S o u l m a t e

Dulu saya masih berusia remaja, saya sering berandai-andai mengenai soulmate. Barangkali karena terpengaruh dengan cerita-cerita klasik zaman dulu atau bahkan komik-komik yang sering saya baca, dimana hampir semuanya menceritakan kisah-kisah romantis tentang keberadaan seseorang yang memang sudah ditakdirkan ada, suatu saat akan dating pada kita dengan sendirinya, dan akan bersama menjalin cerita indah.
Seiring saya tumbuh dan belajar banyak hal dari sekeliling saya, akhirnya saya menilai, betapa absurdnya konsep soulmate itu. Bagi beberapa teman saya yang meyakini keberaaan soulmate di suatu tempat, pada suatu waktu, keabsurd-an itu bagi mereka merupakan bentuk penyangkalan saya. Saya tidak tahu siapa yang tengah terjebak dengan romantisme absurd semacam itu. Apakah saya yang terus memikirkan tentang logika soulmate, atau teman-teman saya yang cukup meyakini bahwa jodoh atau soulmate memang sudah diciptakan dari sananya untuk kita.
Pertanyaan yang paling mengganggu saya sebetulnya adalah : apakah mereka benar-benar ada ? Bagaimana cara kita menemukan si pasangan jiwa itu? Bagaimana kita tahu seseorang betul-betul pasangan jiwa kita ? Tidak pernah ada penjelasan logis mengenai ini, atau rumus-rumusan baku mengenai keberadaan si soulmate. Tidak ada satupun teman-teman saya yang meyakini konsep tersebut mampu menjelaskan pada saya mengenai jawaban itu.
Lalu, kenapa juga saya menjadi terganggu dengan masalah si soulmate-soulmate ini ? Bukannya saya sendiri selalu bilang, bahwa hidup itu dibawa praktis saja. Tidak perlu pusing-pusing memikirkan hal-hal tidak penting semacam ini, apalagi membawanya menjadi sebuah penjelasan yang sangat logis hingga diterima akal. Yah, barangkali akan butuh seorang Einstein untuk dapat menjelaskan perkara metafisik dari hal ini. Itupun kalau Einstein juga paham.
Rasa penasaran yang selalu saja mengusik akal dan pikiran saya. Terbiasa mendengar berbagi curahan hati dari orang-orang membuat saya berpikir banyak seusai mereka berceriita. Salah satunya mengenai hal ini. Belakangan ini, saya banyak sekali mendengar cerita ironi pernikahan dari beberapa orang teman-teman saya. Kalau mau diskalakan, 6 dari 10 teman saya, memiliki permasalahan yang pada dasarnya sama, namun dengan cara berbeda. Perpisahan keluarga. Sebagian mencoba untuk mencari cara berkompromi dengan keadaan, sekalipun tidak berimbang, tetapi sisanya memilih untuk berpisah.
Saya tidak pernah tahu juga apakah konsep soulmate ini berhubungan langsung dengan masalah pernikahan atau tidak. Tetapi bukankah ketika kita sudah memutuskan untuk membina suatu hubungan dalam ikatan yang lebih nyata seperti pernikahan, kita sudah merasa yakin bahwa orang yang ada disebelah kita adalah soulmate kita, pasangan hidup kita ? Dan bagaimana ceritanya itu bisa menghilang begitu saja dalam suatu rentang waktu, hanya karena merasa tidak cocok ? Apakah si pasangan jiwa ini, meminjam istilah dari Dewi Lestari, juga memiliki masa kadaluarsanya ?
Suatu saat, ketika saya sedang iseng berbicara dengan teman saya, teman ini berkata bahwa soulmate itu tidak untuk ditemukan, tetapi diciptakan. Nah, barangkali ini yang agak masuk di akal saya. Teman itu mengatakan kemungkinan kita untuk bertemu soulmate setiap harinya ada banyak. Ketika kita mendapatkan chemistry itu pada seseorang, bisa saja kita menemukan soulmate itu. Tapi akan sangat sulit mempertahankannya manakala kita hanya taken for granted. Sehingga konsep soulmate itu memang harus diciptakan oleh diri kita sendiri, tidak hanya sekedar merasakan bahwa, ya ini memang pasangan jiwa saya dan berjalan begitu saja.
Barangkali ada benarnya juga teman ini. Jika memang kita kemudian menciptakan konsep pasangan jiwa itu saat kita telah menemukan seseorang yang pas, barangkali pula perpisahan tidak akan terjadi. Toh ketika berkaca pada hubungan pernikahan orang tua zaman dulu yang bisa sampai diujung umur, yang mereka tahu adalah komitmen untuk bersama, dan bagaimana cara me-manage si pasangan hidup itu untuk tetap menjadi pasangan jiwanya.
Saya mungkin adalah orag yang cukup pahit dalam memandang sisi hidup. Bagi saya, perpisahan itu adalah hal yang menakutkan dan berat. Tidak semudah membalikkan telapak tangan saja. Dan itu juga mungkin yang membawa saya pada suatu sikap tidak mau terlalu terjebak pada romantisme-romantisme dunia, sekalipun pernah juga terpikir bahwa dunia memang akan lebih berarti saat ada hal-hal menyenangkan terjadi bagi diri kita.
Maka, jawaban dari pertanyaan saya ? Yah, saya belum tahu pasti. Untuk saat ini barangkali saya cukup setuju dengan pendapat teman saya itu bahwa soulmate tidak untuk ditemukan, tetapi untuk diciptakan saat kita sudah memiliki orang yang ada disamping kita. Sekalipun, kita tidak merasakan perasaan “ya, sepertinya ini memang orangnya!”.

2 Comments (+add yours?)

  1. renny
    Feb 20, 2009 @ 19:55:11

    Saya setuju, soulmate memang bukan untuk dicari.

    Reply

  2. roy briantiania
    Feb 23, 2009 @ 17:31:51

    Soulmate adalah sebuah kata yang sulit diartikan, karena belum tentu sebuah janji terucap utk menjadi “soulmate” dapat berjalam sempurna..intinua adalah saling mengerti, menerima kekurangan dan kelebihan masing2 pihak, karena tanpa adanya hal “tenggang rasa” sebuah soulmate tidak akan tercipta.
    Masalah yang ada, bukanlah hal yang harus mjd pengahambat atau pemecah dari sebuah “hubungan”, tetapi sebuah “menu” tambahan yang memerlukan pemecahan.
    Sebuah pernikahan pun bukan bentuk nyata dari soulmate, karena dalam pernikahan pun pasti akan ada “riak-riak” yang harus dihadapi.
    Jdi kesimpulannya, soulmate hanya sebuah ungkapan, yang menggambarkan bahwa kecocokan sudah ada!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: