Self Healing

Sebelum manusia dilahirkan di dunia, mungkin manusia lupa bertanya kepada Sang Pencipta, mengapa manusia tidak diberikan kekuatan penyembuhan diri sendiri yang sempurna ? Secara fisik, Sang Pencipta memang memberikan sistem imunitas yang ampuh dalam melawan berbagai penyakit. Tapi hanya sebatas melawan. Imunitas tersebut tidak mampu membunuh segala sumber penyakit sehingga manusia memiliki kesempatan yang lebih lama untuk hidup.
Atau kah memang ini model pendekatan yang diciptakan untuk menekan laju kepadatan planet bumi ?

Semakin bertambah usia dan semakin banyaknya hal yang mengelilingi manusia, semakin rentan pula jiwa dan hidup manusia. Dan karena sistem imunitas yang terbatas tadi, manusia perlu mencari pertolongan lain untuk bisa menyembuhkan dirinya. Dari mulai dokter yang diharapkan mampu menyembuhkan penyakit yang menggerogoti dirinya, hingga ahli spiritual untuk membimbing penyembuhan penyakit mental manusia. Kesemuanya membutuhkan perantara. Penyembuh yang juga adalah manusia rentan tersebut.

Suatu kali, seorang teman mereferensikan saya sebuah situs. Reza Gunawan, seorang penyembuh holistik dan yang juga seorang suami artis cerdas bernama Dewi Lestari. Menurut teman tersebut, saya adalah pribadi yang rentan. Cukup rentan untuk melalui berbagai tekanan. Dengan harapan bahwa saya mungkin akan tertolong melalui pembangunan sistem penyembuhan diri yang kokoh, maka ia mereferensikan situs tersebut.

Situs yang menarik bagi saya. Mengapa ? Karena seperti yang saya katakan tadi, situs ini menawarkan bimbingan penyembuhan diri yang sifatnya natural. Penjelasannya pun cukup komprehensif. Katanya, tidak jarang ditemui bahwa penyakit fisik yang terjadi di masa sekarang, bermula dari sakit kejiwaan. Jangan bayangkan sakit kejiwaan seperti yang terjadi pada orang-orang di sebuah asylum atau rumah sakit jiwa. Ia mencakup hal yang lebih luas, seperti stress hingga depresi tingkat tinggi.

Percaya atau tidak, rasa sakit psikis tersebut memiliki korelasi tinggi dari munculnya penyakit fisik lainnya. Teman yang adalah ahli kimia menjelaskan bahwa ketika seseorang memendam rasa depresinya sendiri, secara perlahan dan tidak sadar sel-sel jahat dalam tubuh pun berkembang dengan cepat, yang dikemudian hari merusakkan organ-organ manusia tersebut. Dan itu berlangsung dalam proses dan waktu yang cukup lama atau justru cepat. Seperti almarhuman suami kakak sepupu saya. Ketika ia didiagnosis terkena kanker tenggorokan, hanya dalam waktu enam bulan, ia meninggal dunia. Semua tidak lain karena depresi yang tak bisa dikendalikannya mempengaruhi daya kerja imunitas tubuhnya.

Lalu bagaimana dengan kita ? Sekelompok manusia yang saat ini hidup dan tampaknya sehat-sehat saja. Apakah ada jaminan bahwa sakit kejiwaan kita tidak akan mempengaruhi organ lainnya ? Tak ada yang bisa menjamin, karena tak semua manusia memiliki kemampuan penyembuhan diri yang baik, terutama saya. Kita sering diperhadapkan dengan situasi menjadi kuat, tapi memendam rasa perih yang luar biasa. Sering menampakkan diri riang gembira, tapi jauh didasar jiwa sakit itu tidaklah hilang. Dan umumnya kita tak pernah tuntas menuju ke dasar sumber sakit tersebut, dan memilih melupakannya atau bergantung pada orang lain untuk menyembuhkannya.

Kemarin, saat saya berkendara di tengah kemacetan, ada sebuah cerita yang saya dengar di radio Delta. Tersebut dalam cerita itu, ada pasangan suami-istri yang mengikuti sebuah klub kecil berbagi pengalaman hidup. Ketika tiba gilirannya pada Sara Maxwell, sang istri yang ikut dlm pertemuan itu, si pembawa acara bertanya padanya, “Anda adalah seorang istri yang telah membina rumah tangga selama puluhan tahun. Apakah suami Anda membuat Anda merasa bahagia ?”

Sara terdiam beberapa saat, kemudian menjawab, “Tidak.” Peserta dan pembawa acara tersebut kaget mendengar jawabannya, dan bertanya sekali lagi. “Apakah Anda bahagia bersama Suami Anda ?”. Sara menjawab lagi, “Tidak. Saya tidak bahagia.”. Jawabannya membuat pembawa acara tersebut bertanya lebih lanjut, “Mengapa ?”. Dan sebelum Sara menjawab, ia melihat pada sang suami yang sudah ingin kabur dari tempat itu. Katanya kemudian, “Suami saya adalah orang yang baik. Ia sayang pada saya, Ia tak pernah berjudi, tak pernah terlibat narkotika, tak pernah kecanduan narkoba, apalagi bermain serong dengan perempuan lain. Tapi untuk menjawab apakah Ia membahagiakan saya, saya akan menjawab, tidak. Karena bagi saya, kebahagiaan itu adalah pilihan hidupmu. Dirimu yang memilih untuk menjadi bahagia atau tidak, bukan orang lain.”

Saya rasa jawaban seorang Sara Maxwell adalah bentuk self healing atau kemampuan menyembuhkan diri sendiri bagi kita. Sekalipun Reza Gunawan menawarkan solusi untuk mampu memiliki kemampuan penyembuhan diri, tapi pada akhirnya, apa yang ingin ia bimbing adalah kemampuan menerima diri kita sendiri, kemampuan menerima keadaan seliling kita, dan yang terutama adalah kemampuan menjadi ikhlas yang sebenarnya. Kebahagiaan memiliki hubungan yang erat dengan rasa ikhlas. Dan tentunya tidak semua orang mampu memiliki rasa ikhlas yang sejati. Itu sebabnya semakin banyak penyembuh-penyembuh spiritual yang menawarkan bimbingan untuk mencapai rasa ikhlas.

Jadi, sebagaimana bahagia adalah pilihan hidup, mampukan kita menjadikan ikhlas sebagai pilihan hidup kita ? Dan pada akhirnya, mampukah kita membangun sistem penyembuhan diri yang kokoh melalui dasar-dasar tadi ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: