Looking Back, Looking Forward

Kalimat “Looking Back, Looking Forward” ini pertama kali saya lihat ketika dulu sedang mencari bahan untuk membuat makalah salah satu mata kuliah Ilmu Politik. Dalam salah satu bahan yang saya dapatkan di internet, judul ini menjadi menarik buat saya karena isinya adalah untuk melihat perbandingan dari suatu sistem yang tengah berjalan di masa lalu dan memprediksi apa yang terbaik di masa depan. Tentunya, istilah ini kadang juga seringkali kita gunakan untuk menilai dari tahap-tahap hidup kita. Apa yang pernah kita harapkan, apa yang sudah kita capai, dan apa yang akan kita harapkan lagi di masa depan untuk membuat segala sesuatunya berarti.

Saya sedang berada di Yogyakarta ketika saya memutuskan untuk kembali memposting sesuatu di blog saya yang telah lama sepi tulisan. Tentunya saat ini pun saya sedang berada di tengah-tengah dinas luar kota yang harus saya selesaikan dalam waktu satu minggu kedepan. Setelah menghabiskan waktu mengobrol ringan menemani atasan saya, ada hal yang tiba-tiba melintas dan sekaligus menjadi refleksi saya atas pertanyaan maupun pernyataan diatas.

Barangkali, tugas Yogyakarta ini akan menjadi tugas luar kota terakhir saya bersama GEF SGP Indonesia. Sebuah lembaga dana hibah lingkungan dimana selama hampir 3 tahun ini, saya bernaung dan banyak menggali ilmu dari padanya. Sudah saya putuskan bahwa saya akan mengakhiri pengabdian saya di lembaga ini dalam beberapa bulan mendatang. For good, tentunya. Dan inilah saat-saat dimana saya harus melihat kembali keseluruhan perjalanan karir saya untuk menyusun apa yang (barangkali) terbaik di masa depan.

Saya masih ingat saat pertama kali saya bergabung dengan lembaga ini, saya masih baru beberapa bulan lulus dari kampus. Ketika itu, saya sebetulnya belum pada posisi mencari kerja. Tetapi saya bertemu dengan mantan atasan yang kemudian menawarkan membantunya di lembaganya. Saya tidak punya pikiran apapun, dan mencoba karena sudah sejak lama saya ingin sekali membuktikan pada semua orang bahwa saya mampu melakukan sesuatu. Pada akhirnya, saya mengetahui bahwa lembaga yang kemudian meng-hired saya sebagai Asisten Program ini adalah lembaga dana hibah lingkungan internasional yang juga bekerjasama dengan UNDP. Sesuatu yang selalu saya impikan sejak saya sekolah dulu. Bekerja dengan lembaga internasional.

Bukan pula hal yang mudah ketika pertama kali bergabung di sini. Latar belakang pendidikan saya yang Ilmu Politik dengan kekhususan Politik Cina, dan kecenderungan saya dulu untuk tidak mengambil mata kuliah politik lingkungan, membuat saya harus belajar dari nol beberapa isu-isu lingkungan. Ada banyak sekali hal-hal baru yang harus saya pelajari dari nol. Dari mulai apa itu perubahan iklim, apa itu konservasi keanekaragaman hayati, apa itu energi terbarukan, dsb. Semua saya lakukan dengan seringkali berselancar di dunia maya untuk menambah sedikit ilmu di otak saya tentang apa yang saya kerjakan.

Tetapi, lebih dari pada itu, bekerja dengan masyarakat adalah intinya. Sudah menjadi impian saya, bahwa sebagian dari apa yang saya miliki atau kemampuan saya ingin saya kontribusikan untuk membantu masyarakat. Apapun bentuknya. Dan beruntung sekali saya bergabung dengan GEF SGP Indonesia. Karena diluar daripada dana hibah yang setiap beberapa bulan sekali disebarkan untuk membantu mengatasi problema lingkungan sekaligus kesejahteraan masyarakat, lembaga ini membantu saya untuk bisa melihat realita kehidupan dari berbagai sudut. Pengalaman-pengalaman baru saya dapatkan disini.

Tugas lapangan pertama saya di tahun 2007 adalah mendampingi atasan saya untuk persiapan UNFCCC-COP 13 di Bali. Saat itu, karena masih baru, saya masih sering membawa kedalam perasaan jika ada hal-hal yang dicomplain oleh atasan saya. Agak sulit juga ketika itu untuk bisa betul-betul memahami apa yang sebetulnya diinginkan dari saya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai belajar apa yang disebut dengan manajemen kerja. Mungkin tugas pertama ini belum begitu menyentuh masyarakat karena lebih bersifat momentum. Tapi tentunya pasang surut emosi sudah mulai terasa. Dan saya belajar untuk bisa mengelola hal tersebut.

Tugas kedua yang benar-benar berkaitan dengan monitoring kerja adalah ketika saya diminta untuk mendampingi atasan saya commissioning mikrohidro di Gunung Lumut, Kalimantan Timur. Bagi saya, itu adalah pengalaman yang luar biasa dan, yah, bisa dibilang cukup heroik buat saya yang selama ini mungkin lebih banyak berkutat pada hal-hal di kota. Sekalipun hanya untuk 2 hari waktu monitoring, saya merasakan bagaimana perjalanan dan proses yang ditempuh hingga acara peluncuran mikrohidro tersebut dilaksanakan.

Gunung Lumut adalah salah satu gunung dengan hutan lindung di wilayah Kalimantan Timur yang harus ditempuh dengan jarak yang jauh. Karena letaknya di Kabupaten Paser Panajam, saya harus menggunakan kapal feri untuk sampai di kabupaten tersebut. Lalu kemudian lanjut selama 2 jam menyusuri jalan hingga sampai ke kaki Gunung Lumut, yang merupakan pintu masuk dari kampung penerima hibah, yaitu Kampung Muluy. Saya ingat ketika itu hari sudah malam saat akan naik ke Gunung Lumut. Karena di kaki gunung tersebut sudah terjadi konversi lahan sawit sepanjang 20 km, maka kondisi jalan kiri-kanan sangat gelap. Sejak dari Balikpapan pun sudah diwanti-wanti agar kami berhati-hati dengan truk pengangkut kayu yang bisa membahayakan, apalagi jalanannya adalah tanah merah yang licin jika hujan.

Total hampir 5 jam kami harus menempuh perjalanan untuk sampai ke Kampung Muluy. Telepon seluler pun cuma jadi pajangan disana karena termasuk daerah yang tidak tersentuh sinyal telepon (kecuali kalau agak naik sedikit, kata salah satu anggota mitra kami). Tiba di kampung tersebut sudah pukul 11 malam, yang mana udaranya mulai terasa dingin dan menggigit. Tapi kami memang tidak bisa langsung istirahat, karena ternyata harus berkumpul dulu di rumah Bapak Zidan, kepala adat Kampung Muluy, untuk melaksanakan ritual adat penyambutan tamu asing.

Itulah kali pertama saya benar-benar berhadapan dan mendengar langsung cerita dari masyarakat adat Dayak Paser yang selama ini menghadapi berbagai macam ancaman hidup dari berbagai pihak. Seusai upacara, karena harus juga membahas keperluan dokumentasi, saya terus terjaga hingga pukul 2 pagi, berbicara dengan beberapa masyarakat yang masih tersisa. Saat istirahat pun, saya agak kesulitan karena bingung mau buang air kecil dimana. Warga Kampung Muluy biasanya mandi dan membersihkan diri di sungai. Kalaupun ada WC buatan untuk buang air, permasalahannya air itu harus ditimba dulu dari sungai. Hahaha.. Jadi, saya masih ingat waktu itu, saya disuruh buang air saja di dapur. Karena lantainya kayu dan bercelah, tentunya akan langsung terbuang ke tanah dibawahnya. Nah, karena saya masih lugu, saya justru mengambil air dari gentong didekat saya. Ternyata, gentong itu adalah untuk persediaan air minum! hahaha… Tidak saya habiskan memang. Tapi saya jadi merasa bersalah, karena sudah mengambil sedikit jatah air minum yang punya rumah!

Keesokan harinya saat saya harus memonitor mikrohidro sebelum acara peluncuran dimulai pun tidak kalah menariknya. Mikrohidro tersebut dipasang didalam hutan Gunung Lumut, berdekatan dengan Sungai Muluy yang mengalir. Jarak dari kampung kedalam, cukup jauh. Sekitar 5-6 km. Memang ada cara singkat untuk menembusnya, adalah dengan menggunakan motor hingga sampai di pintu masuk hutan (dimana pintu masuk ini artinya adalah jalan yang terputus!). Sisanya, ya harus dengan berjalan kaki. Menembus sisa 3 km kedalam hutan, memang tidak mudah. Apalagi hutan itu, sesuai dengan namanya, banyak sekali batu yang berlumut. Licin! Beberapa kali saya hampir terjatuh karenanya (untuk yang ini, kami memang ditertawakan dengan pemuda Dayak yang menjadi pemandu kami! Dasar orang kota, pikirnya). Tetapi setelah melewati itu semua, tidak terbayangkan bagaimana senangnya saya ketika melihat mikrohidro tersebut yang sudah dibantu oleh lembaga kami, beroperasi dengan baik dengan listrik yang mengaliri 54 rumah masyarakat.

Yah, itu adalah sepenggal dan sebagian kecil pengalaman serta pembelajaran saya melihat dunia baru melalui GEF SGP Indonesia. Setelah penugasan hutan Lumut pertama itu, masih banyak perjalanan lainnya yang tidak kalah menarik. Dan saya senang telah melakukannya. Saya senang diberikan kesempatan untuk bisa belajar, mendengar, dan bercerita bersama masyarakat. Kesempatan-kesempatan yang mungkin baru akan saya rasakan kembali setelah nanti bertahun-tahun hidup saya.Lembaga ini tidak hanya menjadi ruang belajar bagi saya, tetapi juga keluarga saya. Selalu ada hal-hal baru yang bisa didiskusikan dan dibagi baik antar pekerja GEF SGP maupun mitra kerja yang tersebar di daerah.

Menghitung waktu-waktu yang tersisa mengabdi bersama GEF SGP, seperti berusaha untuk melepaskan kelekatan sebuah keluarga yang selama 3 tahun terakhir menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saya. Suka-duka, senang-sedih, bahagia-marah yang saya rasakan tidak hanya menjadi penggalan cerita karir saya, tetapi juga bentuk kontribusi atas mimpi bekerja untuk masyarakat yang selama ini ada. Dan mimpi itu tidak pernah padam dalam diri saya.

So, teman-teman, terima kasih banyak atas kesempatan dan pengalaman yang sudah diberikan kepada saya. Maybe its time for me to move on. Hopefully, we’ll still be a family. Like we used to be in GEF SGP Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: