Mata Hari : Sang Intel Erotis

Sudah sejak lama, saya mendengar nama Mata Hari, Dimulai dari sebuah artikel yang secara tidak sengaja saya baca di majalah wanita. Mungkin nama Mata Hari tidak terlalu terkenal di Indonesia, karena ia hidup di era kolonial dan masa Perang Dunia. Tetapi, diluar negeri ia begitu dikenal sebagai salah seorang intelijen perempuan yang kisah hidupnya tragis dan akhirnya harus menghadap takdir diantar oleh Pasukan Tembak Perancis pada tahun 1913. Dan dari sanalah ternyata istilah Femme Fatale (Wanita Mematikan) muncul. Siapakah dia ? Dan apakah benar seorang Mata Hari begitu dahsyatnya hingga mampu membuat tokoh-tokoh perang di masa Perang Dunia tersebut ketakutan ? Rasa penasaran mendorong saya untuk membuka berbagai dokumen maya untuk menguak jati diri Mata Hari.

Mata Hari lahir di Leuwardeen, Belanda pada tanggal 7 Agustus 1876 dengan nama asli Margaretha Geertruida Zelle dari orang tua yang sukses dalam bidang perdagangan kala itu. Ayahnya adalah seorang pengusaha topi, yang kemudian mengembangkan bisnisnya pada bidang perminyakan. Hingga usia remaja, Margaretha hidup dalam gelimang kemakmuran, yang terbukti pula dari masuknya ia pada sekolah elit Belanda. Namun sayangnya, di tahun 1889, usaha yang selama ini dirintis oleh sang ayah mengalami kebangkrutan. Orangtuanya kemudian bercerai, dan Margaretha dititipkan kepada Ayah Baptisnya, Heer Viseer yang tinggal di Leiden. Pada penggalan tahun inilah petualangan hidup Margaretha dimulai. Selama di Leiden, ia bekerja sebagai guru sekolah. Karena kecantikannya, Margaretha banyak menghadapi godaan dari guru-guru pria di tempatnya bekerja. Khawatir dengan kondisi tersebut, Margaretha kemudian dipindahkan oleh Ayah Baptisnya, untuk kemudian dititipkan pada pamannya di Den Haag.

Tampaknya, di masa ini Margaretha sudah mulai memiliki keinginan untuk mengubah nasibnya. Tidak berapa lama, di usia 18 tahun, ia membaca sebuah iklan perjodohan di koran Belanda. Dalam iklan tersebut disebutkan bahwa seorang tentara Belanda mencari wanita yang siap untuk dinikahi. Margaretha pun menyambut tawaran iklan tersebut dan kemudian menikah dengan Rudolf John McLeod, pria yang usianya dua kali lebih tua darinya, pada tahun 1895. Karena mengikuti tugas sang suami, Margaretha pindah ke Jawa, Indonesia yang ketika itu menjadi koloni Belanda.

Pernikahannya dengan McLeod ternyata tidak membawa kebahagiaan. McLeod adalah seorang pria yang sangat tempramental dan pemabuk. Belum lagi pada akhirnya Margaretha tahu bahwa McLeod ternyata telah memiliki seorang Nyai (istri prajurit Belanda yang berkebangsaan Indonesia) dan selir yang tinggal dalam satu rumah. Acapkali, McLeod melampiaskan kemarahannya ini kepada Margaretha yang baru beberapa lama dinikahi. Karena tidak tahan atas perlakuan McLeod, Margaretha meninggalkannya bersama dengan seorang tentara bernama Van Rheedes. Di masa inilah Margaretha kemudian secara intensif mengikuti perkembangan kebudayaan Indonesia, mempelajari berbagai tarian, dan pada akhirnya menciptakan nama panggungnya, Mata Hari.

Karena desakan McLeod, Margaretha kemudian kembali pada suaminya ini, sekalipun perangai McLeod tak sedikit pun berubah. Untuk menghibur dirinya yang berada dibawah tekanan, Margaretha memilih untuk mempelajari budaya lokal Indonesia. Dari pernikahannya dengan McLeod, Margaretha dikarunia dua orang anak, yang kesemuanya meninggal akibat dari penyakit sifilis yang diduga diturunkan oleh orang tuanya. Pada tahun 1906, setelah pasangan ini kembali ke Belanda, Margaretha memutuskan untuk bercerai.

Karir Margaretha sebagai penari eksotis (terminologi eksotis digunakan hingga kini untuk menunjukkan berbagai hal, termasuk seni dan kebudayaan yang berasal dari Asia) dimulai saat dirinya pindah ke Perancis di tahun 1903. Saat pertama kali merintis karir, ia menggunakan nama Lady McLeod. Tak jarang, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tinggi, ia juga berpose sebagai model. Tahun 1905, ia mulai mendapatkan perhatian dari kalangan penikmat seni dan budaya Perancis melalui tari-tarian eksotisnya. Pada tahun inilah ia kemudian menggunakan nama “Mata Hari” sebagai nama panggungnya.

Sebagai seorang perintis penari eksotis, ia mengikuti jejak Isadora Duncan dan Ruth St. Denis, para perintis tari-tarian eksotis yang kala itu berkiblat pada Asia dan Mesir sebagai inspirasi gerakan tarinya. Kritikus-kritikus seni pada masa itu menulis gerakan-gerakan tarian ekostis ini sebagai bentuk gerakan Orientalisme. Margaretha pun memulai debutnya sebagai penari eksotis profesional di Musee Guirmet pada tanggal 13 Maret 1905. Tidak hanya itu, ia juga menjadi selir dari pendiri Musee Guirmet sekaligus milioner Lyon, Emile Etiene Guirmet. Untuk memperkuat karismanya, ia menciptakan jati dirinya sebagai seorang Putri Jawa yang lahir dari pendeta Hindu dan telah mempraktekkan tari-tarian tradisional India sejak masa kecil.



mata_hari_13.jpg

Sekalipun pada perjalanannya Mata Hari cukup sering menggabungkan gerakan-gerakan erotis dalam tariannya (ia tidak jarang berpose setengah telanjang pada foto-fotonya), ia berhasil menaikkan derajat tarian ekostis hingga pada tingkat yang dihormati. Baru di tahun 1910, kritik tajam mulai berkembang yang menyebutkan bahwa popularitas Mata Hari lebih disebabkan karena eksibionismenya. Sekalipun banyak kritik tajam yang dilayangkan kepadanya, Mata Hari bintang kepopuleran Mata Hari masih tetap bersinar yang dibuktikan dari banyaknya kegiatan-kegiatan sosial kelas atas yang diikutinya.

Kepopuleran Mata Hari ternyata tidak hanya berdampak pada penampilan panggungnya yang mampu menyedot perhatian banyak masyarakat Perancis kala itu. Karena kecantikan dan keerotisannya pula ia disebut sebagai courtesan sukses. Relasinya tidak hanya datang dari kalangan-kalangan pengusaha, tetapi juga dari kalangan pejabat tinggi militer, politis dan pejabat-pejabat negara lainnya yang berpengaruh pada masa itu, termasuk Putra Mahkota Jerman yang membiayai biaya hidup lux Mata Hari. Menjelang Perang Dunia I, Mata Hari dipandang sebagai seniman sekaligus ditakuti sebagai penggoda berbahaya.

Masa Perang Dunia I menjadi masa spekulatif bagi sebagian sejarawan yang memandang Mata Hari sebagai agen intelijen. Menurut catatat sejarah, di masa awal Perang Dunia I, Belanda adalah salah satu negara netral yang tidak memihak pada aliansi manapun. Dan sebagai warga negara Belanda, Mata Hari dapat dengan bebas bepergian melintasi negara. Untuk menghindari wilayah pertempuran, Mata Hari bepergian menuju Perancis dan Belanda melalui Spanyol dan Inggris. Namun sayangnya, justru karena hal ini lah Mata Hari mengundang perhatian menucurigakan dari berbagai pihak yang terlibat dalam Perang Dunia I ketika itu. Terlebih lagi, Mata Hari juga dikenal sebagai simpanan pejabat-pejabat tinggi militer negara. Memang, dalam salah satu interview dengan Majalah Inggris, Mata Hari mengakui bekerja sebagai agen intelijen Perancis sekalipun tidak ada fakta atau dokumen yang mendukung pernyatannya tersebut. Entah atas motivasi apa Mata Hari memberikan pernyataan tersebut (bisa jadi untuk memunculkan intrik, karena sebelumnya pun ia membuat jati diri palsu mengenai latar belakangnya), pemerintah Perancis tidak membuat bantahan apapun. Hal ini pula mungkin disebabkan karena pemerintah Perancis tidak ingin kehilangan muka di depan musuh-musuhnya.

Takdir Mata Hari sudah hampir mendekati akhir. Dimulai dari pemberitaan atase militer Jerman pada January 1917 yang menyebutkan bahwa adanya pertolongan dari agen intelijen Jerman berkode H-21. Agen intelijen Perancis menerima pesan radio tersebut dan menduga bahwa agen H-21 yang dimaksud adalah Mata Hari.  Pada 13 January 1917, Mata Hari ditangkap di kamar hotelnya di Paris. Ia ditahan dengan tuduhan sebagai agen mata-mata Jerman dan menyebabkan tewasnya 50.000 pasukan tentara Perancis. Ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati pada tanggal 15 Oktober 1917. Mata Hari berusia 41 tahun ketika peluru-peluru dari Pasukan Tembak Perancis menembus tubuhnya.

Hingga kini, kisah Mata Hari memang masih menjadi kontroversi. Belum ada bukti kuat yang menyatakannya sebagai agen intelijen ganda yang bekerja untuk Perancis dan Jerman. Sebagian besar sejarawan mengungkapkan bahwa tuduhan yang dijatuhkan kepada Mata Hari adalah hal yang tidak benar. Saya pribadi mungkin lebih memilih matinya sang penari karena kepentingan kedua belah negara untuk mencari kambing hitam. Sekalipun memang besar kemungkinan bahwa Mata Hari bisa saja secara sukarela mengganggap dirinya sebagai bagian dari agen mata-mata. Ia cantik, penari sukses, simpanan para pejabat tinggi militer, dan hal itu umum terjadi di masa-masa Perang Dunia. Bahkan sampai saat ini. Jadi terlepas dari benar atau tidaknya sejarah hidup Mata Hari sebagai intelijen ganda, ia sukses membuktikan teori “Sex, Money, and Power”. Dan ia juga berhasil menciptakan ingatan masyarakat terhadap dirinya sebagai seorang intelijen, lebih dari pada sekadar penari eksotis.

1 Comment (+add yours?)

  1. Boy
    Oct 27, 2010 @ 03:19:37

    mantephh….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: