The “P” Day

Setelah berbulan-bulan jadi bahan omongan alias gosip seantero jagad, ini adalah “hari”nya. Sejak pagi saya membuka facebook dan membaca status teman-teman, rata-rata bersemangat untuk menunaikan ibadah politiknya. Yah, ada sih yang biasa saja. Tapi status-status itu cukuplah menggambarkan bagaimana suasana Indonesia pagi ini.

Itu juga terjadi di rumah saya. Sejak pagi, ayah saya sudah sibuk menyetel TV dan memantau perkembangan diluar sana. Ibu saya, juga sama. Membangunkan saya pagi-pagi (padahal malamnya saya sampai jam 4 pagi menonton siaran ulang pemakaman Michael Jackson!), menyuruh saya bersiap-siap, dan katanya “Nanti kita bertiga sama-sama ke TPS!”. Wah! Sampai urusan contrang contreng saja harus bareng-bareng. Dan kali ini, nama saya tidak mungkin tidak ada di DPT. Sebab sudah dari sebulan juga Ibu bolak balik ke rumah Ketua RT untuk memastikan nama-nama potensial pemilih ada didalam DPT itu. Saya tidak apatis terhadap politik, namun juga tidak terlalu merasa berapi-api dengan event yang hanya 5 tahun sekali ini. Buat saya, mencontreng, ya sudah mencontreng. Selama ini juga saya memilih, dan pasal apakah si yang terpilih itu menepati janji-janjinya pasti akan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Periode-periode sebelumnya juga begitu. Pada masa kampanye jualan kecap. Saat sudah terpilih, 60% janji politiknya terpenuhi saja sudah bagus dan luar biasa. Nothing is perfect. Begitu juga kandidat yang terpilih. : )

Semalam, setelah pulang dari Kantor menyelesaikan pekerjaan rutin mendukung masyarakat kecil di akar rumput dan persiapan ke Belitung, saya sempatkan untuk bertemu dengan teman-teman kuliah dan SMA. Tidak lama. Tapi topiknya juga menyinggung-nyinggung soal Pemilu. Apa yang akan dipilih hari ini, dan privilege apa yang akan didapat oleh si pemilih. Strategi Pemilu sekarang cukup pintar. Beberapa merchant diajak bekerjasama untuk mau memberikan “hadiah” bagi para pemilih yang menggunakan hak suaranya. Kopi gratis di Starbucks lah, potongan harga 50% di Pizza Marzano lah, potongan harga di Matahari Department Store lah, sampai potongan harga di Alfamart ! Tidak ada yang salah memang. Justru ini jadi menarik. Sebab semua orang jadi tertarik juga untuk memilih karena bisa dapat secangkir kopi susu gratis di Starbucks. Teman saya bilang, “kalau lo mau gratisannya banyak, lo keliling-keliling aja ke store Starbucks sambil nunjukin kelingking lo! puas deh lo sama kopi susu!”. Hihihihi.. Yah, seru juga pesta demokrasi sekarang ini. Kandidat-kandidat makin kreatif untuk menarik orang memilih.

Saat pulang, saya sengaja menyusuri jalan utama Jakarta yang biasanya macet parah karena jam pulang kantor. Entah karena anak sekolah sedang liburan, tapi jalan Jend. Sudirman, Gatot Subroto sampai M.T Haryono lengang sekali. Saya bisa sambil ngebut dan berpikir hari ini mau milih apa. Ah, andai saja presiden baru nanti bisa bikin Jakarta tidak macet, banjir, dan masalah kemiskinan kota ditanggulagi, barangkali saking berterima kasihnya, saya akan jadi simpatisan partainya. Andai saja. Tapi saya tahu itu tidak mungkin. Dalam beberapa jam, teman-teman di Facebook pasti sudah siap menulis ulasan singkat mengenai hasil pemilu, atau kandidat A versus kandidat B, atau ekonomi kerakyatan versus ekonomi neo-liberal. Semuanya bahasan berat-berat. Saya, cukuplah menuliskan sedikit catatan ini. Toh setelah nyontreng nanti saya akan ke Pizza Marzano. Cari yang diskon 50% supaya puas makan.

Selamat memilih !

1 Comment (+add yours?)

  1. Berang
    Jul 14, 2009 @ 04:10:40

    Lanjutkan…!!!😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: