K o n t r a d i k s i

Sudah satu abad terakhir sepertinya dari tulisan terakhir di blog saya ini. Kangen juga menulis. Setelah lulus dari kelas fotografi (ah, ya! Harus memproklamirkan diri sebagai fotografer “bersertifikat” sekarang! Hehe),saya ternyata lebih banyak ngopeni kamera dan foto ketimbang menulis. Padahal tadinya saya berniat untuk menggabungkan kedua-duanya, atau setidaknya berjalan simultan. Ah, ternyata memang otak cuma satu dan tangan cuma dua. Atau mungkin besok harus mulai berlatih melakukan semuanya dalam waktu bersamaan.

Life’s never been so great. And yet,never been so difficult. Tapi tergantung siapa yang lihat tentunya. Dan dalam rentang waktu kekosongan menulis, saya menemukan hal baru yang, yah sebetulnya bukan lagu lama, tapi tetap saja menarik buat saya. Namanya, kontradiksi. Hehe. Bukan hal yang berkaitan dengan baik dan buruk, angel vs evil. Hanya merupakan bagian dari percikan-percikan dari kembang api kehidupan.

Kata orang, ekonomi global saat ini sedang mengalami resesi. Semua pasti akan terkena imbasnya. Termasuk negara ini. Entah dari segi mana yang ‘terkena dampak resesi’ itu, namun kenyatannya billboard jalanan dengan jualan utama berharga seharga minimal 5 juta perak bernama, Blackberry, oleh provider-provider raksasa kian menjamur. Dan dengan demikian, semakin banyak teman-teman di sekeliling saya, yang mengganti kewarganegaraannya menjadi : Blackberry-an. Oh, senangnya punya kebun Blackberry sendiri. Hehe.

Dengan demikian, saya sadar, bahwa apapun situasinya,mau itu katanya resesi dunia,pergolakan politik yang menyebabkan harga-harga naik, setiap manusia masih bisa menemukan caranya sendiri untuk menikmati hidup. Dan saya mungkin hampir melihat runtuhnya tesis dimana, krisis ekonomi global berbanding lurus dengan kesejahteraan manusia. Bisa benar. Bisa salah. Bagaimanapun, kontradiksi itu juga ternyata masih punya nilai relativitas tersendiri.

Ah, benar-benar, sepertinya saya harus menelan kata-kata saya sendiri. Ada juga beberapa orang yang saya temukan masih mengeluh dengan hidupnya. Seperti saat ini, ketika saya sedang duduk manis menikmati minuman bernama Shirley Temple (yang sebetulnya hanya campuran air soda dan sirup Grenadine), saya mendapat telepon dari teman saya, bahwa dirinya habis kecelakaan. Wah! Berita yang mengejutkan. Saya kira kenapa. Ternyata penyebabnya adalah tukang ojek yang nyebrang sembarangan, dan dia menginjak rem mendadak, menyebabkan motor dibelakangnya jatuh. Bukan salah dia sebetulnya. Tapi tukang ojek tak mau ganti rugi,sementara yang jatuh nuntut ganti rugi. Maka dia yang berkorban atas nama keadilan, membayar ‘uang kaget’ korban di belakangnya. Tidak hanya itu, teman ini baru saja kehilangan helmnya yang harganya mahal, dan sekarang dia juga harus ganti ban ke tukang tambal ban. Dunia memang aneh.

Kenapa cerita saya jadi ngalor ngidul begini ? Hehe. Tak apa. Sembari menunggu teman saya itu ganti ban, lumayan saya bisa ngobrol dengan diri saya sendiri. Bukan hal yang dilarang.

Baru –baru ini, ditengah perjalanan pulang saya dari Yogyakarta ke Jakarta, saya kebetulan melihat sebuah buku bagus di toko buku Periplus bandara. Judulnya “Miss Chopstix” yang ditulis oleh penulis favorit saya, Xinran. Buku itu sederhana sekali. Penulisnya adalah seorang Jurnalis keturunan Cina yang menjadi warga negara Inggris. Saya selalu suka tulisannya karena ia mendasarkannya pada riset dan kisah nyata. Bukunya kali ini mengupas tentang bagaimana tiga orang perempuan desa yang mencoba peruntungannya ke kota, demi meruntuhkan nilai-nilai filosofis kuno yang sangat merepresi kaum perempuan.

Cerita ini, seperti yang menjadi judul tulisan ini, memunculkan sifat kontradiktif. Perbenturan antara kultu desa dan kota, serta nilai lama dan “modern”. Bukan hal baru sebetulnya mendapatkan nilai-nilai lama di Cina yang demikian patriarkinya sehingga menempatkan perempuan pada posisi paling bawah. Tak ada harganya. Dan demikianlah yang terjadi dalam cerita itu. Ketiga perempuan ini mencoba melarikan diri dari kultur dan nilai tradisional yang kolot dan membelenggu. Namun demikian, begitu terkejutnya mereka saat melihat kultur dan nilai-nilai “modern” perkotaan. Di satu sisi positif karena untuk pertama kalinya mereka dapat melihat perempuan berdiri sejajar dengan kaum laki-laki, perempuan dapat bekerja dan dihargai lebih baik di kota, dan tak ketinggalan, kebebasan.

Nah, seharusnya itu menjadi hal yang baik bukan? Toh tujuan mereka juga untuk meruntuhkan nilai-nilai tradisional yang sangat tidak adil. Tetapi, disana juga mereka melihat dan menemukan bagaimana keterbukaan dan kekritisan itu membuat sifat manusia menjadi orang-orang yang tidak pernah puas, tidak pernah sabar, terobsesi, dan menciptakan standard serta ekspekstasi tertentu terhadap suatu hal. Bukan hal yang salah juga. Namun, lihat hasilnya. Orang-orang kota tidak pernah berhenti untuk mengejar dan mengejar. Apapun. Yang akhirnya, hidup mereka sebagian besar dipenuhi dengan obsesi, target, standar, dll. Tidak pernah puas. Jauh dari kata tenang dan damai.

Dan kontradiksi itu terjadi pada rentang waktu yang sama, pada negara yang sama. Pemisahnya hanya batas ‘desa’ dan ‘kota’, ‘tradisional’ dan ‘modern’, ‘patriarkhi dan egaliter’.

Apa kesimpulan dari buku ? Bukunya tidak menyimpulkan apa-apa karena ia hanya mengisahkan pengalaman perempuan-perempuan desa nan lugu itu. Tapi, ada satu kalimat yang saya suka ditengah-tengah cerita, ketika salah satu tokoh mencoba merefleksikan pengalamannya yang begitu kontradiktif itu. Katanya,kedamaian itu hanya bisa didapat saat kita bisa menyeleraskan diri dengan garis nasib kita. Kuno tapi barangkali ada benarnya. Seperti ketika di yogyakarta kemarin, saat saya menemui komunitas yang menjadi target dana bantuan kantor saya, mereka hanya menjalankan hidup apa adanya,sekalipun cuma petani. Dan sejauh ini, merek a memang tidak kekurangan pangan. Bahkan raskin (beras miskin) yang diberikan oleh pemerintah mereka jadikan pakan ternak. “Berasnya, ndak bagus, mbak! Mendingan beras yang kami panen sendiri!”. Lho? Ternyata dikira miskin, malah sebetulnya kaya akan kebutuhan subsisten.

Saya ingin coba ah mengikuti kalimat yang ada di buku Xinran itu. Tenang dan apa adanya. Eh, tapi saya baru ingat ding, saya lupa bawa charger laptop! Ah sial! Padahal saya masih ingin browsing setelah menulis. Alamat BT nih!!

1 Comment (+add yours?)

  1. renny
    Apr 14, 2009 @ 05:17:49

    Kontradiksi yang menjelma jadi ironi.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: