A U T I S

Wah, sudah lama sekali saya tidak menulis di blog saya. Kangen sekali rasanya ngobrol (dengan diri sendiri! hehe..) dan cerita sana sini. Yah, apa boleh buat. Kerjaan sedang kelewat batas, dari mulai kerjaan di kantor sampai tugas lapangan. Apa boleh buat juga hal itu jadi membuat saya autis. Hidup di dunia saya sendiri.😛

Eh, omong-omong soal autis, sepertinya obrolan saya sekarang akan sedikit bersinggungan dengan tulisan tepat sebelum ini. Dan bukan dalam maksud menyindir atau sirik-sirikan sih. Hanya mencoba mengamati dan mencerna beberapa kejadian,  apalagi yang menyangkut dengan gaya hidup kaum urban seperti di Jakarta ini.

Jadi, beberapa hari yang lalu, teman saya di kantor heboh dengan memberitahukan kepada khalayak kantor (yang hanya segelintir orang itu), tentang fatwa yang dikeluarkan MUI. Saya tidak ikutan heboh karena merasa bahwa MUI memang sedang cari-cari kerjaan dengan melakukan berbagai macam fatwa terhadap apapun. Tapi, akhirnya saya tertarik juga dengan topik “Fatwa Terbaru MUI” itu. Karena ternyata yang difatwakan kali ini adalah FACEBOOK !

Setengah ketawa, saya mendengarkan cerita teman saya mengenai alasan MUI sampai harus memfatwa Facebook. Katanya, Facebook itu dapat menghalalkan maksiat secara online, sebab arus informasi betul-betul terbuka lebar. Tidak ada sekat, tidak ada filter. Orang bisa pasang foto apapun yang dia mau. Orang bisa ngobrol apapun yang dia mau. Yah, intinya, you can do whatever you wanna do through this fenomenal social networking system.

Beberapa negara memang sudah meninjau kembali fungsi Facebook sebagai media jejaring. Saking hebatnya kemampuan Facebook dalam mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat, Iran sampai harus menutup dan melarang situs ini, akibat dari kampanye politik yang kian marak menggunakan situs jejaring Facebook. Luar biasa !

Yah, apapun itu, saya sebetulnya tidak terlalu peduli dengan alasan MUI yang memfatwa Facebook karena menghalalkan kemaksiatan di dunia maya. Atau presiden Iran yang harus menutup situs ini untuk mencegah terjadinya propaganda politik dari pihak lain. Tapi, ketika saya mengingat Facebook, saya cuma ingat satu kata: Autis.

Facebook menurunkan produktivitas seseorang, yah, masih bisa disanggah. Facebook membuat orang kecanduan, saya setuju. Dan kecanduan ini yang bikin jadi Autis. Dalam tahap yang ekstrim, iya betul-betul menjadi akut. Bagaimana tidak ? Pada situs ini tersedia berbagai macam hal yang mengasikkan untuk diulik. Dari hanya sekadar menulis komentar tentang status seseorang, menulis notes, upload foto, mengisi kuis, sampai permainan online yang tidak ada habisnya.

Sejak saya memiliki Facebook di tahun 2007, saya secara konstan akan membuka situs ini pada tab Firefox saya, tepat di sebelah email pribadi. Dan dari lebih 600 teman yang saya miliki, 50-70 orang diantaranya secara konstan online di Facebook. Terkadang, orang-orang tersebut begitu konstannya memusatkan perhatian pada Facebook, hingga membuat tanda bulatan hijau di samping namanya terus menyala. Tandanya, ia tidak pernah beranjak dari situs itu. Wow !

Itu satu. Autisme nomor 2 bersumber dari Blackberry. Yah, bukan barang baru dan sudah jadi rahasia umum bahwa Blackberry bikin orang seperti orang gila. Barangkali suatu saat MUI juga akan memfatwa Blackberry karena membuat orang asik dengan dirinya sendiri, dan dunianya sendiri. Hehe..

Kira-kira sebulan yang lalu, saya membaca dua buah majalah yang berbeda. Satu adalah majalah gaya hidup dan satu lagi majalah yang diterbitkan oleh organisasi perempuan feminis. Pada salah satu feature-nya, kedua majalah ini sama-sama membahas generasi Blackberry ini. Dan sampai pada kesimpulan yang sama. Blackberry memang barang yang seharusnya dimiliki oleh para CEO dan bukan karyawan. Mengapa ? Yah, efeknya seperti Facebook itu. Dialog chatting yang secara konstan muncul seperti sms, membuat ketagihan untuk terus membaca dan membalas semua pesan-pesan itu. Apalagi, sekarang ini operator pintar sekali membidik para konsumennya, dengan mempromosikan chatting dan online dimana saja dan kapan saja.

Jadi, saya sudah tidak heran lagi ketika saya memiliki teman-teman yang menenteng Blackberry di tangannya (bahkan 2 buah!), bertemu dengan saya, lalu kemudian seharusnya kami menghabiskan waktu dengan ngobrol, dia malah sibuk pencet sana sini tombol Blackberry-nya. Saya jadi berasa seperti pajangan. Hehehe..

Yah, teknologi memang memberikan kemudahan dan keleluasaan bagi kita. Dengan Facebook, kita tidak perlu lagi mengangkat telpon untuk berbicara dengan siapa saja karena tersedia chatt box. Dan kita juga tidak perlu lagi sibuk bikin jarkom alias jaringan komunikasi untuk menemukan teman yang sudah 50 tahun hilang. Cukup gunakan fasilitas search friends atau mencari dalam daftar teman dari teman kita, maka hal yang tadinya mustahil untuk ditemukan, hanya dalam hitungan jam atau hari, sudah bisa ditemukan. Belum lagi dengan model jejaring ini, akan sangat membantu kita menambah teman, relasi, pelanggan, atau apapun itu.

Demikian halnya dengan Blackberry. Terlepas dari gaya anak remaja sekarang yang nenteng Blackberry untuk gaya atau cuma untuk fasilitas chatting di Yahoo atau update status di Facebook, Blackberry memudahkan kita untuk terhubung dengan dunia maya kapanpun dan dimanapun. Tidak perlu repot bawa laptop segede sapi, atau celingak celinguk cari hotspot. Blackberry sudah sangat membantu kita yang begitu mobile dan butuh terhubung dalam waktu 24/7.

Tapi ya efek sampingnya itu tadi. Autis. Serius deh. Hehe.. Sekalipun sebetulnya sumber autisme gaya hidup itu tidak hanya datang dari Facebook atau Blackberry saja. Cuma, ya, ketika kita sudah merasa kecanduan akan satu hal, otomatis kita hanya terfokus pada hal itu. Sekalinya hilang, dunia seperti runtuh! (Ah, lebay deh gue! hihihi..)

Saya bukan pemegang Blackberry. Jadi saya tidak bisa terima chatting-an seperti saya menerima SMS. Saya masih kuno dan konvensional. Dan sudah seminggu lebih ini, saya menonaktifkan akun di Facebook saya. Ingin melihat apakah saya akan merasa hidup saya gelap pasca non-aktifnya Facebook saya. Ternyata tidak. Yah, Alhamdulillah ternyata kecanduan saya masih dalam taraf normal. Belum autis, dan belum perlu pergi ke pusat terapi diri.

Mudah-mudahan bertahan lama. Hehe..

3 Comments (+add yours?)

  1. Berang
    May 29, 2009 @ 04:44:56

    Bagus banget tulisannya… Sistematik, sederhana dan enak dibaca
    Berhubung aku tidak mampu beli Blackberry dan bisa connect internet dimana-mana, sepertinya aku tidak autis hehehe…

    Reply

  2. Renny
    May 31, 2009 @ 20:10:29

    haha… saya sudah ga pake blackberry… masih ada sih.. cuma lagi malas punya hape.

    Reply

  3. nisa
    Jan 29, 2011 @ 01:40:53

    hueee, bener banget… kasian anak2 jaman sekarang… ga kaya anak2 jaman dulu yang masih berinteraksi sosial sama teman2nya lewat permainan tradisonal… skr mrk pegang gadget semua, lebih milih yg online drpd yang ada di depan mrk… duuh, sedihnya… ijin link yaa… ^_^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: