Photography : Between Passion and Curiosity

Selama ini, saya hanya menganggap fotografi sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Seperti posting di bulan-bulan sebelumnya, fotografi buat saya lebih pada merekam gambar-gambar bebas, tanpa aturan, dan tanpa batas, kecuali celengan semakin ringan karena uangnya habis untuk beli dan cetak film! Posting sebelum ini bercerita tentang bagaimana saya menemukan dan membedakan passion dan curiosity. Hasrat dan rasa penasaran. Kadang kala hal tersbut tidak bisa dibedakan, tapi betul-betul terlihat dari hasil akhirnya.

Bermain dengan kamera memberikan rasa tersendiri bagi saya. Otak saya memang mampu merekam gambar-gambar yang ada di sekeliling saya. Senang, sedih, marah, bahagia, dsb. Tetapi gambar itu hanya ada dalam ingatan saya. Tok. Tidak bisa saya bagikan kepada teman-teman lain, atau untuk dinikmati kembali dalam bentuk yang lebih nyata. Di kamar mandi, misalnya. Hehe.

Untuk mengetahui apakah fotografi hanya sekedar rasa penasaran atau memang sesuatu yang ingin saya lakukan, saya mencoba untuk membiarkan diri saya hanya memegang kamera DSLR baru. Kalau hanya sekedar foto-foto bosan, paling hanya bertahan beberapa bulan, setelah itu kamera hanya ngejogrok manis di sudut kamar saya.

Yah, ternyata tidak hanya sekedar rasa penasaran. Bukti memperlihatkan malah saya kerajingan dengan Mas Nikon saya. Sering kali meluangkan waktu untuk menjepret secara acak, bertanya pada teman-teman saya yang sudah lebih dahulu bermain dengan kamera, mendaftar pada galeri online, mengedit foto-foto saya, meng-uploadnya, dan akhirnya saya ikut les foto!

Salah seorang teman saya yang juga jadi salah satu “guru” foto saya mengatakan bahwa saya “terlambat matang” di fotografi. Saya menyukai hal ini saat fotografi sudah seperti “receh” alias mainstream. Dimana-mana orang gandrung fotografi. Beli kamera DSLR dan bergabung dengan galeri-galeri online untuk memamerkan foto mereka. Kalau saya iseng-iseng mencari melalui situs pencari, maka akan keluar tampilan berbagai halaman yang dibuka oleh para fotografer, baik freelance maupun yang sudah well-established dengan studio fotografinya. Tentunya akan berbeda dari beberapa tahun ke belakang.

Ke-mainstream-an ini tidak menyurutkan langkah saya untuk mengambil kelas fotografi. Saya pikir,tidak pernah ada terlambat buat seseorang demi memulai sesuatu, tidak peduli apakah di sekelilingnya hal tersebut sudah jadi barang umum atau tidak. Dengan dorongan teman dan Ayah saya pula, saya akhirnya bergabung bersama Neumatt-Center for Photography Studies, untuk mempelajari teori-teori fotografi. Baru kelas dasar memang, tapi saya berpikir untuk melanjutkannya pada kelas lanjutan, foto jurnalistik.

Selama ini, saya tidak pernah peduli dengan komposisi dan teknis-teknis dalam fotografi. Saya hanya mengambil gambar dan mengambil gambar. Jika saya rasa ia kurang memunculkan suatu nuansa yang saya inginkan, Photoshop akan menjadi andalan saya dalam melakukan post-processing dari sebuah foto. Zaman memang memberikan keuntungan buat saya atau katakanlah para fotografer masa kini. Semua serba digital dan komputerisasi. Apa yang dulu tidak bisa langsung dilihat dan dicetak, sudah bisa dilakukan dalam hitungan menit. Tapi tentunya saya tidak akan pernah belajar teknis-teknis sebenarnya dari foto itu sendiri.

Kelas pertama saya, dimulai pada awal Januari ini. Hanya beberapa orang yang ikut kelas dasar reguler. Kelas ini betul-betul menarik bagi saya. Karena sekalipun kita bisa mendapatkan pelajaran mengenai dasar-dasar itu dari berbagai sumber, saya merasa lebih “PD” jika ada mentor disamping saya. Setidaknya, dari mentor inilah saya diberikan ilmu, untuk kemudian saya proses sendiri dalam diri saya hingga saya temukan bentuk yang saya suka.

Kelas saya sekarang sudah berjalan pada sesi pertengahan. Pada sesi berikutnya, mentor saya akan membawa kami ke “lapangan” untuk diajarkan teknis-teknis pengambilan foto, sekaligus untuk menemukan minat kami dalam foto. Saya tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Dan tentunya lebih tidak sabar lagi untuk melihat objek-objek apa yang akan saya temukan dan saya bidik melalui lensa saya.

Sekarang, sembari menunggu waktu itu datang, saya sibuk mencari berbagai sumber tambahan untuk menambah ilmu saya. Tidak hanya itu, saya juga rajin masuk ke berbagai bursa untuk melihat apa ada kira-kira lensa bekas pakai yang masih bagus dan harga yang cocok dengan kantong saya untuk saya beli.

Ah, sepertinya saya harus mengatur keuangan saya. Mudah-mudahan saya bisa menghasilkan dari sini. Tapi itu tidak jadi tujuan utama saya. Yang ingin saya lakukan adalah merekam gambar-gambar yang saya lihat, dan berbagi dengan teman-teman saya. Jika ada hal yang bersifat menguntungkan di belakangnya, yah, itu adalah berkat. Alhamdulillah.

1 Comment (+add yours?)

  1. Rus
    Feb 10, 2009 @ 18:54:53

    Semangat terus yah untuk mengabadikan segala sesuatu sebagai anugrah sang Pencipta. Janga pernah berhenti, gw juga baru belajar neh motret.btw ikutan kontes foto di NGI ngga, lumayan buat dijadikan referensi.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: