Cerita Dari Tanah Laskar Pelangi

Siapa yang tidak kenal Andrea Hirata yang sukse menciptakan novel berjudul Laskar Pelangi beserta karya-karya lanjutannya. Segera setelah buku dan film Laskar Pelangi ini meledak di pasaran, masyarakat kemudian mulai melirik Belitung sebagai tempat kunjungan wisata. Entah itu penasaran dengan wajah kampung halaman Lintang, Ikal beserta teman-teman lainnya, atau karena potensi wisatanya yang mulai muncul ke permukaan. Apapun itu, tapi film Laskar Pelangi memang menyumbang peran besar dalam menaikkan propinsi kepulauan Bangka-Belitung ini.

Dalam tiga bulan terakhir, saya berkesempatan mengunjungi tanah Laskar Pelangi ini dengan dua tujuan yaitu bekerja sekaligus refreshing. Bekerja sebagai program asisten di sebuah lembaga donor mengaharuskan saya berkeliling ke berbagai wilayah di pelosok Indonesia. Dan betapa senangnya saya ketika tiba saat untuk terbang ke Belitung. Wilayah yang terkenal sebagai wilayah tambang di buku-buku sejarah zaman sekolah dulu, hingga kota ini mulai dihidupkan kembali melalui layar lebar.

Perjalanan ke Belitung tidak memakan waktu lama. Awalnya, saya agak kesulitan mencari referensi penerbangan, akomodasi serta transportasi menuju dan selama saya disana. Beruntung saya punya mitra kerja yang siap membantu kapan saja. Dan dari merekalah saya tahu bahwa hanya dibutuhkan waktu 40-50 menit terbang ke Belitung menggunakan maskapai Sriwijaya Airlines atau Batavia Air. Hanya dua maskapai yang melayani penerbangan kesana. Tapi tidak perlu takut, karena mereka terbang dua kali sehari. Dan dengan waktu tempuh yang singkat, kedepannya saya pikir akan lebih baik ber-weekend getaway ke Belitung ketimbang ke Puncak atau Bandung yang macet. Lagipula, harga tiketnya tidak terlalu mahal, sekitar Rp.500 – 800 ribu (PP) di waktu normal, dan kurang lebih Rp. 1.000.000,- (PP) saat high season.

Tiba di Bandara Hanandjoedin – Tanjung Pandan, saya langsung menuju ke penginapan di pusat kota Tanjung Pandan. Jarak kota ke airport tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit dan tidak perlu khawatir terjebak macet. Untuk penginapan pun tidak terlalu sulit dicari. Di kota Tanjung Pandan sendiri, Hotel Biliton merupakan hotel kelas bintang yang baru saja dibuka pada tahun ini. Bangunannya minimalis dan modern. Untuk penginapan yang sekelas hotel mewah di kota, Hotel Biliton ini bias jadi pilihan, dengan harga Rp. 500.000,- untuk kamar standar.

Hotel lainnya yang setara dengan resort adalah Lor In yang terletak di Tanjung Tinggi. Lor In Hotel and Resort ini berada di kawasan shooting salah satu scence Laskar Pelangi. Dan saat proses shooting, Lor In dijadikan penginapan oleh para crew film. Bagi mereka yang ingin menikmati pantai, Lor In dapat dijadikan pilihan. Tepat disebarangnya adalah pantai Tanjung Tinggi yang memiliki banyak bebatuan besar, berpasir putih, dan berair bening. Saya sendiri sampai terkesima melihat betapa cantiknya pantai Tanjung Tinggi. Namun sayangnya, butuh waktu 30 menit untuk sampai ke pantai Tanjung Tinggi dari Tanjung Pandan. Di wilayah ini juga tidak terlalu banyak tempat jajan atau toko. Saya kira tempat ini dipilih memang khsusus bagi para wisatawan yang benar-benar ingin melepaskan stress dengan suasana yang tenang dan pemandangan indah. Harga permalam di Lor-In Hotel and Resort mulai dari Rp.600.000 – Rp.800.000,- untuk Deluxe Room.

Nah, tapi jangan khawatir buat mereka yang senang berwisata ala Backpacker. Belitung juga memiliki banyak akomodasi yang murah meriah, namun bersih. Di kota sendiri, kita dapat memilih Hotel Pondok Impian yang letaknya dekat dengan pantai Tanjung Pendam. Harga per malamnya sekitar Rp. 300.000 – Rp. 400.000,-. Atau sewa sejenis cottage di Jln. Dipenogoro. Bisa pilih antara kamar privat atau rumah. Saran saya lebih baik menyewa rumah pondokannya. Disetiap rumah ada 2 kamar tidur, kamar mandi dalam, dan AC. Harga per-malamnya adalah Rp.300.000,- untuk rumah dan Rp. 150.000,- untuk kamar privat. Di depan penginapan, ada warung Soto Bandung dan toko serba ada. Sehingga kita tidak perlu khawatir jika malam-malam butuh minuman atau camilan. Selain penginapan ini, pada dasarnya masih banyak penginapan lain yang bisa kita cari di Google. Tinggal catat nomor teleponnya dan Tanya-tanya informasinya, deh!

Kekurangan di Belitung adalah tidak ada angkutan umum. Di Tanjung Pandan saya perhatikan jarang sekali ada angkutan umum dan susah menyewa ojek. Memang lebih enak jika kita menyewa mobil (patungan akan terasa lebih ringan untuk urusan sewa mobil ini). Biaya per-hari diluar bensin dan sopir sekitar Rp. 300.000,-. Saya menyarankan untuk menyewa sopirnya sekalian. Sebab sekalipun kota Tanjung Pandan atau Belitung tidak terlalu besar, jarak dari satu objek ke objek lain cukup jauh. Jalannya juga agak membingungkan karena bisa saja kita melewati perkampungan warga atau hutan di kiri kanannya. Belum lagi jika jalan dikelilingi hutan, tidak ada penerangan jalan. Jadi dibutuhkan sopir yang tahu medan untuk memastikan perjalanan kita selamat. Hehe..

Saat di Belitung, saya berkesempatan untuk mengunjungi Tanjung Binga (kampung nelayan, sekitar 20 km dari Tanjung Pandan), Kecamatan Badau (untuk melihat Tarsius Bancanus, hewan endemic Belitung), Tanjung Tinggi (tempat shooting Laskar Pelangi), Gantung (melihat set SD Muhammadiyah untuk film Laskar Pelangi) dan menyeberang ke Selat Nasik (melihat acara Maras Tahun, yaitu tradisi syukuran masyarakat Selat Nasik – Belitung). Perjalanan saya cukup lengkap karena saya mengunjungi dari mulai daerah gunung, pesisir, hingga menyeberang ke pulau Belitung lainnya.

Tarsius Bancanus, hewan mungil lucu yang masuk dalam daftar hewan langka dunia, saya lihat di Kecamatan Badau, tepatnya di Gunung Tajam. Gunung Tajam merupakan titik tertinggi di Belitung dan menjadi rumah bagi ribuan hewan nocturnal ini. Pemerintah daerah sedang mencoba mengembangkan wisata alam untuk melihat Tarsius sekaligus sebagai program konservasi. Melihat Tarsius merupakan pengalaman menarik, sebab saya harus masuk hingga kedalam hutan ditemani masyarakat local sebagai penunjuk jalan. Hewan ini tidak lebih besar dari kepalan tangan manusia dewasa dan merupakan hewan malam. Agak sulit dicari karena bulunya yang mirip warna dahan pohon. Untungnya masyarakat sekitar cukup terbiasa mengenal bagaimana mencari Tarsius. Saya dan rekan-rekan saya menghabiskan waktu 3 jam dengan 2 hari pencarian (sebab pencarian hari pertama gagal) untuk dapat menemukan makhluk mungil ini.

Selain Gunung Tajam, wisata yang menjadi andalan di Belitung tentunya adalah wisata pantai dan laut. Saya menyeberang ke Selat Nasik yang berada sekitar 20 menit dari Belitung menggunakan kapal cepat. Ditengah jalan, saya berhenti di tempat pengembang biakkan kerang mutiara. Tidak disangka, karena alam yang masih terjaga dengan baik, air laut yang bening menjadi seperti etalase untuk melihat terumbu karang dibawahnya. Tidak perlu diving, karena sudah terlihat dengan jelas. Tapi, jika mereka senang dengan olah raga diving, wilayah pesisir Belitung dengan pulau-pulaunya sangat direkomendasikan. Tidak perlu jauh-jauh ke Bunaken atau Bali, kan. Dari bincang-bincang dengan Pemda setempat, Belitung ternyata memiliki sekitar 100 pulau-pulau luar yang kesemuanya memiliki nama dan berpotensi menjadi objek wisata. Wow!

Buat pengagum Laskar Pelangi, bisa juga napak tilas jejak Andrea Hirata dengan pergi ke tempat yang disebutkannya dalam cerita. Saya hanya mengunjungi dua tempat shootingnya saja di Tanjung Tinggi dan Gantong (Belitung Timur). Waktu tempuh ke Gantong sekitar 1 jam, dan kita masih dapat melihat set SD Muhammadiyah yang dibangun untuk menghidupkan kembali cerita Andrea Hirata.

Selain tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi, kita juga bisa mencicipi makanan yang tentunya tidak terlalu mahal. Favorit saya adalah Bakmi Ayam Jamur “Rumah Besar” yang terletak di Jln. Yos Sudarso. Mi ayam jamurnya enak sekali menurut saya. Hanya dengan 12.000 perak, kita sudah dapat menikmati seporsi mi ayam. Kalau beruntung, kita juga bisa mencoba makan dim sum ceker ayamnya. Saya agak heran awalnya karena ceker ayam yang dijadikan dim sum itu besar sekali. Tapi buat saya makanannya enak dan bahannya segar. Rumah makan ini juga menjual terasi buatan sendiri tanpa bahan pengawet.

Ingin coba mi khas Belitung, bisa mampir di Jln. Sriwijaya. Ada restoran mi khas belitung, yang menurut saya mirip dengan mi celor palembang. Harganya juga tidak mahal, dan di kiri kanannya diapit dengan toko oleh-oleh khas Belitung. Jadi sehabis makan, kita bisa cari oleh-oleh yang super lengkap, dari mulai kerupuk ikan sampai dodol!

Salah satu khasnya kota Belitung adalah warung kopi yang rasanya tidak kalah dengan Starbucks. Menurut mitra saya, warung kopi yang paling enak di Belitung adalah warung kopi “Hong Ji” kalau saya tidak salah ingat namanya. Posisinya ada di pojokan dekat gereja Kristen. Warung kopi di Tanjung Pandan sudah buka sejak jam 7 pagi. Biasanya orang mampir kesana membeli kopi untuk diminum ditempat atau dibawa pulang. Segelas kopi harganya cuma 2.500 perak, dan masih ada jajanan pengganjal perut seperti donat, bakpau, pisang goreng, lumpia, kue basah, dsb yang dihargai sama rata, yakni 1.000 perak! Wajib coba juga!

Yah, begitulah. Belitung memang punya kesan tersendiri bagi saya. Saya terkesima dengan keindahan pantainya, kesederhanaan kotanya, keramahan orang-orangnya, dan begitu banyak hal yang bisa saya nikmati di sini. Selama beberapa hari disana, saya merasa jatuh cinta dengan kota ini. Dan sebagai seorang yang hobinya fotografi, semua tempat disini dapat diabadikan. Tidak rugi datang ke Belitung. Besok-besok, Puncak sudah bukan lagi tujuan getaway saya deh. Bagi mereka yang belum pernah ke Belitung, barangkali ini bisa dijadikan referensi tempat wisata murah meriah tapi puas. 

4 Comments (+add yours?)

  1. renny
    Jul 13, 2009 @ 04:30:24

    Terimakasih Cyma,
    bisa jadi panduan saya saat di Belitung!

    Reply

  2. Berang
    Jul 14, 2009 @ 04:23:44

    Wahh.wah… cerita yang menarik…
    Semoga nanti ada kesempatan juga untuk kesana…
    Jadi iri nih sama yang nulis😀

    Piss aghhhh

    Reply

  3. luvy
    Aug 03, 2009 @ 03:42:12

    ” Emang Iya Kota kami Memang bagus jadi mau nulis juga ahhh….
    nggak ap” khan”

    Reply

  4. H. ambarita
    Dec 04, 2009 @ 07:18:29

    kenapa cuman main ke belitung??? di bangka jg banyak tempat yg bs di kunjungi.. main2 ke bangka.. nggak bakal nyesel deh.. hehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: