“Kamu Kan Tau, Aku Doyan Makan..”

Yap. Itu adalah kalimat yang tiba-tiba saja terlontar saat saya sedang ngobrol dengan sahabat saya, Muthia, melalui YM. Awalnya, kami sedang berbincang tentang negara mana yang kira-kira cocok untuk dijadikan tempat bulan madu. Sahabat saya itu, menawarkan Maldives, karena katanya ia sangat ingin ke Maldives. Entah kenapa, sudah dua orang yang menyarankan demikian. Sahabat saya dan Ayah saya. Dan itu lah dia kalimat yang saya katakan, saya doyan makan.

Sebetulnya, ada temuan baru setelah saya berbicara dengan teman saya itu. Kenapa saya mengganggap bahwa tempat yang paling enak dikunjungi sebetulnya adalah di negara-negara Asia Tenggara. Barangkali setelah saya beberapa kali ke beberapa negara di kawasan itu, saya melihat bahwa orang-orangnya memiliki ras yang mirip dengan orang Indonesia, budayanya unik, pemandangannya juga ada yang stunning, dan terlebih lagi, makanannya murah-murah ! Hahaha. Jadi, yah, sesederhana itu.

Entah kapan mulainya makanan dan harga makanan menjadi preferensi saya dalam menentukan tempat saya berkunjung. Barangkali itu terjadi secara tidak sadar. Pengalaman travelling saya luar dan dalam negeri, barangkali tidak terlalu banyak. Belum sampai Mbak Trinity yang sudah advanced sampai buku jalan-jalannya di bukukan (saya suka banget lho baca blog-nya dia!). Tapi yang saya tahu, setiap kali saya menjejakkan kaki ke negara lain, local delicacies menjadi hal yang sering masuk dalam agenda saya.

Lihat saja ketika saya pergi ke Vietnam (tulisannya sudah pernah saya muat dalam blog ini!). Ketika saya ditugaskan oleh kantor datang ke Konferensi South China Sea Project, saya seringkali kabur dari makanan hotel. Atau malamnya setelah konferensi selesai berjalan-jalan dengan National Coordinator dari Filipina, Joy Esquiera. Kenapa saya sering kabur saat makan siang ? Bukannya saya tidak menghargai makanan yang sudah disajikan. Tetapi ada beberapa kali tampilan menu makanan bikin saya jadi hilang napsu makan. Seperti misalnya suatu siang, ada sajian berupa sayur cacah. Kalau di Indonesia, ibaratnya makan sayur daun singkong di Lapo Batak. Tapi, bedanya, di Lapo itu kuahnya dikasih santan, sementara di Vietnam tidak. Dan yang ajaibnya lagi, sudah pun kuahnya bening, dia sangat kental ! Sehingga kalau disendok, tampak seperti air liur yang menetes ! Yaiks !

Daripada saya tidak menikmati makanan, saya hanya mencomot beberapa appetizer dan dessert. Lalu setelah itu permisi istirahat. Waktu istirahat itu biasanya saya pakai untuk jalan ke kios-kios di seputaran hotel. Saat saya di Nha Trang itu, saya perhatikan bahwa Vietnam punya waktu istirahat. Tidak terkecuali pada toko-tokonya. Kadang, saat jam 12 siang saya keliling, toko-toko tersebut masih tutup. Atau mungkin sengaja tutup untuk rehat. Nah, untungnya tidak dengan jajanan kaki limanya. Selama ini saya sering mendengar tentang Vietnam Sandwich yang enak dan banyak sayurnya. Kalau di Jakarta dijajakan melalui resto Cali Deli dengan harga yang selangit, di Vietnam saya selalu bisa mendapatkannya di pinggir jalan, dengan rasa asli Vietnam (plus daging babi tentunya!), dan harga yang kurang dari Rp. 10.000 (satu Vietnam Sandwich dihargai VND 10.000.). Saya kenyang, puas, dan kantong nggak bolong!

Sama juga kejadian di Thailand. Karena sejak saya bergabung dengan ex-kantor saya dulu, saya jadi mulai terbiasa bepergian ala backpacker. Kita jalan-jalan dan tidak selalu makan fancy di restoran mahal dengan rasa turis. Saya dan teman-teman kantor saya waktu itu menyempatkan diri jalan-jalan ke Phat Phong, kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Bukan buat iseng nyari-nyari PSK, tapi cuma pengen jajan makanan pinggiran. Sambil melihat suasana malam dan hingar bingarnya sudut kota Bangkok, saya dan teman saya jajan ayam goreng, seafood goreng di pinggir jalan, yang harganya kira-kira Rp. 4.000 – Rp. 6.000 per porsi. Lalu beli martabak manis khasnya Thailand. Enak banget, deh !

Maka, kebiasaan berjalan-jalan mencari makanan enak, murah, dan lokal itu terbawa sampai saat saya sedang berpikir destinasi bulan madu saya. Apakah ke Eropa ? Apakah ke Asia ? Apakah ke Pasifik ? Apakah kemana ? Saya juga masih belum pasti. Tapi yang jelas, setiap kali ada sebuah negara terlintas di kepala saya, yang pasti muncul pertama kali adalah “ada jajanan pinggir jalannya nggak ya ? yang enak, murah meriah, dan bikin kenyang !”. Jadi memang agak saru antara bulan madu bikin anak, atau bulan madu nggragas makanan. hahahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: