If Life Can Be Paused

Pernah nggak sih dalam keseharian kita, kita merenung dan berpikir jika saja kehidupan punya tombol “play”, “delete”, atau “paused” ? Tentunya kehidupan itu akan bisa kita atur sekehendak kita. Sayangnya, hidup ya hidup. Kita mungkin diberikan privileges sebagai makhluk Tuhan yang mampu mencipta, merasakan, dan menikmati apa yang ada disekitar kita. Tapi sekali lagi, privileges itu tidak pernah 100 % ada pada kita, karena pada akhirnya garis hidup sudah ditentukan dari Sang Maha ‘Director’.

Tahun ini terasa banyak sekali yang terjadi hingga saya sendiri tidak memiliki waktu benar-benar untuk merenung. Hal yang sedih, menyakitkan, senang dan membahagiakan terjadi sepanjang tahun ini. Dimulai dari keputusan untuk menikah setelah jalan terjal yang harus saya lalui di tahun-tahun lalu. Adalah hal yang membahagikan sekaligus luar biasa bagi saya karena dulu ketika banyak sekali permasalahan yang mendera saya dan dia, saya mulai memutuskan untuk berhenti berharap dan menjalani saja apa yang akan terjadi. Saya tidak mau sakit dan kecewa. Saya yakin, Tuhan telah mengatur garis hidup kita, termasuk jodoh. Maka saya tidak perlu khawatir untuk itu semua. Yang perlu saya lakukan hanya berdoa agar perjalanan hidup saya diberikan berkah oleh Tuhan, dan saya masih diberi kesempatan menyenangkan orang tua saya.

Ketika akhirnya pernikahan itu terjadi, luar biasa bersyukurnya saya. Dan setelah itu, segalanya terasa cepat. Saya resmi menjadi seorang istri, saya membuka lembaran baru kehidupan, saya belajar hal-hal baru mengenai hidup berumah tangga, saya mengandung, saya memiliki anggota keluarga baru berkaki empat, dsb. Kurang apalagi ? Seorang sahabat saya berkata bahwa ini adalah tahun saya. This is totally my year. Karena dari dulu, saya tidak pernah begitu berambisi menjadi seseorang yang terkenal, atau punya kekuasaan, atau apa saja yang heboh-heboh. Saya hanya menginginkan kehidupan yang tenang. Dan tahun ini, semuanya seakan menjadi nyata. Saya memiliki keluarga kecil. Saya membangun rumah kami bersama. Orang tua saya juga merasa bahagia karena tidak diberikan waktu lama oleh Tuhan untuk menjadikan generasi penerus keluarga dalam rahim saya. Dalam waktu empat bulan, kami sedang menantikan kelahiran anak laki-laki pertama ini. Well, again i ask, what more can i expect ?

Seandainya saja waktu dan kehidupan memiliki tombol ‘paused’, maka ingin sekali saya menghentikannya untuk sejenak, agar apa yang saya miliki dan rasakan saat ini tidak pernah hilang, untuk 1000 tahun lamanya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: