah Kalimantan Barat), serta Pak Faisal (dari NGO Bogor/Kalbar). Sudah sejak mendarat, Pak Faisal bilang bahwa ia ingin makan KFC! Hahaha..! Rupanya selama seminggu berada di Nha Trang dengan makanan-makanan Vietnam, ia sudah sedikit muak dan butuh makanan yang lebih familiar di lidahnya. Serta halal tentunya. Maka, jadilah seusai maghrib kami berjalan menyusuri jalan untuk menemukan restoran siap saja, seperti yang telah ditunjukkan mbak-mbak resepsionis.

Tidak ada toko suvenir yang kami temukan. Hanya ada toko-toko biasa serta warung-warung makan pinggir jalan kecil yang dipadati pengunjung. Oh, ini Sabtu rupanya. Malam minggu. Pantas saja orang-orang pada keluar rumah. Dan kata “orang-orang pada keluar rumah” ini punya dampak yang dashyat dengan hiruk pikuknya sepeda motor di sepanjang jalan. Salah satu kebiasaan orang Vietnam yang saya perhatikan adalah : lampur hijau jalan, lampu merah jalan terus! Hahahaha.. Lebih parah dari di Jakarta! Selain itu, motor-motor ini sama gilanya dengan mobil-mobil yang tidak mau berhenti sekalipun ada orang yang hendak menyeberang. Beberapa kali saya dan Ibu Tri Budi hampir terserempet motor dan membuat saya teriak, “Woy! Rem lo dol apa ?!”. Huhuhuhu.. Yang diteriaki hanya melihat dengan tatapan tidak mengerti kepada saya.

Kami makan di restoran siap saji bernama Lotteri di tikungan jalan, 20 menit berjalan kaki dari hotel. Bukan KFC memang, tetapi yang disajikan,yah, nyerempet-nyerempet itu lah. Terbukti kangen pulang, para peserta kalap memesan ayam, kentang goreng, nasi, dan minuman ringan. Cukup masuk akal juga harganya. Untuk 1 paket makanan terdiri dari 2 ayam goreng, 1 porsi kentang, dan 1 coca cola, saya hanya membayar VND 45.000. Sudah membuat saya kenyang sampai besok hari sepertinya karena potongan ayamnya yang lumayan.

Karena penasaran dengan toko-toko (biasalah Ibu-Ibu!),kami berjalan kaki lagi sekitar 30 menit. Saya tidak membeli apa-apa, karena saya sudah selesai agenda suvenir di Nha Trang. Jadi saya hanya main-main dengan kamera pocket saya, mencoba mengambil gambar-gambar aneh sepanjang jalan Saigon. Jalan disini lumayan dipenuhui “Cafe-Cafe”. Berbeda dengan Cafe di Jakarta yang mewah dan nyaman, Cafe disini betul-betul warung kopi pinggir jalan, dengan bangku-bangku kecilnya di trotoar. Yah, tidak salah juga sih, karena dalam bahasa Perancisnya sendiri, Cafe artinya warung buat ngopi. Dan inilah “cafe” ala Vietnam.

Hm.. belum banyak cerita yang bisa digali sih. Sejauh ini saya sudah melihat kota Saigon dan unik-uniknya kota ini. Besok saya masih punya waktu setengah hari sebelum meninggalkan Vietnam. Mudah-mudahan, masih bisa lagi melihat yang baru. Ngantuk ah, mau tidur dulu ! Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: